PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 26


__ADS_3

Setelah waktu sudah mulai memasuki tengah hari, semua pertarungan Surasena melawan Kelelawar Iblis telah selesai. Lakuning Banyu menyelesaikan pertarungannya dengan memberi lubang besar tepat di tengah dada musuh.


Penguasa Surasena tersebut telah kembali pada bentuk manusianya, -tanpa dirasuki oleh ruh keris panca dewa. Dia berjalan tertatih-tatih, dengan raut wajah buruk memandangi gelimpangan mayat yang terlihat tiada berarti.


Diantara puluhan ribu itu, ada 3 ribuan Prajurit Surasena yang pemberani gugur dalam pertarungan. Jelas saja hati pria itu terpukul keras, sebagai pemimpin dan penguasa dia merasa telah gagal melindungi para bawahannya.


Terkadang perang memang membawa petaka, tapi sialnya terkadang sesuatu harus diselesaikan dengan perang sebagai satu-satunya jalan keluar.


“Kita belum bisa mengatakan ini adalah kemenangan...” Lakuning Banyu berkata pada semua prajurit. “Sungsang Geni masih bertarung dengan sengit di atas gunung, lawan terkuat masih hidup.”


Semua orang sepakat dengan pernyataan Lakuning Banyu. Itulah satu-satunya alasan kenapa saat ini tidak ada satu orangpun yang bahagia meski sudah berhasil mengalahkan semua musuh. Bahkan raut wajah risau masih ketara dengan jelas.


Lakuning Banyu menatap wajah Darma Cokro yang terbujur kaku, di dekatnya ada Bangau Putih dengan luka lima tombak di bagian tubuhnya. Melihatnya wajah pemimpin itu begitu sedih. Ya, meski telah dibantu dengan ruh panca dewa tapi kekuatannya sama sekali tidak bisa melindungi teman, saudara dan juga prajuritnya.


Tidak ada orang yang masih bisa bertarung saat ini, semua orang sudah menunjukkan kekuatan mereka, jadi sekarang Sungsang Geni bertarung sendiri menghadapi pimpinan musuh.


“Aku akan menyaksikan pertarungan mereka...” berkata Mahesa setelah dua jam yang lalu tersadarkan diri.


“Kau hanya akan mengantar nyawa!” Rerintih jelas tidak mengizinkan kekasihnya melihat pertarungan Sungsang Geni.


“Tapi...”


“Tidak ada yang bisa kita lakukan meski kita berada di sana...” ucap Ki Alam Sakti. “Kita hanya akan menjadi beban, sekarang ini serahkan semuanya pada Geni, dan berdoalah agar sang heyang widhi melindungi dirinya.”


Di Puncak Gunung Kecil.


Sungsang Geni jatuh menembus sisi puncak gunung dan keluar dari sisi yang lain. Sebuah pukulan maha dahsyat telah menembus pertahannya. Dari jauh, gunung itu terlihat patah di bagian atasnya, dan percikan magma mulai terlihat dari tempat Surasena.


Pemuda itu menekan telapak kakinya pada permukaan tanah berbatu untuk menghentikan laju tubuhnya. Siring besar tercipta dari tekanan telapak kakinya. Setelah berhasil mengusai diri, pemuda itu bergerak cepat dan membalas lawannya dengan dua kali serangan yang lebih kuat.


Dua kali dia melepaskan tapak tepat di dada Topeng Beracun, membuat ledakan besar di dalam organ dalamnya. Tidak berhenti hanya sampai disana, Sungsang Geni melepaskan lebih banyak tapak yang menembakkan energi.


“AHKK...Ahkkk...ahk...” tubuh Topeng Beracun bercucuran darah. Sungsang Geni tidak henti-hentinya menyerang, setelah melihat celah pertahanan Topeng Beracun terbuka lebar, pemuda itu naik ke langit dan melepaskan Murka Naga Bayangan.


Liukan naga bayangan terlihat jelas dari Markas Petarangan. Ya, karena naga yang tercipta bukan hanya berwarna bening, tapi memiliki motif lain seperti warna hijau dan kuning di bagian sisik dan cula kepalanya.


Murka Naga Bayangan berhasil menerkam tubuh Topeng Beracun hidup-hidup, membawanya menembus lapisan tanah dan meledak disana. Gempa tercipta karena ulah pemuda itu, dan retakan di gunung mulai memancing gelora magma.


“Kita harus pergi dari tempat ini!” Lakuning Banyu memberi instruksi, khawatir jika pertarungan Sungsang Geni melawan Topeng Beracun malah memancing ledakan gunung berapi.


