
Tongkat penghancur gunung terasa bergetar hebat di genggaman Sabdo Jagat. Sekitar 2 menit cahaya kekuningan merayap disetiap motip yang terukir pada seluruh batang tubuh tongkat itu. Udara di sekitar mereka seketika sedikit berat, hingga beberapa waktu. Pada akhirnya tongkat itu menjadi tenang.
Sabdo Jagat merasakan aliran energi besar pada tongkat itu, dia tidak yakin dapat mengendalikannya. Namun pada akhirnya pria itu bisa menggunakannya seperti tongkat pada umunya.
“Energi ini, membuat jantungku berdetak kencang.” Sabdo Jagat bergumam pelan.
Kaki Baja masih berusaha setenang mungkin, dia tidak ingin musuh melihat dirinya lemah. Tapi tentu saja tidak bisa, tingkahnya sekarang menunjukkan dirinya sedang ketakutan.
Hal yang pertama dilakukan Kaki Baja adalah menyalurkan tenaga dalam jumlah besar pada kakinya, kaki itu harus cukup kuat menahan serangan yang akan segera datang.
Tidak berbeda dengan Mata Setan, pria dengan kemampuan melihat segalanya tidak dapat menyembunyikan kerisauan di wajahnya. Pria itu bisa melihat, seorang mahluk yang bersarang di dalam tongkat itu seperti raksasa yang haus darah.
“Kemana perhatianmu!” ucap Guru Jelatang Biru, kesempatan ini segera dia gunakan untuk menyerang Mata Setan yang sedang terpaku.
Mata Setan masih sempat menghindar 3 jarum yang mengarah padanya, tapi satu jarum yang terakhir di lepaskan Guru Jelatang Biru mengenai pergelangan kaki kanannya.
“Ahk...! kau menyerang ketika musuhmu Lengah, pendekar macam apa dirimu?” pria buta itu terpekik, dia menyumpah serapah kepada Jelatang Biru.
Mata Setan meraba pergelangan kaki, tapi jarum itu lebih dahulu masuk kedalam dagingnya tanpa sempat dicabut. Jarum yang sangat kecil dan pendek, hampir seperti sengat lebah. Semakin dia menggerakkan pergelangan kaki kanannya, rasa sakit yang diderita Mata Setan semakin bertambah.
“Sekarang kau berbicara seolah kau adalah pendekar paling suci?” Jelatang Biru tersenyum kecil, “Bukankah tadi kau ingin mengeroyok Ketua Sabdo Jagat, menurutmu pendekar macam apa dirimu?”
Mata Setan terbungkam mendengar ucapan Jelatang Biru, dia hendak membalas tapi dia merasakan kakinya mulai mati rasa.
Racun yang digunakan oleh Jelatang Biru bukan hanya kuat, tapi salah satu guru terkuat itu bisa melepaskan jarum miliknya pada titik akupuntur, sekarang tinggal menunggu waktu hingga kelumpuhan datang kepada Mata Setan. Inilah kekuatan yang paling berbahaya dari Jelatang Biru.
__ADS_1
“Kaki Baja!” ucap Mata Setan, “Tidak ada cara lain, kita harus kabur.”
Kaki Baja melihat Mata Setan sekarang kesulitan berjalan. Tidak ada kesempatan, jikapun sempat pergi dari sini, Sabdo Jagat tidak akan melepaskan mereka bertiga dengan mudah. Jadi Kaki Baja berniat menjadikan Mata Setan sebagai umpan, itu adalah salah satu kunci paling baik menurutnya.
Disisi lain Mata Setan telah mengerahkan banyak tenaga dalam pada kakinya, sekarang terlihat ruam hitam pada bekas jarum beracun.
Jika dia tidak salah menduga, dengan tenaga dalamnya saat ini, mungkin masih memiliki waktu 2 jam sebelum racun itu sampai ke organ jantung.
Namun diapun sebenarnya tidak begitu tahu cara menangkal racun, tapi jika dia masih sempat hidup, hanya ada satu cara menghentikan racun itu. Mata Setan menggigit bibir membayangkan rencananya.
“Jurus Penghancur Gunung, kemarahan Batara Kala.” Sabdo Jagat mengambil inisiatif untuk menyerang terlebih dahulu, Kaki baja tidak sempat menghindar jadi dia dengan kakinya yang keras menahan serangan itu sekuat tenaga.
