
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Seorang sejarahwan datang diikuti Mahesa dan Rerintih serta 5 prajurit.
“Yang Mulia Geni?” ucap Mahesa, “Apa yang kau lakukan di sini?”
“Em....bisakah kau memanggilku dengan sebutan ‘Geni’, kenapa aku merasa hubungan kita menjadi renggang gara-gara hal ini?” ucap Sungsang Geni, dia kemudian tersenyum kecil lalu mengedipkan matanya, “ Oh, apa kalian melihatnya, benda besar disana? Aku penasaran pintu itu sedang mengunci apa di dalam ruangnya? Karena itu aku memanggil kau, Paman Sejarahwan.”
Sejarahwan yang bernama Priadi memperhatikan pintu besar di sebrang Jurang dengan mata melotot, nyaris keluar dari kelopaknya.
Keningnya yang keriput mengernyit, kemudian menatap Sungsang Geni lalu menatap pintu itu lagi.
“Itu adalah gerbang Zambala, selama ratusan tahun belum pernah ada orang yang melihat bentuknya, hingga tiba hari ini.” Priadi berkata terbata-bata, kemudian dia terdiam sejenak tampak berpikir lalu kembali memandangi Sungsang Geni, “Yang Mulia, Gerbang itu mengunci Petaka.”
“Petaka...? Gerbang Zambala?” Tidak ada yang pernah mendengar nama itu, bahkan orang-orang yang terlahir dan besar di Tombok Tebing. “Jelaskan hal itu pada kami semua, Paman. Karena bukan hanya aku yang menjadi bingung, tapi nampaknya prajurit Tombok Tebing juga merasakan hal yang sama.”
Priadi mulai bercerita menurut buku sejarah yang dia baca . 800 tahun yang lalu, Saka adalah kerajaan yang paling pertama ada di dataran ini, Leluhur Tombok Tebing.
Bisa juga dikatakan cikal bakal dari kerajaan Tombok Tebing. Lebih tua dari Surasena, lebih tua dari Majangkara bahkan lebih tua dari apa yang mereka duga, Lembah Ular.
Saka adalah kerajaan tanpa wujud, Istananya berada di dalam bumi. Sebuah Goa besar, di dalam perut gunung.
Rajanya memimpin dengan bijaksana dan adil, rakyat berkecukupan meski pekerjaan mereka hanya bertani.
Mereka juga disebut kaum Sebaba, bertubuh kerdil dan lincah. Tapi sangat kuat dan ganas jika terusik ketenangannya.
Satu hal yang membedakan mereka dengan bangsan kurcaci, adalah telapak kaki yang terbalik. Jari-jemari bangsa Sebaba menghadap kebelakang.
“Orang bilang, untuk menemui Kaum Sebaba, berjalanlah berlainan arah dengan telapak kakinya.” Ucap Priadi.
“Lalu apa hubungannya dengan Tombok Tebing, paman?” Sungsang Geni kembali bertanya, wajahnya, tidak tapi wajah semua orang menunjukan rasa penasaran yang sama.
Suatu ketika, seorang gadis petani tiba-tiba saja tersesat kedalam hutan rimba, dan tanpa sengaja memasuki Wilayah Bangsa ini.
Gadis yang malang, dia harus ber-urusan dengan singa Merah yang akan memangsanya.
Seekor Singa yang dikatakan telah hidup ratusan tahun, hampir menjadi siluman.
__ADS_1
Sebelum kematian gadis itu tiba, Krinci nama seorang Pangeran dari bangsa Sebaba berhasil menyelamatkannya lalu membawanya kedalam Istana Saka.
Mereka merawat gadis itu hingga sehat. Dan singkat cerita, pangeran itu mempersunting gadis petani menjadi istrinya.
Mereka dikaruniai 5 orang anak, merupakan mahluk pertama yang memiliki darah campuran Sebaba dan Manusia.
Keempat orang anak mereka, memiliki tubuh manusia dengan kekuatan pisik dari ayahnya. Tapi tidak dengan anak Sulungnya, dia memiliki pisik Ayahnya dengan kekuatan Ibunya, yang lemah.
Kelainan pada anak sulung membuat dia sedikit terasingkan dari keempat saudaranya. Hingga dia menjadi dewasa, Istana Kerajaan Saka yang merupakan haknya tiba-tiba jatuh kepada adik keduanya.
Anak sulung merasa sakit hati, dia tidak memiliki apapun untuk menuntut haknya. Tidak memiliki paras tampan, tidak juga memiliki kekuatan.
Tidak ada yang membelanya, dan tidak ada yang berpihak kepadanya, hingga tibalah suatu hari yang merubah segalanya.
Anak sulung diasingkan dari Istana, Manusia dan Sebaba tidak menginginkannya. Dia hidup di tengah hutan belantara selama belasan tahun, sampai-sampai dia bisa berbicara bahasa binatang.
