PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Butuh Pemimpin Cakap


__ADS_3

Di Ujung dataran Java, tepatnya di markas terakhir Surasena. Semua orang juga mulai menyiapkan pasukan mereka, tidak ada yang tahu kapan akan terjadi perang.


Sementara itu, Sungsang Geni dan Cempaka Ayu belum juga datang dengan berita yang diharapkan. Lakuning Banyu berusaha keras untuk membuat sebuah rencana cadangan bila mana para pengungsi tidak dapat di pindahkan ke dataran Swarnadwipa.


Mahesa mulai menyiapkan peralatan perang dari kayu seadanya, memotong pohon-pohon besar yang dibentuk sedemikian rupa menyerupai sebuah tameng.


Beberapa peralatan lain juga di buat dari jalinan rotan, ada banyak warga yang bisa melakukan hal itu. Ini cukup menguntungkan, jalinan rotan lebih kuat 2 kali lipat daripada tameng yang terbuat dari kayu.


Darma Cokro sudah memutuskan beberapa pendekar untuk menyisir sepanjang 10 km dari markas mereka. Namun sejauh ini belum ada tanda-tanda musuh datang menyerang, ini membuat mereka memiliki waktu untuk melakukan persiapan.


Puluhan orang juga menciptakan ranjau yang di pasang di sepanjang hutan, ada ratusan ranjau saat ini. Dan beberapa dari ranjau itu mengenai sasaran, tapi bukan musuh melainkan binatang rusa. Nampaknya binatang itu cukup ceroboh hingga kakinya menyandung simpul jerat yang mereka letakkan.


Sekarang Ki Alam Sakti menemui serikat pendekar di temani dengan murid-muridnya. Setelah pertemuannya tempo hari bersama Sungsang Geni, baru kali ini orang tua itu kembali bertemu dengan Darma Cokro dan yang lainnya.


“Sesepuh Alam Sakti, kenapa anda datang ke sini?” ucap Darma Cokro ketika orang tua itu membuka tirai tenda Serikat Pendekar.


“Apa orang tua seperti diriku tidak lagi dibutuhkan bagi kalian?” Ki Alam Sakti tersenyum ramah. “Aku hanya bergurau, jangan di ambil hati.”


Perlakuan Darma Cokro lebih santun dari pertama kali orang tua itu datang. Bukan tanpa alasan, obat yang diberikan Sungsang Geni beberapa pekan lalu rupanya sangat manjur.


Benggala Cokro pulih dalam satu hari berkat meminum ramuan yang diberikan Sungsang Geni.


Darma Cokro sudah meminta pendekar medis untuk menganalisa ramuan yang tercampur di dalam obat berwarna hijau itu, tapi hingga hari ini tidak ada yang berhasil menemukan formulanya.


“Sesepuh Ki Alam Sakti, aku memberi hormat.” Benggala Cokro menundukkan kepalanya.


“Berdirilah, putra Darma Cokro!” ucap Sesepuh pedang awan berarak itu. “Aku melihatmu lebih sehat dari sebelumnya sukurlah, itu membuatku tenang.”


Benggala Cokro membalasnya dengan senyuman manis, kemudian Darma Guru mendekati pria tua itu dengan keadaan canggung. “Sahabatku, aku mungkin...”

__ADS_1


Mahapatih Surasena itu merasa tidak enak hati telah bersikap cukup buruk kepada sahabatnya. Berhari-hari ketika dia melihat Benggala Cokro, wajah Sungsang Geni juga selalu mengusik pikirannya.


Tidak sepantasnya dia berlaku seperti itu. Jika dia terkenang kembali kejadian di Surasena yang hampir membuat semua orang di telan bahaya karena kekuatan Keris Panca Dewa, maka apapun alasannya orang tua itu tidak bisa membenci Sungsang Geni.


“Yang berlalu biarlah berlalu, kedatanganku ke tempat ini bertujuan untuk membahas langkah apa yang akan kita tempuh selanjutnya.” Ki Alam Sakti kemudian termenung beberapa saat. “Terlepas dari pengungsian yang direncanakan Raja Lakuning Banyu, aku rasa kita juga harus membuat persiapan lainnya.”


Darma Cokro juga sepemikiran, dia sudah memutar otaknya beberapa kali tapi dia tidak menemukan cara apapun untuk bertahan dari gelombang besar yang akan meruntuhkan markas terakhir mereka.


“Kita mungkin harus menyiapkan pertahanan yang lebih kuat mulai hari ini!” Sesepuh dari perguruan merak hijau angkat bicara. “Namun demikian, jika keadaan memang benar-benar genting, mungkin menyerah adalah solusi paling baik.”


