PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Dataran Swarnadwipa2


__ADS_3

Panglima Ireng mendapat jatah 2 ekor ayam panggang yang dilahapnya dengan rakus tanpa tersisa. Porsi itu sebenarnya belum mencukupi perutnya yang besar, tapi itu lebih baik daripada memakan roti kering.


Harusnya 3 ekor ayam bakar lagi, baru kemudian dia bisa bersendawa kenyang, lalu tidur dan mendengkur.


Setelah keesokan harinya, mereka bertiga bersiap melanjutkan kembali perjalanan. Cempaka Ayu sudah sejak dari fajar tiba bangun lebih dahulu, dan membantu tuan rumah, merapikan rumah dan menyiapkan makanan.


“Paman, kami tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih kepada kalian. Tanpa pertolongan kalian, mungkin kami sudah kelaparan.” Sungsang Geni berkata sebelum mereka meninggalkan rumah Kerang Lebak.


Cempaka Ayu mengeluarkan beberapa keping uang emas, dia lantas memberikannya kepada anak Kerang Lebak yang selalu menatap Panglima Ireng di balik kaki ibunya.


“Ini, bibi tidak punya barang berharga, semoga ini bisa membantumu.” Cempaka Ayu meletakan kepingan koin di telapak dais kecil itu.


“Kalian tidak perlu merasa sungkan, sudah kewajiban manusia untuk saling tolong menolong.” Kerang Lebak lantas menepuk pundak Sungsang Geni. “Jika kalian kembali melewati jalan ini, baiknya mampir ke rumah sederhana kami.”


“Ini ambillah!” Istri Kerang Lebak menyodorkan beberapa pakaian dan bekal perjalanan mereka kelak. “Didalamnya mungkin tidak terlalu banyak, tapi harapan kami bisa membantu perjalanan kalian.”


“Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih atas kebaikan paman dan bibi.”


Setelah itu mereka lantas melanjutkan kembali perjalanan, meninggalkan rumah panggung dan kebun pala yang berbuah lebat. Jalan setapak bebatuan dan menurun sekarang menyambut langkah kaki mereka bertiga.


“Geni, aku membuatkan ini untukmu. Mungkin ini tidak terlalu bagus, tapi aku yakin cukup berguna untuk menutup lengan kananmu.”


Cempaka Ayu menyerahkan sarung tangan panjang, yang dia buat selama beberapa hari terahhir di tempat pengungsian. Sarung tangan itu berwarna hitam dengan motif merah sebagai perlambangan matahari, dengan bahan dari kulit domba.


Di tengah bagian telapak tangan, ada lubang memanjang yang bertujuan untuk mempermudah Sungsang Geni ketika mengeluarkan pedang energinya.


Gadis cantik itu sudah memikirkan hal ini beberapa kali, dan menurutnya Sungsang Geni harus menutupi seluruh tangan kanannya agar tidak menarik perhatian bagi siapapun yang melihat.


Tentu saja, kulit di tangan itu tidak mirip seperti kulit pada umumnya. Bahkan Kerang Lebak beberapa kali kedapatan melirik tangan Sungsang Geni yang sekekali mengeluarkan cahaya kuning. Dia mungkin ingin mengetahui hal itu, tapi tidak cukup lancang untuk bertanya.

__ADS_1


“Aku juga memikirkan bagaimana menutupi tanganku, tapi tidak kusangka kau malah membuatkan sarung tangan ini.” Sungsang Geni tersenyum kecil kemudian memakainya. “Ini sangat nyaman dipakai, dan tampilannya tidak buruk, aku menyukainya.”


“Gerr...” Panglima Ireng menyahut pula.


“Aku senang jika kau menyukainya.” Cempaka Ayu tersimpul malu, yang dibalas dengan senyuman manis Sungsang Geni.


Setelah beberapa bidang kebun pala mereka lewati, akhirnya mereka menemukan pertigaan, salah satu jalan membawa mereka ke jalur tengah, tentu saja itu bukan pilihan. Akhirnya mereka mengambil jalur ke kiri, yang akan membawa mereka ke tepi pantai.


Kurang lebih 1 jam atau mungkin tidak sampai, mereka sudah mulai mendengar deru ombak laut menghantam karang-karang di tepi pantai. Melihat sebuah desa yang berjejer sepanjang pantai, batang-batang panjang pohon kelapa dan sampan-sampan yang mulai menepi.


“Kita tidak bisa melewati jalan utama!” Sungsang Geni berkata. “Panglima Ireng akan menarik perhatian para warga, mungkin juga membuat mereka ketakutan.”


