PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Rencana Sungsang Geni


__ADS_3

Ke esokan harinya, Sungsang Geni beserta Sabdo Jagat dan puluhan orang lainnya, bergerak menunggangi kuda. Mereka menuju celah bukit, yang disebut jalur hitam. Sungsang Geni telah merencanakan sesuatu terhadap jalur itu.


Dia telah membicarakan hal ini kepada Sabdo Jagat serta ketiga guru yang lain. Meski awalnya Guru Jelatang Biru tidak setuju, namun pada akhirnya dia mengakui rencana yang diusulkan Sungsang Geni cukup hebat.


Mereka berencana menutup jalur hitam dengan panjang 200 meter tersebut. Rencana ini akan menutup akses jalan menuju Lembah Ular, tapi sebagai imbalannya Kelompok Kelelawar Iblis juga tidak akan melewati jalan ini.


Setelah tiba di jalur itu, puluhan orang bergerak menegakan tiang pancang. Hampir dua jam, akhirnya tiang yang direncanakan Sungsang Geni berhasil berdiri. Sungsang Geni berencana untuk membuat lorong. Dan menjadikan lorong itu sebagai pelarian, dan juga pemakaman bagi kelompok Kelelawar Iblis.


Sabdo Jagat dibantu dengan Gentar Bumi meruntuhkan bebetuan dinding cadas. Hampir setengah hari lamanya, akhirnya lororong yang dibuat dengan susah payah selesai juga.


Sungsang Geni memasuki lorong itu, kemudian menyalakan obor disetiap dindingnya. Ketika dia memukul salah satu tiang, lorong itu bergetar seperti akan runtuh.


“Ini sempurna, kelompok kelelawar iblis yang tidak memiliki ilmu meringankan tubuh tidak akan bisa melewati lorong yang hampir setinggi 20 meter ini. Tidak ada cara lain, mereka akan memasuki lorong ini!” Suara Sungsang Geni bergema di dalam lorong itu.


“Setelah ini, apa lagi rencanamu?” tanya Sabdo Jagat.


“Mengungsikan para wanita ke perbatasan!” ucap Sungsang Geni.


Perbatasan yang dimaksud pemuda itu adalah, perbatasan antara Lembah Ular dan Perguruan Pedang Emas. Semua orang jelas saja menolak rencana itu, hubungan Lembah Ular dan Pedang Emas tidak begitu baik dalam 10 tahun terakhir.


Untuk menduduki posisi pertama sebagai perguruan terkuat, Lembah Ular dan Pedang Emas telah lama memutuskan hubungan dan pokus dengan persaingan.


“Geni, aku rasa rencanamu yang satu ini tidak dapat kami setujui.” Sabdo Jagat menggelengkan kepalanya, “Kita tidak bisa meletakan semua warga di perbatasan, itu sama saja kita mengakui diri kita lemah.”


“Lalu apa salahnya mengakui bahwa kita adalah lemah?” Sanggah Sungsang Geni, “Paman, sekarang ini bukan saatnya kita saling menyikut, membenci dan bersaing. Sekarang ini adalah saat untuk kita bersatu, mengalahkan musuh yang sama. Kelelawar Iblis.”


“Tapi Geni, kau tidak paham?”


“Ya aku paham paman! karena itulah aku katakan mengungsikan warga di ‘perbatasan’ bukan di wilayah mereka. Kita tidak bisa mengutamakan Ego kita masing-masing, atau Kelelawar Iblis akan menghancurkan manusia, dan kita akan punah.” Tutup Sungsang Geni.


Sabdo Jagat belum memutuskan, tapi Sungsang Geni telah pergi meninggalkan dirinya menuju pemukiman warga. Pimpinan Lembah Ular itu melirik Guru Tiraka dan Guru Jelatang Biru penuh makna.


“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Sabdo Jagat.

__ADS_1


Semua orang nampaknya sedang berpikir, terlihat banyak kerutan bermunculan di kening mereka. Sabdo Jagat mulai menimbang kemungkinan rencana Sungsang Geni berhasil, tapi selain ke ‘egoan Lembah Ular’ tidak ada hal lain yang dapat membantah rencan pemuda itu.


“Aku mengaku rencana ini penuh resiko.” Jelatang Biru memecahkan keheningan, “Tapi nampaknya kita tidak punya pilihan lain, kecuali kita punya usul yang lebih baik!”


“Aku tidak punya rencana yang lebih baik!” Tiraka mendesah pelan.


Sabdo Jagat menarik napas berat, kemudian menahannya beberapa saat sebelum menghembuskannya. Dia seperti berada di jalan yang kiri dan kanannya adalah jurang, tentu saja ini adalah pertaruhan yang besar.


“Baiklah!” ucap Sabdo Jagat, “Kita akan mengikuti rencananya, semoga saja keberuntungan memihak kepada kita.”


***


Ratusan wanita dan orang tua pergi meninggalkan pemukiman, ada sekitar 50 prajurit yang mengawal mereka. Termasuk beberapa pendekar muda, tapi Siko Danur Jaya dan Rati Perindu memutuskan untuk tetap tinggal dan bertarung bersama.


“Barada!” Guru Tiraka memanggil salah satu muridnya, “Aku ingin kau menjaga Sekar Arum, taruhkan nyawamu demi keselamatan dia!”


