
Tidak menunggu lama, sebelum pria kekar membawa tubuh gadis-gadis belia menuju altar persembahan, Sungsang Geni sudah menyerang pria itu lebih dahulu dengan pukulan keras tepat di hulu hatinya. Tidak mati memang, tapi serangan itu berhasil membuat algojo itu tak sadarkan diri.
Jelas saja semua orang menjadi terkejut bukan kepalang, seorang pria dengan penutup wajah telah lancang menyerang algojo yang diyakini sebagai manusia suci.
“Cepat pergi dari sini!” perintah Sungsang Geni.
Belasan gadis belia belum beranjak dari tempatnya, mereka seolah sedang di pengaruhi oleh kekuatan, terlihat jelas tatapan para gadis itu kosong. Sebelum semua orang datang terlalu ramai, Sungsang Geni melepaskan aura panas pada belasan gadis belia, menjagakan mereka dari pengaruh kekuatan sang algojo.
“Cepat pergi!” sedikit berteriak Sungsang Geni.
Dalam keadaan linglung, gadis-gadis itu akhirnya pergi berlari menuju arah selatan, melewati puluhan orang dan melintasi persawahan penduduk. Ketika hal itu terjadi, ada lagi beberapa algojo berniat mengejar mereka, tapi segera dihentikan oleh Sungsang Geni dengan sebuah hantaman keras. Sungsang Genipun pergi mengikuti arah para gadis belia.
Moncong Panglima Ireng mengikuti jejak para gadis, sekitar satu jam akhirnya mereka berdua berhenti tepat di pinggir Sungai yang berwarna putih seperti susu. Bau menyengat tercium dari aliran sungai itu, Panglima Ireng mengernyit seolah tiada tahan akan baunya.
“Sungai disini beracun...” Sungsang Geni membuka topeng kain yang menutupi wajahnya, melihat sedikit ke hilir. Ada beberapa batu hitam berjejer rapi membentang menyebrangi sungai.
Di batu-batu itu, masih terlihat belasan gadis bersusah payah melompatinya untuk tiba ke seberang sungai beracun. Tidak menunggu lama, Sungsang Geni mengikuti mereka semua.
Setelah melewati sungai beracun, Sungsang Geni menemukan semak kecil yang membentang seperti pagar alami. Para gadis beliapun masuk melewati semak belukar.
Panglima Ireng masih mengenduskan moncong hitamnya, berjalan menyusuri jejak-jejak para gadis diikuti oleh Sungsang Geni di belakangnya. Lima menit setelah melewati semak belukar, kini pria itu dihadapkan pada hamparan tanah gersang dan tandus.
Ada satu mil jauhnya hamparan tanah tandus itu. Di ujung mata, masih terlihat belasan gadis belia kesusahan berjalan di tengah terik matahari panas, beberapa dari mereka menggunakan pelepah pinang sebagai payung.
“Kita ikuti jejak mereka...” Sungsang Geni sudah mulai curiga mengenai tempat ini, tentu saja, beberapa saat tadi dia melihat tanah subur dan makmur, tapi sekarang di depan matanya terpampang tanah gersang, kering keronta.
Beberapa saat kemudian, tibalah Sungsang Geni dan Panglima Ireng pada sebuah kampung kecil yang terbengkalai. Asap hitam keluar dari dapur-dapur rumah penduduk. Kala itu, puluhan orang menangis ketika melihat anak gadis mereka kembali dengan selamat.
“Kisanak...” Sungsang Geni memberi hormat.
__ADS_1
“Jangan ambil putri kami, jangan bunuh dia, kalian orang-orang berhati iblis, pergi kalian dari tempat ini!” Salah satu dari wanita tua dengan rambut penuh uban berbaju usang yang bahkan hanya menutupi setengah tubuhnya, memaki Sungsang Geni.
Tidak tanggung-tanggung, mereka melempari pemuda itu dengan kerikil dan batu-batu kecil.
“Tunggu!” berkata salah satu dari belasan gadis belia. “Dia yang menyelamatkan kami, pemuda ini telah melepaskan rantai yang mengikat di tangan dan kaki, juga melepaskan sirap di pikiran kami.”
Seorang pria tua renta, berjalan dengan bantuan tongkat bambu datang mendekat. Pakaiannya sama dengan orang kebanyakan di tempat ini, hanya saja terlihat ada gelang kayu berada di tangan kanannya, yang membedakan dia dengan pria lain.
“Apakah kau sudah diancam?”tanya Pak tua itu.
“Sungguh Ki Demang, dia adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa kami.” Berkata lagi gadis belia itu.
Rupanya pria tua renta itu adalah pemimpin di dusun ini, mungkin saja gelang di tangan kanannya adalah simbol kepemimpinan, pikir Sungsang Geni. Ki Demang mendekati Sungsang Geni, memperhatikan pemuda itu dengan teliti dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
Sebelum pak tua itu memahami situasinya, tiba-tiba Panglima Ireng datang di belakang pemuda itu, mengejutkan semua orang. Hampir-hampir Ki Demang, jatuh pingsan karena ulah Srigala hitam itu.
