PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kekalahan Telak


__ADS_3

Sriyu Kuning mulai pasrah dengan keadaannya, dia mengangkat tangannya seraya berusaha tersenyum kecil. “Apa kau akan membunuhku, Guru?”


Resi Irapuna tidak mengucapkan sepatah katapun saat ini, dia tidak berniat mengatakan hal yang tidak penting, karena itu jelas hanya mengulur waktu.


Tapi sisi hatinya tidak dapat melakukan tindakan sekejam mantan muridnya, jikapun Sriyu Kuning harus mati, maka bukan dengan tangannya.


Pada akhirnya kakek tua itu menarik napas panjang, “Kau harus membayar perbuatanmu selama ini! Tapi...”


“Tapi apa? AKH...!”


Seriyu Kuning berteriak kesakitan, itu adalah tindakan Sungsang Geni. Pemuda itu menyadari sesuatu ketika, memperhatikan gerak-gerik pria tidak tahu diri itu.


Sriyu Kuning berniat melakukan serangan rahasia ketika Resi Irpanusa sedang lengah dengan melepaskan satu senjata tajam seperti pisau kecil beracun terbuat dari taring **** dari balik lengan bajunya.


Sungsang Geni yang mengetahui itu, melepaskan pisau kecil dan membuat kedua tangan Sriyu Kuning terpasak ke bumi.


Resi Irpanusa mundur bebarapa langkah, wajahnya menjadi murka menyadari niat licik yang dilakukan Sriyu Kuning.


“Rupanya, kau memang tidak layak mendapat ampunan!” Geram Resi Irpanusa, dia mengangkat satu jari telunjuknya kemudian 3 bayangannya yang masih tersisa menyerang Sriyu Kuning dengan belasan tusukan.


Jerit kesakitan menggema di tempat itu, tapi Sriyu Kuning tidak mati. Tepatnya, Resi Irpanusa melumpuhkan semua titik pital ditubuhnya, membuat pria itu tidak dapat lagi menggunakan tenaga dalam untuk bertarung.


“Dengan begini, kau telah menjadi seorang pecundang!”


Sriyu Kuning meringis kesakitan, meratapi hampir belasan luka di bagian-bagian penting di tubuhnya. Seperti sebuah mimpi buruk, pria itu masih merasakan tenaga dalam di dalam tubuhnya tapi tidak bisa menggunakannya.


Sekarang tenaga dalam sebesar itu, akan tidur untuk selamanya. Resi Irpanusa memutuskan semua jalur energi didalam tubuh, bentuknya seperti akar, hanya diketahui jika orang mempelajarinya secara khusus, atau jika orang memiliki pengelihatan gaib.


Bagaimanapun kelumpuhan tenaga dalam bagi pendekar sama saja dengan mati. Sekuat apapun dia berusaha, tenaga dalam pria itu tidak akan dapat digunakan lagi.


“Ini semua karena ulahnya!” Sriyu Kuning bergumam pelan, menatap kearah Sungsang Geni yang tersenyum kecil. “Semua rencanaku hancur karena dirinya!”

__ADS_1


“Jangan menyalahkan siapapun atas kejahatan dirimu, Sriyu Kuning!” ucap Resi Irpanusa. “Bagaimanapun kau telah merencanakan pembantaian, ini adalah hukuman yang setimpal untukmu.”


Setelah mengatakan hal demikian, semua orang pergi meninggalkan Sriyu Kuning sendirian meratapi nasip. Resi Irpanusa dibantu Pramudhita lebih dahulu menuju Padepokan Pedang Bayangan, untuk mendapat penanganan mengenai matanya.


Sungsang Geni adalah orang terakhir yang pergi meninggalkan Sriyu Kuning, pemuda itu tidak mengatakan sepatah katapun. Dia hanya melemparkan serpihan batu menyerupai mata tombak yang lumayan tajam.


“Apa yang kau lakukan bocah?” ucap Sriyu Kuning, memandangi serpihan batu tersebut kemudian kembali menatap Sungsang Geni dengan tajam.


“Jika kau berada di dunia luar, maka kau sudah mati hari ini!” Sungsang Geni menyunggingkan senyum kecil yang merendahkan, “Gunakan serpihan batu itu untuk melawan mahluk hasrat yang sebentar lagi akan datang, jika kau tidak sanggup maka gunakan benda itu untuk mengakhiri hidupmu.”


Bergetar seluruh tubuh Sriyu Kuning mendengar perkataan Sungsang Geni. Matanya melotot nyaris keluar dari kelopak mata, jika saja dia ada kesempatan untuk membunuh seseorang sebelum ajalnya tiba, tentulah Sungsang Geni yang akan dipilihnya.


