
Cempaka Ayu menyerang Nyai Siwang Sari lebih serius daripada ketika dia menyerang Jaka Balabala. Menurut wanita itu, semua orang tidak bisa lepas dari cengkraman maut, tidak ada. Jadi ketika mengetahui Nyai Siwang Sari memiliki kemampuan tidak bisa mati, Dewi Bulan berniat mematahkan ilmu itu.
Benda-benda besar dan kecil menghujani tubuh Nyai Siwang Sari. Beberapa serangan bisa dihindari dengan mudah, tapi tak jarak kerikil batu karang memecahkan kepalanya.
Beberapa waktu kemudian, tubuh wanita itu kembali seperti sedia kala, membuat Dewi Bulan kesal bukan kepalang.
“Nimas, aku akan membantumu...”
Jaka Balabala melepaskan serangan kipas besarnya, menciptakan badai besar yang menghempaskan benda apapun tapi tidak untuk tubuh Cempaka Ayu. Dewi Bulan mungkin memiliki 15 atau 16 jule energi saat ini. Lebih kuat daripada Sungsang Geni.
Serangan Jaka Balabala memang tidak berpengaruh, tapi Nyai Siwang Sari menemukan celah dan berhasil menyelipkan serangan langsung mengenai dada gadis itu. Hanya terpukul mundur satu depa jauhnya, serangan Nyai Siwang Sari dibalas dengan lesatan jepit rambut yang meledakkan tubuh wanita itu.
Jaka Balabala melesat keatas awang-awang, menggerakkan kipas besarnya untuk sekali lagi menciptakan badai. Tapi pada saat yang sama, Sungsang Geni berhasil melepaskan tebasan kuat.
Namun sayangnya, kipas besar itu berhasil menghalau serangan Sungsang Geni.
Dewi Bulan memperhatikan pemuda bersinar di atas kepalanya. Dia tampak mengernyitkan kening, mungkin sedang berpikir atau menimbang rasa untuk tidak atau membunuh Sungsang Geni.
“Siapa gerangan lagi kau ini?” Bertanya Dewi Bulan kepada Sungsang Geni. “Kau memiliki kemampuan yang aneh, tubuhmu dipenuhi dengan hawa hangat.”
Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, mendekati wanita bermata putih itu untuk beberapa depa jaraknya. Dari manapun orang memandang, mereka berdua seperti dua bintang yang bersinar kuning dan putih di malam hari.
“Apa kau Dewi Bulan?” Sungsang Geni bertanya, dengan nada paling sopan, takut jika mahluk itu malah menganggapnya sebagai musuh.
“Aku adalah Dewi Bulan, dewi kesepian di gelap malamnya dunia ini.” Menjawab Dewi Bulan, raut wajahnya sendu, seolah baru kehilangan sesuatu yang paling berharga, atau pula terlihat seperti orang yang memiliki beban di pikirannya.
__ADS_1
Sungsang Geni hanya tersenyum simpul, tampaknya tidak ada lagi diri Cempaka Ayu saat ini di tubuh itu, dan itu membuatnya sedikit sedih. “Aku ingin berbagi kisah denganmu, tapi untuk saat ini dua orang di sana adalah mahluk berhati licik, mereka harus dihabisi.”
Dewi Bulan melirik ke arah Nyai Siwang Sari, lantas melirik ke arah Jaka Balabala baru kemudian memandangi wajah Sungsang Geni dengan senyum kecil. “Kau adalah teman wanita ini bukan?” Dewi Bulan menunjuk dadanya sendiri. “ Aku bisa tahu dari raut wajahmu.”
Sungsang Geni tidak menjawab melainkan dengan senyum simpul. Pemuda itu lantas pergi meninggalkan Dewi Bulan menuju ke arah Jaka Balabala. Meski Dewi Bulan tidak menjawab apakah dia mau membantu atau tidak, tapi Sungsang Geni yakin dewi itu mengetahui siapa yang layak dan tak layak di hukum di bumi ini.
“Tarian Dewa Angin, Neraka Penyucian.” Sungsang Geni berhasil membelah kipas besar Jaka Balabala menjadi dua bagian. Serangan pemuda itu bukan hanya mampu memotong senjatanya, tapi juga berhasil memberi luka tepat di tengah perutnya.
“Ahkkk!” Jaka Balabala terjun bebas dan terhempas di permukaan tanah, kedua tangannya mencengkram usus yang keluar dari dalam perutnya. “Bagaimana kau melakukan ini?”
