PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Runtuhnya Tiang Negri


__ADS_3

Di sisi timur, ribuan orang menjerit ketakutan. Gerbang Istana Siranda -salah satu negri yang pernah mempelopori Kelelawar Iblis- dihancurkan dengan mudah oleh lima gajah dan tiga badak. Gerbang yang terbuat dari balokan kayu, berhamburan pecah menjadi kepingan. Beberapa belas orang yang berada di balik gerbang terpaksa terpental puluhan depa.


Ketika sekawanan gajah berdiri di depan mata, wajah-wajah mereka pucat pasi seolah berwarna hijau tua tanpa darah. Mereka mungkin berniat menutup mata dengan telapak tangan, ketika gajah itu mengangkat dua kaki depannya. Tapi rupanya, mata mereka benar-benar tertutup hanyaa saja bukan dengan telapak tangan tapi dengan kaki depan gajah.


“AHKKK!” Pekik puluhan rakyat yang berada di dalam Istana. Wanita dan pria berlari tunggang langgang menjauhi gerbang tembok dengan secepat mungkin.


Banyak orang tua lupa dengan anaknya, banyak rumah ditinggalkan tanpa sempat menguncinya. Bahkan beberapa dari ibu muda, lupa membawa bayi yang tidur lelap di ranjang kamar. Ketika dia baru saja sadar, rumahnya sudah luluh lanta bersama dengan anaknya.


“Celaka, kenapa Kelompok Kelelawar Iblis malah menyerang kita?” pekik Patih yang memimpin pasukan di Negri Siranda. “Paduka Raja, kenapa kau membiarkan mereka menghancurkan negrimu?”


Tak tahu oleh Patih itu, rajanya sudah mati beberapa hari yang lalu.


“Ben...bentuk pasukan!” pekik sang Patih, tapi teriakan pria itu hanya seperti angin lalu. Serangan itu begitu tiba-tiba, pasukan mana yang diprintahkan? Kini semua prajurit lebih memilih melarikan diri dari pada melawan para gajah dan badak.


“Jangan berlari, ambil senjata! Kita harus...” pekik Suara Sang Patih terhenti setelah melihat sebongkah batu besar melayang ke arahnya. Tidak sempat menghindar, matanya jelas terbelalak lalu seluruh tubuh pria itu terbawa batu dan tertanam di bangunan. Matikah? Tentu saja, tubuhnya barangkali telah hancur saat ini.


Di luar Istana itu, Topeng Beracun tersenyum kecil. Ini hanya seribu pasukan yang dia kerahkan, tapi negri di depannya sudah luluh lanta. Bukan main girangnya perasaan mahluk kegelapan itu. jelas seperti inilah keinginan dia terhadap Surasena kelak.


Ratusan rakyat keluar dari Istana melewati gerbang belakang, berlari dengan panik menaiki bukit kecil di sana. Tangan dan kaki penuh luka, tapi tampaknya tidak ada yang terlalu peduli dengan luka-luka kecil. Jika kau ingin hidup, fokuslah untuk berlari sekencang-kecnangnya dan jangan menoleh ke belakang.


Lupakan rumah, lupakan teman bahkan lupakan keluarga. Satu-satunya cara adalah berlari dan terus berlari.


Satu orang pria tua terlihat menangis melihat jasad cucunya tergeletak tak berdaya, sudah hilang nafas bocah kecil itu. Ada banyak luka yang ada di wajahnya. Pak tua itu menangis keras, seolah kemarahannya tiada lagi terbendung. Namun sial, satu orang penunggang gajah malah tersenyum riang melihat tangisan pria tua itu.

__ADS_1


“Kau yang telah membunuh cucuku!” ucapnya penuh haru. “Aku akan membunuhmu, membunuh kalian semuanya!”


Mendengar makian pak tua itu semakin girang penunggang gajah, wajahnya yang tersembunyi dari balik topeng mungkin memerah karena tertawa. “Majulah pak tua, majulah! Biar kukirim kau ke alam baka, temani cucumu di sana!”


Tanpa pikir panjang, pak tua itu meraih satu arit yang tergeletak tak jauh dari reruntuhan rumahnya. Dia berlari sambil berteriak marah, atau pula putus asa. Arit ditebaskan, tapi gajah menghentikan gerakan pak tua itu dengan gading yang berduri.


