PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Betina Pemarah


__ADS_3

Sebuah catatan dari kulit pohon yang tersimpan di perpustakaan Surasena di klaim sebagai tulisan dari petapa Aji Saka.


Orang-orang cendikiawan memang kesulitan menafsirkan tulisan tersebut, yang usianya sudah lebih dari 700 tahun lebih, tapi demikian mereka tetap berhasil memecahkannya.


Di dalam catatan itu, menjelaskan cerita mengenai seseorang bernama Aji Saka yang tidak tahu asalnya melintasi Swarnadwipa dan berhenti di dataran Java.


Orang itu dikatakan memiliki kemampuan yang luar biasa hebat, sehingga berhasil mengalahkan seorang raja kaum siluman raksasa, di mana pada masa itu dataran java masih dipenuhi dengan para siluman berbahaya.


Tidak banyak informasi yang diperoleh sebab beberapa tulisan benar-benar tidak dapat di baca lagi. Namun demikian, para cendikiawan berhasil mengetahui bahwa ada sebuah kerajaan makmur dan beradab berdiri di dataran yang disebut Swarnadwipa.


Sebenarnya catatan ini pula, yang menjadi dasar pengambilan keputusan Lakuning Banyu. Belum ada yang benar-benar tiba di dataran itu. Jadi Sungsang Geni mungkin akan menjadi saksi pertama membuktikan kerajaan Swarnadwipa benar-benar ada atau tidak.


Tulisan itu mengatakan butuh waktu 2 minggu berjalan dengan kuda, untuk tiba dari Swarnadwipa ke dataran Java ataupun sebaliknya dengan melintasi pegunungan, catatan itu juga menjelaskan ada siluman kera dan asal muasal nama pegunungan kerakatau.


Sungsang Geni yakin, siluman itu juga pernah dikalahkan oleh petapa Aji Saka, jika tidak lalu bagaimana caranya orang itu bisa sampai ke tanah Java?


Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya mereka tiba pula di dataran tinggi pegunugan itu. Di sini, sekarang pandangan menjadi terbatas, sebab awan terkadang datang menyelimuti permukaan hutan belantara.


Semak belukar yang lebat, serta pohon berdaun lebar menghalangi cahaya matahari menerobos hingga ke permukaan tanah. Meski di atas pegunungan, tapi suasananya terasa seperti di lembah, saking lebatnya hutan.


Udaranya lebih dingin lagi, padahal Sungsang Geni tidak menyukai udara dingin. Karena itu dia sudah menyiapkan jubah yang sangat tebal berwarna hitam, nyaris sehitam Panglima Ireng.


Sungsang Geni tidak bisa berjalan di antara semak belukar, jadi dia mengandalkan ilmu meringankan tubuh untuk berjalan dari atas ranting semak ke ranting yang lain.


Hal ini membuat Panglima Ireng semakin jengkel, moncongnya harus sekuat baja agar bisa melewati semak-semak berduri yang terkadang menghadang jalannya.


Setelah beberapa menit, akhirnya pemuda itu menemukan tempat untuk istirahat. Sebuah permukaan yang tidak bersemak, bukan tidak bersemak tapi sebenarnya permukaan itu seperti habis dibabat.


“Ini adalah jejak dari pendekar yang di kirim oleh Lakuning Banyu.” Sungsang Geni bergumam, dia sangat yakin sebab ada bekas api unggun terletak di tengah-tengah tempat itu.

__ADS_1


Setelah beberapa detik kemudian, Panglima Ireng tiba sambil mengendus kesal setengah mati. Ada beberapa goresan luka tepat di tengah moncong hitamnya. Ketika dia tiba di tempat itu, dia segera merebahkan tubuhnya tepat di kaki Sungsang Geni dengan lidah terjulur.


“Ini minumlah!” Sungsang Geni menuangkan air kedalam mulut srigala itu. “Setelah ini aku akan merintis jalan untukmu.”


Tidak selang beberapa lama tiba-tiba Sungsang Geni mendengar suara angin yang di terjang oleh orang yang sedang terbang. Pemuda itu juga merasakan tenaga dalam orang tersebut sangat besar, mungkin 4 jule dari arah belakangnya.


“Ini adalah manusia!” Sungsang Geni tersentak. “Apa ada orang yang mengikutiku?”


Sungsang Geni segera berdiri, sebab energi manusia itu sudah sangat dekat. Ketika dia belum menangkap siapa sosok orang itu, 5 buah kayu besar melayang ke arahnya.


Sungsang Geni melepaskan sebilah pedang, kemudian berhasil membelah kayu itu dengan cukup mudah. “Siapa kau? Tunjukkan wujud aslimu?!”


“Padahal kau sudah berjanji, tapi kenapa kau pergi tanpa berpamitan denganku!” Seorang gadis melayang ke arah pemuda matahari itu dengan kepalan tinju.