“Ya, itu benar!” Ki Alam Sakti menyahut. Kemudian pandangan pak tua itu mengarah pada dua muridnya yang masih tak berdaya setelah pertarungan.


“Bagaimana dengan mereka...” ucap Jelatang Biru, yang dimaksud dengan pria itu adalah mayat-mayat Surasena yang belum sempat dimakamkan.


“Aku tidak akan meninggalkan Ayahku,” sahut Benggala Cokro, wajahnya begitu buruk sampai saat ini. Beruntung sekali pemuda itu selalu ditemani oleh Cawang Wulan, karena jika tidak mentalnya jelas terganggu saat ini.


“Kita akan membawa jasad Rakryan Temenggung.” Cawang Wulan segera menenangkan Benggala Cokro, membenamkan kepala pemuda itu dalam pelukannya. “Juga, kita akan membawa Sesepuh Bangau Putih.”


“Kita akan kembali ke Negri Tumenang.” Miksan Jaya tiba-tiba memberikan solusi, wajah pangeran itu sama buruknya dengan pengawalnya, Nyai Bidara. “Satu-satunya tempat yang aman untuk kita saat ini adalah, Tumenang. Kabut ilusi akan melindungi kita dari musuh, dan karena letaknya bersebelahan dengan bukit, mungkin akan cukup aman melindungi bencana yang akan datang.”


"Gunung itu tidaklah terlalu besar, tapi demikian kita harus waspada akan ledakkannya." Nyai Bidara menyabung perkataan Miksan Jaya.

__ADS_1


Lakuning Banyu terlihat setuju dengan keputusan tersebut, ya meski mungkin perang masih berlanjut tapi saat ini mereka harus menarik mundur pasukan untuk mendapatkan jeda. Beberapa prajurit harus diobati dengan cepat, makanan dan minuman sudah tidak ada lagi.


“Berapa lama tempat itu dari sini?” tanya Sabdo Jagat.


“Tiga hari perjalanan,” jawab Miksan Jaya.


Wajah beberapa prajurit terlihat risau mendengar hal itu, tiga hari perjalanan dengan tenaga dan tubuh dipenuhi dengan luka sama seperti meniti jalanan berduri. Tapi tidak ada tempat lain untuk kembali, Tumenang adalah satu-satunya tempat yang masih berdiri hingga saat ini.


“Semua orang berfikirlah untuk kembali ke Tumenang.” Lakuning Banyu memberi perintah. “Pangeran Miksan Jaya, kau yang bertugas memimpin pasukan.”


“Bagaimana dengan Paduka Raja?” tanya Miksan Jaya.


“Aku akan tetap di sini.”


“Kenapa?” Miksan Jaya tidak mengerti apa yang dipikirkan Lakuning Banyu. “Kita bisa pergi bersama-sama.”


“Ya, semua orang harus pergi bersama-sama tapi harus ada orang yang tetap disini, hidup menjadi saksi.” Lakuning tersenyum kecil, kemudian mengangkat tangannya ketika beberapa orang hendak bertanya sesuatu.


“Jika begitu, aku akan tetap disini,” ucap Ki Alam Sakti. “Aku adalah gurunya, dan akan melihat pertarungan ini sampai selesai.”


“Aku juga.” KI Lodro Sukmo menyahut.


“Kami bertiga akan tetap disini, selebihnya kembali mundur ke Negri Tumenang.” Lakuning Banyu memberi perintah terakhir.


Mahesa berniat tetap tinggal di sini, sama halnya dengan Wira Mangkubumi tapi mereka berdua tidak diizinkan oleh Lakuning Banyu.


“Pangeran Wira Mangkubumi, sekarang tugas dari Swarnadwipa sudah selesai,” ucap Lakuning Banyu. “Jangan ambil resiko, kami akan kembali bersama dengan Sungsang Geni setelah pertempuran ini selesai.”


Pada akhirnya meski harus melewati musyawarah yang panjang, semua orang selain Lakuning Banyu, Ki Alam Sakti dan juga Ki Lodro Sukmo pergi meninggalkan markas Petarangan.


Raka Buana memberikan pedang Cercaran Air kepada Ki Alam Sakti sebelum pergi bersama dengan Empu Pelak. Pada saat ini, pedang itu akan lebih bagus jika dipakai oleh orang yang ahli menggunakannya.


***


“Berapa lama lagi kalian bisa bertarung?” tanya KI Alam Sakti.