Sungsang Geni tidak menjawab, dia segera melepaskan Murka Naga Bayangan dengan hampir 80% dari semua energi dalam tubuhnya.
Alhasil naga yang tercipta dari pedang energi memiliki aura berat luar biasa. Ombak air laut beriak tak karuan, pohon-pohon besar di sekitar pemuda itu bergerak bak diterpa badai. Sementara itu, wajah pucat Jaka Balabla tidak dapat disembunyikan.
Nyai Siwang Sari bergerak secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa adiknya, tapi usahanya di cegah Dewi Bulan dengan hujan ratusan benda-benda yang membuat tubuh wanita itu terluka di banyak bagian.
Seolah tidak akan menunggu tubuh Nyai Siwang Sari pulih, Naga Bayangan segera melahap tubuh Jaka Balabala. Gelombang besar bergemuruh di sekitar pulau kecil ketika serangan pemuda itu menghantam tanah.
Satu menit setelah serangan itu, pedar cahaya terang hilang. Tubuh Jaka Balabala juga lenyap menyisakan satu robekan pakaiannya yang terbang ditiup angin kencang.
“Jaka...” Berkata lirih Nyai Siwang Sari. “Dimana gerangan dirimu berada? Jaka!”
“Dia sudah mati...” Berkata dingin Dewi Bulan. “Saat ini, hanya dirimu sendiri, sepi dan sunyi.”
“Aku tidak akan membiarkan kalian hidup, aku akan mengirim kalian semua ke alam baka!” Nyai Siwang Sari menyabetkan selendangnya, berusaha menyerang Sungsang Geni yang hampir kehabisan tenaga.
__ADS_1
Sebelum ujung selendang itu mengenai tubuh Sungsang Geni, 15 jepit rambut berubah menjadi bulan sabit memotong selendang itu menjadi tiga bagian. Apakah sudah selesai? Belum, Dewi Bulan melepaskan lebih banyak serangan mengenai tubuh wanita itu, membuat dia bercerai menjadi banyak bagian.
Pada saat yang sama, ketika bagian-bagian tubuh Nyai Siwang Sari hampir jatuh ke permukaan tanah, secara tiba-tiba Naga Sosro melemparkan peti bersisik ke arah Sungsang Geni.
“Masukan setengah bagian tubuhnya kedalam peti!” Berteriak raja naga itu.
Sungsang Geni tidak mengetahui apa yang akan di lakukan oleh mertua Pramudhita itu, tapi daripada terlalu banyak bertanya , pemuda itu lebih memilih menuruti perkataannya.
Sungsang Geni berhasil memasukan kepala dan bagian dada Nyai Siwang Sari kedalam peti, bagian-bagian yang lain ketika baru saja hendak jatuh ke permukaan tanah, Dewi Bulan segera menusuknya seperti sate dengan satu bilah kayu.
Semua tubuh Nyai Siwang Sari tidak ada yang menyentuh tanah. Dewi Bulan menunggu beberapa lama, jika saja bagian tubuh itu bergerak dan menyatu, tapi tidak ada tanda-tanda tubuh wanita itu akan menyatu kembali.
Di dalam peti bersisik, terdengar beberapa kali suara hentakan hingga pada akhirnya suara itu lenyap dan hening.
“Kakek Naga, bagaimana kau tahu jika tubuhnya tidak akan menyatu jika dimasukkan ke dalam peti?” Sungsang Geni bertanya kepada Nogo Sosro.
“Sebenarnya aku sendiri tidak begitu paham, hanya saja kupikir jika satu bagian tubuhnya ada di dalam peti maka tubuh wanita itu tidak akan sempurna.” Nogo Sosro menggaruk kepalanya, sedikit bingung untuk menjelaskan jalan pikirannya. “Misalnya dia akan hidup tanpa kepala, kepalanya kan ada di dalam peti.” Terkekeh kecil naga itu.
Beberapa saat Sungsang Geni menjadi terdiam, dia melupakan Dewi Bulan yang sejak tadi memperhatikan obrolan mereka berdua diatas awang-awang. Ketika dia menoleh ke atas, wanita itu menyunggingkan senyum kecil penuh arti.
“Apa dia akan pergi?” Bertanya Nogo Sosro.
Sungsang Geni baru tersentak, yang dikatakan Mertua Pramudhita rupanya benar. Lima detik setelah wanita itu tersenyum, dia melayang cepat meninggalkan Sungsang Geni di tepi pantai.
“Tunggu!” Sungsang Geni berteriak, berusaha mengejar Dewi Bulan tapi tidak berhasil, kekuatannya sudah banyak terkuras.
__ADS_1