
Ledakan dari bubuk setan terdengar di sisi selatan. Para pendekar yang dipimpin Empu Pelak harus sedikit lebih dekat pada reruntuhan Lembah Ular, sekarang serangan menggunakan busur tidak sejauh menggunakan kereta iblis.
Tentu saja resiko mendapat perlawanan dari Kelelawar Iblis lebih besar, tapi sekarang mereka tidak bisa lagi bermain aman. Harus ada cukup keberanian dalam sebuah perperangan.
Setelah bubuk setan habis, mereka menyerang dengan panah biasa, tapi penyerangan jarak jauh tidak berlangsung lama, anak panahpun sudah habis saat ini.
“Sekarang cabut pedang kalian!” teriak Empu Pelak, “Bergabung dengan Sabdo Jagat, kita harus membantu mereka!”
Empu Pelak tidak yakin pasukan yang dia pimpin akan selamat melawan ratusan kelompok Kelelawar Iblis yang sedang bertarung sengit dengan Sabdo Jagat jauh di dalam reruntuhan.
Namun pada akhirnya, rombongan itu berhasil bergabung dengan Sabdo Jagat dan Gentar Bumi. Sekarang Empu Pelak dapat melihat situasi di dalam reruntuhan lebih buruk dari yang dia pikirkan.
“Bagaimana keadaan Jelatang Biru?” Sabdo Jagat bertanya.
“Entahlah, kami meninggalkannya di bagian timur.” Jawab Empu Pelak terbatuk-batuk karena menghirup asap dari kobaran api.
Sabdo Jagat memahami, bahwa dalam pertempuran setiap rencana bisa berubah. Sebenarnya tidak ada yang bisa mengikuti setiap rencana yang dibuat, setiap situasi tidak pernah sama dengan yang dibayangkan, dan pada saat itu pejuang boleh mengambil keputusannya masing-masing.
“Dia akan baik-baik saja!” Sabdo Jagat berkata, menenangkan Empu Pelak.
***
Pada saat yang sama Sungsang Geni dan Cempaka Ayu mulai menyapu hampir ¼ dari pasukan mereka hanya berdua saja. Setelah berhadapan dengan kedua orang wakil komandan mereka tidak menemukan lagi musuh yang terlalu kuat.
Memang sekekali mereka menemui pendekar pilih tanding pada Kelompok Kelelawar Iblis yang mereka lawan. Tapi tidak butuh usaha berat, Sungsang Geni dan Cempaka Ayu menghilangkan nyawa semuanya dengan cukup mudah.
Jika dihitung-hitung mungkin sudah 200 lebih pendekar pilih tanding yang tewas ditangan Sungsang Geni. Dan dari 200 itu, ada sekitar 150 atau lebih adalah manusia.
Pedang watu kencana semakin menderu dengan cepat, bergerak kearah barat dimana mayat hidup masih sangat banyak jumlahnya. Sungsang Geni berniat menghabisi semua itu tanpa tersisa.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Sungsang Geni, napas Cempaka Ayu terdengar memburu, gadis itu telah mengeluarkan banyak tenaga dalam pada setiap serangannya.
__ADS_1
Wajar saja, sebanyak apapun tenaga dalam seseorang akan cepat habis jika menggunakan energi itu tanpa henti. Sungsang Geni memahami kelemahan gadis itu.
“Aku baik-baik saja, memang sedikit menguras energi tapi percayalah aku baik-baik saja.” Cempaka Ayu berkata lirih.
“Aku bisa melihat kau tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Jangan memaksakan dirimu!” ucap Sungsang Geni.
Yang Sungsang Geni takutkan adalah, ketika Cempaka Ayu dalam keadaan terdesak dan emosinya mulai terguncang, bukan hal mustahil Dewi Bulan memecahkan segel di keningnya. Pada dasarnya, kekuatan itu tetap keluar jika nyawa pemiliknya benar-benar terancam.
Jika hal itu terjadi, maka Cempaka Ayu bukan hanya akan menyerang Kelelawar Iblis tapi mungkin akan balik menyerang Sungsang Geni. Dan ketakutan terbesar adalah, jika Banduwati ternyata memiliki benda lain yang bisa menyerap dewi bulan. Maka setelahnya Kelelawar Iblis akan memiliki kemampuan yang lebih besar lagi.
“Tapi...”
“Aku tidak masalah!” Potong Sungsang Geni, “Selagi kau baik-baik saja, aku bisa mengatasi mereka semua sendirian.”
Cempaka Ayu hanya mengangguk tanda setuju, sekarang gadis itu menghentikan serangannya dan hanya mengiringi Sungsang Geni dari belakang.
Dia berpikir kenapa tidak mempelajari teknik bertarung sebelumnya, dengan begitu hari ini setidaknya dia bisa membunuh 3 atau 5 orang dengan tanpa tenaga dalam.
