
Hari itu Sungsang Geni mengalami demam panas, hal yang tidak pernah dia rasakan selama hampir 20 tahun usianya. Sekujur tubuhnya benar-benar menggigil hebat, bibir biru dan mata sayu. Dia benar-benar pucat pasi.
Wulandari begitu panik, jadi dia menyelimutkan pakaian luarnya untuk Sungsang Geni lalu menimbunnya dengan tumpukan jerami. Tapi hal itu tidak kunjung membaik, pemuda itu masih menggigil kedinginan.
“Bagaimana ini? tidak mungkin efek racun yang kuberikan berakibat seperti ini.” Wulandari menjadi kalang kabut.
Jadi pagi ini dia berniat mencari apapun tumbuhan yang mungkin bermanfaat untuk mengobati demam pemuda itu. Dia paham beberapa tumbuhan untuk meredakan demam.
“Tunggulah sebentar di sini?” Wulandari berkata sebelum pergi meninggalkan gubuk itu. “Mungkin aku bisa mendapatkan beberapa jahe untuk menghangatkan tubuhmu.”
Sungsang Geni tidak menjawab melainkan hanya dengan anggukan kecil saja.
Keluarlah Wulandari dari gubuk itu, dilihatnya jalanan tampak begitu sepi kecuali beberapa gubuk pula yang tanpa penghuni. Satu persatu gubuk disinggahi, masuk ke ruangan dapur untuk mencari obat-obatan herbal penurun panas, tapi sial tidak ada apapun selain sarang laba-laba.
Dia bahkan menemukan gubuk yang dipenuhi tulang belulang, terlihat sudah cukup memakan bulanan penghuninya meninggal.
Dua kerangka tulang belulang masih duduk berdekatan, diantara kerangka itu ada struktur kerangka bocah kecil yang mungkin dipeluk ketika mereka menemui ajal.
Perasaan Wulandari menjadi terguncang, ada anak panah tepat menancap di tulang tengkorak anak kecil itu.
Kelelawar Iblis sudah membunuh keluarga kecil ini, itu sudah pasti. Wulandari duduk di dekat mereka berdua, membersihkan semua sarang laba-laba yang mulai mengotori.
“Ma'afkan kami, kalian bahkan tidak mendapatkan pemakaman yang layak.” Gadis itu berturur sedih.
__ADS_1
Wulandari bersegera mencari apapun untuk menggali tanah di pekarangan belakang gubuk itu, karena tidak menemukan alat lain untuk menggali, terpaksa pedang hijaunya yang digunakan. Butuh beberapa waktu hingga akhirnya gadis itu berhasil pula memakamkan ketiga kerangka keluarga kecil itu menjadi satu.
“Semoga kalian mendapatkan tempat yang layak di alam Nirwana.” Gadis itu lalu meletakkan 3 bongkah batu sebagai nisannya.
Setelah cukup lama pula dia berkeliling, akhirnya menemukan tanaman liar yang yang tumbuh di atas pohon tinggi. Wulandari sebenarnya tidak memiliki cukup kepandaian di bidang ilmu meringankan tubuh, jadi dia hanya bisa melompat seperti katak dari dahan ke dahan yang lainnya.
Pohon itu setinggi pohon kelapa, ketika dia baru tiba diatas sana wajahnya begitu pucat saat melihat ke bawah. Ditambah lagi angin yang bertiup kencang. Jika bukan karena begitu sukanya dia terhadap Sungsang Geni mana mungkin pula dia mau melakukan hal ini.
Di Kerajaan Sembilan dia adalah gadis bangsawan, berdarah biru yang makan saja harus disiapkan oleh pelayan.
Beberapa waktu kemudian, akhirnya dia berhasil mendapatkan tanaman itu meski mendapatkan beberapa luka ringan di tubuhnya yang mulus. Ah sial, karena pakaian tebalnya digunakan untuk menyelimuti Sungsang Geni jadi tubuh putih gadis itu harus berubah merah karena lecet. Syukurpun tidak ada yang melihat perbuatannya.
Dia kemudian buru-buru merebus ramuan itu.
Dalam keadaan hangat kuku, sangat perlahan sekali dia melayani Sungsang Geni. Bahkan sebelum pemuda itu meminum ramuan itu, dia harus mencicipi terlebih dahulu untuk memastikan masih panas atau tidak airnya.
Sungsang Geni hendak mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia tersedak oleh air ramuannya sendiri.
