PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Sesungguhnya


__ADS_3

Sejak terbakarnya Markas Surasena, hingga saat ini belum terjadi bentrok lagi. Padahal hari sudah mulai beranjak malam, siulan burung kecil mulai terdengar mencari tempat tidur berbalas dengan suara jangkrik yang berdesir.


Antara dua belah pihak masih saling mengawasi dari kejauhan, seolah saling membaca pergerakan lawan, atau juga saling merencanakan taktik masing-masing.


Lakuning Banyu berada di atas pohon paling besar. Semenjak dia berbagi tubuh dengan roh Panca Dewa tingkahnya sedikit berbeda dari sebelumnya. Raja itu tidak bergerak selama beberapa jam, selalu memandang tajam pada pasukan lawan.


Matanya yang berwarna hijau -mirip seperti mata ular- sedari tadi tadi selalu menyapukan pandangan pada hamparan lawan yang begitu banyak. Setelah memasuki waktu malam, barulah dia turun dari atas pohon, berkumpul bersama dengan para Sesepuh Pendekar Surasena.


“Mereka mungkin tidak akan memiliki rencana, tapi pasukan itu memiliki kemampuan jauh lebih kuat dibanding dengan kita,” ucap Lakuning Banyu, suaranya masih terdengar seperti lima orang manusia serak. “Ada kekuatan gelap bersemayam di dalam tubuh pasukan itu, aku bisa melihat benda-benda hitam berenergi lebih dingin daripada Roh Panca Dewa.”


Semua orang setiap kali mendengar suara Lakuning Banyu selalu saja merasa merinding, bulu kuduk mereka berdiri dan tengkuk terasa dingin. Hanya beberapa orang saja yang mau mendekati dirinya saat ini.


“Paduka Raja, apakah kita hanya berdiam saja di tempat ini? atau mulai bergerak untuk menyerang?” Bertanya Dewangga, dia adalah salah satu pria yang masih berusaha tetap tenang berada di dekat Lakuning Banyu, meski tentu saja tengkuknya terasa dingin.


“Mereka saat ini sudah mulai bergerak mendekati kita...” Lakuning Banyu menunjuk pasukan Kelelawar Iblis yang berentak kaki, berjalan berbaris rapi mendekat. “Bentrokan kedua akan segera terjadi beberapa menit lagi. Kita tidak akan mundur dan lari, meski kita bisa melakukannya.”


“Paduka Raja, apa kau memiliki rencana?” Ki Alam Sakti bertanya pula, Guru Sungsang Geni itu sudah mulai resah saat ini, perasaannya tidak menentu lebih-lebih dia berpikir energi kegelapan setiap waktu semakin terasa menyelimuti wilayah mereka, seolah ada mahluk lain sedang mengintai di atas cakrawala hitam.


Mendengar pertanyaan dari Ki Alam Sakti, mata tajam Lakuning Banyu mengerlit ke arah pak tua itu kemudian beralih pada Darma Cokro dan Ki Lodro Sukmo. “Tidak ada rencana...” ucap dirinya tapi kemudian dia kembali menatap Ki Alam Sakti. “Guru dari Sungsang Geni...Hem...kau akan bersamaku melawan salah satu komandan mereka, sementara Ki Lodro Sukmo dan juga Darma Cokro menghadapi Komandan yang lain.”


“Lalu?” bertanya lagi Dewangga.


Wajah Lakuning Banyu tiba-tiba menjadi berubah untuk beberapa saat, dia sedang berpikir saat ini, kemudian mata hijaunya mengerlit ke atas pada langit malam tanpa bintang. “Tidak ada lagi kata yang terucap, malam ini akan jadi pertarungan panjang, kegelapan ada di sini menyaksikan kita.”


Benarlah yang dirasakan Ki Alam Sakti bahwa ada mahluk lain yang sedang mengintai saat ini di balik langit malam tanpa bintang.


Setelah itu Lakuning Banyu menginstruksikan semua pasukan bersiap siaga. Mereka sudah membentuk sebuah formasi sederhana untuk menyambut kedatangan musuh.


Saat ini Ki Alam Sakti beserta Lakuning Banyu sudah berdiri paling depan, kemudian di sisi kanan mereka Darma Cokro dan juga Ki Lodro Sukmo.