***
Tidak banyak tersisa energi dari gadis itu, sejak tadi dia belum istirahat sedikitpun. Namun setimpal dengan musuh yang dia habisi, mungkin sekarang dia telah berhasil membunuh 100 orang dari lawan-lawannya.
Gadis itu menjadi kesal, dia menyerang lebih banyak dari yang lain, tapi tidak berhasil membunuh satupun manusia yang memimpin mayat hidup itu. Sekarang napasnya tersengkal-sengkal.
Di sisi lain, Mata Setan telah mengambil ancang-ancang untuk menyerang Jelatang Biru. 5 pisau kecil kini diselimuti aura hitam yang terasa lebih dingin dari sebelumnya.
“Siko bantu aku berdiri!” Perintah Jelatang Biru kepada muridnya, “Rasa sakit di kaki ini belum seberapa, aku masih bisa bertarung meski tanpa kedua kaki.”
“Guru jangan memaksakan dirimu!” Siko Danur Jaya berkata lirih.
“Sebaiknya kau segera sadar, bahwa kita sedang berperang,” ucap Jelatang Biru.
__ADS_1
Pria itu mengeraskan rahang ketika muridnya membantu dia berdiri, luka yang diberikan Mata Setan membuat seluruh jari jemari kaki kanannya tidak berasa. Dan jika diperhatikan lebih dekat, pergelangan kaki pria itu sudah hampir putus.
Siko Danur Jaya telah mengikat luka Jelatang Biru dengan robekan baju miliknya, tapi pendarahan di kaki itu masih mengalir kecil, sekarang terlihat dua tiga tetes darah setiap detiknya. Jika ikatan itu terbuka, bukan mustahil pria itu akan kehilangan banyak darah.
Pada akhirnya Jelatang Biru berhasil berdiri, dia mengeluarkan beberapa jarum dari balik bajunya, ini adalah beberapa jarum yang tersisa.
“Sekarang!” pria itu berkata pelan, “Musuhmu ada disana! Kau harus berhasil mengalahkan dirinya, atau jurus ini tidak akan ada lagi yang mempelajarinya. Kita berdua adalah satu-satunya penerus aliran jarum beracun.”
Siko Danur Jaya tidak yakin bisa mengalahkan pemuda yang berdiri di dekat Mata Setan, dia merasa jarak kekuatan antara pemuda itu dan dirinya sangat jauh.
Pemuda itu, Siko Danur Jaya merasa telah berhasil mencapai puncak pilih tanding, atau mungkin telah berada pada pendekar Tanpa Tanding.
Pada saat yang tak terduga, 3 buah pisau kecil melesat dengan cepat menuju Jelatang Biru. Pria itu tidak berusaha menghindar dengan kondisinya saat ini, jadi yang dia lakukan adalah melepaskan beberapa jarum untuk menangkis serangan Mata Setan.
Kilatan api kecil menyala di kegelapan malam ketika senjata mereka beradu. Jelatang Biru melepas tiga kemudian empat jarum secara acak. Serangannya tidak begitu kuat tanpa kuda-kuda yang baik, jadi Mata Setan mampu menghindari serangan itu tanpa kesulitan.
“Bahkan lebih kuat dari ketapel anak kecil!” Ejek Mata Setan, kemudian tertawa kecil, “Jika kau tidak bisa lagi bertarung, kau bisa memintaku membunuh dengan tanpa merasakan sakit, percayalah aku bisa melakukan hal seperti itu.”
“AH...terimakasih atas tawaranmu, tapi aku lebih memilih bagai mana cara aku mati sendiri.” Jelatang Biru mengeluarkan beberapa jarum lagi.
“Jarum terakhir, menyedihkan sekali.” Empu Pelak bisa melihat jumlah jarum di balik jubah Jelatang Biru dan ternyata jarum ini adalah yang terakhir.
Sabdo Jagat menguatkan mentalnya, ini adalah serangan terakhir yang dia miliki. Dengan seluruh tenaga dalamnya, dia melepaskan serangan itu lebih cepat dari yang tadi, tapi sekali lagi Mata Setan bisa menghindarinya tanpa kesulitan.
“Kau tidak akan bisa mengalahkan diriku, menyerahlah!” Mata Setan berkata, setelah menghindari jarum terakhir.
“Tidak, kau sudah kalah.” Ucap Jelatang Biru, lalu melepaskan jarum yang dia selipkan di balik lengan bajunya.
“Jadi kau masih memiliki jarum beracun, tapi sayang seranganmu tidak akan mampu melukaiku.”
Mata Setan tersenyum merasa bisa menghindarinya, tapi tiba-tiba gerakannya menjadi kaku. Seluruh sendinya tidak bisa bergerak, dan bahkan terasa jantungnya tiba-tiba berhenti beberapa detik.
__ADS_1
Meski hanya beberapa detik saja, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat jarum milik Jelatang Biru mengenai dadanya.
“Astaga, meski hanya tiga detik tapi menguras seluruh tenaga dalamku.” Tiba-tiba seorang wanita tersenyum dibalik bayang-bayang.