PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Tugas Selesai


__ADS_3

Mata Setan melirik ke kiri dimana bayangan wanita mulai menampakkan wujud aslinya, pria itu berniat membunuh wanita itu tapi pada saat yang sama racun yang tertanam di dadanya mulai beraksi dengan cepat.


“Tiraka, kau menyelamatkan hidupku.” Ucap Jelatang Biru,


Jelatang Biru telah menyadari sosok Guru Tiraka melayang pelan di balik gelap malam. Harusnya Mata Setan juga menyadarinya, tapi wakil komandan itu terlalu ceroboh dan terlalu merasa diatas angin.


Guru Tiraka tersenyum pahit, setelah melihat kondisi sahabatnya sangat parah. Dia lalu melepaskan 3 totok di betis, menghentikan aliran darah pada luka Jelatang Biru.


“Kau, kenapa begitu cerobohnya"” Guru Tiraka mendesah kesal.


Wanita itu memutuskan untuk meninggalkan posisinya beberapa menit yang lalu, dia menyadari tidak akan membantu banyak dengan dirinya berada di tengah hutan. Dia meninggalkan 20 orang berjaga disana, jika saja ada kelompok Kelelawar Iblis yang melarikan diri.


Keputusannya meninggalkan posisinya ternyata bukan sebuah kesalahan. Dia sempat bertemu dengan Sabdo Jagat, tapi pimpinan Lembah Ular itu memberi perintah untuk membantu Jelatang Biru menghadapi Mata Setan.


“Sekarang aku tidak memiliki jarum tersisa.” Ucap Jelatang Biru, “Lagipula tenaga dalamku sepertinya telah terkuras banyak, ma'afkan aku. Bisakah kau membantuku menghabisi mereka semua!”


“Kau tidak perlu meminta, aku akan menghabisi ******** ini untukmu.” Guru Tiraka berkata dingin.


Wanita itu memandangi pertarungan Siko Danur Jaya dengan salah satu pendekar muda yang cukup hebat, terlihat murid dari Jelatang Biru itu sedikit kesulitan mengimbangi tempo gerakan lawannya.


Dia juga memandangi Ratih Perindu, gadis itu lebih sadis dari wajahnya. Meski sekarang dia sudah mulai kelelahan.


Bantuan Ratih Perindu ternyata bisa membalikkan keadaan, pasukan Lembah Ular baru beberapa yang tewas semenjak Gadis itu datang, tapi dilain pihak pasukan Kelelawar Iblis tinggal 120 atau mungkin kurang.


Mata Setan menjerit kesakitan, suaranya melengking hingga angkasa gelap berpadu dengan jerit rintih kematian bawahannya.


Ini adalah racun yang lebih kuat dari yang melukai kakinya. Baru beberapa menit saja dia mulai kehilangan pendengarannya, bahkan sekarang dia sudah kesulitan berbicara.


Pemuda yang sedang bertarung dengan Siko Danur Jaya segera melesat menuju wakil komandannya. Beberapa kali pemuda itu memanggil nama Mata Setan, tapi tidak ada jawaban dari pria buta itu.


Sekarang pemuda itu menyadari bahwa Mata Setan tidak akan bertahan lebih lama, dan dugaannya benar. Wakil komandan Kelelawar Iblis itu meregang nyawa dengan kehancuran seluruh organ dalamnya.


“Tunggulah sebentar, aku akan membawa mereka untuk menemani dirimu di neraka.” Pemuda itu bergumam pelan.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, dia melihat Jelatang Biru dengan penuh kebencian, dia mungkin tidak bisa membunuh pria ber-jarum racun itu pada saat dirinya dalam keadaan prima, tapi sekarang situasinya berbeda.


Satu-satunya penghalang dirinya untuk membunuh Jelatang Biru adalah Guru Tiraka, bukan sebuah masalah jika hanya Siko Danur Jaya atupun Ratih Perindu yang dia hadapi.


Tanpa diduga Jelatang Biru, pemuda itu bergerak dengan cepat, menyerang dirinya dengan belasan pukulan energi. Guru Tiraka segera menghalau setiap serangan pemuda itu, tapi beberapa serangan sempat membuat dirinya terpundur satu langkah.


“Pemuda ini cukup kuat,” Gumam Guru Tiraka, “Lagipula setiap serangannya mengandung kemarahan dan dendam.”


Siko Danur Jaya berniat melakukan serangan, tapi Guru Tiraka tidak mengizinkan dirinya. Pemuda kelelawar iblis itu adalah bagian dirinya, wanita itu cukup yakin bahwa pemuda itu bisa membunuh Siko Danur Jaya jika pertarungan mereka dilanjutkan.


“Sekarang kau bergabunglah dengan Ratih Perindu!” printah Jelatang Biru, “Kekasihmu itu bisa saja terluka jika kau tidak membantunya.”


