
Ki Demang beserta seluruh warganya bahagia luar biasa, bagai mana tidak tuan pendekar yang baru saja datang kemarin siang, sekarang telah kembali dengan segerobak penuh makanan.
Bukan hanya itu, dia mengangkut gerobak itu dengan satu tangan saja, karena sapi tidak bisa menyebrangi sungai beracun. Di tumpukan tertinggi bahan makanan, sang tawanan terkulai lemas belum sadarkan diri.
“Ini, bagilah makanan ini untuk kalian semua!” ucap Sungsang Geni, menyerahkan gerobak itu tepat di hadapan Ki Demang.
“Tu...tuan...Pendekar!”
“Ki Demang, apa kau takut jika Istana akan mengirimkan pasukan besar untuk menyerang Kadipeten Ujung Lempung?” tanya Sungsang Geni, lalu dibalas anggukkan Ki Demang. “Ah, tidak usah khawatir, aku tidak akan pergi dari Negri ini sebelum kalian merasa tentram.”
Ki Demang nyaris menangis mendengar perkataan Sungsang Geni, tapi sang istri sudah lebih dahulu meneteskan air matanya. Sungsang Geni lantas meminta wanita tua itu untuk menanak nasi yang banyak, merebus ubi untuk dimakan bersama.
Hari itu, semua warga di kampung tertinggal untuk kali pertama setelah 8 bulan menyantap makanan selezat hari ini. Memang tidak ada daging untuk mereka, kecuali dua kelinci bagi Panglima Ireng. Tapi nasi adalah satu hal yang paling langka. Ini adalah makanan enak, menurut mereka.
Sungsang Geni menyerahkan satu gabah kering padi, untuk ditanam. Tapi pemuda itu juga bingung, sawah tiada air. Tidak mungkin pula mengairi sawah dengan sumur kecil di tengah dusun.
“Tapi tenang saja, aku akan membawakan air ke tanah ini.” ucap Sungsang Geni, kepada para warga pria di kampung itu.
“Tu...tuan...Pendekar begitu mulia, kami tidak tahu harus mengatakan apa kecuali ucapan terima kasih.” Ki Demang memeluk tubuh Sungsang Geni dengan haru.
“Anggap saja ini adalah imbalan karena kalian sudah mempertahankan keyakinan.”
Hari itu di tengah kampung, warga kampung tertinggal mengadakan makan bersama. Semua orang begitu gembira, gadis manis mendekati Sungsang Geni memberikan sepotong ubi untuknya.
Untuk kali ini, pemuda itu menerima pemberian gadis cilik itu. “Kau harus makan lahap, paman akan mencarikan makanan lain untukmu. Yang lebih banyak.”
9 tahanan menelan ludah karena lapar, hingga akhirnya Ki Demang memberikan setiap dari mereka satu potong ubi. “Kami bukan seperti junjungan kalian, membiarkan orang lain kelaparan.”
Dengan raut wajah malu, terpaksa 9 tawanan menerima makanan yang diberikan Ki Demang. Terlihat hati mereka menjadi sedikit lebih luluh dari sebelumnya, apa lagi setelah gadis kecil yang mungkin kedua orang tuannya tewas karena ulah mereka, masih berbaik hati mengambilkan air minum.
__ADS_1
“Kalian lihat, inilah yang namanya manusia.” Sungsang Geni mendekati 9 orang itu, dia duduk di sana memperhatikan para warga yang sedang makan lahap. “Berpikirlah dengan jernih, kalian bisa menilai apakah tindakan istana benar atau salah.”
***
Ketika hari mulai beranjak petang, Ki Demang sudah bersiap-siap untuk pergi ke pusat Kadipaten Ujung Lempung. Hanya butuh setengah hari jika di tempuh dengan berlari, atau satu hari jika berjalan kaki.
Sebelum pergi, Sungsang Geni kembali mendekati 9 tawanan, “Jika kalian berani macam-macam, akan ku cari kalian semua meski harus meratakan Istana Tumenang. Camkan itu!”
“Ka...kami...tidak mungkin berani.”
Sungsang Geni Geni kemudian pergi ke arah utara menuruni lembah yang cukup luas. Hanya berjalan kaki saja, Ki Demang terlihat kesulitan menyusuri jalan setapak yang penuh dengan batu-batu kerikil.
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menggeram beberapa kali.
“Apa kau yakin?”
“Gerr...gerr...”
“Apakah tidak apa-apa?” tanya Ki Demang, dia mungkin merasa tidak layak duduk di punggung Panglima Ireng, sementara Sungsang Geni malah berjalan kaki.
