
Kematian Bangau Putih membuat murka seluruh pendekar dari perguruan Macan Putih. Bangau Putih adalah guru panutan di perguruan itu, ada lebih dari dua ratus murid belajar dibawah didikkannya. Dan sekarang sesepuh perguruan Macan Putih sudah berpulang.
Sepuluh menit setelah kematian Bangau Putih, sekitar empat ratus orang prajurit yang latar belakangnya dari perguruan Macan Putih menderu pasukan Kelelawar Iblis dengan teriakan kemarahan. Siring pembatas yang memisahkan mereka dengan musuh dilangkahi dengan mudah.
“Jangan biarkan mereka berjuang sendiri!” Pekik Siko Danur Jaya. “Bantu mereka dan kuasai pertempuran ini!”
Pemuda itu melayang cepat melintasai banyaknya mayat dengan seluruh pasukan yang ada dibawah pimpinannya. Sebagai Senopati muda, dia tidak akan membiarkan satu kesempatan bagi musuh untuk melarikan diri. Sekitar dua ratus orang prajurit di bawah kepemimpinan Siko Danur Jaya berteriak keras, berlari dengan cepat seperti kuda.
“Kita juga tidak boleh diam saja!” Rerintih menginstruksikan, kemudian Dirga juga berkata sama. Hanya dalam beberapa menit saja, bagi semua prajurit Surasena yang masih memiliki sisa tenaga, langsung terjun ke medan pertempuran. Musuh hanya dua ribu lagi, dan mereka mengalami banyak luka.
Cawang Wulan menarik panahnya, kemudian satu musuh yang mungkin terlihat sebagai pemimpin mati dengan anak panah tepa mengenai keningnya. Sementara Siko Danur Jaya melepaskan lima puluh jarum beracun terbaik ke arah langit. Jarum itu seperti memiliki nyawa, dia melayang dan mengincar para petinggi prajurit Kelelawar Iblis.
Hanya dalam beberapa menit saja setelah malam berlalu, pertempuran kedua kembali dimulai. Ya, kali ini para pemuda berada di garis utama. Yang tua sudah lelah, mereka tinggal di reruntuhan Markas Petarangan.
“Bagian Kiri, hancurkan bagian kiri!” Pekik Siko Danur Jaya.
Perintah Siko Danur Jaya segera dilaksanakan oleh Ratih Perindu. Dengan kapak besar dan prajurit yang dia pimpin, bagian kiri yang dimaksud oleh Siko Danur Jaya berhasil dikalahkan.
“Kenapa?” Salah satu prajurit Kelelawar Iblis berkata serak. “Kenapa mereka menjadi lebih ganas lagi, Tuan Topeng Beracun dimanakah dirimu?”
Terdengar jeritan para prajurit Kelelawar Iblis yang tersisa. Sekarang Surasena berhasil menguasai hampir 80% jalannya pertempuran. Beberapa orang musuh berniat melarikan diri ke dalam hutan layu nan gelap. Tapi si gadis bermata tajam, Cawang Wulan tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
__ADS_1
Panahnya melaju dengan cepat seperti deruan kilat, menghujani leher-leher lawannya.
Dua jam kemudian, pertarungan antar prajurit akhirnya selesai juga. Surasena berhasil mengalahkan musuhnya, dan sekarang hanya ada tiga pertarungan lagi yang belum selesai. Ki Lodro Sukmo, Lakuning Banyu dan juga Sungsang Geni.
Bagi Ki Lodro Sukmo, kematian Bangau Putih adalah pukulan terbesar dalam hidupnya. Mereka berdua telah berteman sejak kecil, menjadi murid di perguruan Macan Putih dan menjadi sesepuh di sana. Meski kekuatan Bangau Putih tidak sehebat dirinya, tapi Ki Lodro Sukmo menghargai Bangau Putih lebih dari apapun.
Bahkan jika Ki Lodro Sukmo sedang mengamuk, tidak ada orang yang bisa menghentikan pria itu kecuali Bangau Putih. Tapi sekarang, rupanya waktu berkata lain Bangau Putih pergi mendahuluinya.
“Kau akan menyusul temanmu!” Lawan Ki Lodro Sukmo berkata dengan kesombongannya.
“Apa kau tidak lihat, Kelelawar Iblis hancur?” Ki Lodro Sukmo berkata dengan rahang nyaris terbuka.