Tubuh pak tua tertancap duri, kemudian terpental sejauh lima depa dan terhempas di bangunan rumahnya. Darah segera keluar begitu deras dari mulut, hidung dan telinga. Bukan hanya itu, darah tidak akan terbendung keluar dari tengah perutnya.


Rasanya dunia begitu dingin saat ini, sakit di kepala beralih rasa seperti dengungan di telinga. Tubuhnya terhuyung-huyung, tapi masih berusaha berdiri untuk melawan maut. Pandangan pak tua semakin buram, tapi ketika wajahnya menatap sayu tubuh sang cucu, amarah di dadanya kembali meledak.


Dengan sisa-sisa tenaga yang ada didalam tubuh, pak tua itu menggenggam erat gagang arit, dengan sekuat tenaga melemparkan arit itu kearah penunggang gajah. Hebat sekali, seperti ada yang mengendalikannya, arit itu melaju cepat dan berhasil mengenai leher penunggang gajah.


Pria dengan zirah perang tidak menduga lemparan pak tua malah berhasil mengenai lehernya yang tidak di lindungi zirah perang, alhasil dia meregang nyawa dan jatuh dari pundak binatang besar itu.


Lima gajah menarik lima tiang istana Negri itu. Dengan tambang besar, hewan itu berjalan dengan kuat sehingga tiang penyangga benar-benar runtuh bersama dengan rubuhnya setengah Istana.


Gemuruh bunyi reruntuhan sampai terdengar ratusan depa dari titik lokasi. Debu berhamburan di udara, malah mulai menutupi pandangan orang-orang di dalam sana. Sementara itu, datang lagi beberapa gajah dengan tugas yang hampir sama, meratakan rumah penduduk tanpa tersisa. Semuanya harus datar, sedatar tanah yang ada di tempat ini.


Sementara itu kali ini para penunggang kuda melakukan aksinya, mereka mendapat tugas memburu siapapun manusia yang berhasil keluar dari negri ini melewati gerbang belakang Istana.


Derap langkah kuda hitam mengundang kematian, berlari cepat seirama dengan desah- desuh nafas para rakyat yang berlari.


“Ahkkk...ahkk...” Mulai terdengar jerit orang satu persatu. “Tolong selamatkan kami, ahkkk...”

__ADS_1


“Cepat nduk, cepat!” Salah satu ibu menarik lengan anaknya dengan cepat, sementara itu sang ayah membuka jalan rimba di atas bukit dengan dua telapak tangannya. Tak dihiraukan lagi belasan luka dan duri yang menancap di sekujur tangan, yang penting saat ini berlari secepat mungkin.


Rentak kuda semakin jelas terdengar, membuat semangat dua orang tua itu semakin membara. Mereka harus selamat, harus! Jikalah kaki ini bisa berjalan meski tanpa dagingnya, tentulah dua orang tua itu akan terus berlari. Hanya saja sayang, sang ayah terpaksa berhenti.


“Kalian berlarilah lebih dahulu, bapak akan memancing mereka!” ucap pria itu, tanpa mempedulikan lagi sakit di sekujur kaki dan tangannya.


“Tapi bapak, kita harus berlari bersama-sama!”


Pria itu mencium kening putrinya dengan lembut. “Tentu saja nduk, bapak pasti akan menyusul kalian setelah berhasil menarik perhatian mereka. Sekarang jangan nangis, dan jangan menoleh ke belakang, berlarilah terus kedepan. Berharaplah jika Surasena akan menemukan kalian.”


Setelah mengatakan hal itu, pria itu pergi secepat mungkin dengan air mata berurai ke arah suara derap kaki kuda.


“Ada satu orang pria berlari ke arah sana!” pekik salah satu prajurit Kelelawar Iblis. “Bunuh dia!”


“Ahkk!” pekik pak tua itu.


Istrinya menutup telinga mendengar jeritan itu, jelas saja sang suami sudah mati. Tanpa membuang waktu lagi, dia berlari dengan cepat bersama dengan putri kecilnya yang di gendong di belakang.


Wanita itu menangis? Tentu saja, pengorbanan sang suami tidak boleh disia-siakan. Jadi sekuat tenaga dia berlari mendaki bukit kecil, menepis semua semak belukar yang menghalangi jalan.


“Mbok...bapak...mbok...” rengek gadis kecil.


“Hustt..” Wanita itu mengisyaratkan putrinya untuk diam. “Bapakmu baik-baik saja, sekarang kamu harus diam ya cah bagus, kita akan kumpul lagi nanti sama bapak!”

__ADS_1


__ADS_2