PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Lalatah Sari


__ADS_3

Krek...Darma Guru jatuh pula ketanah, saat berusaha menggendong Sungsang Geni.


“Aki, kau baik-baik saja?” Sungsang Geni bertanya dengan nada panik.


“Aku baik-baik saja, tapi ma’afkan aku, sepertinya kau terlalu berat untuk ku gendong.” Jawab Darma Guru terbata-bata.


Sungsang Geni terjaga seketika, dia segera turun dari gendongan Mahapatih, secepatnya. “Ehem...lagi pula tubuhku sudah tidak terasa sakit, aku...aku sudah bisa berjalan.”


“Baguslah...ya, baguslah.” Wajah Darma Guru terlihat merah menahan malu, suaranya menjadi gagap, padahal dari awal dia cukup percaya diri menggendong Sungsang Geni, tapi nyatanya malah beberapa tulang pinggangnya terkilir.


Darma Guru berpikir cukup lama, kemudian berusaha berdiri, lalu terdengar suara, kerek...krek... dari pinggangnya.


“Aki, kau yakin bisa berjalan dengan benar?”


“Tentu saja.” jawabnya, krek...krek...


Meski usianya setua itu, menggendong 20 orang pemuda seusia Sungsang Geni sebenarnya bukanlah perkara sulit bagi seorang pendekar yang berada di level tanpa tanding, tapi mungkin saja karena dia kehabisan stamina.


“Mungkin saja?” gumam Darma Guru, pandangannya tertuju pada batu hitam yang dipikul Sungsang Geni.


Akhirnya setelah cukup lama beristirtahat, Darma Guru dan Sungsang Geni beranjak pulang menuju Istana Surasena. Dengan tertatih-tatih.


“Aku akan mentraktirmu minum.” Gurau Darma Guru.


“Aku tidak suka minum, Ki,”


“Lalu Apa yang kau suka?”


“Entahlah...”


“Meyedihkan!” sambunya sambil terkekeh diikuti gelak tawa pemuda matahari itu, kemudian mereka menuju Istana Surasena.


Sepasang burung merpati terbang di atas kepala mereka, di antara awan dan puing-puing bangunan Surasena. Pelabuhan besar yang menghubungkan Kerajaan Surasena dan Kerajaan lain, menjadi medan pertempuran, menyisahkan reruntuhan.


Mungkin 5 hingga 6 tahun, Surasena baru bisa mengembalikan keadaan pelabuhan itu seperti sedia kala. Dan tentu membutuhkan ratusan ribu keping emas untuk membiayainya.


***

__ADS_1


Hari mulai petang, Sungsang Geni bersama Mahapatih Kerajaan Surasena baru saja sampai di depan gerbang utama Istana Surasena.


“Buka gerbang utama!” seorang diatas menara pengintai berteriak, diikuti getaran pelan pintu gerbang yang sebesar kapal. “Mahapatih telah kembali...”


Gerbang besar terbuka, tapi cukup aneh, tidak ada penyambutan untuk mereka berdua. Bagi Mahapatih yang setiap saat selalu disambut kemeriahan ketika kembali dari pertempuran, merasakan situasi ini terasa janggal.


“Yang Mulia Mahapatih...” seorang prajurit buru-buru menundukan kepala meberi hormat, kemudian berkata dengan terbata-bata. “Celaka Yang Mulia, celaka...”


“Celaka bagaimana, apa maksudmu? Berkatalah dengan benar!” ucap Darma Guru.


“Tuan putri Lalatah Sari....dia, dia bertingkah aneh Yang Mulia.” Prajurit itu nampak ketakuatan, dia tidak berani memandangi wajah Darma Guru, takut jika Mahapatih itu malah menuduh dia yang bukan-bukan.


“Nampaknya dugaanku benar.” Ucap Sungsang Geni , “Kau, bawa batu ini keruanganku! aku akan lebih dahulu kesana.”


Darma Guru mengernyitkan keningnya, jika wajah Sungsang Geni serisau itu, berarti perkataan prajurit di depannya bukan omong kosong belaka.


“Kau, bawa batu ini keruangannya!” Darma Guru menunjuk batu yang terletang di tengah jalan, kemudian segera berlari dengan ilmu meringankan tubuhnya.


“Cak, ayo kita bawa batu ini keruangan!” prajurit itu berkata, mengjak beberapa teman-temannya untuk mengangkat batu hitam itu, tapi usaha mereka sia-sia saja.


“Ya, ampun Gusti, ini batu apa? Kenapa kita tidak bisa mengangkatnya.”


Sekarang terlihat 10 orang prajurit yang berusaha menarik batu itu, dengan seutas rantai. Tapi se-centipun batu itu tidak bergeming dari tempatnya, “Cak, panggil yang lain!”


