PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Ini Lebih dari Neraka


__ADS_3

Sebelum semua benda menjadi cair, pedang watu kencana menghisap semua energi panas di Istana Saka tanpa tersisah. Membuat bebatuan yang cair laksana magma perlahan-lahan mengental lalu mengeras.


“Sekarang kau sudah makan?” Gumam Sungsan Geni dengan senyuman tipis di bibirnya, “Sepertinya kau telah kenyang, tinggal aku sendiri yang masih kelaparan. Aghk...sial, seluruh tubuhku terasa sakit.”


Sungsang Geni menenteng pedang watu kencana, sekarang tidak ada lagi energi yang merayap kedalam tubuhnya. Sepertinya, pedang itu juga kehabisan energi panas, dan jika dia hidup seperti manusia mungkin sekarang dia sedang mendengkur.


Sungsang Geni melirik pada jalur energi yang mendorong siluman Si Anak Sulung, benda-benda yang di laluinya berlobang besar dan menyisahkan bau gosong. Tapi tatapan pemuda itu terpaku pada ujung batas Istana Saka.


Dia mengira, serangannya akan mendorong Si Anak Sulung hingga keluar dari Istana Saka menuju dunia luar, menembus perut gunung. Tapi ternyata tidak.


Ada energi lain yang membatasi Istana Saka dengan Dunia Luar, energi yang begitu halus dan lembut serta berwarna bening tapi sangat kuat. Energi itu membentuk kubah, dengan Istana Saka berada di dalamnya.


Sungsang Geni menyadari sesuatu, kemudian dia tersenyum pahit. “Ya...ini adalah dunia siluman, Dunia Ghaib. Mana mungkin ada yang keluar dari sini, kecuali melewati gerbang Zambala.”


Sungsang Geni dengan tenaga yang tipis berusaha mencari gerbang Zambala sambil berjalan tertatih-tatih.


Keberadannya sekarang membuat dia lupa jalan menuju halaman depan Istana Saka, dimana gerbang Zambala Berada.


Setelah cukup lama tersesat, akhirnya dia menemukan halaman lainnya. Entah ini adalah halaman belakang, atau depan atau juga halaman samping, tapi di depan mata pemuda itu, berdiri gerbang Zambala yang terbuka.


Sungsang Geni tidak menunggu lama, dia segera bergegas memasuki gerbang itu. Dan.


“Dimana ini?” Pemuda itu tertegun melihat dunia luar yang sangat asing di matanya, “Ini bukan wilayah Tombok Tebing.”


Perasaannya ketika keluar dari Gerbang Zambala berbeda dengan ketika dia masuk. Sangat cepat, tidak merasakan ada energi bening, atau bintang warna-warni yang berpusar seperti sebelumnya.


Sungsang Geni berniat kembali memasuki Gerbang Zambala tapi setelah dia menoleh kebelakang, tidak ada apapun di sana kecuali pohon beringin tua besar yang berongga.


Sungsang Geni tidak sempat lagi berpikir panjang, mana kala kondisi tubuhnya saat ini tidak mampu lagi bertahan. Dia kemudian jatuh terlentang memandang ujung pohon beringin yang tinggi seakan menyentuh awan.


Lalau pengelihatannya mulai berputar-putar, dan memaksa pemuda matahari itu tertidur lelap dengan luka bakar di banyak bagian pada tubuhnya.


***


Bebearap jam sebelumnya, Mahesa dan semua prajurit tombok tebing dikejutkan dengan bergetarnya gunung di sebrang jurang, dimana Gerbang Zambala berada.

__ADS_1


“Apa itu Siluman Singa Merah akan keluar?” salah seorang prajurit terpekik, diikuti pekikan prajurit yang lain.


“Benar, itu adalah siluman yang berusaha keluar!”


“Ini gawat, kita akan mati hari ini!” ucap para parjurit lagi.


“Diam...!” Mahesa berteriak, dia juga ketakutan tapi bukan pada siluman itu melainkan pada kondisi Sungsang Geni. “ Geni, Apa yang terjadi disana? sekarang gerbangnya mulai tertutup sendiri.”


“Siapkan panah!” ucap Rerintih, memerintahkan pasukannya untuk membidik sesuatu yang keluar dari gerbang Zambala atau juga membidik tungku perapian di sebrang sana. Mana yang paling penting, entahlah, Rerintih tidak tahu mana yang paling penting saat ini.


Gerbang Zambala semakin tertutup, tapi Raja mereka tidak kunjung keluar dari Gerbang Zambala. Mahesa mengeraskan rahangnya, dia menggenggam kepalan tinjunya dengan bergetar.


Sekarang dia mulai menghitung mundur dari angka 10.


