
“A...apa yang terjadi dengan tubuhku!” ucap mereka dengan nada terbata-bata, “Seluruh sendiku terasa lunglai dan tidak mau digerakkan...”
Pramudhita menghentikan serangannya, tapi nampaknya setiap orang yang sedang bertarung juga melakukan hal yang sama, termasuk Resi Irpanusa dan Sriyu Kuning.
“Pemuda itu memiliki sesuatu seperti ini?” ucap Pramudhita, meski dia tidak mendapatkan efek ketakutan dari aura itu, tapi tidak dengan pendekar di bawahnya yang lain.
Aura membunuh yang terpancar dari tubuh Sungsang Geni dapat dirasakan oleh semua orang, tapi tentu lebih terpusat kepada seluruh lawannya.
“Menjauh darinya!” ucap Tabib Nurmanik, meminta seluruh muridnya untuk tidak mendekati Sungsang Geni, “Siapapun yang memiliki tekad lemah, jangan mendekati pemuda itu! Ini seperti dia sedang menguji tekad kalian.”
Dalam keadaan semua orang kesulitan mengendalikan tubuh mereka, Sungsang Geni melepaskan lemparan pisau kecil setiap menitnya.
Lawannya tentu tidak menyangka ada hal semacam ini menguasai tubuh mereka, lebih tidak menyangka lagi satu persatu dari mereka tersungkur di permukaan tanah dengan tubuh bersimbah darah.
Beberapa orang yang telah berhasil menguasai ketakutan mereka, segera berlari sejauh mungkin dari Sungsang Geni.
Padahal serangan pemuda itu kali ini tidak mengenai titik pital, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menjatuhkan mental mereka.
Sungsang Geni belajar sesuatu dari setiap pertarungan yang di alaminya. Hal pertama dalam pertarungan adalah menguasai pikiran dan mental lawan. Bahkan jika musuh lebih kuat tetap akan mudah dikalahkan jika mentalnya jatuh.
Tidak perlu membunuh semua orang, cukup beberapa saja. Ketika mereka kehilangan harapan, maka semuanya akan menjadi mudah. Bahkan rakyat jelata bisa membunuh pendekar hebat, jika mental mereka lemah.
“Siapapun yang takut akan kematian, tidak akan memiliki mental bertahan.” Ucap Sungsang Geni, meski terdengar seperti angin lalu, tapi Sungsang Geni berusaha memberi tahu pihaknya untuk tidak takut dengan apapun, “Terkadang kekuatan, keberuntungan, dan juga harapan akan muncul setelah kau bertarung dengan segenap kemampuan.”
Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni menarik seluruh aura membunuhnya, menggantinya dengan aura hangat yang menenangkan bagi pihaknya.
“Jika ini adalah terakhir kalian hidup, maka tunjukkan kepada mereka kekuatan penuh yang kalian miliki, karena mungkin setelah ini kalian tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkannya lagi!”
Pihak Sungsang Geni yang mendengar perkataan itu, sedikit demi sedikit mulai menghunuskan pedang, membusungkan dada dan berjalan tegap ke arah musuhnya.
Ada sedikit keberanian yang keluar dari perasaan mereka yang terdalam, dan perasaan itu menekan mereka untuk bertarung sekuat tenaga.
__ADS_1
“Bagus, tunjukkan tekad kalian!” ucap Sungsang Geni, “Berikan teriakan paling keras!”
Semua orang dipihaknya berteriak sekeras mungkin, kemudian berlari menyerang para murid Sriyu Kuning yang sekarang lari ketakutan.
“Selamatkan diri kalian!” mereka berteriak.
“Mereka semua menjadi ganas, kita akan terbantai!”
Dalam beberapa menit akhirnya Pendekar Cabang Selatan berhasil memukul mundur pasukan Sriyu Kuning ke tempat mereka berada, Padepokan Pedang Bayangan Cabang Utara. Tapi sekarang tempat itu mungkin sudah dipenuhi dengan mahluk hasrat yang lepas kendali.
“Jangan dikejar!” ucap Sungsang Geni, “Mereka tidak berniat lagi bertarung, lagipula itu adalah keluarga kalian juga, benarkan?”
Tentu saja benar, Sungsang Geni bisa tahu kenapa ada keraguan di hati pihaknya. itu karena mereka memandang lawan sebagai sahabat, mungkin juga saudara dan keluarga. Itulah kenapa tidak satupun orang disini yang ketara memiliki aura membunuh.
Harusnya pertarungan seperti ini tidak terjadi, harusnya tidak ada cabang utara dan cabang selatan. Satu-satunya permasalahan adalah orang yang sedang bertarung melawan Resi Irpanusa, Sriyu Kuning.
Pria itu setelah kehilangan seluruh pasukannya, seperti orang gila. Dia menyerang membabi buta, ke enam bayangannya sekarang fokus melawan Resi Irpanusa.