Wira Mangkubumi menginstruksikan pasukannya untuk mencari lawan yang paling lemah, meski sebenarnya tidak mungkin ada. Dia juga berpesan agar lawan yang terlihat lebih kuat dihadapi dengan lebih dari satu orang.


“Pangeran Wira?” Hulu Balang mendekati Wira Mangkubumi, wajahnya terlihat sedikit risau.


“Akan banyak korban berjatuhan, kita tidak bisa menyelamatkan semua orang...” Wira Mangkubumi berkata serak. “Tapi meski demikian, kita harus berusaha sebaik mungkin untuk bertahan.”


Hulubalang itu terlihat hendak mengatakan hal lain, tapi niat itu segera diurungkan. Dia lantas kembali lagi pada barisan pasukannya, dan terlihat sedang mengatakan beberapa kalimat kepada semua bawahan.


Di sisi lain lagi, Sabdo Jagat beserta tiga sahabatnya berada paling ujung dari pasukan ini. Mereka memimpin sayap kiri pasukan Surasena, terdiri dari dua ratus pendekar dari Lembah Ular dan sekitar seribu orang dari parjurit Surasena itu sendiri.


“Sabdo Jagat, aku tidak akan mundur.” Jelatang Biru menarik dua jarum dari balik bajunya, jarum itu terlihat cukup besar dan keras dengan benang halus yang terhubung di pangkal senjata itu.


Jelatang Biru tidak mungkin langsung menggunakan jarum dengan racun yang kuat, tidak banyak jarum yang dia miliki jadi sebagai gantinya dia akan menggunakan jarum seukuran jari kelingking yang akan di tarik ulur.


Namun demikian, jarum itu tetap saja berbisa, pendekar kelas tiga hingga kelas satu tidak akan mampu bertahan setelah tergores oleh jarum miliknya.


Sedikit ke sebelah kiri, Guru Tiraka berdiri dengan ditemani guru Gentar Bumi. Wanita itu tahu serangan miliknya bisa mengunci pergerakan lawan, bahkan bisa menghentikan detak jantung lawannya, tapi kekuatan itu tidak bisa digunakan setiap saat.


Dia harus melakukan beberapa jurus untuk melumpuhkan lawannya, oleh sebab itu Gentar Bumi akan berada di sisi wanita itu untuk melindungi sekaligus menghabisi musuh yang terkena efek dari jurus Guru Tiraka.

__ADS_1


“Aku akan berusaha sekuat tenaga...” bergumam kecil Guru Tiraka, beberapa kali dia menelan ludahnya karena merasa takut, tapi tak jarang Gentar Bumi menepuk pundak wanita itu pelan memberi isyarat untuk tetap memantapkan diri.


“Semoga saja kita diberi kemenangan...” berkata lirih Guru Tiraka dan hanya dibalas senyum kecil Gentar Bumi.


Gentar Bumi mungkin ingin mengatakan sesuatu terlihat dari ekspresi wajahnya, tapi dia adalah pria bisu jadi yang dilakukan pria itu hanya tersenyum kecil sambil mengelus dada menunjukkan ketabahan.


Setelah beberapa menit suara terompet dari tanduk kerbau terdengar di sisi sebelah timur, kemudian bersahut pula di sisi sebelah barat.


“Musuh sudah memasuki jangkauan panah kita...” Lakuning Banyu mengangkat tangan memberi instruksi untuk melepaskan busur.


Pada saat itu waktu terasa begitu lambat, seolah satu menit terasa seperti satu jam lamanya. Puluhan orang berkeringat dingin, seolah ini adalah akhir dari segalanya.


“Lepaskan panah!” Memberi perintah Lakuning Banyu, kemudian berteriak salah satu dari prajurit mengucapkan kalimat yang sama.


“SERANG MEREKA!”


Ribuan anak panah melayang di atas awang-awang, melaju menebus dinginnya udara dan gelapnya malam. Selang beberapa menit, terdengar teriakan. Puluhan orang tersungkur di tanah bersimbah darah, beberapa yang lain menjerit kesakitan tapi mungkin tidak akan mati.


Serangan panah hanya dapat dilakukan sekali saja, jadi setelah itu serangan sesungguhnya akan segera dimulai.


“Keraskan rahang kalian, jangan gentar sedikitpun!” Wira Mangkubumi berteriak di gelap malam.


“Serang!” teriak Lakuning Banyu.


