PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Wilayah Terlarang


__ADS_3

Hari kedua Sungsang Geni berada di Tombok Tebing, yang dilakukan pemuda itu adalah melihat tahanan para anak-anak. Ada puluhan anak laki-laki dan perempuan di ruangan yang dipenuhi dengan jeruji besi.


Ada banyak alat latihan diruangan itu tapi beberapa senjata terlihat asli, pedang, tombak, gadah. Nampaknya Raja Puntura selalu mengadakan pertarungan antar anak-anak untuk melihat kualitas mereka. Buktinya ada banyak anak-anak yang terlilit perban.


Wajah-wajah mereka begitu menyedihkan, Tombok Tebing mungkin ingin memiliki pasukan tiada tanding beberapa tahun kedepan, tapi cara yang mereka lakukan dapat menekan perasaan anak-anak ini pada tingkat terkejamnya. Pikir Sungsang Geni.


Maka jadilah prajurti bertangan besi. Mereka mungkin akan memenangkan pertarungan, tapi akan haus dengan peperangan.


“Keluarkan mereka semua!” Printah Sungsang Geni, “Jika mereka tidak punya hati, lalu apa hebatnya prajurit Tombok Tebing.”


Penjaga penjara dengan sigap melepaskan kunci tahanan. Wajah anak-anak tampak ketakutan, mereka menjadi waspada atas kedatangan Sunsang Geni.


“Apa kau ingin kami saling bertarung?” seorang gadis kecil memberanikan diri berkata, meski terdengar bergetar suaranya, tapi nampak dia yang paling berani diantara yang lainnya.


“Tenanglah, kalian boleh kembali kepada keluarga dan rumah kalian!” Sungsang Geni berucap, kemudian tersenyum kecil.


Mendengar perkataan Sungsang Geni, semua bocah itu begitu gembira tiada tara. Mereka lekas berhaburan keluar, meninggalkan ruangan pengap yang mungkin telah menahan mereka selama bulanan atau mungkin tahunan.


Di luar Istana, orang tua mereka telah menunggu dengan air mata ber-uraian. Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, melihat pemandangan di depan matanya.


Tiba-tiba sebuah perasaan aneh datang di hati Sungsang Geni. Seperti perasaan takut kehilangan orang-orang yang dilihatnya saat ini, takut membuat mereka kehilangan harapan.


‘Mereka harus tetap hidup.’ Batin Sungsang Geni bergumam.


“Yang Mulia!” gadis kecil yang paling berani tadi mendekati Sungsang Geni, lalu menundukan kepalanya memberi hormat, “Terima kasih telah menemukan kami dengan keluarga kami.”


Sungsang Geni tersenyum, lalu menganggukan kepala.


“Aku akan tetap berlatih!” lanjut Gadis Kecil itu, “Kami mendengar semuanya, perperangan pembunuhan yang orang dewasa ceritakan ketika kami sedang berlatih! Jadi, bolehkah kami tetap berlatih untuk menjadi prajurit, yang akan melindungi orang-orang yang kami sayangi?”


“Tentu, kalian boleh datang ketempat ini, dan berlatihlah dengan giat. Aku akan merubah sedikit prosedur latihan kalian, dan juga tempat yang pas untuk kalian. Tunggulah sebentar prajurit kecil.”


Semua orang yang mendengar ucapan Sungsang Geni tersenyum kecil, tidak ada yang menyangka pemuda itu benar-benar menepati janjinya.

__ADS_1


Mereka merasakan Tombok Tebing seperti terlahir kembali, meski ada banyak yang harus di rombak tapi sekarang mereka mulai percaya kepada Raja baru mereka.


***


Sekarang ini, di dalam penjara pengap terdengar hanya cericitan tikus curut yang menggelitik kaki-kaki mantan pejabat, Membuat Tulung Agung yang bertugas sebagai mantan kepala keuangan Kerajaan, terlihat pucat pasai.


Tulung Agung dan yang lainnya, tertangkap tangan oleh prajurit ditengah malam sebelum mereka pergi meninggalkan Tombok Tebing dengan 5 ekor kereta kuda yang mengangkut 20 peti keping emas.


Bukannya pergi dari Tombok Tebing tapi mereka malah masuk kedalam penjara. Bahkan mungkin sebentar lagi akan pergi ke alam baka, sebab Sungsang Geni tidak berencana mengampuni mereka semua.


“Senopati! Menurutmu berapakah jumlah emas yang hendak mereka bawa?” Sungsang Geni tiba-tiba masuk ke dalam ruang tahanan, ditemani dengan Mahesa dan seorang yang bertugas mengurusi gaji para pejabat.


“Seratus ribu keping emas, mungkin saja!” ucap Rrintih, kemudian menoleh pada Mahesa lalu gadis itu menaikan alisnya seraya tersenyum simpul.


“Hem...120 ribu.” Ucap Mahesa.


