
Setelah pertarungan itu, Sungsang Geni di undang oleh Buana Jagat untuk bertandang ke gubuknya. Memang masih ada banyak hal yang mesti mereka pertanyakan. Salah satunya adalah, arah sepak terjang Sungsang Geni kedepannya.
Di dalam gubuk, Sungsang Geni melihat beberapa orang sedang berkumpul menunggunya, ada beberapa wajah yang telah dijumpainya. Seperti Gentar Bumi, yang memandang pemuda itu tanpa berkedip.
“Terimakasih pendekar muda telah menolong kami, di pertempuran kemarin!” Buana Jagat membuka suara paling pertama.
Sungsang Geni terseyum kecil, “Tidak masalah paman, lagipula saya juga memiliki hutang budi terhadap warga Lembah Ular.”
“Yang kau maksud pasti Indragiri?” terka Buana Jagat, “Sekarang jika boleh kami tahu, siapa sebenarnya pendekar muda ini?”
Sungsang Geni kembali tersenyum kecil, dia kemudian menjelaskan latar belakangnya secara garis besar. Namun, pemuda itu tidak dapat menjelaskan bahwa dia adalah Raja dari Tombok Tebing, tidak pula bisa menjelaskan bahwa dia telah memasuki gerbang Zambala, tidak, atau mereka akan menganggap dia orang gila.
Setidaknya saat ini dia harus menyimpan rahasia itu sampai waktu yang tepat untuk mengatakannya.
Semua orang yang mendengar ucapan Sungsang Geni hanya manggut-manggut. Mereka sangat antusias, tidak ada yang berusaha mencela, mereka mendengarkannya hingga selesai.
“Setelah mendengar ceritamu, sekarang aku benar-benar yakin kau dari Majangkara. Teknik pedang yang kau gunakaan, aku mengetahuinya miliki Ki Alam Sakti. Tidak kuduga sekarang aku melihat muridnya.” Ucap Sabdo Jagat, lelaki itu kemudian berdehem beberapa kali, “Tapi, bagaimana bisa pendekar muda terdampar di beringin hitam.”
“Beringin Hitam?”
“Kau tidak mengingatnya, kabarnya Indragiri menemukan dirimu tak sadarkan diri di bawah pohon itu.” Sambung Sabdo Jagat sedikit heran.
“Padahal tidak ada celah di pohon beringin itu, lalu kenapa tiba-tiba saja ada celah. Aneh sekali. Lagipula pohon itu dikatakan keramat, sebab selalu tertutup kabut tebal di pangkal batangnya.” Sambung Guru Jelatang Biru.
“Paman, dimana letak beringin itu? aku yakin pedangku masih tergeletak di sana?”
“Pedang? Aku tidak tahu jika ada pedang, tapi jika kau ingin kesana letaknya cukup jauh mungkin 1 hari perjalanan. Indragiri menemukan dirimu, ketika dia sedang mencari suaminya yang tak kunjung kembali saat berburu. Tapi miris suaminya ditemukan dalam keadaan tewas.” Jawab Sabdo Jagat.
Mendengarnya, Sungsang Geni hanya bisa menghela napas berat. Mungkin untuk beberapa hari kedepan dia tidak akan memiliki pedang, semoga saja musuh tidak menyerang saat itu.
“Paman!” Sungsang Geni lalu memasang wajah serius, membuat semua orang di sana tib-tiba memasang ekspresi yang sama, “Apa kau menyimpan mereka di dalam sana?”
“Apa maksud perkataanmu pendekar muda?”
__ADS_1
“Aku merasakan energi hitam terkekang dari dalam bilik bambu itu!” Sungsang Geni menunjuk kamar tempat Cempaka Ayu terbaring.
Sabdo Jagat tampak berpikir sesaat, dia memandangi Sungsang Geni penuh makna. Beberapa detik kemudian, pria itu menoleh ke arah Guru Tiraka dan guru yang lainnya, kemudian menoleh lagi ke arah Sungsang Geni.
“Kau tidak salah, kami memang mengekang seseorang, mari ikutlah denganku!” Sabdo Jagat beranjak lalu menuju ke bilik Cempaka Ayu, “Mungkin kau mengetahui sesuatu, pendekar muda?”
Sungsang Geni membuntuti Sabdo Jagat. Ketika dia melihat seseorang terbaring dengan tubuh kaku dan mata melotot, Sungsang Geni terkejut bukan kepalang.
“Sudah berapa lama dia seperti ini?” tanya Sungsang Geni.
“4 hari, guru tiraka telah mengunci pergerakan energi hitam di tubuhnya, tapi rupanya tidak begitu berhasil.” Sabdo Jagat menunjuk ruam hitam yang tampak seperti urat menjalar hingga hampir memenuhi pipi bagian kiri Cempaka Ayu.
Sungsang Geni berpikir sejenak, “Paman! aku mungkin bisa membantu. Jika memang baru tiga hari, aku rasa aliran energinya belum mempengaruhi pikirannya. Tapi kemungkinan berhasil hanya 50%.”
Sabdo Jagat kembali melirik guru Tiraka kemudian pada guru yang lainnya. Wajahnya terlihat ragu, mereka bukan tidak mempercayai perkataan Sungsang Geni, setelah melihat kemampuan pemuda itu, tapi mendengar persentasi kemungkinan berhasil. Mereka jadi tidak yakin.