"Jika kau mati, merka semua akan tunduk padaku!" Ucap Sriyu Kunig, beringasan.
Jadi sekarang hanya ada tiga pertarungan yang masih berlangsung.
Tapi mungkin tidak lama lagi, Kudusia juga bakal ditumbangkan oleh Pramudhita. Pria itu mulai mendapatkan banyak luka sejak pertarungan ini dimulai.
Bahkan luka di keningnya terlihat sangat besar, hampir seluruh wajahnya tidak dapat dikenali karena darah yang terus mengalir.
Dalam beberapa menit, akhirnya Pramudhita berhasil membuat Kudusia terkapar di tanah dengan hampir 15 luka di sekujur tubuhnya.
“Sekarang kau sudah berakhir, semua pasukan kalian telah kabur dan tidak lama lagi Sriyu Kuning akan mengalami nasip yang sama!” ucap Pramudhita, meletakan ujung pedang di leher Kudusia.
“Ya...ini tidak sama dengan rencana kami...” Kudusia berkata lirih, sekekali menghela darah dari wajahnya, “Lakukan dengan cepat, buat kematianku tidak terlalu menyakitkan!”
__ADS_1
Pramudhita mengangkat pedang tinggi-tinggi, menarik napas panjang sebelum menancapkan tepat di leher Kudusia. Namun...
“Aku tidak bisa membunuhmu!” ucap Pramudhita menancapkan pedangnya tepat di samping leher Kudusia, “Kesalahanmu itu adalah patuh terhadap Sriyu Kuning, kau bisa membayar dosa itu jika kau mau!”
Setelah mengatakan hal demikian, Pramudhita pergi meninggalkan Kudusia yang di penuhi dengan penyesalan. 'Apa yang telah aku lakukan, apa ini salah?'
Pada pertarungan Tabib Nurmanik dan Prawati, nampaknya mulai mencapai puncak. Dua bayangan naga tiba-tiba terbentuk. Tekanan dari dua naga itu terasa sama besarnya, rupanya Tabib Nurmanik dan Prawati yang saling menggunakan jurus tingkat tinggi.
Sejuh ini sulit mengatakan siapa yang akan menang, sebab mereka sama-sama memiliki tingkat tenaga dalam dan usia yang sama. Kedua wanita itu, sekarang terlihat lebih menakutkan dari aura membunuh Sungsang Geni.
“Menyerahlah Prawati!” ucap Tabib Nurmanik, sebelum dia melepaskan naga bayangan yang meliuk-liuk di atas kepalanya, “Dan biarkan aku mengirimu pada pria ******** itu ke neraka!”
“Jangan terlalu berharap, Nurmanik. Kekuatanku sekarang berbeda dengan dahulu!” timpal Nurmanik.
Sebelum kedua jurus berbenturan, ratusan orang berlari menjauh sambil membopong teman-teman mereka yang terluka. Mereka sadar akan resiko tetap berada ditempat ini. Gelombang kejut yang dihasilkan mungkin bisa menghempaskan apapun di tempat ini.
“Bawa semua orang yang terluka!” ucap Pramudhita kemudian menunjuk pada beberapa lawannya yang masih bernapas, “Bawa mereka yang masih hidup, mereka akan mati seketika di tempat ini.”
Sungsang Geni tersenyum kecil, dia begitu kagum dengan sifat Pramudhita. Tidak hanya mementingkan keselamatan pihaknya, tapi juga keselamatan musuhnya yang sudah tidak sanggup lagi bertarung.
“Apa kau akan tetap di sini?” ucap Pramudhita berkata dengan Sungsang Geni.
“Aku ingin melihat pertarungan mereka berdua hingga selesai!” jawab Sungsang Geni, “Semua dendam berada didalam jurus itu...?”
“Yang kau katakan memang benar.”
Kemudian kedua naga bayangan meliuk-liuk lalu saling menyerang. Tekanan yang terjadi akibat benturan jurus tingkat tinggi itu, mulai menghempaskan apapun, beberapa pohon besar tercabut dan melayang.
Puluhan mayat seperti kapas berterbangan, dan ada lebih banyak lagi kerikil dan bebatuan yang bertebaran tak karuan.
Sementara Sungsang Geni dan Pramudhita tetap berdiri sambil menatap dua naga diatas sana. Tubuh keduanya mulai bergeser, Pramudhita melindungi tubuhnya dengan tenaga dalam sementara Sungsang Geni menancapkan pedangnya ke permukaan tanah.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, ledakan besarpun terjadi. Dua naga lenyap seketika berganti dengan kepulan asap yang membumbung tinggi. Suasana dipenuhi tekanan energi, membuat beberapa murid Resi Irpanusa kesulitan bergerak.
“Siapa yang menang?” salah satu dari mereka bertanya.