Hingga suatu hari dia bertemu dengan Singa Merah.
Anak sulung menjanjikan tubuhnya untuk dimangsa oleh singa merah, tapi dengan satu syarat. Singa Merah harus membalaskan dendamnya kepada bangsa Sebaba.
Dan pada akhirnya, setelah melenyapkan anak sulung, Singa Merah berhasil memasuki Istana Saka dan membunuh semua orang di sana, kecuali si anak bungsu.
Pemuda itulah yang menjadi nenek moyang bangsa Tombok Tebing.
“Dari ceritamu itu paman!” ucap Sungsang Geni, “pantas saja prajurit Tombok Tebing memiliki kekutan pisik yang lebih besar dari kerajaan yang lainnya, hingga dijuluki Kota pendekar.”
“Ini hanya sejarah dari buku yang ku baca?” jawab Priadi, “Tapi jika memang benar, maka mungkin Singa Merah masih berada di dalam Istana Saka. Tapi...”
“Tapi apa?” tanya Mahesa, Mahapatih itu nampaknya yang paling sedih mendengar kisah si Anak Sulung, matanya tampak berkaca-kaca.
“Gerbang Zambala akan terbuka mengawali mala petaka. ”
Kreg...kreg... “Oh... nampaknya waktu dimana gerbang itu terbuka adalah hari ini, Geni!” Mahesa menunjuk pintu gerbang yang bergetar semakin besar.
Sungsang Geni hanya tertegun, nampaknya api yang dia keluarkan dari lengannya telah membuka kunci gerbang Zambala. ‘Ini kesalahanku.’
__ADS_1
“Semuanya kembali ke Tombok Tebing!” Printah Sungsang Geni, “Entah kebetulan atau tidak, tapi nampaknya mahluk itu akan keluar dari sarangnya.”
Mata Priadi terjelit, dan lebih banyak lagi mata yang terjelit, karena takut. Mereka belum bisa mempercayai cerita Priadi, tapi tidak ada yang cukup berani mengambil resiko hanya untuk mengetahui kebenaranya.
Semua orang segera berlari menjauhi jurang, beriring getaran pada gerbang Zambala yang semakin besar. Asap tipis mulai mengepul dari celah gerbang yang terbuka.
Sungsang Geni terbang secepat kilat menuju Istana. Namun beberapa menit kemudian dia segera kembali ke bibir jurang dengan pedang ditangannya.
Melihat Sungsang Geni yang sekarang berada dibibir gerbang membuat Mahesa segera berhenti berlari, lalu berniat menyusul Sungsang Geni.
“Rerintih!” ucap Mahesa, “Jangan buat rakyat khawatir, lakukan kegiatan seperti biasanya, tapi harus tetap siaga. Jika dalam 5 jam kami tidak kembali segera evakuasi rakyat, dan siapkan prajurit untuk menyambut datangnya sesuatu...”
“Sesuatu?”
“Hal yang buruk, Malapetaka.” Jawab Mahesa.
“Aku akan menunggumu Yang Mulia, kau mengertikan maksudku? ” Ucap Rerintih, kemudian segera berlari meninggalkan Mahesa, menuju Istana Tombok Tebing.
Mahesa mendekati Sungsang Geni dengan rahang yang berderak, sekekali Mahapatih itu meradukan tinjunya, lalu suara seperti besi beradu terdengar.
“Geni, kita harus mengalahkan Mahluk itu, atau orang-orang di belakang sana akan menganggap kita pembawa Petaka.” Mahesa masih meradukan kedua tinjunya, kemudian sekekali menggerakan leher lalu terdengar suara retakan dari ruas lehernya.
“Tidak, bukan kita yang akan mengalahkannya!” ucap Sungsang Geni, "sekarang hanya aku yang akan bertarung."
“Apa?”
“Karena kau harus tetap disini, kecuali kau bisa terbang dan pergi kesebrang sana, teman.” Sungsang Geni menoleh kearah Mahesa yang sekarang terlihat kesal,
“Aku berniat menahanya di dalam sana!” sambung Sungsang Geni sambil menunjuk pada gerbang yang mulai terbuka.
“Tunggu, apa kau ingin memasuki Istana Saka sendirian?” tanya Mahesa.
“Akan sangat merepotkan jika mahluk itu berhasil keluar dari dalam sana,” ucap Sungsang Geni, “Jika aku gagal, setidaknya aku akan menguncinya bersama denganku.”
“Tunggu teman, bukankah kita harus saling membantu?”
__ADS_1
“Ya, dan tugasmu memadamkan tungku perapian, saat gerbang tertutup, agar kabut ilusinya kembali bekerja.”
Setelah berkata demikian Sungsang Geni segera terbang menuju Gerbang Zambala yang sekarang telah terbuka lebar, lalu hilang seperti hilangnya batu di dalam air.