PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Siapapun Bisa Kuat


__ADS_3

Sekar Arum adalah cucu dari Mahaguru Suaraya. Putri dari Sabdo Jagat, dan Nyai Wangsih. Tapi saat melarikan diri, Nyai Wangsih tewas di tangan mertuanya demi melindungi Sekar Arum.


Sebelum Indragiri menyelesaikan ceritanya, rombongan berkuda berlari kencang sambil berteriak di kejauhan. Mereka nampak dikejar oleh orang-orang berpakaian hitam. Jumlah orang berpakaian hitam sekitar 13 orang, mengejar pasukan berkuda hanya dengan berlari saja.


“Siapkan panah!” salah seorang berteriak di dekat pagar kayu, “bersiap menghadapi serangan!”


Ada sekitar 2 lusin pendekar berbaris rapi, menarik busur panah mengarahkannya pada kelompok yang mengejar Rombongan berkuda. Setelah kelompok itu berada dalam jangakauan, terdengar lagi teriakan .


“Lepaskan panah! Bakar mereka menjadi abu!”. Kemudian belasan anak panah api melesat menghujani kelompok berpakain hitam, tanpa tersisah.


Sungsang Geni yang melihat dari kejauhan segera berpaling ke arah Indragiri, “Siapa yang mengejar mereka?”


“Itu adalah pasukan Kelelawar Iblis, dalam dua hari belakangnan ini, mereka mulai berdatangan. Hanya ada dua jalan menuju ke tempat ini, yaitu melewati jalur hitam atau melewati sungai Dandam yang berarus deras.”


“Jalur Hitam?” tanya Sungsang Geni.


“Itu adalah jalan yang di apit dua cadas tinggi dan terjal, salah satu guru tersisah membuat posko di tempat itu, menciptakan ranjau jika saja ada yang berniat melewatinya. Tapi Sungai Dandam, tidak ada penjaga ketat disana.”


“Kalian berpikir karena, mereka tidak akan mampu melewati arus deras?” ucap Sungsang Geni.


Indragiri mendesah pelan, “Sepertinya kami harus bertindak, atau mereka akan membunuh kami semua. Beristrirahatlah...pulihkan kondisimu!”


Sungsang Geni masih berniat mendengarkan cerita Indragiri, ada banyak hal yang ingin diketahuinya. Namun seperti yang dikatakan wanita itu , dia harus segera memulihkan kondisinya.


Sungsang Geni kembali masuk kedalam gubuk, diatas meja bambu terdapat sepotong ubi jalar dan segelas air minum. Dimakannya ubi itu untuk mengganjal perutnya.


Pemuda itu dapat melihat, pembuatan gubuk ini bukanlah untuk jangka waktu lama, sangat ala kadarnya.


Dia kemudian duduk bersila di pembaringan, berniat melakukan meditasi. Mencoba mengumpulkan tenaga dalam secepat mungkin, jika tidak, maka kedatangan dirinya ke Negri ini tidak akan banyak membantu.


Pemuda itu segera memejamkan mata, jika dia berpuasa, mungkin butuh waktu 3 hari agar tenaga dalamnya terkumpul sepenuhnya.


Tapi satu hal yang mengganjal pikiran pemuda itu, ia tidak mengerti bagaimana cara mengumpulkan energi api matahari yang terkuras habis.

__ADS_1


Dia belum pernah mengalami, energi matahari sampai habis dilengan kananya. Pertarungannya dengan siluman Singsa Merah, adalah pukulan keras bagi dirinya.


“Aku kira, berkah ini tidak memiliki lawan sepadan, tapi aku terlalu sombong untuk berpikiran demikian.” Sungsang Geni bergumam kesal, “Aku masih harus banyak berlatih, agar bertambah kuat, tenaga dalam dan energi matahariku harus lebih besar dari saat ini.”


***


Disisi lain, Sabdo Jagat, anak dari Mahaguru Suaraya sedang duduk di dekat ayahnya yang terbaring tak berdaya. Setelah kematian sang istri ditangan ibunya sendiri, komandan ke empat Kelelawar Iblis, pria itu nampak tidak bergairah lagi dalam menghadapi kehidupan ini.


Satu-satunya yang masih membuatnya bertahan untuk hidup adalah, putri kecilnya yang terlihat lebih tegar dari pada dirinya, Sekar Arum. Gadis kecil itu tak henti-hentinya memarahi Sabdo Jagat agar mau berjuang melawan kesedihannya.


Sekarang Sabdo jagat menatap sayu wajah keriput ayahnya.


“Ayah! Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Sabdo Jagat berbicara ter isak, wajahnya berlinangan air mata dan terlihat sembab dan bengkak.


Suaraya tidak menjawab, tentu saja. Kakek itu telah pingsan semenjak menerima serangan dari istrinya sendiri, nyai Serindit Emas.


Jika dia sadar, mungkin saja kekek itu akan merasakan hal yang sama dengan putranya, kesedihan yang mendalam.


Sabdo Jagat masih melihat ada banyak luka yang diderita ayahnya, di lumuri dengan tanaman obat seadanya. Tidak ada obat mujarab saat ini, beberapa tabib hebat menjadi sasaran utama para Kelelawar Iblis.


