
Setelah genap 3 hari melakukan meditasi, akhirnya Sungsang Geni merasakan seluruh tenaga dalamnya sudah terkumpul. Pemuda itu membuka mata perlahan, dengan senyum kecil tersungging dari bibirnya yang pecah-pecah. Meditasinya akhirnya selesai dengan sempurna.
Perutnya sekarang terasa sedikit lapar, pemuda itu berusaha mecari sesuatu jika saja ada yang meletakan ubi jalar di atas meja bambu, tapi rupanya tidak ada.
Sungsang Geni lalu keluar dari gubuk reot dengan tertatih. Perutnya seakan tidak mau diajak kompromi, pandangannya menyapu keadaan di luar sana, tapi dia tidak menemukan Bibi Indragiri untuk dimintai pertolongan. Tepatnya dia tidak menemukan seseorang di temapat itu.
Yang ada hanya hamparan tanah berdebu, melayang dihembus angin, membuat pemuda itu sedikit menyipitkan mata. Dia kemudian mendekati tong besar, tapi tidak ada air di dalam tong itu.
“Huh...apa di tempat ini tidak ada hal yang bisa dimakan? Bahkan jika daun muda saja tidak masalah?” Sungsang Geni menghela napas panjang, kemudian berniat kembali masuk ke dalam gubuk, sebelum akhirnya dia merasakan energi api matahari tiba-tiba terhimpun di lengan kanannya.
Pemuda matahari itu tersadar, kemudian menoleh kearah langit, tepatnya pada Sang Surya yang bersinar panas, begitu teriknya hari ini membuat semua orang tampaknya enggan keluar dari gubuk-gubuk mereka.
“Jadi seperti ini caranya agar aku bisa menghimpun energi matahari?” Sungsang Geni bergumam, lalu tersenyum kecil.
Dia kemudain memutuskan untuk berdiri, dan fokus menyerap energi yang terpancar dari bola api itu. Tubuh kekar tanpa baju, sekarang bermandi sinar matahari. Selain dirinya, tidak ada yang cukup bodoh, rela diterpa sinar panas selama hampir 3 jam. Setelah lengan kananya mengeluarkan cahaya, barulah Sungsang Geni menghentikan perbuatannya.
Ada yang dilupakannya? Sungsang Geni baru menyadari sesuatu, setelah melihat lengan kanannya bercahaya terang sesaat.
“Sekarang di mana pedang watu kencana?” dia berkata pelan, mencoba mengumpulkan ingatannya, “Ah, pasti masih terletak di tempat itu, aku yakin tidak ada yang bisa membawanya kesini.”
“Ternyata kau sudah selesai!” Indragiri tiba-tiba saja sudah ada di belakanganya, wanita itu lalu masuk kedalam gubuk sambil membawa sepotong ubi jalar dan segelas air, “Apa kondisimu sudah pulih sepenuhnya? Sampai-sampai berdiri ditengah terik matahari seperti ini?”
“Kondisiku sudah pulih sepenuhnya, terimakasih karena telah membiarkan aku memakai gubuk ini untuk melakukan meditasi.” Sungsang Geni mengikuti wanita itu masuk kedalam.
“Ini makanlah, kami hanya memiliki ini, para pemburu belum kembali sejak terakhir kali kau melihatanya.” Ucap Indragiri, kemudian dia mendekati kotak usang di sudut ruangan, “ini adalah pakaian mendiang suamiku, pakailah, tapi mungkin sedikit kekecilan untuk ukuran tubuhmu.”
“Sekali lagi terimakasih, Bibi.” Ucap Sungsang Geni, “Aku tidak tahu harus mengucapkan apa, tapi jika kau membutuhkan bantuanku, aku akan senang hati menolongmu!”
Indargiri tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Sungsang Geni. pemuda itu hendak menanyakan kabar gadis kecil, Sekar Arum. Tapi dia tidak memiliki kesempatan untuk bertanya.
__ADS_1
Pemuda itu tanpa berpikir panjang, segera menyantap ubi yang dibawa Indragiri. Nikmat. Bahkan hanya sepotong ubi dan segelas air lebih enak dari apapun ketika perut terasa kosong. Pemuda itu menyantapnya dengan lahap, hingga tiba-tiba dia tersentak ketika merasakan ada aura hitam mendekat.
Sungsang Geni bergegas keluar, dia melihat ada sekitar 50 orang berpakaian hitam, mengejar 3 orang yang sedang menunggangi kuda. Salah satu dari 50 orang itu, memancarkan energi hitam yang luar biasa.
“Aku yakin kekuatannya setara dengan pendekar pilih tanding,” Sungsang Geni bergumam, kemudian dia tersentak. “ Tidak! itu adalah kekuatan pendekar pada level tanpa tanding.”
Sungsang Geni menghentakan kaki berniat melakukan sesuatu, “Sial, aku tidak bisa terbang tanpa jubah kilatan naga.”
Tak ada pilihan lain, Sungsang Geni lantas berlari kearah pagar kayu dengan cepat. Di lihatnya dua lusin pedekar Lembah Ular menghujani 50 orang itu dengan panah api, tapi kali ini kelompok itu cukup hebat, mereka bisa menangkis semua serangan dengan mudah.
“Hancurkan Semuanya!” Mereka berteriak keras, membuat rakyat di dalam pagar kayu menjadi khawatir, “Jangan biarkan satupun selamat.”
