PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Chandarak VS Buyung Upiak2


__ADS_3

Pertarungan masih terjadi hampir 3 jam lamanya, pihak yang dipimpin Buyung Upiak hampir berhasil mengusai medan.


Beberapa prajurit yang dipimpin Chandrak sudah kalang kabut, melarikan diri karena pengecut. Beberapa yang lainnya malah menikam jantung mereka sendiri, daripada kalah terhina.


Kismojoyo melihat Darshini dengan rasa bangga, meski sepenuhnya dia belum bisa membunuh pria itu, tapi mata goloknya sudah berlumuran darah Darshini.


Berjalan dia dengan congkak, mendekati lawannya yang sudah tersandar tak berdaya di dinding tembok.


"Jangan karena kau berhasil membuat ledakan kecil di tubuhku, lantas sudah berbangga hati." Kismojoyo meludah beberapa kali ke tanah. "Aku sudah pernah dibakar hidup-hidup dan aku baik-baik saja, mana mungkin kalah dengan permainan kecilmu itu."


Darshini tidak menjawab kecuali dengan batuk kecil yang diselingi dengan darah kental. Dia berusaha berdiri dengan payah, tapi usahanya tidak berhasil.


Tidak pernah dia duga, Kismojoyo memiliki teknik lain dalam seni beladiri. Tapak racun jari lima. Sebuah jurus yang sudah jarang digunakan di Negri sembilan.


Tapak itu berhasil mendarat tepat di tengah dada Darshini padahal dia sudah sangat yakin bisa menyerang Kismojoyo.


Tapi siapa sangka, Kismojoyo membiarkan dada kirinya tertusuk pedang, demi untuk mendaratkan ajian tapak racun jari lima.


Di tengah dada Darshini berbentuk sebuah jari berwarna gelap, kehitaman yang menjalar keseluruh tubuhnya.


Hal pertama yang dia rasakan adalah, segala jalur tenaga dalam miliknya tiba tiba lenyap. Kemudian di iringi sesak napas yang teramat sangat.


"Nyawamu hanya akan bertahan 3 hari lagi." Kismojoyo menarik kerah baju Darshini , mengangkatnya tinggi hingga kakinya menjuntai dari tanah." Jika tubuhmu tidak cukup kuat, mungkin petang nanti kau tinggal nama. Hahaha."


Darshini meringis kesakitan, dia tidak ingin mati saat ini. Tidak ada yang ingin mati sebenarnya. Tapi jika diberi pilihan, peria leih baik mati dengan membawa Kismojoyo bersama dirinya.


"Kau pasti akan mati bersamaku, Kismojoyo..." Darshini berkata lirih, suaranya antara terdengar dan tidak.


Kemudian, pria itu terkekeh kecil meski di iringi dengan batuk darah. Dia mengangkat tangannya, menunjukan sebuah cincin yang matanya seperti sengat lebah.


" Kau memberi racun dalam tubuhku, tapi kulakukan hal yang sama." Darshini kembali terkekeh kecil. "Ini adalah senjata rahasia yang kucuri dari perguruan, cincin samudra. Racunnya memang tidak sehebat tapak racun lima jari, kau mungkin tidak akan mati, tapi bisa kujamin kau akan lumpuh total."


Kismojoyo baru menyadari ternyata tepat di bahunya ada luka kecil yang sekarang berwarna hitam. Luka itu baru saja dia dapatkan, ketika Darshini mencengkram bahunya saat Kismojoyo mengangkatnya barusan.

__ADS_1


"Kurang ajar, akan kumatikan kau saat ini juga!"


Kismojoyo membanting tubuh Darshini dengan keras ke permukaan tembok markas. Sekali lagi darah segar keluar dari mulutnya.


Kemudian dengan senyum kecil, pria itu meregang nyawa.


Tidak selang beberapa lama, Kismojoyo mencengkram bahunya yang luka. Matanya berkunang-kunang, kemudian ada seperti lilitan kuat tepat di pangkal bahu hingga tekiaknya.


Lilitan itu semakin menyebar di persendian di dalam tubuh, 2 menit kemudian, Kismojoyo terhuyung dan jatuh kasar ke tanah.


Mulutnya berbusa, tapi seperti yang dikatakan Darshini, dia tidak mati, hanya saja dia sekarang lumpuh total. Tetap saja itu seperti mati.


Tapi situasi itu tidak sama dengan yang dialami Buyung Upiak. Beberapa menit yang lalu, orang tua itu mulai berada di posisi bertahan. Tombak Chandrak rupanya berhasil menikam pangkal pahanya.


