
Sungsang Geni tidak melepaskan pelukan Ratu Rindang Sari, dia tidak mengerti kenapa tapi baginya pelukan itu sedikit mirip dengan ibunya dahulu, hangat dan menenangkan.
Semua orang hanya terdiam, tabib cantik tidak berusaha melakukan apapun selain meneteskan air mata melihat kesembuhan Ratunya. Dia sudah berusaha melakukan segala hal hingga hari ini, usahanya membuahkan hasil.
Setelah beberapa lama, rangkulan dari Rindang Sari tiba-tiba melonggar. Sungsang Geni menatap wajah sendu wanita itu, sangat lama dan begitu betah hingga tanpa sadar dia menyeka air bening yang keluar dari pangkal matanya.
“Yang Mulia, aku sangat senang melihatmu baik-baik saja!” Sungsang Geni kemudian mundur beberapa langkah lalu memberi hormat kepada wanita itu.
“Namamu adalah Geni, bukan?” tanya Ratu Rindang Sari. “Ketika aku melihat wajahmu, ada perasaan senang dan sedih dalam hidupku. Kehadiranmu seperti catatan yang tiba-tiba kembali terbaca di dalam buku kenangan lama yang berusaha aku kubur dalam-dalam.”
Rindang Sari mulai menceritakan putranya yang telah meninggal ketika lahir bersamaan dengan Windur Hati. Mereka adalah kembar? Mungkin, kelahiran putra Rindang Sari terpaut 1 hari dengan kakaknya.
Mungkin terlalu lama di dalam rahim, pada akhirnya sang putra lahir tanpa nyawa. Tentu saja ini adalah pukulan berat bagi, Saylendra beserta seluruh Kerajaan.
Namun sebelum pemakaman itu dimulai, cahaya terang yang berkilauan turun dari langit. Tepatnya turun dari matahari. Cahaya itu begitu hangat dan sedikit menyengat seterusnya cahaya itu hinggap di tubuh putra Rindang Sari.
Setelah beberapa menit, hilang sudah pedar cahaya terang itu. Mereka tidak dapat menemukan kembali mayat putra Rindang Sari, hilang meninggalkan bekas peti pemakaman yang terbakar.
Seorang spiritualis berpendapat bahwa putra kerajaan Swarnadwipa telah dipilih oleh Dewa Matahari sebagai pengorbanan yang akan membuat kerajaan ini tentram dan makmur.
Spiritual itu kemudian menganjurkan bendera kerajaan Swarnadwipa di ganti dengan lambang matahari, sebagai lambang kemakmuran tapi juga sebagai lambang pengorbanan.
Mendengar perkataan itu tanpa sadar menetes air mata Sungsang Geni membasahi pipinya, entah kenapa seolah-olah dia bisa melihat cerita itu benar-benar nyata, seolah dia berada di sana ketika hal itu terjadi.
“Ma'afkan aku, aku sangat lancang menyebutmu sebagai putraku.” Rindang Sari berkata lirih sementara beberapa tabib juga merasakan hal yang sama. “Tapi, jika kau tidak keberatan biarlah aku menganggapmu sebagai putraku?”
__ADS_1
Sungsang Geni melepas sarung tangan panjangnya, semua orang dapat melihat kulit tangan kanan pemuda itu berbeda dengan tangan kirinya. Namun mereka mulai diliputi tanda tanya, ketika simbol matahari bersinar terang dan terpancar begitu hangat.
“Apakah hari itu, rasa hangatnya seperti ini?” Sungsang Geni menahan untuk tidak menangis tapi air matanya tidak dapat di bendung. “Aku ditemukan di tengah hutan oleh ibuku ketika usiaku mungkin baru 3 hari. Ibuku mengatakan, bahwa aku adalah putra Surya karena aku membawa api di lengan kananku.”
“Ini seperti hari itu. Cahaya terang yang sama, perasaan hangat yang sama..,..” Rindang Sari sekarang begitu yakin pemuda di depannya adalah putranya, anak laki-lakinya yang tanpa nama.
Perasaan seorang ibu lebih kuat dari siapapun, Rindang Sari tidak mampu menahan diri untuk kembali memeluk tubuh Sungsang Geni dengan begitu erat. “Kau adalah putraku, kau adalah putraku yang hilang.”
Sungsang Geni membalas pelukan Rindang Sari, kali ini dia juga tidak bisa menahan diri. Kerinduan dirinya terhadap sosok ibu membuat dunia ini menjadi lebih lega. Dari pelukan ini dia bisa merasakan ibunya dahulu berada didekapannya, tersenyum kecil meski terhalang tabir nirwana.
