PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Wulandari Dan Cempaka Ayu


__ADS_3

Besok paginya, Sebelum matahari benar-benar menyinari bumi, Sungsang Geni berpamitan kepada Ki Alam Sakti dan juga Sabdo Jagat. Pemuda itu membungkuk tiga kali, sebagai rasa hormat dia kepada gurunya.


Mahesa, Sabdo Jagat beserta Ratih Perindu mengantar pemuda itu hingga batas lembah, pada jalan setapak yang hampir samar karena rumput.


“Mahesa, aku titipkan Bayangkara kepadamu. Pimpin pasukan selagi aku masih pergi...!”


“Hahaha...aku sudah biasa mengurus semua masalahmu.” Mahesa menepuk pundak pemuda itu dua kali, berdehem tiga kali kemudian memberi sebuah pelukan. “ Jaga dirimu baik-baik, semoga apa yang menjadi tujuanmu lekas didapatkan.”


Siko Danur Jaya tidak mengatakan apapun, dia hanya memeluk pemuda itu seakan ini adalah perpisahan panjang. Ratih Perindu hanya tertunduk lesu.


“Ireng, mari kita pergi!”


Panglima Ireng menggeram pelan, kemudian berjalan di samping Sungsang Geni menyusuri jalan setapak, dan hilang di tikungan jalan, terhalang oleh pohon-pohon besar.


Sepanjang perjalanan, pemuda itu terus saja memikirkan banyak hal. Ada tiga garis kerutan di keningnya, beberapa urat menyembul dari balik kulit seolah seperti cacing. Panglima Ireng cukup paham, jadi di perjalanan ini dia lebih banyak diam.


Di leher srigala besar itu, tergantung sekendi air minum dan sepotong daging panggang sebagai bekal perjalanan. Sekekali dia melompat di dalam semak, mencoba menemukan tambahan makanan, tapi tidak ada yang didapatkannya.


“Kemana kita mulai mencari?” Sungsang Geni bertanya, di depannya ada pertigaan jalan.


“Gerr...gerr...”


“Begitu, menurutmu ke arah sana?” Sungsang Geni menepuk moncong srigala itu dua kali, kemudian melanjutkan perjalanan.


***


Ini adalah tempat yang cukup tinggi, ada banyak bunga bermekaran di tempat itu, sebuah dataran tinggi yang sangat indah. Tampak tidak pernah ada orang yang menjamah tempat itu sebelumnya.

__ADS_1


Beberapa mawar dan melati menjadi salah satu bunga yang dipetik oleh seorang gadis cantik di dalam keranjang bunganya. Tepat di tengah dataran itu, sebuah gubuk sederhana mengepul tinggi.


Gubuk dengan atap ilalang, dan dinding dari kulit pohon, berkaki empat yang cukup tinggi, mirip rumah panggung. Pintu gubuk terbuka lebar, sedangkan dari dalam gubuk muncul pula seorang wanita berambut putih.


Pakaian mereka menunjukkan kesederhanaan. Di depan gubuk itu, ada dua ekor domba yang bulunya sudah dicukur, dikandang dengan bilahan pohon bambu.


Ketika hari mulai menaik tengah hari, gadis dengan keranjang bunga kembali ke gubuknya. Wajah gadis itu tampak lebih sumringang dari gadis-gadis di Sursena, terlihat tiada beban di kepalanya.


“Wulandari, aku sudah memasak sup jamur untuk kita.” Berkata wanita berambut putih.


“Guru, kau tidak usah repot-repot menanak nasi dan memasak sayur.” Wulandari meletakkan beberapa tangkai bunga kedalam pot dari bambu, menyusunnya sedemikian rupa dan menggantungnya tepat di ujung atap gubuk. “ Aku bisa melakukan semuanya, janganlah memandangku sebagai putri dari Maha Senopati. Kita sudah berjanji akan hidup sederhana di tempat ini.”


Saraswati menggelengkan kepala beberapa kali, tidak menjawab perkataan gadis itu dan kembali masuk ke dalam gubuk. Tidak beberapa lama, dia kembali dengan semangkuk bubur jamur. Mangkuk terbuat dari potongan tempurung buah maje, ya tiada benda berharga di dalam gubuk itu kecuali pedang hijau yang tergantung di sudut ruangan.


“Makanlah, mumpung masih hangat!”


Wulandari menghentikan aktifitasnya, dia mengambil satu mangkuk sup jamur, sebelum dia hendak menyantap makan itu, tiba-tiba dia terdiam sejenak.