“Jangan dulu berbicara!” Wulandari meletakkan lengan baju panjangnya yang tipis ke bibir pemuda itu, ketika hal itu berlangsung mata mereka berdua bertemu.
Wulandari menjadi salah tingkah, jadi buru-buru menghentikan tindakannya lalu segera memalingkan wajah pada sisi yang lain. “ Aku tidak bermaksud untuk merayumu. Aku hanya merasa sedikit bersalah, jika bukan karena tindakanku kau tidak akan demam seperti ini.”
'Demam ini bukan dikarenakan olehmu. Ini adalah hal yang kudapatkan setelah bertemu dengan mereka berempat tadi malam.' batin Sungsang Geni bergumam.
__ADS_1
Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, dia sedikit paham mengenai perasaan gadis itu, tapi pemuda itu tidak ingin mengatakan apapun saat ini. Dia hanya memilih tidur dan memeluk tumpukan jerami sebagai penghangat.
Waktupun berlalu, akhirnya pemuda itu terlelap pula. Wulandari begitu bersyukur akhirnya ramuan yang dia berikan sudah mulai bereaksi. Namun dia masih berniat untuk mencari obat-obatan lain, karena ramuan itu hanya berfungsi untuk menurunkan gejala demam bukan untuk mengobati.
Hari itu mereka berdua tidak memakan apapun, sebab tidak ada hal yang bisa dimakan. Gadis itu tidak pandai berburu, tidaklah pula pandai menangkap ikan di sungai, meskipun dia pandai memancing tapi sungainya yang tidak ada ditempat ini.
Ketika petang hari, sayu-sayu dia mendengar rentak kaki kuda yang berlari kencang. Nampkanya akan ada orang yang melewati tempat ini, pertanyaannya siapa orang itu?
Kecuali Prajurit Kelelawar Iblis maka yang akan melewati tempat itu adalah para Pendekar yang masih berkeliaran atau juga para pelarian rakyat yang memutuskan menjadi bandit dan membunuh Pasukan Kelelawar Iblis.
Yang manapun mereka itu, Wulandari tidak memiliki perasaan baik saat ini. Andaikan dia itu adalah Kelompok Kelelawar Iblis, maka mungkin yang terjadi dia akan pergi dengan membawa Sungsang Geni yang dalam keadaan lemah.
Kemungkinan terburuk adalah, pemuda itu mungkin akan mendapatkan masalah.
“Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggumu...” Gadis itu berkata lirih, kemudian sekuat tenaga mengangkat tubuh Sungsang Geni, meletakkannya di belakang tubuhnya dan di ikat dengan selendang tipis yang dia miliki. “Kita akan bersembunyi di dalam hutan, bertahanlah sebentar....” Gadis itu menggendong Sungsang Geni yang berbadan besar lalu pergi kedalam hutan.
Beberapa menit kemudian, rupanya para penunggang kuda sudah datang pula di gubuk tadi. Wulandari masih bisa mengintip dari celah-celah semak belukar, memastikan gelagat 4 orang penunggang kuda itu.
Mereka bukan Pasukan Kelelawar Iblis, tapi nampaknya bukan pula para bandit. Pakaian mereka tampak begitu bagus, dengan jubah yang bergambar burung elang di bagian belakangnya. Serikat Pendekar.
Itu lebih buruk lagi, pikir Gadis itu. Serikat Pendekar sudah keluar dari persembunyiannya, itu artinya mereka sudah memiliki sesuatu yang digunakan untuk merebut kembali Dataran Java, situasi ini akan buruk. Jika mereka sampai menemukannya, Sungsang Geni akan direbut paksa.
Salah satu dari 4 penunggang kuda itu cukup terkenal di kalangan para gadis, ya meski Wulandari tidak pernah bertemu secara langsung, tapi dia bisa tahu bahwa itu adalah pemuda yang bernama Benggala Cokro, ada banyak seketsa gambar yang dilukiskan para gadis.
__ADS_1
Beberapa gadis menjadikan dia buah bibir sebelum terjadinya ledakan perang 8 bulan yang lalu.
“Akan sangat buruk jika sampai berurusan dengan pemuda itu!” Wulandari bergumam pelan, dari informasi yang diberikan bawahannya, Benggala Cokro mampu menandingi pendekar tanpa tanding seorang diri, bahkan di katakan pemuda yang paling kuat di Dataran Java, sebelum akhirnya rekor itu dipecahkan oleh Sungsang Geni.