“Hemm...” Cempaka Ayu tampak berpikir beberapa saat. “Aku masih memiliki beberapa uang, kita beli gerobak dan kuda, dan membawa Panglima Ireng ke dalam gerobak.”


“Gerrr...” Panglima Ireng menyunggingkan senyum termanisnya, meski masih tampak menyeramkan.


Setelah beberapa waktu kemudian, Cempaka Ayu dan Sungsang Geni kembali dengan sebuah gerobak tertutup dan 4 ekor kuda besar sementara Panglima Ireng menunggu di pinggir perkebunan warga dibalik-balik rumpun bambu.


Namun alangkah terkejut mereka berdua setelah melihat Panglima Ireng tidak ada lagi di tempatnya.


“Ada yang tidak beres,” ucap Sungsang Geni. “Kau tunggulah disini, aku akan segera kembali.”


Pemuda itu mendengar beberapa orang sedang berteriak, di sisi rimba kecil yang tidak jauh dari tempatnya semula. Jika dugaan Sungsang Geni benar, mereka adalah para pemburu yang berniat menangkap Panglima Ireng hidup-hidup.


Setelah terbang beberapa saat, rupanya dugaan pemuda itu benar. Panglima Ireng sedang dikelilingi oleh hampir 12 orang yang menggunakan tombak, jaring dan tali-tali panjang.


“Kita mendapatkan buruan yang langka, kawan.” Salah satu dari mereka tertawa riang, sambil memutar-mutar tali simpul. “Srigala ini sangat besar dan pintar, tapi dia tidak akan sanggup lari dari sergapan kita semua.”


“Siapkan jaring perangkap!” Salah satu dari yang lainnya berteriak, kemudian 2 orang pria melepaskan tombak panjang yang telah terikat ujung jaring dan berhasil menutupi seluruh tubuh Panglima Ireng.

__ADS_1


“Harga hewan ini sangat mahal di pasar hewan, selain langka ada banyak pembeli kaya yang gemar memelihara hewan seperti ini.”


“Tidak ada yang bisa mengambilnya....”


Tebasan pisau melayang, merobek jaring perangkap menjadi bagian-bagian kecil. “Dia tidak dijual dan tidak pula akan ikut dengan kalian.”


“Siapa kau anak muda? Alangkah beraninya kau mengusik buruan kami, tidakkah kau takut nyawamu menjadi pertukaran dengan hewan ini?”


Sungsang Geni segera melepas aura membunuh yang luar biasa pekat, membuat mereka semua berkeringat dingin dan sendi terasa lepas. Pemuda itu lantas mengambil salah satu tombak, dan melemparkannya tepat di antara dua paha pria yang terlihat sebagai pemimpin.


Mata tombak nyaris saja menghilangkan kantong menyan miliknya, membuat orang itu kencing di celana sambil memperhatikan tombak yang merobek celana longgarnya.


“A'ampuni kami tuan pendekar, bukan maksud kami hendak lancang, tapi jika boleh tolong lepaskan kami...” Dia berkata parau, air mata jatuh berlinang mengganti wajah seram miliknya menjadi wajah pecundang.


Sungsang Geni tersenyum sinis, mendekati pria itu sementara beberapa orang yang lain jatuh tidak sadarkan diri saking takutnya. Pemuda itu lantas menarik gagang tombak, membuat bibir orang itu langsung membiru.


“Aku mema'afkan kalian untuk kali ini, tapi...” Sungsang Geni meletakkan ujung mata tombak di leher orang itu. “kau orang pertama yang akan menjadi hewan buruanku, dan aku akan meletakkan mata tombak ini tepat di mulutmu dan kupastikan tidak ada sakit yang pernah kau rasakan kecuali sakit yang akan aku buat untukmu. Apa kau paham?”


“A...a...aku paham tuan pendekar, aku tidak akan mengulanginya lagi.”


“Baguslah kalu begitu.” Sungsang Geni beserta Panglima Ireng kemudian meninggalkan mereka semua, yang masih dilanda ketakutan.


“Ireng kenapa kau tidak melawan ketika mereka mengancammu tadi?” tanya Sungsang Geni. “Harusnya mereka semua bisa kau kalahkan dengan....”


“Gerrr...gerr...” Panglima Ireng menggeram beberapa kali, kemudian menggelengkan kepala.


“Oh, kau tidak ingin membuat masalah ya? Tapi lain kali, kau harus melawan jika itu berkaitan dengan nyawamu.” Sungsang Geni lantas menepuk moncong srigala itu.


“Jika kau sudah membaca, baiknya tinggalkan like dan koment karena itu gratis.” Author menutup cerita ini dengan wajah berseri.

__ADS_1


__ADS_2