“Aku butuh dua hingga tiga jam untuk menghimpun kembali tenaga dalam,” jawab Ki Lodro Sukmo.


“Sama dengan dirimu, ruh Keris Panca Dewa membutuhkan waktu tiga hingga empat jam untuk istirahat.”


“Kita akan mengumpulkan energi sebanyak yang kita bisa, dan kembali bertarung.” Ki Alam Sakti melompat ke atas pohon besar yang ringgas tanpa daun, di puncak pohon itu dia duduk bersila menatap ke ujung mata pada pertarungan Muridnya melawan kegelapan.


Tindakan pak tua itu di ikuti oleh Ki Lodro Sukmo dan Lakuning Banyu. Mereka mencari tempat paling nyaman untuk menghimpun kembali tenaga dalam, dan berencana membantu Sungsang Geni mengalahkan musuhnya.


Sementara itu, Sungsang Geni kembali bertarung sengit melawan Topeng Beracun. Tubuh pemuda itu terkena dua larik cahaya ungu, meledakkan seluruh pakaiannya sehingga sekarang tubuh Sungsang Geni telanjang hanya menyisakan celana.


Lengan kanannya memancarkan cahaya kuning kemerahan seperti urat-urat halus, sementara itu tubuh lawannya terkadang memancarkan cahaya ungu di bagian atas yang mirip dengan mahluk menyeramkan itu.


“Pedang Sapuan Jagat, hembusan badai.” Sungsang Geni menebaskan pedangnya, menciptakan gelombang energi mirip seperti bulan sabit yang bergerak dari tanah hingga setinggi pohon kelapa. Setiap benda yang dilewati energi itu terbelah menjadi dua, tanah, tumbuhan, batu dan bukit kecil. Tidak ada yang tidak terbelah.


Topeng Beracun menahan kekuatan itu dengan dua telapak tangannya. Dengan kegelapan yang ada, dia berusaha sekeras mungkin tapi tidak berhasil. Tubuh pria itu malah perlahan-lahan mundur hingga ratusan depa jauhnya. Itu adalah jurus kedua dari teknik sapuan jagat yang dikuasai pemuda itu.

__ADS_1


Puncak dari serangan membuat getaran besar, tekanan energi meluap-luap membuat sebagian pohon kecil tercabut dengan paksa dan melayang bak kapas. Sementara itu, tubuh Topeng Beracun sendiri terluka hampir sedalam empat jari, membelah dari pangkal leher hingga perutnya.


Darah hitam berbau busuk menjatuhi permukaan tanah yang kering. Mata merah mahluk itu terbelalak bak akan keluar dari kelopaknya yang jendul. Tidak menyangka sama sekali, jika serangan pemuda matahari itu lebih kuat dari yang dia duga sebelumnya.


Terhuyung-huyung berdiri dengan kesuliatan, Topeng Beracun menyeringaikan gigi taring penuh kebencian. Sekejab kemudian dia hilang dari tempatnya, dan tahu-tahu sudah berada tepat dihadapan Sungsang Geni.


Dam...dam...dam...tiga pukulan mengarah ke wajah Sungsang Geni. Pemuda itu berjungkir balik di udara, membuat tiga pukulan itu hanya mengenai angin. Setelah dua detik, ledakan di hutan terjadi karena energi Topeng Beracun baru saja mengenainya.


Sungsang Geni melepaskan puluhan tebasan, tapi Topeng Beracun bisa menangkis semua serangan itu dengan senjata mirip cakar miliknya.


Suara berdengung terdengar kali ini, senjata mereka bertemu dan menciptakan gelombang suara yang bisa membuat manusia biasa tuli dalam seketika.


“Taring Dewaa Angin, Neraka Penyucian.” Sungsang Geni melepaskan satu sarangan, dan kali ini mengincar bagian leher musuhnya. Tebasan itu berhasil membuat leher Topeng Beracun terbelah, menampakkan semua organ leher dan menyemburkan darah hitam yang busuk.


Tapi seperti biasa, sepuluh detik kemudian leher mahluk itu kembali menyatu seperti sedia kala seperti tidak terluka sedikitpun.


“Kau tidak akan berhasil...” Topeng Beracun menyeka darah yang keluar dari bekas luka di lehernya. “Benar sekali kau memiliki kekuatan yang maha dahsyat, tapi aku bisa memulihkan tubuhku. Dengan ini kau tidak mungkin bisa membunuhku, meski telah berhasil menyerang hingga ratusan kali.”