Setelah cukup lama, Sungsang Geni melepaskan pelukannya. “Ma'af ibu, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu, tapi untuk sekarang aku harus menyelamatkan Raja...Saylendra.”
“Apa yang terjadi dengan Ayahandamu?” Rindang Sari mulai menunjukkan wajah khawatir, dia tidak ingin sesuatu yang membahagiakan ini berganti dengan kesedihan.
“Raja...sedang dalam masalah, begitu juga mungkin dengan putra Wira Mangkubumi.” Sungsang Geni kemudian kembali memasang sarung tangannya. “Sudah banyak hal yang terjadi selama Ibu Ratu tidak sadarkan diri, tapi aku akan berusaha menyelamatkan mereka semua.”
“Nak, bawa keluarga kita kembali!” ucap Remidang Sari.
“Tentu, tentu Ibu.”
***
Wira Mangkubumi mendapatkan luka di sekujur tubuhnya akibat pukulan kasar yang dilakukan Minak Singo. Saat ini tidak ada yang bisa dia lakukan, sebab mata anak panah akan menghujani putranya dan menghujani Saylendra jika pria itu melawan.
Di satu sisi, Pramudhita tidak bisa memilih siapakah yang akan dia selamatkan lebih dahulu. Bayi mungil yang tersedu-sedan dalam tangis, atau Saylendra yang bahkan tidak berdaya lagi untuk mencegahkan kepala.
__ADS_1
“Aku memiiki rancana untuk dirimu.” Minak Singo menghentikan perbuatannya. “Kau harus menjadi Raja di Kerajaan Swarnadwipa, lalu menyerang kerajaan Sabat. Kau harus berperang dengan kerajaan yang dipimpin oleh kakakmu sendiri.”
“Kenapa kau ingin kami berperang?” Wira Mangkubumi menatap Minak Singo dengan sinis. “Apa untungnya buatmu? Mereka adalah keluargaku pula. Aku tidak mungkin menyerang kampung halamanku.”
“Benar, aku yakin kau tidak bisa menyerang kampung halamanmu sendiri.” Minak Singo menaikkan telapak tangannya, memberi aba-aba kepada puluhan prajuritnya untuk melepaskan busur panah. “Kalau begitu, biarlah mereka berdua mati di tempat ini, Bunuh....!”
“Jangan, jangan lakukan hal itu. Aku akan menjadi Raja, kemudian menyerang Negri Sabat. Tapi tolong jangan lukai anak dan mertuaku.”
Minak Singo menyunggingkan senyum kemenangan, dia sangat menantikan hal itu. Dua Kerajaan besar akan berperang, dan dia akan menjadi penonton.
Setiap peperangan akan menimbulkan krisis di wilayah mereka masing-masing. Rakyat akan sengsara karena makanan dan minuman akan sulit didapatkan bahkan mungkin akan ada banyak pemuda-pemudi yang di utus kemedan perang.
Pada saat itulah, kedua Negri mengalami kelemahan. Minak Singo akan dengan mudah menguasainya, bahkan mungkin menghancurkannya lalu membuat tatanan baru.
“Pedang pemburu bayangan!” seorang melepaskan pedang kuat dari jarak yang cukup jauh, dan berhasil melukai Senopati Legam membuat pegangan pada tubuh sang bayi terlepas.
Pada saat yang sama, Pramudhita segera menyambar bayi itu dan membawanya melayang menjauhi mereka. Dari pengelihatan semua mata, bayi itu terbang melayang tanpa ada yang membantunya, membuat Pramudhita tersenyum kecil.
Minak Singo sangat geram mendapati hal itu, baru saja dia tertawa terbahak-bahak membayangkan semua rencana besarnya tapi sekarang telah di ganggu oleh seseorang yang melaju cepat ke arahnya.
“Panah Saylendra sekarang!” perintah Minak Singo.
Namun semuanya sudah terlambat, pedang Sungsang Geni sudah memutuskan semua tali-tali busur panah.
Seterusanya, pemuda itu telah berada tepat di hadapan Minsak Singo, mendaratkan pukulan dengan keras membuat pangeran dari Negeri Sembilan itu melayang beberapa saat ke udara dan mendarat di pohon besar.
__ADS_1
“Sekarang kau tidak bisa melakukan semua rencanamu lagi, Minak Singo.” Sungsang Geni melangkah mendekati pangeran itu, membuat seluruh sendinya terasa lunglai. “Aku membawa salam dari Surasena.”
Hari ini satu aja dulu, yg satu capter lagi belum selesai.