PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 29


__ADS_3

Lakuning Banyu, Ki Lodro Sukmo dan Ki Alam Sakti melaju secepat mungkin ke arah timur. Mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, dengan seluruh kecepatan yang mereka bisa lakukan. Dari tempat ini butuh waktu sekitar 30 hari jika menggunakan kuda, tapi mungkin hanya akan sehari saja di tempuh oleh tiga orang tersebut.


Sementara itu, di depan Sungsang Geni saat ini sosok Asura terlihat lebih sempurna dengan berhasil menyerap semua Dewi Bulan yang ada di dalam batu hitam. Seramkah? Tidak, tidak seseram bayangan semua orang.


Asura memiliki mata yang merah dengan rambut sebahu, dan juga postur tubuh tinggi besar seperti Mahesa. Dia memang tinggi, dua kali tinggi Sungsang Geni dan juga memiliki bibir pucat dan pandangan dingin. Hanya saja, tepat di antara keningnya ada tanduk kecil yang panjang mirip tanduk badak.


Energi Asura jangan ditanya lagi, luar biasa kuat dan menggebu-gebu, seolah semua mahluk di dataran Java akan mati kutu jika berada 100 depa dari dirinya.


Sementara itu Sungsang Geni melirik luapan magma yang menggelora di belakang Asura. Pemuda itu berniat menghisap semua energi panas dari magma tersebut, sebab sekarang matahari benar-benar terhalang oleh awan, dan dia kehabisan energi panas.


Tentu saja tidak akan sempat menghimpun semua energi alam dan tenaga dalam saat ini, sementara musuh telah berada di depan mata, siap menyerang.


“Kehancuran manusia sudah ada di depan mata...” Asura berkata serak, dalam dan dingin tapi suara dirinya bisa terdengar hingga ratusan depa jauhnya, membuat semua binatang yang mendengar suara mahluk itu tiba-tiba mati seketika.


Ya, jelas itu bukan lagi manusia yang bernama Asura. Dia adalah kegelapan yang telah bangkit sempurna di dalam tubuh manusia. Itu artinya Dewa Kegelapan. Penguasa malam dan pelebur cahaya. Dia adalah ASURA yang sesungguhnya.


Ketika Sungsang Geni hendak bergeming, Asura bergerak cepat memberikan satu tendangan tepat di wajah Sungsang Geni. Tendangan yang begitu berat, kuat dan bertenaga. Sungsang Geni terpukul mundur hampir seratus depa jauhnya, berguling di permukaan tanah dan menghantam hampir 10 pohon besar.


Dari wajahnya keluar darah merah, kemudian lidahnya merasakan seperti menggigit besi hingga dua detik kemudian gejolak cairan keluar melewati kerongkongan. Sungsang Geni muntah darah.


Pemuda itu berusaha bergerak, tapi tidak berhasil. Sebelum niatnya tersampaikan, kilatan hitam datang tepat di dekatnya. Memberi satu hempasan kuat ke tanah. Tubuh Sungsang Geni di banting dengan mudah. Tanah merekah besar, goncangan seperti gempa terjadi beberapa saat.


Dua kali Sungsang Geni mengalami hal serupa, hingga pada akhirnya dia bisa menghindar satu kali lagi serangan Asura. Gila, kekuatan yang benar-benar dahsyat. Sungsang Geni harus berusaha keras menghindari setiap serangan Asura.

__ADS_1


Pemuda itu terbang dengan cepat, menuju magma yang bergelora. Namun seperti mengetahui maksud Sungsang Geni, Asura menghadang laju terbang pemuda matahari itu.


Terjadi pergantian ratusan serangan antara dua mahluk berlainan jenis tersebut. Sejauh pertarungan ini, Sungsang Geni sudah terkena serangan lebih dari 20 kali hanya dalam waktu 10 menit saja. Bahkan serangan kali ini hampir saja membunuh nyawanya jika dia tidak melakukan hempasan ke tanah dengan sengaja.


“Kau masih memiliki tenaga untuk bertarung?” Asura tersenyum kecil, bibir birunya yang pucat menjadi lebih mengerikan dari sebelumnya. "Seperti yang diharapkan dari manusia terkuat di bumi ini."