Pemuda itu mengagguk, “Aku akan mengorbankan apapun demi keselamatannya guru!”


Sekar Arum terlihat sedih saat berpisah dengan ayah dan bibinya, tapi diapun menyadari dengan dirinya tinggal di sini hanya akan menambah beban saja.


Sekar Arum memeluk Sabdo Jagat sesaat, kemudian menghampiri Cempaka Ayu lalu berbisik kecil. Cempaka Ayu tersenyum kecil, bersamaan air matanya yang berurai. Terakhir, gadis kecil itu mendekati Sungsang Geni.


“Paman Geni, aku mohon jaga mereka berdua untukku!”


Sungsang Geni tidak menjawab permintaan Sekar Arum, dia tersenyum kecil lalu mengaggukan kepala. Tidak ada kalimat yang cocok untuk diberikannya pada gadis kecil itu, tapi jauh didasar hatinya, Sungsang Geni tidak ingin mengecewakan Sekar Arum.


***


“Paman bagaimana caranya Perguruan Lembah Ular menyampaikan berita!” Sungsang Geni bertanya, setelah rombongan pengungsi tidak terlihat lagi di depan mata.


“Dengan Elang hitam,” jawab Sabdo Jagat, “Apa kau ingin mengabari seseorang?”


“Benar! ada orang yang akan membantu mereka, jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Bisa kau panggilkan burung itu kemari, paman!” ucap Sungsang Geni, dia menulis sesuatu pada kertas kecil, lalu menggit ibu jarinya dan mengecap kertas itu dengan darah.

__ADS_1


Burung elang hitam segera terbang, tapi Sabdo Jagat sedikit heran karena tujuan burung itu bukan Kerajaan Majangkara yang merupakan kampung halaman Sungsang Geni.


Sabdo Jagat hendak menanyakan hal itu, tapi niatnya segera dia urungakan. Dia yakin Sungsang Geni memiliki rencan lain, dan dia tidak ingin meragukan rencana yang dibuat pemuda itu.


“Paman, apa kau mengenal empu pelak?” tanya Sungsang Geni.


Sabdo Jagat kemudian terdiam sesaat sebelum menjawabnya, “Tentu saja, dia adalah empu yang menciptakan dua sejata level tertinggi yang membuat Lembah Ular menjadi incaran perguruan lain , karena semua perguruan ingin memiliki orang itu.”


“Apa dia masih hidup!” tanya Sungsang Geni.


“2 tahun yang lalu, Empu Pelak tiba-tiba bertingkah aneh, itu disebabkan karena kematian istrinya oleh senjata yang dibuatnya sendiri. Lalu ayahku mengurung dia beserta bawahannya di dalam penjara rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain mengenai keberadaannya, kecuali aku dan beberapa orang kepercayaannya. Jika mereka cukup kuat bertahan dari lapar, aku yakin dia masih hidup didalam sana,”ucap Sabdo Jagat.


“Kita akan merebutnya!”


“Apa...?” Sabdo Jagat seketika terkejut mendengar ucapan Sungsang Geni.


“Dia sangat hebat dalam mebuat senjata, jadi kita akan membutuhkannya untuk menciptakan senjata yang bisa mengalahkan pasukan Kelelawar Iblis.” Sambung Sungsang Geni.


“Bagaimana caranya kita membebaskan dirinya? penjara itu berada di pusat keramaian Lembah Ular, aku yakin sekarang tempat itu dipenuhi anggota Kelelawar Iblis. Dan asal kau tahu dia sedikit gila.”


“Kita akan mencurinya. Tentu saja, bagaimana lagi caranya?” Sungsang Geni tersenyum kecil, “Tidak masalah dia sedikit gila, selagi dia mampu membuat senjata.”


Mendengar perkataan Sungsang Geni, Sabdo Jagat tidak dapat mengatakan apa-apa. Matanya sedikit melotot, dan tiba-tiba saja peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya. Gila? Tentu saja dia berpikiran seperti itu, hanya orang gila yang akan mencuri sesuatu dari Kelelawar Iblis.


“Ketua!” Guru Tiraka menjagakan Sabdo Jagat dari keterpakuannya, “Kenapa kau tiba-tiba memaku disini.”


“Pemuda itu merencanakan sesuatu yang lebih gila lagi!” Sabdo Jagat berkata terbata-bata, pandangannya tidak melepaskan sosok pemuda yang sekarang pergi meniggalkanya.


“Apa maksud perkataanmu, hal gila apa yang kau bicarakan?” Guru Tiraka semakin bingung menghadapi Sabdo Jagat.


“Dia berniat menculik Empu Pelak!” ucap Sabdo Jagat.


Dan kali ini Guru Tiraka bertingkah seperti pria didekatnya, mematung dengan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

__ADS_1


Mereka menyadari beberapa rencana yang diusulkan Sungsang Geni memang terdengar tidak masuk akal. Tapi kegilaan dari rencananya kali ini, benar-benar membuat mereka kehilangan akal. Sabdo Jagat memutar otaknya beberapa kali, tapi tidak bisa menemukan alasan kuat untuk membantah rencana Sungsang Geni.


Selamat malam minggu semua.


__ADS_2