“Menyerah hanya akan meruntuhkan martabat kita!” ucap Ki Lodro Sukmo.


“Benar, aku tahu itu, aku hanya berpikiran jika kita berada pada masa sulit, mungkin itu rencana yang tidak terlalu buruk.” Sesepuh dari Merak Hijau menimpali. “Kita bisa membuat kembali rencana lain, kita bisa mengumpulkan kembali pasukan. Jika kita mati, kita akan kalah seutuhnya tapi jika kita menyerah kita kalah setengahnya.”


Semua orang mulai berdiaman, ada hal baik dari perkataan orang itu. Tapi beberapa pendekar hebat tidak begitu setuju, seperti Darma Cokro, KI Lodoro Sukmo dan Ki Alam Sakti lebih memilih mati dari pada menyerah.


“Ma'afkan aku jika sedikit lancang!” ucap Dewangga. “Kenapa kita tidak menyerang mereka lebih dahulu?”


“Jangan bercanda anak muda!” Ki Lodro Sukmo menaikkan nada suaranya. “Dari segi apapun kita tidak bisa berperang menghadapi mereka.”


“Kami sudah melihat pasukan mereka, begitu besar. Kami juga melihat peralatan mereka, sumber daya mereka.” Benggala Cokro juga ikut memberikan pendapat. “Aku hampir mati disana.”


“Semuanya juga hampir mati, kawan.” Gahding berkata.


“Kendala kita adalah para pengungsi, kita tidak bisa berpindah-pindah tempat sementara harus menjaga mereka.” Darma Guru berkata penuh makna.


Meskipun sekarang tidak begitu ketara, tapi perasaan mereka mulai berharap terhadap perjuangan yang di lakukan Sungsang Geni di Swarnadwipa.


Ketika semua orang sibuk memberikan pendapat, Sabdo Jagat hanya terdiam. Tidak, bukan hanya Sabdo Jagat, tapi semua orang dari perguruan Lembah Ular tidak mengeluarkan satu katapun saat ini.

__ADS_1


Empu Pelak kemudian keluar dari pertemuan itu, dia berjalan sedikit bungkuk sebab luka yang didapatnya di bagian tulang belakang menyulitkan dirinya untuk berjalan dengan benar.


Melihat hal itu, Siko Danur Jaya mendekati orang tua itu dengan perasaan heran. “Empu, kenapa kau tidak memberikan pendapat?”


Empu Pelak terbatuk-batuk beberapa kali, ya, tubuh tuanya mungkin sudah begitu rapuh tapi masih bisa mencerna situasi ini. “Menurutmu apa orang di dalam sana lemah?”


“Kenapa Empu berkata demikian? Tentu saja mereka semua orang kuat.”


Empu Pelak terkekeh kecil sambil memandangi kereta iblis yang dia ciptakan di atas tembok kayu, “Dengarlah perdebatan orang-orang di dalam sana! Mereka akan melakukan hal itu sepanjang waktu, sebab mereka adalah orang kuat.”


“Apa yang ingin anda katakan, Empu?”


“Perang sudah ada bahkan semenjak orang belum menghunuskan pedang. Anak muda, pada saat itu, apa yang dilakukan para pejuang jika berperang tanpa senjata?” Empu Pelak kemudian terkekeh kembali dengan sekekali diiringi batuk ringan. “Dengan otak mereka.”


Yang dimaksud dengan Empu Pelak adalah, tidak ada satu orangpun saat ini di tempat itu yang memiliki kecerdasan di bidang pertempuran, tidak ada!


Bahkan Lakuning Banyu yang di anggap paling pintar di tempat itu, tidak bisa mencari jalan keluarnya.


Sekarang yang dibutuhkan mereka adalah orang yang berpikiran spontan, dan tidak terpaku dengan buku-buku yang mereka baca.


Mereka harus meluaskan pikiran, tapi sejauh yang di perhatikan Empu Pelak tidak ada orang yang seperti itu.


“Kita butuh seorang pemimpin yang bisa dihadapkan pada situasi apapun.” Empu Pelak bergumam pelan. “Yang kita butuhkan sekarang adalah seorang pemimpin cakap.”


“Kami sudah memiliki pemimpin yang seperti itu, pak tua.” Mahesa telah berada di tempat itu tanpa di ketahui oleh mereka. “ Setelah kembalinya Sungsang Geni, kami akan keluar dari wilayah ini dan mulai melakukan pertempuran.”


Empu Pelak kemudian terkekeh kembali, “Ya, orang seperti dialah yang kita butuhkan.”


Ada yg mau kasih like? Hikhikhik.

__ADS_1


__ADS_2