“Mereka ada dimana-mana, mereka mulai mengepung tempat ini.” Salah seoarang penunggang kuda berkata, ada banyak luka terlihat di tubuhnya, “Kami cukup beruntung bisa selamat, tapi mereka tidak akan melepaskan kami begitu saja.”
Sabdo Jagat menatap kelompok Kelelawar Iblis beberapa saat, lalu menoleh pada guru Jelatang Biru, “Kau tidak boleh bertarung langsung, gunakan jarummu untuk menyerang mereka dari jauh.”
“Aku mengerti,” Ucap Jelatang Biru.
Gentara Bumi mengagguk, kemudian berlari lebih dahulu bersama 10 orang muridnya menuju pasukan Kelelawar Iblis.
“Kau bertugas menjaga rakyat lemah!” Sabdo Jagat berkata kepada Guru Tiraka, “Kekuatanmu akan sangat diperlukan jika ada orang yang berhasil masuk kedalam pagar.”
“Aku mengerti!” ucap Guru Tiraka, “Dan kau, berhati-hatilah! aku tidak ingin ada pemakaman lagi.”
Sabdo Jagat tersenyum kecil, kemudian segera terbang dengan cepat, lalu mendarat tepat di hadapan Anggota Kelelawar Iblis. “Kalian tidak akan bisa menghancurkan kami, disini.”
Tidak sampai 2 menit telah terjadi pertarungan hebat antara Sabdo Jagat dengan pasukan Kelelawar Iblis. Tongkat penghancur gunung ternyata memang hebat, setiap orang yang terkena pukulan tongkat itu mati dalam keadaah tubuh setengah hancur.
Dua puluh orang kelompok Kelelawar Iblis telah dia tumbangkan seorang diri, sedangkan Guru Gentar Bumi baru saja tiba. Dia terlihat kesal karena tidak memiliki ilmu meringankan tubuh. Tapi kedatangannya membuat setiap tubuh lawannya terpisah-pisah.
__ADS_1
Ayunan Kapak Gentar bumi sangat hebat, sekali serangan dia bisa membunuh 2 sampai 5 orang sekaligus. Meski bukan senjata tertinggi, tapi kepak itu merupakan 1 dari 30 jenis senjata tinggi, dengan tenaga dalam besar, membuat dia seperti banteng hitam yang mengerikan.
Dalam beberapa menit 50 pasukan itu hanya tertinggal pimpinannya saja. Dia melihat mayat anak buahnya yang bergelimpangan, nyaris tanpa bentuk. Dia kemudian menatap Sabdo Jagat lalu menatap Gentar bumi,ada sedikit rasa takut menyelimuti wajahnya.
“Kalian semua, kenapa masih melawan?” gertak dirinya.
Sabdo Jagat tidak menjawab, dia malah menyerang lebih dahulu, diikuti Gentar Bumi di belakangnya.
Lelaki Kelelawar Iblis itu mungkin kuat, tapi menghadapi dua orang pendekar tanpa tanding, membuat dirinya harus menerima hujan serangaan yang bertubi-tubi.
Dalam beberapa menit, Sabdo Jagat berhasil mendaratkan tongkatnya di dada pria itu, membuat dia terpental cukup jauh lalu memuntahkan darah. Seperti tidak mengizinkan lawannya menghirup nafas segar, Gentar Bumi mendaratkan kapaknya membuat luka cukup besar di pundak pria itu.
“Kalian semua akan mati! Jika kalian anggap kalian hebat karena telah mengalahkanku, kalian salah.” Pria itu tertawa cekikikan, “Ada ratusan orang seperti diriku, di Kelelawar Iblis. Kalian bahkan tidak akan mampu mengalahkan wakil komandan yang memiliki kekuatan 3 kali lipat darimu.” Pria itu menunjuk Sabdo Jagat.
“Kami tidak akan mampu mengalahkan kalian secara langsung,” ucap Sabdo Jagat mengangkat tongkatnya, “Kami akan mencicil kalian, diawali dengan kematianmu.”
Ledakan besar terdengar menggema, tongkat penghancur gunung menghancurkan tubuh pria itu menjadi bagian-bagian kecil. Seperti potongan daging, yang berserakan.
Disisi lain, Sungsang Geni menerobos pagar kayu, dia berlari kearah lain. Membuat orang yang melihatnya keheranan.
“Apa yang dilakukan orang itu, bukankah musuhnya telah dikalahkan!” Siko Danur Jaya bertanya pada guru Tiraka, “Apa dia sudah gila?”
“Bukankah itu pemuda yang ditemukan Indragiri beberapa hari yang lalu?” tanya beberapa orang wanita.
Sugsang Geni masih berlari dengan kencang, sorot mata pemuda itu sangat tajam. Tidak peduli beberapa orang berteriak memanggil dirinya *****.
“Gentar Bumi, menurutmu apa yang dia kejar?” tanya Sabdo Jagat, dan dibalas dengan gelengan Gentar Bumi.
Sungsang Geni akhirnya berhenti pula, letaknya mungkin ditengah-tengah kem para warga dan bukit batu di depannya. Dia tidak menurunkan pandangannya, pemuda itu menunggu sesuatu yang sebentar lagi akan datang.
__ADS_1
Sabdo Jagat tiba-tiba tersentak, “Pemuda itu! dia mengetahui ada yang lain, kita harus menyusulnya! sepertinya ranjau kita di Jalur Hitam telah di trobos musuh.”