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng memberi isyarat, bahwa ada belasan orang datang mendekati dusun ini.
Tadi wajah-wajah mereka kecut karena ulah Panglima Ireng, tapi saat ini semakin pucat pasi setelah mendengar ada utusan dari kerajaan Tumenang datang ke dusun ini. Tidak pernah ada hal baik jika utusan dari kerajaan datang, kecuali membawa para gadis belia untuk dijadikan budak ataupun persembahan kepada dewa. Chhh..dewa kegelapan.
Semua orang mengintip dari celah-celah dinding yang berlubang, memperhatikan dengan wajah khawatir. Ada sekitar 9 orang datang, tubuh mereka sangat kekar dengan golok besar yang mengcung ke depan.
“Apakah pemuda itu akan baik-baik saja?” bertanya salah satu warga desa.
“Husstt...jangan berkata keras-keras, kita berharap saja pemuda itu memiliki kesaktian mumpuni untuk melawan mereka.”
“Tapi jika tidak, kita bisa saja dibantai karena dianggap telah lancang memberontak.”
"Bukankah memang demikian kita ini, karena itulah kita dalam keadaan seperti ini."
__ADS_1
Di luar rumah warga, tepatnya di pertigaan jalan Sungsang Geni dan Panglima Ireng dikelilingi oleh 9 orang, terlihat seperti prajurit atau mungkin algojo.
“Kau telah berani menyelamatkan para tawanan yang akan dipersembahkan kepada Dewa Kegelapan...” salah satu dari 9 prajurit berkata kasar, meludah ke tanah sekali dan tanpa kompromi segera menyerang Sungsang Geni.
Pemuda matahari itu hanya tersenyum kecil, lantas mengeluarkan aura membunuh yang sangat pekat. Seketika semua warga menjadi terkejut bukan kepalang, 9 orang prajurit tiba-tiba jatuh berlutut dengan wajah-wajah pucat pasi.
Tiga orang dari mereka malah tak sadarkan diri, sementara hanya satu orang yang memiliki mental cukup kuat. Meski wajahnya terlihat takut, pria itu masih bisa mempertahankan tubuhnya untuk tetap berdiri dan menggenggam gagang golok.
Tapi sebelum pria itu melakukan tindakan, Sungsang Geni mendaratkan telapak tangannya tepat di batang leher pria itu, membuatnya jatuh pingsan dan tersungkur di tanah.
“Pemuda itu sangat kuat...” bergumam lagi para warga dari dalam gubuk mereka.
“Dia tidak melakukan apapun, tapi lawannya jatuh pingsan.”
Sungsang Geni tersenyum kecil, dia tidak membunuh mereka semua karena pemuda itu tidak merasakan energi kegelapan di dalam tubuh prajurit itu. Menurut pemuda itu, mereka hanya diperalat oleh pemimpin kerajaan Tumenang, tapi demikian dia tidak berniat melepaskan mereka semua.
Ki Demang keluar dari dalam rumah lebih dahulu dibandingkan para warganya.
“Ikat mereka semua...” ucap Sungsang Geni.
Beberapa pria datang dengan seutas tali panjang, tanpa menunggu lama mereka mengikat 9 orang prajurit itu pada pohon besar di dekat pertigaan jalan itu. Beberapa wanita juga merebut senjata mereka.
“Pendekar Muda, sekali lagi kau sudah membantu kami, saya ucapkan banyak terima kasih.” Ki Demang memberi hormat dua kali.
Ada banyak desa seperti itu di kerajaan Tumenang. Jika Sungsang Geni berjalan sedikit ke timur, dia akan menemui dua desa terbengkalai, dan jika dia melanjutkan perjalanan lagi pemuda itu akan menemukan pusat kadipaten yang nasipnya sudah seperti kota tertinggal.
Kadipaten Ujung Lempung, adalah satu-satunya yang menentang kekuasaan raja baru di Tumenang. Oleh karena hal itu, kadipaten Ujung Lempung dicap sebagai wilayah pemberontak.
Adipati Lingga, adalah seorang pemuda yang terpaksa menggantikan ayahnya karena tewas dalam perjuangan mempertahankan wilayah mereka. Sebagai Adipati baru, Lingga tidak terlalu banyak mengetahui pemerintahan, atau pula pertahanan.
__ADS_1
Namun demikian, dia memiliki pendekar-pendekar yang setia sampai mati. Lima Pedang Suci, adalah lima orang pendekar yang memiliki kemampuan paling baik di Kadipaten Ujung Lempung.
Semenjak Pangeran Miksan Jaya dikabarkan mati bersama dengan Nyai Bidara, Adipati Lingga bertahan seorang diri didalam kekuasaan Kerajaan Tumenang. Duka lara silih berganti menggerogoti kota itu, mulai dari sungai yang diracuni dan juga warga yang dipaksa menjadi budak ataupun tumbal.