“A'apa?” Sungsang Geni tidak bisa menghindari pukulan keras yang mendarat tepat di pipinya, membuat dia terseok masuk ke dalam rumpun semak-semak. “A'Aduh...duh duh!”


Ketika dia sedang bertingkah seperti itu, tidak ada lagi yang bisa menghentikannya. Cempaka Ayu menoleh ke arah Panglima Ireng sambil cemberut dan berkacak pinggang, membuat srigala itu mundur beberapa langkah karena takut.


“Apa kau mau menggoda dirinya?” Cempaka Ayu berkata ngalur-ngidul. “Dasar srigala betina yang tidak tahu diri, kau lebih baik cari srigala jantan di hutan ini.”


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menundukkan kepala.


“Cempaka, kenapa kau menyusulku?” Sungsang Geni keluar dari dalam semak sambil mengelus pipinya yang merah. “Padahal perjalanan ini sangat berbahaya.”


Cempaka Ayu menoleh kearah Sungsang Geni dengan cemberut, wajahnya tampak merah dengan bibir manyun dan pipi mengembung.


“Yah...aku minta ma'af, aku pikir kau tidak perlu ikut karena perjalanan ini sangat berbahaya.” Sungsang Geni tersenyum manis, seketika raut wajah Cempaka Ayu menjadi lebih merah lagi. “Aku menjadi sangat khawatir, karena itulah aku pergi diam-diam.”


Cempaka Ayu masih tidak menjawab, dia duduk di salah satu akar yang sedikit menjorok keluar dari permukaan tanah. Sedangkan Sungsang Geni tidak tahu harus melakukan apa, ini adalah kali pertama dirinya menghadapi situasi seperti ini.

__ADS_1


“Kau pasti lelah, ini minumlah!” Sungsang Geni menyodorkan salah satu kendi labu yang paling bagus yang dia miliki.


Tidak berhasil, wajah Cempaka Ayu tidak terlihat membaik. “Jadi kau tidak haus? Baiklah aku akan menyimpan....”


Sungsang Geni tidak melanjutkan kembali ucapannya, ketika Gadis itu menyerobot kendi dan meminum airnya hingga habis. Itu adalah air untuk waktu dua hari yang dihabiskan oleh Cempaka Ayu dalam beberapa detik saja.


Setelah mengatakan hal itu, Cempaka Ayu segera berdiri dan berjalan lebih dahulu. Ketika baru beberapa langkah dia berhenti dan menoleh ke belakang. “Apa kau ingin aku berjalan sendirian? Kau tidak mau berjalan bersamaku?!”


“Oh, siapa bilang? Astaga kau yang bilang kan Ireng? Dasar kau ini!” ucap Sungsang Geni sambil menyentil telinga srigala itu, kemudian dengan buru-buru merapikan perlengkapannya dan berjalan mendekati Cempaka Ayu. “Sekarang, ayo kita lanjutkan kembali perjalanan gadis manis.”


“Jangan merayu!” Cempaka Ayu berkata kesal. “Aku sedang marah, saat ini!”


Di sisi lain, Panglima Ireng menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali Binatang itu mungkin ingin berteriak saking kesalnya. Tapi nampaknya dia menyadari, dimanapun berada dan apapun jenis mahluknya, para betina lebih mengerikan dari pada para pejantan, sehebat apapun pejantannya!


Sungsang Geni akhirnya berjalan lebih dahulu, dia menggunakan pedang untuk merintis jalan agar Cempaka Ayu dan Panglima Ireng di belakangnya tidak kesulitan berjalan.


Sekekali pemuda itu memperhatikan tingkah Cempaka Ayu yang mulai terlihat akrab dengan Panglima Ireng, bahkan beberapa kali gadis itu tersenyum dan tertawa kecil. Itu cukup melegakan, setidaknya perjalanan ini tidak terlalu membosankan.


“Menurutmu, apa aku tadi berlebihan?” cempaka Ayu berbisik di telinga Panglima Ireng.


“Gerr...gerr...” Panglima ireng menggelengkan kepala.


“Aku tidak bermaksud marah, tapi aku tidak bisa menahan diri ketika dia pergi tanpa mengajakku, aku bahkan melampiaskan kemarahan kepadamu. Ma'afkan aku...” Cempaka Ayu terlihat manyun. “Ireng, apa kau mau menjadi temanku?”


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng setuju.


“Kalau begitu, ketika seorang gadis mendekatinya kau harus mencakar gadis itu, hemm... menggigitnya juga tidak masalah, buat wajahnya menjadi buruk.” Cempaka Ayu tertawa kecil, sedangkan Sungsang Geni menarik napas berat kemudian tersenyum simpul.


Note: Nyai pelet, mak lampir dan nyai belorong adalah para betina, rupanya mereka lebih ditakuti dari pada pejantan, Bukan? Jiahahahaha....Jiahahahhaha.

__ADS_1


__ADS_2