Buyung Upiak tidak segagah ketika dia datang tadi. Orang tua itu mulai kehilangan banyak darah dan juga tenaga dalam.


Sial sekali, pikirnya. Padahal dia cukup yakin dengan tenaga dalam yang dimilikinya, tapi Chandrak bisa mengatur cara bertarung yang merugikan Buyung Upiak.


Chandrak tidak terpengaruh rupanya, pria itu memang menyadari sekarang dirinya hanya sendiri. Tapi bukan masalah, prajurit yang tersisa di pihak Buyung Upiak hanya kroco-kroco yang terluka. Tidak sulit untuk menghadapi prajurit lemah.


Chandrak menarik tombaknya ke samping, lalu beberapa saat keadaan tombak itu berwarna merah bara. Kemudian dengan cepat dia melesat untuk menikam jantung Buyung Upiak.


Buyung Upiak tidak memiliki kesempatan untuk menghindar, serangan itu terlalu cepat. Namun kemudian terdengar suara dentingan keras yang menghalangi laju tombak itu. 3 orang bawahan Buyung Upiak yang masih bertahan hidup, berhasil tepat waktu menyelamatkan nyawa pemimpinnya.


Gelombang kejut bertekanan cukup besar terjadi, 1 tombak melawan 3 buah golok. Kemudian ke dua belah pihak terpundur beberapa langkah ke belakang.


"Pemimpin, apa kau baik-baik saja?" Salah satu dari ketiga orang itu bertanya.


"Apa kau tidak lihat lukaku? Bunuh dia,?!" bentak Buyung Upiak.


Ketiga orang itu mengangguk tanda setuju, kemudian mulai melancarkan serangan secara bersamaan.


Chandrak meringis kecil, dia menyesalkan 9 orang bawahannya melawan tiga orang di depannya mati dengan mudah. Ditekannya ujung tombak ke tanah, kemudian dia melayang beberapa saat ke udara seraya melepaskan serangan demi serangan.

__ADS_1


Ketiga orang itu berniat menebas kakinya, tapi Chandrak dengan ilmu meringankan tubuh yang cukup sempurna, bertengger di atas tiga golok mereka.


Salah satu dari tiga orang itu buru-buru menarik kembali goloknya, kemudian menyusul Chandrak di atas angin dengan golok terhunus ke depan.


Chandrak sedikit memutar ke kiri, dia pada akhirnya berhasil menancapkan ujung tombaknya tepat di tengah dada pria itu.


"Ahkkk." Hanya suara itu yang terdengar, sebelum akhirnya menghembuskan napas.


"Kurang ajar, kau telah membunuh teman kami!"


"Tidak, aku juga akan membunuh kalian semua." Chandrak berkata pelan, wajahnya tetap saja datar dengan mata sayu.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya pria itu berhasil melepaskan satu serangan tombak pada dada kiri orang berambut paling gondrong diantara ketiga lawannya.


Namun yang terjadi, pria itu menggenggam gagang tombak dengan sangat kuat, tidak membiarkan Chandrak mencabut dari dadanya.


"Sekarang, pemimpin, bunuh orang ini selagi sempat!"


Chandrak tiba-tiba terkejut, dia melupakan sesuatu. Buyung Upiak masih hidup dan masih memiliki tenaga dalam yang tersisa banyak. Jadi pria itu buru-buru menoleh ke belakang. Rupanya benar, Buyung Upiak datang dengan mata pedang terhunus ke depan.


Chandrak tidak memiliki waktu untuk menghindar, tapi dia masih memiliki satu pukulan untuk membalas perbuatan Buyung Upiak.


Dengan seluruh tenaga dalam yang tersisa, Chandrak melepaskan sebuah pukulan sangat dahsyat tepat di tengah dada Buyung Upiak. Mereka berdua saling melancarkan serangan.


Waktu terasa begitu lama ketika hal itu terjadi. Namun akhirnya Chandrak jatuh ke tanah dengan mata pedang yang telah menembus dada kirinya.


Pria itu benar-benar menyadari, bahwa nyawanya tidak akan lama lagi. Tapi sebelum itu, dia menoleh ke arah Buyung Upiak yang mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


Orang tua itu juga mendapatkan luka yang sangat parah, tidak ada jaminan pula dia akan selamat. Kemudian Chandrak tertawa kecil, "Sampai jumpa di neraka, AHKK...."


Perkataannya terhenti karena golok yang ditancapkan bawahan Buyung Upiak menembus tulang belakangnya.


Dukung terus PDM, dengan vote sebanyak-banyaknya, sebagai bentuk apresiasi pembaca terhadap novel ini.

__ADS_1


__ADS_2