Sungsang Geni menahan senyum pahit, tidak menduga jika kegelapan memiliki tingkatan berbeda dari pendekar iblis. 'Tingkat pendekar Dewa,' Sungsang Geni berpikir demikian. 'Tidak ada satu orang manusiapun berada pada tingkat pendekar dewa sejauh yang pernah dia ketahui, bahkan Sri Jaya Nasa dikisahkan sebagai pendekar terkuat hanya berada di puncak pendekar iblis.'


Satu-satunya yang membuat pemuda itu masih bertahan hidup adalah, aliran energi alam masih terus masuk kedalam tubuhnya meski tidak disadari oleh pemuda tersebut. Hanya saja, aliran energi alam itu begitu lambat. Sungsang Geni harus melakukan meditasi setidaknya satu jam saja, agar aliran energi alam dapat di serap sepenuhnya.


***


Sementara itu pasukan Ki Alam Sakti sudah tiba di Kastil Hitam yang di sebutkan oleh Sungsang Geni. Sebuah istana besar dengan belasan pilar yang tinggi menjulang.


“Aku merasakan pancaran energi kegelapan dari arah sana!” Lakuning Banyu menunjuk pada bangunan paling besar dan menjulang tinggi yang letaknya di tengah belasan pilar tinggi.


“Mari kita kesana!” Ki Alam Sakti bergerak lebih dahulu mendekati kastil tersebut. “Tetaplah berhati-hati, siapa tahu mereka sudah mulai keluar.”


Lakuning Banyu bergerak di belakang guru Sungsang Geni itu, kemudian di ikuti oleh Ki Lodro Sukmo yang memiliki wajah paling risau di antara yang lainnya. Ketika mereka memasuki gerbang besar yang terbuka lebar tepat di atas lantai tertinggi bangunan itu, aura kegelapan seperti nafas raksasa keluar dari dalam bangunan.


“Jika dipikirkan, semua bangunan ini memiliki energi negatif.” Ki Lodro Sukmo meraba dinding hitam ruangan tersebut.


“Ikuti Aku!” Lakuning Banyu berjalan menuruni tangga. “Aku merasakan pancaran yang tidak wajar dari bawah bangunan.”

__ADS_1


“Ya, aku merasakannya.” Dua orang sesepuh sependapat.


Mereka menyusuri tangga hitam, kemudian menemukan sebuah lorong panjang yang bercabang. Mengambil lorong ke kiri, tiga orang itu kembali berjalan dengan hati-hati.


Hingga akhirnya.


Lakuning Banyu berjungkir balik ke belakang, sementara Ki Alam Sakti melompat ke atas dan Ki Lodro Sukmo tiarap di dasar lantai.


“Apa itu tadi?” tanya Ki Lodro Sukmo.


Lakuning Banyu terdiam beberapa saat, karena dia juga tidak bisa melihat serangan yang baru saja datang mengejutkan mereka. KI Alam Sakti menghunus pedangnya, bersiap siaga jika tiba-tiba serangan lain datang menyerang.


Dan benar.


Satu kelebatan bayangan dengan cepat bergerak menyerang, tapi kali ini Ki Alam Sakti bisa melihat pergerakan itu. Dengan pedang pusaka di tangannya, Guru Sungsang Geni tersebut berhasil menebas.


Suara benda terpotong terdengar di lorong panjang, kemudian sesuatu berbentuk hitam mirip seperti kucing, atau mungkin anjing tergeletak sekitar 10 depa dari mereka.


Ki Lodror Sukmo berjalan mendekati mahluk itu, dan matanya segera melotot setelah melihat dengan jelas mahluk apa gerangan yang telah Ki Alam Sakti tebas.


“Apakah ini mahluk kegelapan?” tanya Ki Lodro Sukmo tidak percaya.


“Sedikit mengerikan,” sambung Ki Alam Sakti.

__ADS_1


Mahluk itu seperti manusia, hanya saja bertubuh kerdil. Memiliki taring tajam dan juga kuku tajam. Tidak berambut,kecuali bagian atas kepala seperti duri landak yang lembek. Matanya terlihat merah, dengan dua tidak, mahluk ini memiliki empat mata yang terletak hampir memenuhi keningnya.


“Kita belum tahu seperti apa mahluk yang lainnya.” Lakuning Banyu menoleh ke ujung lorong yang gelap. “Barangkali ada lebih banyak mahluk ini dengan tingkatan kekuatan yang berbeda.”


__ADS_2