“Serang!” Wira Mangkubumipun menyahut, kemudian ada lagi sahutan dari pihak lain.


***


Sabdo Jagat adalah orang yang paling depan kemudian di iringi dengan Gentar Bumi dengan kapak besarnya. Salam pembuka dari Gentar Bumi adalah rekahan tanah yang terbelah, kemudian ada puluhan orang masuk ke dalam liang yang dia ciptakan.


Salam kedua dari tongkat penghancur gunung yang sejak tadi sudah terasa panas dingin. Ledakan besar menderu bercampur dengan kilatan yang seolah seperti sambaran petir, puluhan orang menjadi gosong.


“Tongkat yang luar biasa hebat,” ucap Ki Alam Sakti melirik sesaat ke arah Sabdo Jagat.


Hanya sesaat saja kakek tua itu melirik, hingga tiba-tiba dia merasakan aura berat keluar dari tubuh seorang banci. Jaka Balabala memberikan salam dengan lesatan energi berbentuk kipas besar yang bergerak cepat ke arah Guru Sungsang Geni itu.


Ki Alam Sakti bergerak ke samping dengan gesit, energi berbentuk kipas itu melewati dirinya hanya satu jari dari pelipis mata. Namun kemudian puluhan batang terpotong secara rapi setelah kipas itu melewatinya.


Gemuruh pohon tumbang membuat semua orang menjadi panik. Ratusan orang segera menghindar sejauh mungkin, tapi ada pula beberapa prajurit tidak sempat berlari dan terpaksa gugur seketika.


Ki Alam Sakti menoleh sekilas, kemudian dia bergerak begitu cepat. Dua tebasan pedang berhasil mendarat di tubuh Jaka Balabala, tapi tidak terjadi apapun pada tubuh pria banci itu, selain baju zirahnya yang robek.


“Pedang ini bukan pusaka...” Ki Alam Sakti terlihat kecewa, andaikata pedang itu setingkat pusaka tinggi mungkin bisa melukai Jaka Balabala.


“Serangan yang sangat cepat...” Jaka Balabala senyum kecil sambil menutup cadarnya dengan jari lentik dan keriput. “Tapi sayang sekali, kau bukan tipeku, sayang sekali aku harus membunuhmu. Jika saja kau 30 tahun lebih muda, mungkin aku akan berpikir menjadikanmu sebagai simpanan, hikhikhik...”


Ki Alam Sakti tersenyum kecil, pak tua itu sudah cukup paham dengan sifat lawannya hanya dengan melihat pakaian yang dia kenakan. Seorang laki-laki tidak akan mengenakan pakaian wanita kecuali hanya banci.


“BERSIAPLAH!” Jaka Balabala berkata berat, wajah bancinya menjadi angker hanya dalam hitungan detik, lantas dia bergerak cepat dengan kipas besar sebagai senjata utamanya. Pertempuran dua orang itu tidak dapat dihindari.

__ADS_1


Hanya dalam hitungan menit saja, kedua orang itu telah bertukar seratus serangan. Ki Alam Sakti kembali melesat dengan cepat, menggunakan pedang untuk memberi satu serangan mematikan.


Tapi kipas besar milik Jaka Balabala seperti sebuah baja, pedang Ki Alam Sakti bergetar hebat setelah beradu dengan senjata itu.


Ki Alam Sakti menolak tubuhnya ke belakang, berjungkir balik di udara beberapa kali menghindari serangan yang baru saja dilakukan Jaka Balaba. Serangan Komandan Kelelawar Iblis hanya menebas langit malam.


Pada saat yang sama, Ki Alam Sakti hinggap di sebuah batang besar, tapi sekali lagi serangan seperti kipas mengarah padanya.


Ki Alam Sakti melompat ke udara, berjungkir balik beberapa saat tapi tiba-tiba perasaannya menjadi tidak nyaman. Ada aura berat lagi yang dia rasakan, dan rupanya benar. Kali ini seorang wanita cantik sudah berada di belakangnya, dengan sebuah selendang merah yang memancarkan energi luar biasa berat.


Ki Alam Sakti tidak sempat menghindari serangan itu, dia tidak memiliki waktu untuk bergerak di udara.


“DOR...” Ledakan energi terjadi di belakang Ki Alam Sakti, membuat kakek tua itu terhempas ke dalam rimbunnya dahan pohon besar.