Senyum kemenangan telah menghiasi bibir pucat dan berwarna hijau itu, seolah dia telah melihat kemenangan di depan matanya. Bahkan dengan sombong, Topeng Beracun berkata tidak ada mahluk yang bisa menghentikannya sekarang meski itu adalah Dewa takdir sekalipun.


Ini tidak baik, dan ini benar-benar buruk. Sungsang Geni menyadari hal itu sepenuhnya. Serangan pemuda itu penuh dengan energi yang besar, tidak ada orang yang bisa menahan serangannya saat ini. Tapi kekuatan Topeng Beracun benar-benar merepotkan dirinya.


Belum selesai Sungsang Geni berpikir, musuhnya kembali menyerang. Pemuda itu menjadi terdesak untuk beberapa saat. Beberapa kali dia terkena pukulan, tapi demikian Sungsang Geni masih bangkit dan bertahan.


Pemuda itu membawa pedangnya ke samping, tepat pada pelipis Topeng Beracun. Seperti dugaan, musuhnya akan menghindar ke samping. Namun Sungsang Geni sudah menyiapkan satu senjata yang melayang secepat kilat, untuk mengunci ruang gerak lawannya.


Wush...senjata pemuda itu melewati satu jari dari pipi Topeng Beracun. Kemudian ada tiga senjata lagi melaju cepat, dan akhirnya tepat mengenai tubuh pemimpin Kelelawar Iblis itu. Pedang energi bercahaya terang dan terasa panas, tertanam di tubuh Topeng Beracun.


“Ini memang panas!” ucap Topeng Beracun. “Tapi aku tidak akan kalah hanya karena serangan seperti ini.”


Dia mencabut pedang Sungsang Geni, melemparnya pada pemuda itu dan nyaris saja mengenai jika Sungsang Geni terlambat satu detik saja untuk melompat ke samping. Tiga pedangnya menghantam di tengah hutan, membuat ledakan kecil yang bergemuruh.


“Teknik Sapuan Jagat, Halilintar Menggelegar.” Sungsang Geni memasang kuda-kuda, dari tiga jurus Teknik Sapuan Jagat, serangan ini adalah yang paling kuat.


Udara tiba-tiba menjadi berat, aura mengerikan dari tubuh Sungsang Geni, mengintimidasi semua mahluk yang ada disekitarnya. Percikan cahaya putih kekuningan menyambar-nyambar dari tubuh pemuda itu.


Topeng Beracun memasang wajah khawatir, jelas kekuatan pemuda itu sangat mengerikan dan bisa jadi dapat membuat dirinya kalah.


“Dinding Kegelapan, aura Hitam.” Topeng Beracun memasang teknik yang membuat seluruh tubuhnya diliputi dengan kabut hitam yang padat lagi gelap. Jika diperhatikan, sekarang kulit tubuh mahluk itu seperti di berubah menjadi baja hitam.


Dengan sekuat tenaga Sungsang Geni melepaskan serangan. Pemuda itu tampak hanya berdiri saja, tapi di depan dirinya sebuah cahaya terang berupa mata pedang yang besarnya lima kali pohon kelapa. Sebelum pedang itu mengenai lawannya, dia terpecah menjadi 99 pedang kecil yang memercikkan cahaya putih dan kuning seperti halilintar.


99 pedang kecil menghujani tubuh Topeng Beracun dengan berketerusan tanpa jeda. Tubuh hitam Topeng Beracun mulai mundur beberapa depa, kemudian puluhan depa dan hal yang tak terduga mulai terjadi.


Kulitnya yang hitam karena energi gelap yang padat pecah menjadi berkeping-keping karena serangan itu. 99 pedang menghujani tubuh Topeng Beracun dengan lebih cepat, mencabik setiap sisi tubuhnya tanpa terkecuali.


“Ahkkkkkkkkkkkk!” teriakan keras dari mahluk itu bergema.


Pada saat yang sama, Sungsang Geni menyatukan dua telapak tangan tepat di depan dadanya. Kemudian mengangkat dua tangan ke atas. 99 pedang menyatu tepat di atas kepala Topeng Beracun. Kemudian manancap ke bumi dengan kuat bersama dengan tubuh mahluk itu tepat berada di ujung mata pedang.


Gunung mulai bergoncang dan barangkali akan siap memuntahkan semua isi di dalam perutnya. Hingga yang dikhawatirkan orang-orang Surasena terjadi, gunung memuntahkan lahar panas. Gelombang dari letupan itu membuat semua mahluk yang berada dalam radius sepuluh ribu depa tuli seketika.

__ADS_1


__ADS_2