
“Berapa lama lagi menurutmu pasukan Kelelawar Iblis akan sampai ke Markas Surasena?” Sungsang Geni kembali bertanya.
“Aku melihat pergerakan mereka tiga hari yang lalu, aku rasa akan sampai ke Markas Surasena dalam 5 hari kedepan,” jawab Telik Sandi.
“Kita akan ke Surasena!” ucap Sungsang Geni. “Kita harus membantu mereka, sekarang siapkan semua pasukan kita. Aku ingin Bayangkara kembali ke Surasana secepatnya!”
“Kami akan mengikuti perintah pemimpin.” Menjawab serentak pasukan bayangkara.
5 detik setelah perintah diucapkan, ratusan orang itu bergerak riuh menyiapkan perlengkapan perang. Pedang dan tombak di sandang di pinggang, tak lupa pula mengenakan pakaian perang yang mereka dapatkan dari hasil rampasan perang.
Empu Pelak menyuruh beberapa orang untuk menyiapkan bubuk setan. “Perjalanan kita jauh, tinggalkan semua kereta iblis, kita gunakan panah biasa.”
Di sisi lain Benggala Cokro menghampiri Sungsang Geni yang berdiri sendiri diatas tembok markas menghadap ke barat. Ada banyak pikiran yang berkecamuk di dalam pikiran pemuda itu.
“Geni, apa menurutmu kita akan memenangkan pertempuran ini?” Benggala Cokro bertanya dengan nada rendah, wajahnya menghadap pada ufuk barat dimana Sungsang Geni sedang menjatuhkan pandangannya.
“Aku tidak tahu apakah kita bisa memenangkan pertempuran ini.” Sungsang Geni menjawab datar. “Musuh lebih banyak dari kita. Yang aku takutkan adalah; apakah Surasena bisa bertahan sebelum kita tiba di tempat itu?”
“Aku juga memikirkan hal itu...” Benggala Cokro bergumam kecil. “Ayahandaku dan juga Ki Alam Sakti memang memiliki kemampuan yang hebat, ditambah lagi Ki Lodro Sukmo. Tapi kekuatan dua komandan bukan tandingan mereka bertiga. Aku sudah melihat kekuatan mereka, begitu mengerikan dan sangat tidak masuk akal.”
Jika para komandan Kelelawar Iblis di anggap sebagai pendekar yang menduduki puncak level iblis, maka Ki Alam Sakti, Darma Cokro beserta Ki Lodro Sukmo baru memasuki level pendekar iblis.
Setiap Komandan memiliki kekuatan yang unik dan berbahaya, seperti Banduwati yang bisa mengendalikan mayat hidup dengan susuk yang dikuasainya, atau seperti Asura yang memiliki kemampuan untuk membusukkan tubuh lawannya.
Dua komandan ini belum diketahui memiliki kemampuan seperti apa. Tapi Sungsang Geni yakin, mereka pasti memiliki tenaga dalam sejumlah besar, mungkin 7 jule. Namun kekhawatiran pemuda itu bukan terletak pada jumlah tenaga dalam yang mereka miliki, tapi kemampuan kegelapan yang mereka kuasai.
Setiap anggota Kelelawar Iblis memiliki benda yang tertanam di dalam tubuh mereka, susuk magandana. Benda itu berpungsi sebagai wadah agar kekuatan kegelapan bisa masuk kedalam tubuh.
__ADS_1
Akibatnya mereka akan memiliki kekuatan lain yang mengerikan, bisa saja kegelapan itu membuat mereka melipat gandakan tenaga dalam seperti yang dilakukan Pendekar Pemabuk.
“Benggala, aku ingin kau tidak terlalu ceroboh dalam menggunakan kekuatanmu.” Sungsang Geni berkata sambil tersenyum kecil, tapi wajahnya menunjukkan keseriusan.
Benggala Cokro hendak menanyakan alasan Sungsang Geni mengatakan kalimat itu, tapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya.
Sementara Sungsang Geni sendiri dapat melihat potensi kemampuan Benggala Cokro sangat baik. Jika dia tidak memiliki berkah matahari di lengan kanannya, dan tidak pula memiliki teknik pedang bayangan pastilah Benggala Cokro adalah pemuda terbaik yang ada saat ini. karena itu, Sungsang Geni berharap dia tidak mati sebelum benar-benar menunjukkan batas kemampuan dari kekuatannya.
“Semuanya sudah siap!” Mahesa berteriak dari bawah.