“Apa kau tahu, aku bisa mengetahui semua yang kau pikirkan saat ini?” ucap Sungsang Geni, seraya menunjuk kepalanya sendiri, mengisyaratkan pikirannya, “Sejauh ini kau tidak bisa menghilangkan sifat jahatmu, setelah ini kau pasti mencari cara agar bisa membunuh semua orang yang menghalangi ambisimu.”


“Cuih...” Sriyu Kuning meludah ke tanah.


“Yah, semoga beruntung.”


Seriyu Kuning menoleh ke belakang, mulai melihat sekumpulan asap yang melayang-layang dengan mata-mata yang merah.


Dia berniat berkata kepada Sungsang Geni setelah menyadari nyawanya tidak akan selamat, tapi pemuda itu sudah pergi meninggalkan dirinya.


“Kurang ajar, terkutuklah kau bocah!” Sriyu Kuning berteriak sekerasnya.


***


Sungsang Geni masuk kedalam tembok Padepokan Pedang Bayangan sambil berlari kecil. Pemuda itu menginstruksikan untuk menutup pintu gerbang secepat mungkin, bahkan kali ini Panglima Ireng juga masuk ke dalam pekarangan Padepokan.


“Apa mereka sudah dekat!” ucap salah seorang pendekar, suaranya terdengar gagap, mendapati Sungsang Geni hanya mengangguk wajah pria itu semakin tegang. “Kalau begitu semuanya, kita harus bersiap!”


Pramudhita datang buru-buru setelah menyerahkan Resi Irpanusa kepada beberapa orang murid dari Tabib Nurmanik.

__ADS_1


“Paman, jumlah mereka mungkin ribuan, tapi beberapa diantara mereka memiliki tekanan yang luar biasa kuat!” ucap Sungsang Geni.


“Aku akan menghadapi mereka yang paling kuat! Apa kau masih bisa bertarung?”


Sungsang Geni tersenyum kecil, dia mengeluarkan satu bilah pedang energi yang mulai terbang tinggi. “Bukankah ini adalah pesta? Bagaimana mungkin aku melewatkannya?”


Pramudhita tertawa kecil mendengarnya, tapi sebenarnya dia masih terpukau melihat pedang Sungsang Geni yang seperti sedang melakukan patroli.


Pria kekar itu lalu terbang di atas tembok Padepokan. Matanya mulai melihat segumpal asap putih dengan mata-mata merah menyala dan suara tangisan wanita. Terdengar seperti nyanyian kematian.


Dia menghunus pedang energi, dan seketika 4 bayangannya terbentuk. Tapi begitu pula dengan pendekar yang lainnya, yang hampir berjumlah 100 orang dengan garis 3 dan 2 jule.


Sebenarnya ini adalah pasukan yang luar biasa kuat, bahkan lebih kuat dibandingkan seluruh prajurit Kerajaan Surasena.


Harusnya meski mahluk hasrat berjumlah ribuan, mereka tetap bisa mengalahkannya dengan mudah mengingat tenaga dalam yang mereka miliki luar biasa besar.


Sungsang Geni baru saja tiba di atas tembok Padepokan, tepatnya di dekat rumah Pramudhita. Melihat ratusan bayangan pendekar yang berjejer rapi membuat dia menghela napas kesal.


“Apa kalian sedang unjuk kebolehan?” ucap Sunsang Geni. “Baiklah, aku akan memulainya!”


Pemuda itu menggerakkan jari telunjuknya, dan seketika pedang energi melesat cepat melewati sela antara Pramudhita dan pendekar di sebelahnya.


Pramudhita melirik ke arah Sungsang Geni dengan kesal, tapi pemuda matahari itu malah menaikkan kedua bahunya.


“Dia benar-benar ingin unjuk kebolehan!” Pramudhita akhirnya terbang cepat bersama bayangannya, menyerang terlebih dahulu.


Belasan mahluk hasrat lenyap seketika ketika pedang energi Sungsang Geni menembus tubuh mereka. Dan di sisi lain, Pramudhita mulai melakukan tebasan membuat semua orang mengikuti dirinya.


Lalu diatas tembok padepokan, Sungsang Geni hanya dapat menatap mereka bertarung. Tangannya terasa gatal untuk bergabung bersama yang lainnya, tapi tidak ada pilihan lain, tanpa tenaga dalam dia tidak bisa terbang seperti yang lainnya.


“Jika dipikirkan lagi, mungkin aku hanya akan mengganggu pertempuran mereka saja...” Sungsang Geni menghela napas berat, dia mengambil sebuah kursi dari dalam rumah Pramudhita dan menjadi penonton di kejauhan.

__ADS_1


Pemuda itu masih menggerakkan jari telunjuk, “Hehhh...ini benar-benar membosankan!”


__ADS_2