“Yang Mulia, kami telah menghitungnya dan ternyata jumlahya dua ratus ribu keping emas!” orang yang bertugas mengurus gaji pejabat berkata.


“Aku tidak akan banyak berbicara.” Ucap Sungsang Geni, “Hanya membuang-buang waktu saja, bawa para korup ini ke halaman Istana dan mintalah kepada rakyat hukuman apa yang pantas bagi mereka.”


Dan Paman...!” Sungsang Geni menoleh kearah petugas pengurus gaji, “Siapkan seratus ribu keping emas, untuk Surasena. Kita punya hutang kepada mereka.”


Rerintih menyadari hutang yang dimaksud Sungsang Geni adalah tebusan atas pembebasan dirinya beserta 30 prajurit yang lain. Membuat gadis itu tidak ingin mengecewakan Sungsang Geni, dan menjadi abdi seumur hidupnya.


Puluhan prajurit dibawah komando Rerintih menyeret paksa 20 mantan pejabat ke halaman Istana Surasena. Wajah-wajah mereka meringis meminta belas kasihan, tapi Sungsang Geni tidak akan memberi ampun.


Halaman Istana masih penuh sesak dipenuhi Rakayat, Sedari awal Sungsang Geni tiba di Tombok Tebing, gerbang Istana tidak pernah lagi ditutup, baginya itu seperti pemisah antar kasta.


Sungsang Geni menginginkan kesetaraan hak yang sama antar rakyatnya. Dia ingin Istana bukan hanya rumah bagi Raja dan pejabatnya tapi juga rumah bagi rakyatnya.


“Menurut kalian, hukuman apa yang pantas untuk mereka!” Sungsang Geni menatap wajah-wajah rakyatnya yang terlihat marah dan muak, “Keputusan ada ditangan kalian!”


“Hukum mati!” Mereka berteriak keras.

__ADS_1


Sungsang Geni menatap 20 pejabat itu, kemudian menatap Rerintih. “Lakukan yang mereka mau?”


Entah mungkin salah atau tidak perbuatannya, Sungsang Geni tidak memiliki pilihan lain, dia dapat membaca pikiran mereka beberap saat. Tapi tidak ada yang berniat merubah diri menjadi lebih baik.


“Yang Mulia ampuni kami, beri kami kesempatan!” Teriakan dari mantan pejabat itu tidak membuat keputusan Sungsang Geni berubah.


***


Sungsang Geni berjalan ke arah timur Tombok Tebing, mulanya hanya melihat-lihat tapi langkahnya membawa dia pergi cukup jauh dari Istana.


Langkah kakinya terhenti pada bibir jurang yang dalam, jurang berwarna gelap dan penuh denga kabut hitam.


Dipinggir jurang hanya ada batu hitam yang nampak tertata rapi, tanpa tumbuhan bahkan tidak terlihat lumut yang tumbuh dibibir jurang.


Jurangnya memang dalam, tapi tidak terlalu lebar. Mungkin hanya berjarak 30 meter dirinya saat ini dari sebrang jurang yang gelap.


Di sebrang jurang ada sebuah batu, atau mungkin gundukan tanah. Sungsang Geni tidak begitu tahu pasti bentuknya, sebab kabut tebal menyelimuti bentuk itu.


Pemuda itu lalu mengeluarkan api dari lengannya, membuat kabut menipis dan sesuatu terjadi, seperti percikan , akibat api miliknya.


Bumm...dua buah tungku perapian tiba-tiba menyala di sebrang jurang. Memperlihatkan bentuk asli dari benda yang semulanya dikira batu.


Sungsang Geni terkejut melihat penampakan di depannya. Hal pertama yang dia lihat adalah, tulisan sangsekerta yang terletak pada bagian atas benda itu. ZAMBALA.


Kemudian matanya mulai melihat dengan utuh, dan ternyata sebuah pintu goa yang luar biasa besarnya, Sungsang Geni memperkirakan tingginya menyamai pohon kelapa, serta lebar hampir 20 meter. Pintu itu berwarna hitam, sama persis warnanya dengan bebetuan yang berada disekitanya.


“Yang mulia...yang mulia...!” seorang pelayan berlari mendekati Sungsang Geni, napasnya terdengar sesak dengan wajah yang sedikit merah. "Kenapa....?"


“Paman Pelayan, panggilkan sejarahwan atau arkeologi kesini!” Sungsang Geni memotong ucapan pelayan itu.


“Be...baik Yang Muia,” jawab Pelayan itu, dia tidak ingin mengetahui apa yang akan dilakukan Rajanya, tapi sejak melihat pintu besar di sebrang jurang, wajah pelayan itu menjadi ketakutan.


“Kenapa yang mulia raja berada di wilayah terlarang?” gumamnya seraya semakin mempercepat laju larinya.

__ADS_1


__ADS_2