PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 10


__ADS_3

Gentar Bumi menyunggingkan senyum kecil sebelum akhirnya dia berjibaku melawan musuh-musuh yang ada di depannya. Setiap serangan kapak besar membuat goncangan tanah, beberapa saat kemudian tanah akan merekah besar dan memasukkan musuh ke dalamnya.


Beberapa orang terjebak di dalam tanah, tapi bagi sebagian musuh yang memiliki ilmu meringankan tubuh, keluar dari dalam rekahan tanah adalah hal mudah.


Lima orang lawan Gentar Bumi melesat maju, dengan pedang terhunus ke depan. Gentar Bumi harus menahan serangan mereka dengan kapak besarnya. Kapak sekarang menjadi tameng pelindung.


Gentar Bumi terpukul mundur beberapa depa dari tempatnya. Kaki kiri pria itu berada di belakang untuk menopang tubuh tetap seimbang. Ketika satu mayat menghentikan tubuhnya, pria itu berputar di udara beberapa saat dan mendaratkan kapak besar.


Mata kapak berhasil membelah salah satu lawannya menjadi dua bagian, momentum serangan itu bahkan membuat tanah merekah dan mengenai prajurit biasa di belakangnya. Untuk ukuran senjata sebesar itu, Gentar Bumi tampaknya tidak kesulitan untuk menyerang dan bertahan.


Empat orang lagi lawan yang tersisa.


Gentar Bumi menyunggingkan senyum kecil sambil mengayunkan kapak besar.


“Bunuh dia!” pekik salah satu dari empat orang itu.


Keduanya bergerak cepat, menyerang dengan ratusan gerak yang mematikan. Tapi Gentar bumi bukan lawan bagi orang yang berada pada level pilih tanding. Empat orang itu mati seketika ketika mencoba menangkis serangannya.


Gentar Bumi menghirup nafas sebelum kembali lagi mencicil lawan-lawannya. Tapi nasip baik Gentar Bumi tampaknya tidak menular pada dua temannya. Jelatang Biru dan juga Guru Tiraka.


Mereka berdua terpukul mundur hampir 10 depa, berguling di permukaan tanah karena pukulan lawan yang kuat. Jelatang Biru mengeluarkan darah segar karena dialah yang pasang badan untuk melindungi Guru Tiraka.


Lawan mereka berdua berjumlah 3 orang, berada pada level pendekar tanpa tanding. Salah satu diantara mereka bahkan hampir berada pada puncak tanpa tanding. Ini sedikit membingungkan, sebenarnya ada berapa banyak pendekar tanpa tanding di pihak musuh?


3 orang itu bergerak dengan ilmu meringankan tubuh yang cukup baik. Jarum Jelatang Biru selalu meleset saat digunakan, bahkan beberapa jarum dapat ditangkap dengan mudah.


Sebuah serangan tombak bergerak cepat dari arah lain. Jelatang Biru bisa merasakan desiran angin yang bergerak cepat. Dia hendak berpaling, tapi lawan yang berada di depannya melakukan hal yang sama. Mereka diserang dari tiga arah dengan cepat.


“Aku akan menghadang bagian depan!” Jelatang Biru mengangkat satu mayat yang berada di depannya, membuat tameng dengan mayat itu.

__ADS_1


Shengg...pedang menembus mayat dengan mudah, hampir saja menancap tepat di mata Jelatang Biru. Sementara itu satu musuh yang menyerang dari arah kiri berhenti seketika sebelum mata tombak mengenai, Guru Tiraka menggunakan kekuatannya untuk mengunci ruang gerak lawannya.


Hingga ketika serangan dari arah kanan hampir saja melukai mereka berdua. Sebuah benda menderu cepat, dan berhasil melempar si penyerang hingga beberapa depa. Bahkan salah satu lengan orang itu putus. Darah muncrat dengan deras, suara pekikan terdengar keras.


Belum mengetahui apa yang terjadi, tiba-tiba benda lain berhasil menikam musuh yang sedang terkunci ruang geraknya oleh guru Tiraka.


“Gentar Bumi!” pekik Guru Tiraka setelah mengetahi pria besar itu berdiri di hadapan dirinya dengan berlumuran darah.


Gentar Bumi untuk kali pertamanya menggunakan pedang, karena kapak besar telah dilempar untuk menggagalkan serangan lawan dari sisi kanan. Sebelum satu lawan lagi beraksi, Gentar Bumi bergerak cepat menabrak tubuh orann itu dan berhasil menikamkan pedangnya tepat di leher.


Kekuatan Gentar Bumi bahkan membawa pria itu terseok beberapa depa di permukaan tanah.


Pria itu berdiri setelah memastikan lawan tidak bergerak, darah membasahi hampir setengah pakaian depannya. Senyum kecil tersungging, terlihat begitu menakutkan bagi satu-satunya pria yang masih hidup.