Sungsang Geni melayang turun ke bawah, diikuti dengan Benggala Cokro.
“Geni, bagaimana dengan nasip para budak?” Mahesa menanyakan hal itu setelah memperhatikan wajah-wajah murung yang terlukis pada banyak orang yang tangan dan kakinya di rantai.
Sungsang Geni belum menjawab untuk beberapa saat, dia mendekati mereka semua. Kemudian melepaskan aura hangat dari berkah matahari. “Sekarang ini, pasukan Kelelawar Iblis telah bergerak untuk menghancurkan Negri kami. Aku beri kalian dua pilihan, kami tinggalkan di tempat ini dengan tubuh dirantai atau berjuang bersama kami.”
Setelah hampir 5 menit tidak ada jawaban, Mahesa ikut mendekati mereka pula. “Begini saja, lupakan tawaran yang di berikan oleh pimpinan kami, dia itu terlalu baik.” Mahesa menoleh ke arah Sungsang Geni sambil tersenyum kecil, kemudian kembali menatap para budak tahanan. “Aku akan membunuh kalian semua, semuanya tanpa tersisa.”
“Aku setuju...” Benggala Cokro menarik pedang hitam dari sarung pedangnya, lantas pedang itu terpecah menjadi tiga dan melayang-layang seperti sedang memilah siapa gerangan yang akan mati lebih dahulu. “Daripada pria berkulit keras ini, pedangku lebih cepat untuk membunuh kalian semua.”
“Jangan berlagak sombong orang dari Serikat Pendekar, tugas ini biar kami yang mengambil alih.” Mahesa berdecak kesal.
“Tidak masalah pria berkulit keras, aku ingin meringankan tugas ini. Aku yakin kau akan kelelahan setelah membunuh mereka semua, jadi sebagai rasa simpati aku akan membantu tugas ini.”
“Jangan kau pikir tenaga dalamku lebih kecil darimu, bocah dengan pedang tusuk gigi.”
“Ha? Apa kau mau mencoba pedangku?”
__ADS_1
“Hah? Apa kau ingin menantangku?”
“Tentu saja, kita lihat siapa yang paling cepat membunuh para budak?”
“Aku setuju.” timpal Mahesa.
Mendengar perkataan itu, para budak tahanan menjadi kecut. Wajah mereka pucat pasai bahkan ada dua orang yang jatuh pingsan dan lebih banyak lagi yang beruraian air mata.
“Jangan...jangan...bunuh kami.” Salah satu dari budak akhirnya angkat bicara, dialah pria dengan dada bidang dan otot besar. “Aku akan ikut bersama kalian untuk memerangi Kelelawar Iblis.”
Mahesa dan Benggala Cokro tersenyum kecil, saling mengerlitkan mata kemudian berpura-pura berpikir keras.
“Hemm...mungkin kau tidak akan kubunuh.” Mahesa berkata dingin.
“Aku setuju.” Benggala Cokro mengedipkan mata kemudian menatap beberapa orang yang lain. “Mungkin yang lain saja.”
“Aku akan ikut berperang.”
“Aku juga.” Kemudian secara serentak semua orang budak tahan mengacungkan tangan, mereka akan ikut berperang melawan Kelelawar Iblis.
Cempaka Ayu tersenyum kecil, Rerintih meremas perut karena menahan tawa smentara Cawang Wulan cekikikan. Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari sandiwara yang dijalankan Benggala Cokro dan Mahesa, bodoh sekali.
Sungsang Geni hanya menggelengkan kepala dengan pelan. “Kalian akan melawan tuan kalian sendiri, apa kalian yakin?” bertanya pemuda itu.
“Kami yakin, tentu saja kami akan mati. Tapi sekarang setelah berada bersama kalian, kami menyadari bahwa Negri Sembilan dan Kelelawar Iblis adalah sekumpulan orang-orang keji.”
“Kita semua akan mati.” Sungsang Geni mendekati budak itu, kemudian memutuskan rantai yang membelenggu lengan dan kakinya. “Tapi pertanyaannya, bagaimana cara kita mati. Menjadi pecundang atau menjadi pejuang? Menjadi orang baik atau menjadi iblis?”
__ADS_1
Setelah itu Sungsang Geni melepaskan semua rantai yang membelenggu para budak sambil berkata. “Aku tidak bisa menjanjikan keselamatan dalam perang ini, tapi meski kalian adalah budak, aku ingin kalian percaya bahwa aku akan berusaha untuk melindungi semua orang.”