Nyai Siwang Sari menoleh kebawah, tepatnya pada tiga orang yang menatap dirinya. Darma Cokro menarik pedang emas yang tadi berhasil menghalau serangan wanita itu.


“Wah...wah...Darma Cokro?” Nyai Siwang Sari turun perlahan di dekat adiknya, Jaka Balabala. “Aku selalu mendengar mengenai kehebatan perguruan Pedang Emas, aku juga pernah mendengar mengenai kesaktian pedang naga emas, tidak kusangka kekuatannya memang mengerikan.”


Darma Cokro tidak menjawab melainkan dengan serangan cepat.


Pedang Naga Emas berdengung cepat, melayang ke udara dan kembali menukik ke arah Nyai Siwang Sari. Wanita itu tidak berniat menghindar, dia malah melempar ujung selendangnya ke udara, seketika selendang itu seperti sebuah benda keras yang berhasil menahan laju pedang pusaka Darma Cokro.


Melihat hal itu, Ki Lodro Sukmo mengambil inisiatif untuk menyerang wanita tua berwajah cantik itu, tapi sayang sekali serangan pak tua itu dapat dibaca oleh Nyai Siwang Sari. Satu lagi ujung selendang miliknya mendarat tepat di bagian dada pak tua itu, memaksa dia kembali ke tempat semula.


“Uhuk...uhuk...” Ki Lodro Sukmo terbatuk kecil.


“Jangan menyerang seperti itu, pak tua tak tahu diri.” Nyai Siwang Sari tersenyum kecil. “Cakar macanmu, apa dia sehebat kabar yang kudengar?”


Pada saat yang sama, pedang Naga Emas terpental beberapa saat. Gelombang kejut bertekanan besar terjadi, udara seketika berhembus kencang hingga menggugurkan dedaunan pada pohon di dekat mereka.


Darma Cokro terpundur dua langkah ke belakang, kemudian dengan cepat dia menarik pedang pusakanya. Jika dia terlambat sedikit saja, pedang itu akan menyasar tepat di wajah Bangau Putih.


Wajah Bangau Putih pucat seketika, ketika pedang itu hanya berjarak satu jari dari kepalanya.


Ki Alam Sakti melesat dengan cepat, kali ini dia menggunakan cukup banyak tenaga dalamnya.


“Tarian Dewa Angin...” Guru Sungsang Geni itu berhasil memberikan luka tipis di wajah Jaka Balabala, membuat cadar yang selalu saja menutupi wajahnya terbuka.


Alangkah terkejut mereka melihat wajah asli Jaka Balabala. Dia tidak lebih muda dari Ki Alam Sakti atau pula Ki Lodro Sukmo. Giginya sudah ompong, tapi yang membuat dia berwajah angker adalah luka tepat di mulutnya.


Karena luka itu, mulut Jaka Balabala begitu besar dan lebar.


Jaka Balabala bersegera mengambil cadar yang jatuh di tanah, tapi niatnya segera urung setelah cadar itu berlubang sebesar kepal tinju. Tanah berlubang dalam, seolah baru saja di tombak oleh sesuatu benda keras.


Jaka Balabala menggeram, dia berusaha menutupi mulutnya. Rasa malu nampaknya masih berlaku pada tua banci itu.


“Wajah dan hatimu rupanya sama-sama buruk.” Berkata berat Lakuning Banyu, dari ujung telunjuknya masih mengepul asap tipis, dialah orang yang telah melubangi cadar milik Jaka Balabala.


Baik Jaka Balabala dan juga Nyai Siwang Sari menjadi terkejut melihat manusia bersisik berada di depan mereka. Tampaknya mereka berdua baru menyadari hal itu, atau mungkin cukup bodoh karena tidak merasakan energi lain di dalam tubuh seorang manusia.

__ADS_1


“Kau adalah roh pusaka?” Jaka Balabala bertanya heran. “Yah, aku bisa merasakan kekuatanmu, sedikit mirip dengan kami tapi tentu saja tidak. Kekuatan milik kami berasal dari kegelapan terdalam.” Jaka Balabala menunjuk tanah, dimana mereka yakini mahluk kegelapan terperangkap di dalam bumi.


Sebenarnya ini ada dua capter, tapi author jadikan satu. Semoga kalian menyukainya.


__ADS_2