PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni Vs Wakil Komandan


__ADS_3

Setelah menguasai tubuh sepenuhnya, Siko Danur Jaya mengabil beberap jarum dari balik baju tebalnya, lalu melepaskan pada salah satu Belalang Sembah yang terlihat lengah.


Serangan jarum pertama, mampu mereka hindari tapi serangan jarum ke dua akhirnya mengenai sasaran. Belalang Sembah Biru sekarang tersungkur ke tanah, jarum Siko Danur Jaya berhasil menusuk bagian dada.


“Kau sudah tamat!” ucap Siko Danur Jaya, “Menurutmu, daerah mana yang lebih dekat dengan organ jantung? Dada, benar? Dan jarumku berhasil mengenai dada kirimu, dengan racun paling kuat yang kumiliki.”


Pendekar Kelelawar Iblis itu hendak menghardik Siko Danur Jaya, tapi tiba-tiba rasa panas mulai membuat dadanya kembang kempis. Tubuhnya sedikit terhuyung beberapa saat, dan setelah menunggu 30 detik dia terhempas ke tanah.


“Efek pertamanya, akan melemahkan seluruh ototmu, efek kedua akan membuat nafasmu menjadi sesak, seakan dadamu tertindih batu besar, dan efek ke tiga lap...” Siko Danur Jaya tersenyum kecil, “Dunia ini tiba-tiba lenyap.”


Pria itu tidak bertahan lama, dari mulutnya keluar buih putih dan bau busuk. Beberapa menit kemudian , dia menghembuskan napas dengan mata melotot.


Belalang Sembah Kuning mulai ketakutan saat ini, salah satu temannya telah mati mengenaskan , dan satu lagi sedang dalam keadaan kritis karena kehilangan darah. Sekarang hanya dirinya, tidak disangkanya pemuda itu memiliki kemampuan yang sangat mengerikan.


Satu-satunya pilihan dirinya adalah melarikan diri dari sana secepatnya, dan itu bukan pilihan buruk bagi seorang pengecut. Dia berbalik badan, belum sempat dia melangkah tiba-tiba Ratih Perindu mengayunkan kapak besar tepat di pundak pria malang itu.


Seketika, pundak Belalang Sembah Kuning terbelah. Darah merah mengalir membasahi tanah, membuat bau anyir yang menggelitik bulu hidung.


“Sekarang kita menuju ke depan!” ucap Siko Danur Jaya, “Sungsang Geni mungkin sedang bertarung, jadi kita bisa membunuh mayat hidup yang mengganggu pertarungannya.”


***


Sungsang Geni diam di tempat beberapa lamanya, dia tidak menyerang mayat hidup yang coba mendekati tapi tugas itu segera dilakukan Cempaka Ayu dengan butiran kerikil yang menghujani jantung mereka.


Bukan tanpa alasan, pemuda itu sekarang sedang dihadang oleh Srigala Hitam, salah satu wakil komandan yang kabarnya paling kejam diantara yang lain. Tidak sendirian, Srigala Hitam juga ditemani seorang wakil komandan yang lain, wanita yang pernah ditebas lengannya oleh Sungsang Geni.

__ADS_1


Untuk beberapa lama mereka tidak saling bergerak, menunggu salah satu dari mereka menyerang lebih dahulu.


Cempaka Ayu berniat membantu pemuda itu, tapi Sungsang Geni telah berjanji pada musuh di depannya bahwa pertarungan ini akan menjadi menarik.


“Geni apa kau yakin akan menghadapi mereka berdua sendirian?” Cempaka Ayu tampak khawatir, “Aku bisa menghadapi wanita itu, dan aku rasa kekuatan cukup mampu.”


“Tidak Cempaka, mereka bagianku.” Jawab Sungsang Geni, “Lagipula, kekuatanmu lebih efektif untuk menghabisi mayat sebanyak mungkin.”


Sungsang Geni menebas angin, membersihkan noda darah pada pedang watu kencana. Pemuda itu lalu melangkah mendekati Srigala Hitam dan rekannya, sendirian.


“Nyalimu besar juga anak muda?” Srigala Hitam terkekeh kecil, pria itu sebelumnya juga berhasil mendaratkan pukulan kepada Sungsang Geni pada saat hari dimana pembebasan Empu Pelak.


“Kau, apa luka itu sudah sembuh?” Sungsang Geni menunjuk wakil komandan wanita di sebelah Srigala Hitam. “Nampaknya belum, aku bisa melihat gerakan lenganmu kaku!”


Wanita itu menatap Sungsang Geni geram, wajahnya mungkin sedang merah saat ini, tapi Sungsang Geni tidak dapat membedakannya antara merah karena marah atau karena cahaya api?


