PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Pemerintahan Swarnadwipa


__ADS_3

Ketika dia bahkan tidak lagi mendengar detak jantungnya, atau mendengar desah napasnya sendiri. Saat itu Sungsang Geni tiba-tiba melihat cahaya berwarna biru bergerak perlahan memenuhi matanya yang masih terpejam.


Apakah itu warna energi alam? Entahlah Sungsang Geni belum mengetahui apa itu sebenarnya, tapi dia bisa merasakan warna biru begitu tenang dan sangat berat.


Ketika pemuda itu membuka mata, cahaya biru itu masih terlihat dengan jelas melayang-layang memenuhi hamparan laut luas. Ini adalah pengalaman pertama yang dia rasakan, seolah-olah sekarang bukan malam hari karena dunia dipenuhi dengan warna-warna yang indah.


Bahkan pemuda itu bisa melihat, warna ke kuningan keluar dari dalam bumi dan melayang hingga beberapa meter dari permukaan tanah. Dia juga bisa melihat, pohonan-pohon mengeluarkan cahaya bening dan sedikit kehijauan.


Beberapa saat kemudian, setiap warna menggumpal kemudian berputar-putar dan membentuk sebuah bola energi yang mengambang tepat di hadapan Sungsang Geni. Bentuknya mirip seperti bumi, tapi bersinar terang.


“Apa ini? Apakah ini energi alam?” Sungsang Geni belum memahami, tapi energi itu tiba-tiba saja melesat maju ke arahnya dan masuk tepat di tengah dada.


“AHKKK!” pemuda itu berteriak kesakitan, hingga dia terjatuh dan berguling di permukaan lantai papan.


Tunggu lantai papan?


“Geni! Geni!” terdengar suara Cempaka Ayu menggedor-gedor pintu, membuat pemuda itu tiba-tiba saja terjaga dari mimpi. “Geni apa kau baik-baik saja?!”


Sungsang Geni menyapukan pandangan, tempat ini adalah kamarnya dan bukan hamparan laut luas. Dia kembali memeriksa dadanya yang terasa sesak, kemudian berusaha berdiri meski peluh membasahi sekujur tubuhnya.


“Geni! Apa kau baik-baik saja? Buka pintunya agar aku bisa masuk?” Cempaka Ayu semakin khawatir.


“Aku baik-baik saja!” Sungsang Geni buru-buru membuka pintu kamarnya, dan rupanya Cempaka Ayu dan pemilik warung makan sudah berada di depan pintu dengan wajah-wajah cemas. “Hanya mimpi buruk, bukan sebuah masalah.”


Cempaka Ayu menghela napas berat, kemudian masuk ke dalam kamar pemuda itu menuangkan segelas air minum untuk Sungsang Geni. “Minumlah perlahan, ini akan menenangkan dirimu.”


“Kalau begitu, aku akan menyiapkan bekal perjalanan kita kelak.” Surailarang kemudian pamit undur diri.


“Fajar sudah tiba, sebentar lagi kita akan pergi.” Cempaka Ayu lantas meninggalkan Sungsang Geni sendiri, dia yakin pemuda itu butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya. “Jika kau butuh sesuatu, segera panggil aku.”

__ADS_1


“Cempaka...” Sungsang Geni memanggil sebelum gadis itu melangkah keluar pintu. “Terimakasih, ma'af telah membuatmu khawatir.”


Cempaka Ayu tersenyum kecil, kemudian segera berlalu meninggalkan pemuda itu sendirian. “Apa yang terjadi sebenarnya? Dia bertingkah aneh semenjak tiba di tempat ini.”


***


Ketika matahari sudah mulai menyingsing, Surailarang menitipkan rumah makan pada anak gadisnya dengan menyewa 10 orang pendekar hebat untuk berjaga dari para bandit yang mungkin akan kembali.


Dia juga meminta adiknya yang berada di sebelah desa untuk menemani putrinya, takut jika tiba-tiba hal buruk terjadi.


“Tuanku pendekar, aku telah menyiapkan kereta kuda yang lebih besar dan lebih nyaman untuk perjalanan kita.” Surailarang menunjukkan kereta kuda besar yang ditarik dengan 6 ekor kuda hitam yang lebih besar dari kuda milik Sungsang Geni.


“Aku harap kuda kalian tidak begitu takut seperti kuda milik kami.”


“Memangnya kenapa tuan?” tanya Surailarang heran.


Belum kering air liurnya, Panglima Ireng keluar dari dalam gerobak sambil mengendus beberapa kali dan menatap Surailarang dengan tajam.


