PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Keputusan Siko Danur Jaya


__ADS_3

Basupati adalah pemimpin tertinggi di Padepokan Rajawali Hitam. Meski memang mereka adalah suku pedalaman yang keberadaannya sulit untuk ditemukan.


Biasanya padepokan ini tidak akan mengizinkan orang asing masuk ke dalam wilayah mereka. Dalam radius 1 km, mereka akan menyesatkan setiap orang yang mencoba mendekati tempat ini, bahkan tidak segan untuk membunuhnya.


Padepokan Rajawali Hitam sudah berdiri sejak lama, sahabat dekat teknik ini adalah jarum beracun yang di pelajari oleh Jelatang Biru dan Siko Danur Jaya. Dua teknik ini sebenarnya sedikit sama, menggunakan jarum kecil yang beracun.


Perbedaannya jelas dari teknik penggunaan jarumnya, ada yang dilemparkan dengan tangan dan ada yang menggunakan alat berupa sumpit.


Ketika malam harinya, Siko Danur Jaya di undang oleh Basupati ke ruangannya, sementara Sungsang Geni dan Dirga dibiarkan tinggal di ruangan lain.


Ada 5 sesepuh Rajawali Hitam telah menunggu dia ditempat itu, mereka berlima selain Basupati adalah orang tua yang memiliki janggut dan rambut yang putih. Terlihat lebih kuat dari Basupati itu sendiri.


“Apa kau yang bernama Siko Danuar Jaya?” salah satu sesepuh bertanya.


Wajah-wajah mereka terlihat sangat ramah, tapi aura sumpit yang mereka pegang lebih pekat dari miliki Basupati.


“Benar Sesepuh, hamba memberi hormat.” Siko Danur Jaya membungkukkan badan sebanyak 5 kali.


Salah satu sesepuh kemudian tersenyum kecil, lantas mulai menceritakan beberapa hal yang mungkin harus diketahui oleh pemuda itu. Sebuah sejarah dan nenek moyang pendiri Rajawali Hitam dan hubungannya dengan Teknik Jarum Beracun dari Surgawi.


200 tahun yang lalu, seorang pendekar tua dari aliran hitam memiliki teknik racun yang sangat kuat. Dia begitu sombong hingga mengklaim tidak ada racun yang lebih mematikan dari racun yang dimilikinya. Nama jurus yang dia gunakan adalah Kuku Hitam Racun Kelabang.


Hingga suatu hari dua pendekar muda bertarung dengan pria itu sangat lama. Tapi sayangnya, mereka berdua bisa dikalahkan. Tapi dua saudara itu tidak patah arang, mereka kemudian mulai mempelajari beberapa teknik racun pula untuk menyaingi ajian Kuku Hitam Racun Kelabang.


Hingga akhirnya, kedua orang itu berhasil menciptakan sebuah teknik yang dinamakan Sumpit Beracun dan juga Jarum Beracun Dari Surgawi.


Mereka kembali melakukan pertarungan sengit, tapi pada akhirnya kedua orang itu akhirnya berhasil mengalahkan pendekar racun terhebat itu, dan memusnahkan seluruh kitab yang mempelajari Ajian Kuku Hitam Racun Kelabang.

__ADS_1


“Mereka kemudian membentuk sebuah padepokan sendiri, ada cukup banyak pemuda dan pemudi yang mempelajari dua teknik itu.” ucap Basupati. “Apa kau tahu di mana tempat itu? inilah Padepokannya.”


“Jadi, apakah guru Jelatang Biru belajar disini?”


“Benar sekali.” Jawab Basupati.


Jelatang Biru dan Basupati adalah teman dekat, bahkan sudah dianggap seperti dua kakak beradik. Namun sayang, Jelatang Biru memutuskan untuk meninggalkan padepokan Rajawali Hitam karena dia tidak mau dikekang. Ketika itu terjadi, Jelatang Biru masih berusia 15 tahun.


“Dia pergi dengan membawa teknik yang belum sempurna.” Salah satu sesepuh berkata pelan, kemudian dia membuka jubah dari kulit dombanya, rupanya ada banyak jarum yang tersusun rapi di dalam jubah itu, beberapa jarum bahkan terlihat sangat halus. “Akulah guru yang telah mengajarinya.”


Siko Danur Jaya sontak membungkukkan tubuhnya, memberi hormat beberapa kali. “Nasip beruntung aku bisa bertemu dengan, Eyang Guru disini.”


“Siko, teknik jarum beracun dari surgawi lebih sulit untuk dipelajari dibanding Sumpit beracun, sekarang aku satu-satunya orang yang masih menggunakan teknik ini diantara 5 sesepuh. Aku tidak memiliki murid lain selain Jelatang Biru, tapi anak nakal itu bahkan meninggalkan gurunya pergi berkelana.”