“Kau yakin, dimana tuanmu itu?” tanya Ki Lodro Sukmo. “Tidak ada, tuanmu tidak akan menguasai dunia ini. Karena kami memiliki cahaya terang, dan tidak akan padam.”
Ini adalah ucapan Ki Lodro Sukmo yang paling tulus dalam memandang Sungsang Geni. Sekarang dia menyadari, satu-satunya orang yang membuat Surasena sekuat ini adalah karena pemuda itu, bukan hanya Surasena tapi seluruh mahluk di dataran Java. Gerbakan yang dilakukan Sungsang Geni sudah merubah jalannya pertempuran selama ini.
Ki Lodro Sukmo menyerang dengan cakar harimau, bergerak lincah, melompat dan membungkuk. Gerakan pak tua itu, semakin gesit setiap saat seolah tubuhya didorong oleh kekuatan lain.
Hal ini membuat lawannya menjadi terkejut bukan kepalang. Mereka telah bertarung belasan jam, berukar hampir seribu serangan dan mengalami luka di banyak bagian tubuh. Tapi, seolah tiada kenal lelah, Ki Lodro Sukmo mulai melancarkan serangan demi serangan yang berbahaya.
Cakarnya kali ini hampir saja mengenai batang leher lawannya. Tapi lawannya cukup beruntung dengan berhasil menghindar ke samping, tapi cakar harimau miliki Ki Lodro Sukmo malah menjearat tepat di pundak.
__ADS_1
Dengan kekuatanya,Ki Lodro Sukmo sanggup meremas otot bahu lawannya hingga terluka parah. Ketika sang lawan terpekik, Ki Lodro Sukmo berhasil mencengkram tulang rusuk bagian bawah lawannya.
Empat jari tangan masuk ke dalam perut, sementara terdengar suara retakan antar tulang rusuk itu. belum selesai sampai disitu, Ki Lodro Sukmo mengangkat tubuh lawannya beberapa depa dari permukaan tanah, kemudian mendaratkan tendangan keras tepat di bagian perut.
Dengan keadaan vertikal, tubuh lawannya menggelinding untuk beberapa saat. Darah hitam keluar dari mulut, hidung dan luka di bagian bawah tulang rusuk.
Tidak mungkin, pikir Komandan Kelelawar Iblis itu. Dia sudah sangat yakin bisa mengalahkan Ki Lodro Sukmo, tapi rupanya pak tua itu malah semakin menjadi-jadi. Apakah serangan pak tua itu yang semakin kuat, atau tubuhnya yang semakin lemah? pria itu tidak mengerti alasan dirinya kalah.
Ketika dia berusaha berdiri, dengan mencengkram bagian lukanya, Ki Lodro Sukmo dengan lihainya telah berada di depan, melancarkan banyak serangan yang cepat dan mematikan.
Komandan itu harus bergerak cepat untuk menghindar, tapi kemudian satu serangan Ki Lodro Sukmo berhasil melukai lengan tangannya,bahkan sampai patah. Bukan hanya satu lengan kanan, sekarang dua lengan tangan telah patah.
Komandan itu duduk berlutut dengan wajah hitam dan tatapan penuh kebencian. Tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan saat ini. Tapi mahluk itu benar-benar sombong, dia masih mengumbar senyum kemenangan seolah Ki Lodro Sukmo akan tetap mati meski membunuh dirinya.
“Cuih...” dia meludahkan darahnya kedepan, hampir mengena wajah Ki Lodrdo Sukmo. “Aku akan menunggumu di neraka, HAHAH...Kau akan mati setelah membunuhku...Hahaha...”
Perkataan pria itu lenyap setelah cakar harimau putih milik Ki Lodro Sukmo mendarat tepat di batang lehernya,meremas kerongkongan hingga tulang dan urat leher hancur. Darah mengalir dari luka, mirip seperti binatang yang baru saja disembelih.
“Aku memang akan mati...” Ki Lodro Sukmo membersihkan jari-jemarinya yang dipenuhi dengan darah hitam. “Tapi tidak hari ini, tidak pula oleh kegelapan, dan tidak pula akan menemuimu di neraka.”
Berniat pula Ki Lodro Sukmo meludahi mayat itu,tapi segera diurungkan. Pak tua itu berjalan terkatung-katung menuju reruntuhan Markas, ingin sekali melihat wajah Bangau Putih untuk terakhir kalinya.
__ADS_1