“Tidak usah takut, dia tidak akan memakan siapapun.” Sungsang Geni kemudian menepuk kepala Panglima Ireng, seketika hewan itu bersikap seperti seekor anak anjing kecil, duduk dan mantap orang itu dengan sayu. “Dia adalah teman kami, dia tidak berbahaya. Jadi apa kau masih berniat mengantar perjalanan kami?”


Surailarang terlihat ragu, begitu pula anak gadisnya yang menatap Panglima Ireng tanpa berkedip, bahkan 10 orang pendekar yang disewa Surailarang sudah menarik pedang mereka untuk bersiap siaga.


“Tentu saja kau akan mengantar kalian, Tuan.” Surailarang membuka pintu kereta kuda. “Silahkan bawa hewan itu masuk lebih dahulu.”


Cempaka Ayu tersenyum kecil, kemudian melangkah lebih dahulu di iringi panglima Ireng yang sekekali mengendus moncongnya ke arah Surailarang.


“Aku akan menjadi kusir kuda.” ucap Surailarang buru-buru naik keatas tempat duduk kusir.


Sekali lagi Sungsang Geni menggelengkan kepala, kemudian masuk kedalam kereta kuda yang memiliki jedela besar. Dan benar, didalam kereta kuda sudah tersedia tempat duduk yang nyaman serta beberapa perbekalan.

__ADS_1


Menurut Surailarang, dengan melewati jalur tengah akan memotong waktu 3 hari hingga tiba di pusat Ibukota kerajaan Swarnadwipa. Selain lurus, jalur yang akan mereka lewati juga memiliki jalan yang tidak buruk. Kuda akan berlari kencang tanpa halangan.


Beberapa menit kemudian mereka telah meninggalkan rumah makan, dan melaju dengan cepat. Ketika menemukan pertigaan, Surailarang mengambil ke jalur kanan dan mulai meninggalkan pesisir pantai.


Cempaka Ayu melirik dari jendela kereta, ketika mereka mulai meninggalkan lautan biru yang menderu. Sementara Panglima Ireng kembali mendengkur diatas alas empuk yang di atur sedemikian rupa di dasar kereta.


Tidak lama kemudian, Sungsang Geni membuka pintu kereta di bagian depan, lalu duduk di dekat Surailarang yang sibuk mengendalikan laju kuda.


“Tuan, kenapa tidak berada di dalam kereta kuda saja, di luar sangat panas!” Surailarang bertanya.


“Didalam kereta membuat perutku terasa mual,” jawab datar Sungsang Geni.


Surailarang hanya tersenyum kecil, tidak begitu mempermasalahkan hal itu meski memang tempat duduknya terasa sempit harus berbagi dengan Sungsang Geni.


“Paman? Jelaskan padaku, mengenai Negri ini?”


Surailarang belum menjawab, dia menoleh ke arah Sungsang Geni beberapa kali sebelum mengawali ceritanya.


Swarnadwipa adalah kerajaan yang makmur dan sangat berkembang, mereka pandai berteman dengan kerajaan lain melalui kerjasama perdagangan maupun politik. Pengaruh Swarnadwipa di negri lain menjadikan negri ini terkenal dan sangat di hormati.


Ada banyak pedagang asing yang singgah ke Swarnadwipa, umumnya membeli rempah-rempah seperti pala. Itulah kenapa ada banyak petani pala yang ditemui Sungsang Geni di perjalanannya.


Sejak dari moyang Saylendra, Swarnadwipa sudah mulai berkembang pesat menjadi negri ternama berkat kemahiran mereka dalam berbisnis. Semboyan Swarnadwipa, menaklukkan wilayah tanpa harus dengan pertumpahan darah.


“Ketika sebuah negri selalu bergantung kepada Swarnadwipa, maka negri itu telah menjadi kekuasaan kami.” Surailarang berkata bangga.


Namun demikian, Swarnadwipa tidak bisa melakukan kerjasama dengan dataran Java, tidak ada akses jalan menuju tempat itu. Lautan yang dipenuhi dengan badai atau juga pegunungan yang dipenuhi siluman, yang manapun itu tidak ada yang bisa dilewati dengan mudah oleh para pedagang.


“Karena itu, kerajaan kami mengembangkan perdagangan ke utara. Sebab ada banyak negri yang tertarik bekerja sama dengan Swarnadwipa.” Surailarang sambil terkekeh kecil.

__ADS_1


“Kalaulah negri kami memiliki pemikiran seperti kalian, mungkin tidak ada bencana seperti saat ini...” Sungsang Geni berkata lirih, menyadari kekeliruan para leluhurnya dahulu yang gemar berperang.


Note: Cerita ini hanya fiktif belaka, jangan menyamakannya dengan Balaputradewa dari wangsa Saylendra yang sesungguhnya dari tanah jawa.


__ADS_2