Saraswati tidak berkata apapun, nafsu makannya tiba-tiba saja hilang ketika melihat wajah gadis itu selalu saja buruk setiap memikirkan Sungsang Geni. Pemuda itu, menurutnya tidak perlu di pikirkan, manalah pantas bersanding dengan muridnya yang jelas berbeda kasta, budaya dan juga negri.


Belum juga dingin sup jamur di dalam mangkuk, atau pula belum genap tiga suapan, tiba-tiba di atas langit cerah ada cahaya putih datang mendekat. Sangat cepat, seperti bintang yang jatuh dari langit dan akan menghantam bumi.


Tidak butuh 10 detak jantung, benda bercahaya putih itu jatuh tepat di depan pekarangan mereka, mengagetkan dua domba di dalam kandang.


“Guru, benda apa itu?” Wulandari menjadi terkejut bukan kepalang, tidak ada hal aneh yang terjadi di tempat ini kecuali hari ini. “Apakah itu...?”


Tidak berlanjut perkataan Wulandari, setelah dia melihat sosok gadis dengan tubuh masih berasap tepat di tengah-tengah tanah yang mencekung seperti telaga kering. Seluruh pakaian gadis itu penuh dengan koyakan gosong, seperti baru saja keluar dari dalam tungku perapian.

__ADS_1


Sontak saja Wulandari bersegera mendekati gadis itu. Saraswati terlihat ragu, jadi sebelum turun menemuinya dia mengambil pedang hijau untuk berjaga-jaga.


Seolah tiada rasa takut, Wulandari membalik tubuh gadis itu yang posisinya sedikit miring ke barat. Terkejutlah dia setelah mengetahui siapa gerangan wajah gadis itu.


“Guru, dia ini bukankah teman Geni?. Jika tidak salah Geni memanggilnya dengan sebutan Cempaka.”


Saraswati segera mendekati, memperhatikan dengan teliti dan sama dengan Wulandari wanita itu juga terkejut bukan kepalang. Bersegera dia memeriksa denyut nadi Cempaka Ayu.


“Gawat, denyut nadinya berantakan sekali. Nafasnya juga sangat lemah, kita harus menyelamatkan nyawanya.” Saraswati mengangkat tubuh gadis itu dan buru-buru membawa masuk kedalam gubuk.


“Cepat ambilkan obat-obatan!”


Tanpa menunggu lama, Wulandari mengambil satu keranjang obat yang tergantung di atas tungku. Dia memilah beberapa tumbuhan, rempah-rempahan dan juga terlihat seperti bunga-bunga, menumbuknya dengan buru-buru dan diseduh ke dalam secawan air hangat.


“Bantu aku...” Saraswati mendudukan Cempaka Ayu, meletakkan telapak tangan di bagian belakang gadis itu, kemudian menyalurkan tenaga dalam.


Tidak beberapa lama, wanita itu tersentak. “Aneh sekali, aku tidak bisa menyalurkan tenaga dalam pada gadis ini, seolah ada sesuatu yang menolaknya keluar.”


Wulandari tidak begitu tahu mengenai tenaga dalam, sebab dia tidak memiliki cukup banyak energi itu. Tapi dia memiliki beberapa pengetahuan di bidang pengobatan, jadi selekas mungkin meracik ramuan untuk diminumkan ke mulut Cempaka Ayu.


“Guru, apakah saat ini seluruh tubuhnya mengalami cidera?”


“Yang kau katakan benar, Wulan.” Saraswati membaringkan tubuh gadis itu pelan-pelan. “Seluruh uratnya mengalami pembengkakan, aku tidak pernah melihat ada orang mengalami kondisi seperti gadis ini.”


Wulandari bergegas berdiri, dia mengambilkan satu pakaian yang dia simpan didalam lemari usang. Pakaian itu sebenarnya adalah baju kebesaran dari Negri Sembilan yang berniat dibuang.


Setelah itu, dia buru-buru ke bawah gubuk mengambilkan air di dalam tong.

__ADS_1


Butuh beberapa lama untuk mengobati tubuh Cempaka Ayu. Di tubuhnya terlihat beberapa memar yang membiru, bahkan ada yang terlihat sudah menghitam seperti baru saja terkena pukulan.


“Tapi ini bukan sebuah pukulan, memar ini nampaknya berasal dari dalam dirinya.” Saraswati mengurut keningnya beberapa kali, tampak berpikir keras. “Gadis ini mungkin menyimpan sesuatu yang membahayakan tubuhnya, atau pula membahayakan orang di sekitarnya.”


__ADS_2