“Ini akan membuat perjalanan kita lebih cepat,” timpal Sungsang Geni. “Berpeganglah dengan erat, jangan sampai jatuh!”
Panglima Ireng menggeram pelan, mungkin sedang tersenyum bahagia, lantas mengikuti Sungsang Geni melompati satu batu-ke batu yang lain. Perjalanan mereka lebih cepat dari sebelumnya, Sungsang Geni bisa saja terbang dan Ireng berlari kencang, tapi Ki Demang tidak akan bertahan lama di pundak Panglima Ireng.
Tepat tengah malam, ketika mereka baru saja memijakkan kaki di tanah yang datar setelah hampir setengah malam berjalan menyusuri lembah. Sungsang Geni memutuskan untuk istirahat, lebih baik menunggu malam berlalu.
Ketika baru saja hendak menyalakan api unggun, tiba-tiba terdengar suara beberapa orang sedang bercerita pula di sisi lain. Terdengar cukup jelas, menandakan jarak antara mereka dengan kumpulan orang itu cukup dekat.
Panglima Ireng mengenduskan hidung, berjalan menyusuri jejak kaki orang-orang. Rupanya benar, di balik batu besar ada sekelompok orang sedang istirahat. Mungkin sekitar 7 atau 8 orang pria.
__ADS_1
Tampilan mereka seperti orang kampung biasa, mengenakan pakaian ala kadarnya kecuali golok yang terletak di pinggang mereka. Terlihat sedang duduk melingkari api unggun, dan mengunyah makanan.
“Apakah mereka warga Kadipaten Ujung Lempung?” tanya Sungsang Geni.
“Saya kurang tahu, Ada tiga kampung yang menjadi wilayah Kadipatern Ujung Lempung.” Ki Demang mengernyitkan keningnya, sedang berpikir keras. “Mungkin mereka adalah sisa-sisa prajurit yang sedang berjaga.”
Sungsang Geni menaikkan alisnya, terlihat meragukan ucapan Ki Demang. Tanpa menunggu lama, pemuda itu mendekati orang-orang itu.
“Bolehkan kami ikut bergabung dengan kalian, Kisanak?” ucap Sungsang Geni.
8 orang itu segera terperanjat, serentak mengambil golok dan mundur beberapa langkah ke belakang. “Siapa kau? Jangan berani mengacau di kampung kami?”
Sungsang Geni menghela nafas perlahan, kemudian tersenyum kecil. “Tenangkan diri kalian, aku tidak berniat mengusik kampung kalian.”
“Kami tidak percaya...”
Ki Demang kemudian datang mendekat. “Kami berniat untuk menemui Adipati Lingga, mohon ma'af sebelumnya. Aku adalah KI Demang dari kampung Resangan.”
Salah satu dari 8 orang itu memperhatikan Ki Demang dengan seksama dari ujung rambut hingga ujung kaki. Beberapa saat kemudian, pria itu segera menyarungkan goloknya. “Aku mengenali anda, ma'afkan atas sikap kami sebelumnya.”
“Syukurlah kalau begitu.” Ki Demang tersenyum kecil.
Dari mereka Sungsang Geni tahu, bahwa keadaan Kadipaten Ujung Lempung saat ini sedikit kritis. Adipati Lingga mambawa beberapa prajuritnya keluar dari kota, mengungsikan diri. Sudah selama satu bulan terjadi huru-hara di dalam kota.
Menurut mereka, salah satu pendekar suci -julukan bagi lima prajurit paling hebat di Kadipaten itu merupakan seorang penghianat. Dia bersekongkol dengan sang raja untuk membunuh Adipati Lingga, sebagai pemimpin tertinggi para pembrontak.
“Jadi saat ini, kota di duduki oleh musuh?” tanya Ki Demang.
“Benar, kami terpaksa pergi dan bersembunyi di kampung tua di Lembah Hantu.”
__ADS_1
“Lembah Hantu?” Sungsang Geni menaikan alisnya. “Bukankah kerajaan Tumenang di katakan berada di lembah hantu? aku tidak mengerti maksudnya?”
“Lembah hantu sebenarnya bukan berada di pusat Istana, tapi di suatu tempat di negri ini. Hanya beberapa orang yang mengetahui lokasinya?” jawab Ki Demang. “Bisa diartikan, Kadipaten Ujung Lempung adalah penduduk atau ras asli atau orang pertama di Kerajaan Tumenang.”