“Aku menghaturkan ma'af sebesar-besarnya kepada Eyang Guru atas kesalahan yang telah guruku lakukan.”


Siko Danur Jaya terdiam cukup lama, pemuda itu mulai menimbang-nimbang rasa. Mungkin sudah saatnya dia menjadi lebih kuat lagi, musuh Bayangkara di depan akan semakin banyak dan sakti mandraguna, jika dia tidak memiliki kemampuan yang lebih kuat dari saat ini, dia takut hanya akan menjadi beban bagi Sungsang Geni.


“Baiklah, Eyang Guru aku bersedia.”


“Panggil aku Eyang Guru Hastama.” Pria itu tersenyum kecil.


***


Keesokan harinya, Siko Danur Jaya terlihat begitu ragu untuk mengatakan perihal tawaran Sesepuh Hastama untuk mengajarinya ilmu tingkat tinggi dari teknik Jarum Beracun Dari Surgawi.


Dia mendekati pemuda matahari itu yang sekarang terlihat sedang sibuk menggali belerang di atas gunung.

__ADS_1


Jika diperhatikan, rupanya tidak ada kawah di puncak gunung ini kecuali sebuah lubang sebesar paha orang dewasa yang selalu mengeluarkan asap berbau busuk. Sungsang Geni harus menutup hidungnya ketika mendekati tempat itu.


“Geni! Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu,” Siko Danur Jaya berkata pelan, sedikit gagap.


“Apa yang akan kau katakan, kenapa tiba-tiba raut wajahmu menjadi sedikit pucat?” Sungsang Geni hanya sekilas menoleh kearah Siko Danur Jaya, kemudian kembali sibuk mengais sufur disekitarnya.


“Aku...aku ingin tinggal ditempat ini beberapa minggu.”


Sungsang Geni menghentikan pekerjaannya, begitupula Dirga yang mendengar perkataan pemuda itu.


“Aku ingin menyempurnakan ilmu Jarum Racun Dari Surgawi.”


Sungsang Geni belum menjawab, dia berdiri kemudian mengangkat 2 karung sufur ke bawah, menuju sebuah tangga batu. Setelah berada ditempat yang cukup datar, barulah pemuda itu berujar.


“Teman, kau boleh tinggal di tempat ini.” Sungsang Geni menepuk pundak temannya beberapa kali. “Tenang saja, aku akan menunggumu saat kau sudah benar-benar siap dalam medan pertempuran.”


Sungsang Geni mengetahui saat ini temannya itu merasa paling lemah diantara beberapa teman-teman Sungsang Geni yang lain. Bahkan jika dibandingkan dengan Ratih Perindu, ilmu bela diri Siko Danur Jaya masih terlampau jauh.


Tentu saja Sungsang Geni tidak keberatan dengan hal itu, meski tentu Ratih Perindu akan menjadi sedikit sedih dengan keputusan kekasihnya.


Tidak ada yang tahu membutuhkan waktu berapa lama untuk menguasai sepenuhnya Teknik Jarum Beracun Dari Surgawi, mengingat teknik itu ternyata lebih sulit dari Sumpit Beracun.


“Teman! kau boleh tinggal ditempat ini, tapi kau harus ingat. Berlatihlah dengan sangat keras demi orang-orang yang akan kita perjuangkan!” Sungsang Geni kemudian meletakkan telapak tangan di dada. “Bayangkara, akan menjadi pijakan, menjadi penopang dan menjadi atap bagi semua orang yang membutuhkan. Bayangkara akan selalu melindungi rakyat, dan menegakan keadilan. Kau harus menanamkan itu di dalam hatimu.”


Siko Danur Jaya tersenyum kecil, tapi kemantapan hati jelas terpancar di wajahnya. Dia kemudian mengeluarkan sebilah pisau kecil, menggenggam mata pisau itu kemudian menariknya dengan kuat, hingga darah mengalir menodai tanah.


“Aku berjanji, kepada Pemimpin Bayangkara dan bersumpah atas nama Surga. Aku anggota Bayangkara, akan menjadi pijakan, menjadi penopang dan menjadi atap bagi semua orang yang membutuhkan. Bayangkara akan selalu melindungi rakyat, dan menegakan keadilan.”

__ADS_1


Selanjutnya Sungsang Geni melakukan hal yang sama diikuti oleh Dirga, lalu mengangkat sumpah pertama mereka. “Kita bertiga terikat sumpah, gunung dan langit menjadi saksinya.”


__ADS_2