Sungsang Geni tersenyum kecil, dia kemudian melepaskan aura api dari tubuhnya membuat situasi semakin panas. Beberapa mayat hidup tidak bisa mendekat lebih dari lima meter atau akan mati terbakar.


Retenah tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran di wajahnya, dia telah merasakan sendiri serangan dari pemuda itu, tapi Srigala Hitam masih terlihat tenang meski aura membunuhnya dapat ditekan.


Srigala Hitam menyerang lebih dahulu, senjatanya adalah tongkat pendek dengan kepala cakar hitam. Rumor mengatakan, cakar pada tongkat itu mengandung racun yang berbisa, hanya goresan kecil seseorang bisa mati seketika.


Dalam sekejap, telah terjadi pertukaran ratusan jurus antara kedua orang itu. Sungsang Geni berniat menusuk jantung lawan pada serangan berikut, tapi Srigala Hitam dapat menghindarinya tanpa kesulitan.


Dari yang bisa dilihat Cempaka Ayu, pertarungan itu terlihat berimbang, atau tidak, pertarungan itu tidak berimbang sama sekali. Sungsang Geni menyerang sambil tersenyum, seakan sedang mengejek lawannya.

__ADS_1


Pemuda matahari itu mengiringi tempo serangan Srigala Hitam, masih menahan diri agar tidak mengeluarkan tenaga dalam besar. Sedangkan dilain sisi, Srigala Hitam telah menggunakan separuh tenaga dalamnya, untuk membantu tubuhnya bergerak cepat.


Sekarang terlihat tongkat kecil milik wakil komandan Kelelawar Iblis mulai retak diberbagai sisi. Tongkat itu adalah senjata tinggi yang paling disayangi Srigala Hitam, hampir jarang dia gunakan kecuali pertarungan yang sulit. Dan setiap senjata itu dikeluarkannya, biasanya musuh tidak bertahan lama.


“Srigala Gunung Mengaum!” Pria itu melepaskan cakar dari tongkatnya, membentuk energi 3 cakar keunguan, melesat kearah Sungsang Geni.


Pemuda Matahari itu bergerak lebih cepat dari biasanya, serangan pria itu tidak mengenai sasaran. Dan malah melesat pada ratusan mayat hidup di belakang pemuda itu.


“Cempaka, lihatlah pria ini membantu tugasmu!” Sungsang Geni tertawa kecil, di iringi senyuman Cempaka Ayu. “Lakukan lebih sering, dan kami tidak perlu susah payah membunuh para mayat hidup ini!”


“Apa kau meremehkan aku, anak muda?” Srigala Hitam terdengar marah, suaranya mulai serak dan berat.


“Sejujurnya, benar aku meremehkan kalian!” ucap Sungsang Geni, lalu menunjuk dengan pedang pada Retenah, “Kenapa kau tidak ikut dalam pertarungan ini, seperti yang kalian lakukan saat menyerangku tempo hari?”


Meski wakil komandan itu berada pada level tanpa tanding sama dengan Sungsang Geni, tapi mereka berada pada tingkat paling rendah. Sedangkan Sungsang Geni adalah pilih tanding dengan 3 cakra yang terbuka, ditambah lagi teknik pedang awan berarak miliknya lebih unggul dari mereka.


Meskipun misalnya Sungsang Geni berada pada level 'pilih tanding', dengan kemampuan pedang berarak yang dia kuasai, pemuda itu masih bisa mengalahkan satu dari mereka berdua tanpa kesulitan, terlepas dari energi api matahari di lengannya.


Sungsang Geni menyadari tenaga dalamnya tidak begitu besar, jika dibandingkan dengan Cempaka Ayu ataupun Sabdo Jagat.


Tapi kelebihan teknik pedang berarak dapat memadatkan tenaga dalamnya pada setiap serangan pedang yang dia gunakan, dengan begitu tebasan pedang Sungsang Geni lebih berat dan tajam. Inilah kenapa teknik ini sangat kuat, da berbahaya.


“Kenapa kau diam saja?” Srigala Hitam membentak Retenah, “Apa kau ingin membiarkan aku mati? cepat bantu aku dan serang pemuda ini bersamaan!”


Retenah tersentak mendengar ucapan Srigala Hitam, bagaimanapun sebenarnya dia menyadari bahwa mereka tidak akan sanggup membunuh Sungsang Geni, meski dengan memadukan serangan.

__ADS_1


Jika ada kesempatan, Wanita itu berniat untuk melarikan diri, dan tentu saja Srigala Hitam sebagai tumbalnya. “Aku harus mencari kesempatan, aku tidak boleh mati konyol ditempat ini.”


__ADS_2