***


Beberapa saat kemudian, Sungsang Geni telah tiba di salah satu ruangan yang ber-asap. Itu adalah ruangan mendiang Raja Cakra Mandala.


Ruangan itu dipenuhi dengan prajurit Surasena yang berwajah panik, sebenarnya tidak ada satupun wajah orang-orang ditempat itu yang terlihat baik-baik saja.


Dia menemukan, Dewangga bersandar disalah satu tiang ruangan, dengan putri Rambut Emas menangis dipelukannya.


Tak jauh dari tempat Pangeran itu, Gadhing dengan wajah yang masih tegang bersama dengan putra mahkota Nala Setya, masih memegang erat pedang-pedang mereka.


Di pembaringan, Ratu Sedap Sari ditemani putranya Pangeran Lakuning Banyu dan seorang tabib istana. Wajah ratu itu, tampak pucat, ada luka gores di pundaknya yang terlihat masih baru. Sesuatu baru saja menyerangnya.


“Dewangga apa yang terjadi?” Tanya Sungsang Geni.

__ADS_1


“Geni, ternyata yang membunuh raja Cakra Mandala bukan Senopati Karang Dalo.” Putra Mahkota Majangkara itu berkata terbata-bata, nampaknya dia juga tergores sesuatu, tapi tidak begitu parah.


“Siapa yang melakukannya?”


“Putri Lalatah Sari...”


Sungsang Geni tidak menunjukan ekspresi terkejut, dia sudah cukup yakin ada yang salah dengan putri itu sejak kali pertama dirinya bertemu di ruangan Lakuning Banyu. Satu-satunya orang yang merasakan kepanasan di dekat Sungsang Geni.


“Dimana Mahesa?” tanya Sungsang Geni lagi.


“Dia bersama dengan Barakuna mengejar putri Lalatah Sari yang melarikan diri.” Dewangga menunjuk pada lemari pakaian yang sekarang berlobang besar.


Sungsang Geni mendekati lobang itu, tampak sebuah trowongan cukup besar dan gelap. “Dia membuat trowongan ini, untuk menyusup ke kamar Raja Cakra Mandala.” Sungsang Geni menggaruk kepalanya yang terasa pusing.


Darma Guru tiba dengan napas tersengkal-sengkal, “Apa yang telah terjadi sebenarnya?”


Lakuning Banyu segera menghampiri Kakeknya itu, menjelaskan pristiwa yang terjadi semenjak dirinya pergi bertempur dengn pasukan Karang Dalo.


Kejadianya belum lama, mungkin baru satu jam. Tiba-tiba saja, Lalatah Sari berusaha menyerang Ibundanya, Sedap Sari di ruangan mendiang Cakra Mandala. Untung saja, Lakuning Banyu berada tidak jauh dari kamar itu, dan sempat melindungi Ibundanya.


Mendengar suara gaduh, Putri Rambut Emas datang menengok, tapi nahasnya Lalatah Sari malah menyerang kakaknya itu dengan brutal.


Dan seketika, beberapa prajurit berdatangan untuk membantu namun Lalatah Sari terlalu kuat untuk mereka lawan. Tidak ada yang berani melawannya, dia seperti kesetanan, berteriak dan tertawa cekikikan, kemudian menyerang kembali keluarga kerajaan.


Tidak ada yang berhasil menghentikan putri itu, hingga Mahesa bersama dengan Dewangga serta Barakuna datang membantu. Meski demikian, Dewangga nyaris saja tewas melindungi Putri Rambut Emas jika bukan, Mahesa melindunginya.


“Aki, aku akan menyusul Mahesa.” Ucap Sungsang Geni, “dia bukan Putri itu, dia adalah orang lain, meski terasa samar, tapi aku merasakan aura yang terpancar dari wanita itu, mengandung kekuatan iblis.”


“Tapi keadaanmu saat ini...”


“Tidak apa-apa, aku masih bisa bertarung, wanita itu pasti menuju sangkarnya, Mahesa dan Barakuna mungkin akan kesulitan melawannya,” ucap Sungsang Geni.


Sebelum Sungsang Geni memasuki trowongan, tiba-tiba Lakuning Banyu memanggilanya. “Jaga dirimu baik-baik! "


“Aku berjanji akan kembali, Yang Mulia.” Sungsang Geni menundukan kepala, memberi hormat kepada pangeran Surasena itu.


“Geni!” Darma Guru mendekatinya, sembari menyodorkan keris panca dewa, “Pedangmu sudah hancur dalam pertarungan, gunakanlah keris ini, siapa tahu kau menemui lawan yang sangat tangguh,”

__ADS_1


Sungsang Geni tidak menolak, dia segera masuk kedalam trowongan yang dibuat oleh Lalatah Sari, mengikuti aura iblis yang terasa belum jau darinya.


__ADS_2