Dan benar saja, seorang berhasil menghindari kapak besar Ratih Perindu lalu membalas dengan sebuah tendangan keras pada dada gadis itu.


Ratih Perindu melayang beberapa saat di udara. Sebelum tubuhnya terhempas, Siko Danur Jaya berhasil menangkap tubuhnya.


“Apa kau baik-baik saja?”


“Kita akan menghadapi mereka bersama-sama, sekarang Guru Tiraka telah berada disini. situasinya akan membaik.” Sambung Siko Danur Jaya.


Guru Tiraka yang mereka harapkan kini nampakanya kerepotan menghadapi pemuda kelelawar iblis itu. Wanita itu tidak bisa melepaskan jurusnya kepada orang yang selalu bergerak cepat, bahkan sekekali Guru Tiraka kehilangan sosok dirinya.


“Berhati-hatilah!” teriak Jelatang Biru.


“Kau...”


Jelatang Biru terkejut mendengar suara di dekatnya sangat jelas, setelah dia menoleh terlihat pemuda itu sedang menggenggam sebuah gumpalan energi hitam, lalu menghantamkan ke arah Jelatang Biru.


Ledakan besar terdengar, Jelatang Biru melayang beberapa saat di udara dan sekali lagi terhempas kasar di permukaan tanah. Dia meringis kesakitan, dadanya terasa sempit dengan napas yang sesak.


“Bom...” pemuda itu mendekati Jelatang Biru, “Menyedihkan sekali, guru hebat seperti dirimu terkena dua kali serangan yang sama. Kau menjadi ceroboh ya? Paman?”


Paman? Jelatang Biru tersentak, dia merasakan suara pemuda itu tidak asing lagi. Dia mencoba mengingat-ingat siapa gerangan, dan ternyata keterkejutannya bertambah setelah yakin mengenal pemuda itu.

__ADS_1


“Benawa, apa itu dirimu?” tanya Jelatang Biru. “Kau masih hidup?”


Guru Tiraka melesat menghadang pemuda itu, dia menyesal telah membiarkan dirinya berhasil melukai Jelatang Biru, ini seperti penghinaan untuk dirinya.


“Apa kau mengenal dirinya?” tanya Guru Tiraka.


“Dia adalah putra dari seseorang yang telah aku bunuh 5 tahun yang lalu, orang tua Benawa mencuri sesuatu dari lembah ular, dan Mahaguru Suaraya memberiku misi untuk mengambil sesuatu itu kembali.”


“Lalu apa yang mereka curi.”


Jelatang Biru menjelaskan garis besarnya. Mereka adalah awal mula terbentuknya Kelelawar Iblis, setidaknya itulah pemikiran Jelatang Biru Sekarang.


Tidak ada yang mengetahui Dewi Bulan ada di Lembah Ular, tapi Kelelawar Iblis mengetahui tentang itu dan merencanakan mengambil kekuatan itu sejak 3 tahun yang lalu.


Ini baru dugaan saja, tapi melihat Benawa selamat dan berada di Kelompok Kelelawar Iblis, sepertinya dugaan Mahaguru Suaraya dulu benar.


Keputusan untuk membunuh seluruh keluarga Benawa telah tepat, tapi siapa tahu Benawa yang masih berusian 20 tahun selamat, Jelatang Biru yakin dialah yang membocorkan informasi mengenai dewi bulan. Bisa diartikan, pemuda itulah cikal bakal kehancuran Lembah Ular saat ini.


“Apa yang kau katakan benar, Jelatang Biru!” Ucap Benawa dengan senyum sinis tersungging di bibirnya. “Tapi sekarang cerita itu tidak terlalu penting buatku, aku akan membunuhmu disini untuk membalaskan dendam keluargaku.”


“Tidak ada yang akan mati ditanganmu hari ini, bocah!” Guru Tiraka berkata Geram setelah mengetahui kebenarannya, “Karena kau berhenti bergerak cepat, sekarang tanpa kau sadari aku telah mengunci seluruh organ tubuhmu.”


Benawa tersentak tak percaya, dia berusaha menggerakan jarinya tapi apa yang dikatakan wanita itu ternyata benar. Dia tidak bisa bergerak.


“Sekarang lakukanlah!” teriak Guru Tiraka.


“Tentu Saja kami akan melakukannya, terima ini sialan!” Dari belakang, telah muncul Siko Danur Jaya dan Ratih Perindu dengan serangan gabungan, membuat wajah Benawa tiba-tiba langsung ketakutan.


“Tunggu!” Benawa menjadi panik.


“Kami tidak akan menunggu dasar ********!”


Dan mungkin 3 detik atau mungkin 4 detik, serangan racun dan kapak besar berhasil membunuh pemuda itu. Mengantarakan dirinya menemui Mata Setan menuju Neraka.

__ADS_1


__ADS_2