Musuh yang masih bertahan berdiri tepat di samping Gentar Bumi dengan lengan putus karena kapak besar. Seolah enggan melihatnya, Gentar Bumi mengangkat kapak besar menariknya ke samping pada leher pria itu.


“Aku bersyukur kau datang tepat waktu...” Guru Tiraka mendesah berat, dia hampir tidak bisa berdiri karena khawatir.


Gentar Bumi tersenyum kecil, berjalan perlahan mendekati dua temannya yang terlihat sangat kacau. Gentar Bumi mungkin ingin mengatakan sesuatu, tapi dia bisu jadi hanya menggunakan bahasa Isyarat.


“Ya, kita akan membantu mereka menghadapi 30 orang itu.” Jelatang Biru paham yang dimaksud oleh Gentar Bumi.


Sekitar 20 depa dari mereka, terlihat Sabdo Jagat, Mahesa dan Benggala Cokro sedang menghadapi 10 orang prajurit yang sebelumnya datang menghalangi Sungsang Geni. Mereka adalah musuh-musuh kuat yang levelnya sudah berada pada puncak tanpa tanding.


“Lawan mereka tidak sebanding, mereka membutuhkan bantuan.” Gumam Jelatang Biru.


***


Sementara itu, Wira Mangkubumi bersatu dengan Dewangga, Gadhing, Rerintih dan juga Dirga menghadapi 15 musuh yang berada pada level yang sama. Tarian ular sendok milik Rerintih tampaknya tidak berhasil menghadapi lawan-lawannya.

__ADS_1


Belum lagi serangan dari prajurit-prajurit lain menyulitkan mereka berlima. Dari segi apapun mereka jelas kalah. Gadhing terlihat mengalami luka di bagian dadanya, sementara itu ada lebih banyak luka kecil di tubuh Dirga.


“Tarian Dewa Angin!” ucap Dewangga, bergerak dengan cepat.


Jurus terkuat pedang awan berarak berhasil membunuh satu orang lawan. Teknik yang memang sangat hebat, tapi setelah mengeluarkan jurus itu. Dewangga merasakan seluruh tubuhnya terasa mati.


“Apa yang terjadi denganmu?” Wira Mangkubumi bersegera menarik tubuh Dewangga dan membawanya sedikit menjauh.


“Tubuhku sudah mencapai batasannya, serangan itu menguras semua energiku...” Dewangga menggigit bibir bawahnya dengan kuat, nyaris terluka karena menahan sakit dan marah.


Wira Mangkubumi sadar, bahwa mereka tidak memiliki celah untuk melarikan diri dan juga untuk memenangkan pertarungan ini. Satu-satunya cara mungkin dia harus melawan mereka semua, sementara membiarkan empat orang temannya berlari.


Tapi berlari kemana? Tidak ada tempat lagi untuk mundur, sekarang dunia sudah dikuasai oleh kegelapan. Entah kenapa sekilas pemuda itu teringat akan anak dan istri, teringat akan Swarnadwipa.


'Tidak boleh mati' Kalimat itu selalu menekan otaknya. Wira mengeraskan pegangan tombaknya, rahangnya terkatup rapat. Dia berjalan perlahan mendekati musuh, membuat teman-temanya menjadi khawatir.


“Wira, apa yang akan kau lakukan?” tanya Dewangga.


Wira Mangkubumi tidak menjawab, dia hanya tersenyum kecil sesaat kemudian berlari cepat menuju musu-musuhnya. Wira terlihat seperti srigala yang sedang terluka, dia bergerak cepat dengan tombaknya.


Dua tiga serangan berhasil melukai lawan. Wiara tidak ragu untuk membanting tubuhnya sendiri ke permukaan tanah hanya untuk memberikan satu goresan ke tubuh musuhnya. Hingga tiba-tiba.


“Wira!” Pekik Dewangga.


Satu pedang menancap di bagian pundak kakak ipar Sungsang Geni. Masih belum, masih bisa bergerak dan masih melawan. Wira tidak menghiraukan pedang yang tertancap di pundaknya, malah dia semakin menancapkan pedang itu untuk mendekati tubuh lawannya.


Wira menancapkan mata tombak pada musuhnya, mengangkat tubuh itu tinggi-tinggi agar lawan-lawannya bisa melihat bahwa dia tidak akan menyerah.


“Aku akan membantunya!” Pekik Dirga, menghunuskan pedang tanpa rasa takut.

__ADS_1


“Sial,,,sial,,,kenapa kalian begitu berani, kurang ajar?” Gadhing menampar wajahnya sendiri, mengeraskan rahang dan genggaman pedang. “Jika aku mati, aku berharap kalian akan menjadi saudaraku di kehidupan nanti.”


Pemuda itupun berlari kencang, mencoba bertaruh dengan maut. Gagal dan kalah akan terlihat ketika kalian sudah berusaha dengan segala kemampuan yang ada. Jika kalian belum melakukan hal itu, maka buang kata gagal dari pikiranmu.


__ADS_2