“Paman!” Sekar Arum telah berada di dekat Sungsang Geni, tangan mungilnya tiba-tiba saja menarik-narik baju pemuda itu, “Aku mohon selamatkan dirinya.”
“Aku harus membuka baju pria ini!” ucap Sungsang Geni.
“Ma’af pendekar muda, tapi dia adalah wanita!” sanggah Sabdo Jagat, “Em...memang sedikit aneh, tapi memang penampilannya seperti pria.”
“Wanita?”
Sungsang Geni tersedak napasnya, dia batuk beberapa kali. Tidak percaya, bahwa orang yang tertidur di pembaringan ini adalah seorang wanita.
Wanita? Tapi dia tidak milhat benda yang menonjol di bagian dada, Sungsang Geni sedikit malu mendapati kekeliruannya.
‘bukankah tonjolan di bagian dada adalah hal yang paling mungkin menunjukan seseorang adalah wanita?’ batin Sungsang Geni bergumam. ‘aku tidak menyangka ada wanita berdada pria’
Memang Cempaka Ayu lebih menyukai penampilannya sebagai pria dari pada wanita. Tapi meski demikian, wajah gadis itu dikatakan paling cantik di Lembah Ular. Banyak pria yang menyukai dirinya secara diam-diam, tapi tidak ada yang cukup berani melamarnya atau dua tiga gigi akan terlepas.
“Kalau begitu ma’afkan kebodohan pria ini”, ucap Sungsang Geni, wajahnya menjadi sedikit merah, “Tolong siapapun temani aku disini.”
__ADS_1
Sungsang Geni segera menutup matanya dengan kain putih, membuat semua orang cukup mengerti jalan pikiran Pemuda itu. Susuk itu tertancap di tengah dada Cempaka Ayu, jadi meski terlihat sebagai pria, dia tetaplah wanita.
Tiraka menyetujui keputusan Sungsang Geni, semua orang di tempat itu segera meninggalkan mereka berdua bersama dengan Cempaka Ayu.
“Bibi, aku mohon bantuannya.” Ucap Sungsang Geni.
Tiraka hendak menanyakan cara Sungsang Geni melepaskan susuk di dada Cempaka Ayu, tapi niatnya segera urung berganti terkejut melihat lengan Sungsang Geni bersinar merah bara.
“Panas!” ucap Tiraka, dia kemudian menoleh kearah Cempaka Ayu, “Tapi, energi hitam yang menjalar di tubuhnya menunjukan respon yang mengejutkan.”
Sungsang Geni tersenyum kecil, “Bibi kau bisa membuka pakaian wanita ini!”
Tiraka mengangguk, dia segera melakukan apa yang diperintah Sungsang Geni. “Apa perlu ku tuntun tanganmu?”
“Tidak, apiku dapat membawaku pada susuk itu.”
Tiraka hanya terpaku, dia melihat Sungsang Geni meletakan jari telunjuknya pada titik energi yang paling pekat, lalu terdengar teriakan keras dari mulut Cempaka Ayu.
Sungsang Geni berniat melebur seluruh energi hitam yang berada didalam tubuh Cempaka Ayu. Ini adalah cara yang mungkin paling berhasil dilakukan. Jika dia memaksa mencabut benda mirip batu hitam sebelum menghancurkannya, Sungsang Geni takut nyawa Cempaka Ayu tidak akan tertolong.
Dia membandingkan hal ini seperti kutil pada tubuh seseorang, jika dicabut paksa tanpa membunuh akarnya, yang ada hanya akan menambah parah penyakit itu saja. Konsepnya hampir sama, susuk itu adalah parasit yang akan mengambil alih tubuh sang pemilik.
Di luar bilik bambu, Sabdo Jagat berjalan mondar-mandir. Dia semakin cemas dengan cahaya terang yang keluar dari celah dinding bilik, bertambah cemas lagi ketika suara Cempaka Ayu semakin bertambah tinggi setiap detiknya.
“Ayahanda, jangan khawtir! Kita percayakan saja semuanya kepada paman Geni!” Sekar Arum berusaha menenangkan Sabdo Jagat, meski sebenarnya wajah gadis kecil itu mulai berlinangan air mata.
Setelah hampir setengah jam lamanya, Sungsang Geni keluar dari bilik bambu. Guru Tiraka nampaknya masih membereskan tubuh gadis itu di dalam sana. Setelah cukup beres, guru Tiraka keluar dengan wajah berseri.
“Keadaannya telah membaik, kalian boleh melihatnya!”
Sekar Arum masuk lebih dahulu, diikuti Sabdo Jagat dan diikuti beberapa orang yang lainnya. Mereka menemukan Cempaka Ayu masih tergeletak tidak sadarkan diri, tapi ruam hitam yang menjalar di sekitar leher dan wajahnya telah hilang.
“Ini adalah benda yang membuat dia menderita!” Tiraka menyodorkan serpihan batu hitam yang dia balut dengan kain putih, “Dia berhasil menghancurkan sekaligus mencabut benda ini. Pendekar muda itu, dia bukan manusia biasa!”
__ADS_1