Setelah hitungannya barada pada angka satu, tidak ada tanda-tanda Sungsang Geni keluar dari sana. Mahesa dengan mata terpejam, mengakat tangannya lalu berkata pelan, “Padamkan Tungku perapian!”


Pasukan pemanah dengan ragu menghujani tungku perapian dengan panah yang membawa air dari dalam bambu yang terikat pada anak panah.


Setelah tungku perapian mati, kabut hitam mulai merayap menutupi suasana di sebrang Jurang. Hingga akhirnya, Gerbang Zambala tidak terlihat, kembali tertutup kabut ilusi.


Mahesa mengagguk, kemudian berkata dengan nada bergetar “Benar, dia pasti kembali. Dia masih mempunyai banyak tugas yang belum dituntaskan, aku akan membunuhnya jika saja dia sampai mati di dalam sana!”


***


Sungsang Geni mendengar beberapa suara dari orang-orang yang terdengar sibuk dengan urusannya. Suara dentingan piring yang beradu, langkah kaki manusia, atu mungkin langkah kaki hewan dan, suara kicauan seorang wanita kepada anaknya.


Pemuda itu berniat melihat secara langsung apa yang terjadi, tapi matanya masih terasa enggan untuk terbuka, kaku dan berat.


Dia kemudian hanya berusaha merasakan tubuhnya sekarang tertidur di atas pembaringan yang di penuhi bulu-bulu halus. Kulit domba, mungkin.


Sungsang Geni menggerakan perlahan jari-jemarinya, masih kakaku terasa nyilu dan sedikit tebal. Dia masih berusaha membuka matanya pelan-pelan.


Hal pertama yang dia lihat adalah atap ilalang, meski sedikit kabur tapi Sungsang Geni yakin sekarang dirinya berada di dalam gubuk.


Menurut hasil pendengarannya, gubuk ini milik seorang ibu dan anak gadisnya yang nakal.

__ADS_1


“Kau sudah bangun paman?”


Terdengar suara gadis kecil dari arah kanan, Sungsang Geni berusaha menoleh untuk menemukan seperti apa wajah gadis pemilik suara indah itu.


“Ya, menurutku kau sudah bangun.” Gadis kecil itu kembali berucap, “Bibi Indragiri, pemuda ini sudah bangun, Bibi...BIBI!”


Ternyata suaranya tidak semerdu yang dipikirkan Sungsang Geni, sedikit melengking, hampir membuat kepalanya kembali terasa sakit.


Seorang wanita gendut dengan rambut tersanggul dan kain batik yang melilit tubuhnya, berjalan terburu-buru. Dia nampak kesal mendengar teriakan gadis kecil yang mungkin berusia 9 tahunan itu.


“Pendekar muda!” bibi Indragiri berkata sambil mengganti kain kompres dikepala Sungsang Geni, “Ma’afkan suara gadis kecil ini...”


“Putri Kecil!” potong gadis itu.


“Putri kecil ini,” lanjut Indragiri kesal, “Apa kau merasa baikan, anak muda?”


“Ya, cukup baik kecuali semua sendiku terasa kaku dan nyilu.” Jawab Sungsang Geni, sambil berusaha menggerakan seluruh tubuhnya, tapi tidak berhasil, yang ada hanya ringisan dari bibirnya yang pucat.


“Kau telah tertidur selama satu minggu...”


“Satu minggu lebih 3 jam, dan 20 menit.” Gadis kecil yang ingin dipanggil Putri kecil kembali memotong perkataan Indragiri.


“Putri Sekar Arum!” Indragiri menaikan nadanya, pandangannya tajam kepada gadis kecil itu, “Jika kau punya waktu luang, alangkah baiknya membantu orang-orang diluar sana!”


“Pelayan pemarah!” Sekar Arum menggerutu kemudian berjalan lalu mebanting pintu, “Aku akan memberi tahu ayahku, untuk segera memberimu pelajaran!”


“Aku rasa dia cukup baik, em...mungkin wataknya saja yang...”


“Dia memang gadis kecil yang baik,” sambung Indragiri, “Dialah yang selalu mengganti kain kompres di kening, dan membasuh tubuhmu setiap petang, hanya saja...Sedikit pemarah dan keras kepala.”


“Bibi Indragiri!” Sungsang Geni berucap, “Dimanakah sekarang aku berada?”


“Menurutmu dimana?” Indragiri balik bertanya.


“Entahlah, tapi aku yakin ini bukan neraka.”

__ADS_1


“Tidak anak muda," Indragiri menatap Sungsang Geni penuh makna kemudian bergegas beranjak, "Ini lebih dari neraka. Beristirahatlah! kau akan mengetahuinya setelah kondisimu pulih seutuhnya.”


__ADS_2