Setiap detiknya, tongkat penghancur gunung terasa semakin berat, lebih berat dari satu bangunan besar. Salah satu kaki Kaki Baja mulai tenggelam kedalam bebatuan.
Kaki Baja hampir tidak percaya, dia memandang sekilas kearah temannya, Mata Setan dengan penuh makna. Pria itu berharap, Mata Setan sedikit meluangkan waktu untuk menyerang Sabdo Jagat.
Tapi siapa yang menyangka, pada saat tekanan energi yang bertabrakan begitu besar, menghempaskan seluruh benda-benda disekitarnya, termasuk Guru Jelatang Biru dan Guru Gentar Bumi. Mata Setan mengambil keuntungan dari Kaki Baja.
Dia segera meraih Banduwati, lalu sekuat tenaga terbang menjauh dari sana. Guru Jelatang Biru hendak menyusul, tapi sekali lagi dia terpental beberapa meter karena tekanan dari Sabdo Jagat dan Kaki Baja.
“Sialan! Apa yang kau lakukan?” teriak Kaki Baja, menyadari Mata Setan telah menipunya. Sungguh disayangkan, ternyata kedua wakil komandan itu sama-sama berpikir untuk mengorbankan temannya agar bisa selamat.
“Ma'afkan aku teman, tapi tidak ada pilihan lain, kita berdua tidak akan selamat dari tempat ini, kecuali salah satu harus menjadi tumbal.” Mata Setan terus terbang tanpa menoleh ke belakang, “Matilah! dan akan kubalaskan dendammu kelak.”
Sabdo Jagat tidak menunggu waktu lama, dikerahkannya segenap kemampuan. Membuat seluruh tulang pada Kaki Baja remuk, dan selanjutnya tongkat penghancur gunung mendarat di tubuhnya dan menghempas di Bukit gersang, hingga meretakan bukit itu dengan retakan yang sangat besar.
__ADS_1
“Celaka!” ucap Guru Jelatang Biru sambil menarik Gentar Bumi. “Tempat ini akan runtuh.”
***
Setelah terbang beberapa menit, Mata Setan mendarat kasar di kediaman Banduwati, sekarang kaki pria itu terlihat sangat hitam. Mustahil baginya untuk bisa menahan racun yang mulai menjalar ke bagian paha.
“Apa yang terjadi!” wakil komandan yang lain buru-buru menyelamatkan Banduwati, mereka tidak pernah berpikir bawa komandan itu bisa mengalami nasip seperti ini.
Salah satu dari mereka segera menyalurkan tenaga dalam kepada wanita itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam baju, tampak seperti bubuk obat dan meminumkannya kepada Banduwati.
“Kau!” Mata Setan menunjuk salah satu wakil komandan yang menggunakan pedang, “Apa pedangmu sangat tajam?”
Kepanikan mulai terjadi, Mata Setan terlentang di lantai tanpa sanggup untuk berdiri. Sekarang tenaga dalamnya tidak cukup lagi untuk menahan racun di kakinya, tidak setelah dia terlalu banyak menggunakan untuk terbang dari musuhnya.
“Apa yang kau inginkan?” tanya wakil komandan itu, “Ada apa dengan pergelangan kakimu, apa pemuda itu yang melakukannya?”
“Jangan banyak tanya, sekarang segera potong kaki ini, sebelum racun ini membunuhku” jawab Mata Setan, dia harus mengambil tindakan ini atau semuanya akan berakhir, “Cepatlah, aku tidak punya waktu banyak!”
Wakil komandan itu terlihat ragu sekali, tapi dia mengeluarkan pedangnya lalu memadarkan pada tungku perapian. “Aku tidak menyangka akan menebas kakimu, tapi jika kau memang memaksa, akan aku lakukan dengan senang hati.”
Setelah mengatakan hal itu, dia segera melayangkan pedangnya, menebas lutut Mata Setan sekali ayunan. Mata Setan menjerit kesakitan, teriakan hampir terdengar di seluruh Reruntuhan Lembah Ular.
Darah hitam membanjiri lantai bangunan, dan beberapa saat kemudin darah itu menguap seperti air yang dipanaskan.
“Jelatang Biru!” Mata Setan menggigit bibirnya menahan sakit, “Akan kupastikan kau membayar semua ini dengan nyawamu.”
__ADS_1