“Sabdo Jagat!” Seseorang datang tergopoh-gopoh, napasnya tak beraturan, “Datanglah ke ruangan tabib! mereka telah kembali. "


Sabdo Jagat berjalan tergesa-gesa menuju ruangan tabib. Saking tergesa-gesanya, dia menabrak beberapa orang di depan dan beberapa barang yang menghalangi jalan.


“Apa yang terjadi?” Sabdo Jagat segera menghampiri seorang gadis muda yang terbujur kaku di pembaringan, “Kalian semua jawab, apa yang terjadi dengan adiku? jawab!”


“Dia melajukan kuda dengan kencang, melewati jalur hitam, menuju Perguruan Lembah Ular.” Seorang perempuan mungkin berusian 45 tahunan, bernama Guru Tiraka berucap, “Kami berusaha menghentikannya, tapi dia seperti tidak mendengar perkataan kami.”


Sabdo Jagat mengeraskan rahangnya, dia kemudian mengepalkan tinju, “Wanita itu pasti telah melakukan sesuatu kepada adiku, dia berniat menjadikan adiku sebagai pasukannya. Wanita iblis, aku menyesal telah lahir dari rahimnya.”


Sabdo jagat melihat sesuatu di leher adiknya, seperti urat hitam yang berusaha menjalar keseluruh tubuhnya.


“Aku menghentikan pergerakan benda itu dengan ajian penguncen,” ucap Guru Tiraka, yang dikenal sebagai wanita pengunci gerak. Ajian pengucen miliknya sangat hebat, sehingga siapapun yang ditatapnya berhenti seketika.

__ADS_1


Bukan hanya mempu menguci gerak musuhnya, Guru Tiraka bahkan mampu mengunci aliran tenaga dalam seseorang. Ini adalah alasan kenapa dia menjadi salah satu dari 3 orang terkuat di Lembah Ular.


“Benda? Benda apa yang kau maksud guru Tiraka?” Sabdo Jagat bertanya.


“Nampaknya, tubuhnya sekarang dipasangi sebuah susuk yang sangat berbahaya.” Jawab guru Tiraka, “Aku tidak tahu pasti, tapi setiap waktu susuk itu semakin kuat, kita harus mencabut benda itu secepat mungkin sebelum dia menguasai tubuhnya.”


Sabdo Jagat mencengkram rambutnya dengan kuat, kepalanya terasa sakit. Seingat dia, tidak ada ilmu di Lembah Ular yang mampu mencabut susuk yang terpasang di dalam tubuh seseorang, selain ibunya sendiri.


“Guru Tiraka! Aku mohon kau selalu menjaga adiku, aku akan berusaha mencari cara agar susuk itu segera terlepas.”


“Aku mengerti Sabdo Jagat,” ucap Guru Tiraka, wanita itu berniat menggunakan seluruh kekuatannya untuk mengunci pergerakan susuk hitam, meskipun mungkin harus mempertaruhkan nyawanya.


Seseorang kemudian terlihat berjalan mendekati Sabdo Jagat dengan muka pucat, dia adalah tabib amatiran, Diwantara.


“Ada apa denganmu?” tanya Sabdo Jagat, “Apa yang terjadi?”


“Ma’afkan saya, tapi...tapi sebaiknya, anda segera menemui Mahaguru Suaraya sebelum terlambat.” Diwantara berkata, raut wajahnya terlihat sedih.


Sabdo Jagat segera berlari ke gubuk ayahnya, perasaannya sekarang tidak karuan dan campur aduk. Ketika dia berada disana, putrinya Sekar Arum nampak sedang menangis di pelukan kakeknya.


“Ayah...aku disini!” ucap Sabdo Jagat.


“Putraku, sekarang waktuku segera berakhir,” Suaraya yang selama ini tak sadarkan diri, tiba- tiba saja terjaga.


“Tidak...tidak, ayah harus bertahan!”


“Tidak anakku, meski aku sangat ingin, tapi aku tidak memiliki waktu tersisah, kekuatanku sudah hilang. Sekarang masaku sudah berakhir.”


“Jika kau mati, lalu siapa yang akan melindungi kami, tidak ada orang sehebat dirimu.” Ucap Sabdo Jagat.


“Kau salah, siapapun bisa sehebat diriku. Mungkin kau!” Suaraya menunjuk Sabdo Jagat, “Atau juga kau cucuku, bahkan kalian semua bisa lebih hebat dariku.”


“Tapi ayah, aku tidak akan mampu menyelamatkan Lembah Ular.” Ucap Sabdo Jagat terisak, “tidak untuk saat ini, kami tidak memiliki kesempatan.”

__ADS_1


“Dengarkan baik-baik, aku telah membuat keputusan yang salah, Lembah Ular harusnya berteman dengan negri lain. Anakku...Lembah Ular bukalah tempat, Lembah Ular adalah rakyatnya, selamatkan mereka se...mu...a.”


Setelah mengatakan demikian, Suaraya meninggalkan anaknya, cucunya dan juga seluruh rakyat Lembah Ular. Meninggalkan beban yang besar, bagi penerusnya. Satu-satunya penyesalan dalam hidupnya ialah, tidak pernah menyadari bahwa istrinya sendiri adalah pembawa kehancuran.


__ADS_2