
Giantoro mendaratkan satu serangan kedepan, dan seketika dari telapak tangannya mengeluarkan sebuah energi berbentuk tengkorak manusia.
Setiap tengkorak itu menyentuh bangunan, maka bangunan akan hancur. Dia melayang-layang di udara, energi itu seketika berhasil memporakporandakan barisan yang di pimpin Empu Pelak.
Empu Pelak yang bukanlah petarung, terpaksa menjauh dari tempat itu secepat mungkin. Dia membawa beberapa orang bawahannya yang memiliki kemampuan biasa saja, sedangkan beberapa pendekar pilih tanding, keputusan ada di tangan mereka.
Reruntuhan semakin terdengar bergemuruh, sebab energi berbentuk kepala itu seperti melalap apapun benda yang dilaluinya. Gerakannya memang tidak cepat, tapi energi itu seperti bayi, setiap dia melahap apapun ukurannya semakin membesar.
10 orang murid Gentar Bumi berusaha mendekati gurunya, dan membawa pergi pria itu selekas mungkin. Mereka baru menyadari bahwa Gentar Bumi sudah tidak sadarkan diri, napas yang tersengkal dan detak jantung yang pelan.
Ini bukan hal baik? Pikir mereka, nyawa Gentar Bumi sedang di pertaruhkan. Mereka berlari, pada celah tembok yang akan membawa mereka keluar dari tempat ini.
Tapi usaha mereka tidak berjalan lancar, beberapa mayat hidup yang masih selamat tidak membiarkan hal itu terjadi. Sekitar 20 mayat hidup berlari secara acak, mencoba menghalangi rute pelarian.
“Apa aku harus membunuh mereka semua?” Yunirda melihat kumpulan orang membawa Gentar Bumi, dari atas atap bangunan tinggi.
“Tidak usah! Aku akan mengurus mereka semua.” Jawab Giantoro tersenyum kecil, bayi energi miliknya sekarang hampir sebesar gubuk, terus melahap apapun yang berada di dekat dirinya, kecuali Sabdo jagat.
Giantoro berencana menyisahkan Sabdo Jagat sebagai menu utama. Lagipula, dia ingin pimpinan Lembah Ular itu merasakan keputus asaan setelah melihat kematian seluruh bawahannya.
“Kau memang kejam?” Yunirda tertawa kecil, “Apa kau berniat mempermainkan mereka semua? Kau menemukan sesuatu untuk menghibur kebosanan!”
“Kenapa kau tidak pergi kesisi barat?” Ginatoro menghadap pada sisi dimana dia mengatakannya, di sana masih terasa energi manusia yang sedang marah. “Pemuda itu, dia ada di sana, Bukan? Berikanlah sedikit permainan pada dirinya! dan kau tidak akan merasa bosan.”
Benar? Yunirda baru menyadari hal itu, kenapa dia baru sadar? Pria itu tanpa mengatakan apapun kepada rekannya, segera melompat dari atap rumah ke atap rumah yang lain. Menemui Sungsang Geni.
__ADS_1
“Sangat bersemangat?” gumam Giantoro, dia lalu menoleh Sabdo Jagat yang sedang terkapar, tapi rupanya pimpinan Lembah Ular itu sudah tidak ada di tempatnnya, “Kau masih sadar rupanya? Kemana kau akan pergi?”
Sabdo Jagat bersandar pada salah satu dinding bangunan. Dia mengintip dari celah-celah tembok yang berlubang, berusaha menemukan tongkat penghancur gunung miliknya. Jika Giantoro tidak menggenggamnya,berarti tongkat itu berada di suatu tempat.
“Tapi aku yakin, tongkat penghancur gunung tidak jauh dari sini!” gumam Sabdo Jagat.
Dia mengendap dari reruntuhan bangunan ke reruntuhan yang lain, sangat hati-hati. Energi berbentuk tengkorak nampak sedang berpatroli saat ini, terbukti sedang menyusuri beberapa bangunan yang mencurigakan.
Hal yang menguntungkan saat ini adalah, Giantoro nampaknya tidak mempedulikan lagi pendekar Lembah Ular yang melarikan diri. Dia terlalu fokus dengan Sabdo Jagat.
“Sial....!” Sabdo Jagat hampir terpekik.
Pria itu berniat merangkak pada dinding bangunan yang rebah, dan membentuk gorong-gorong, tapi sebelum dia berhasil melakukan rencananya, energi berbentuk tengkorak nyaris saja menemukannya.
Dan perlahan, energi itu merayap pelan, mentreteli bangunan di atas Sabdo Jagat seperti orang yang sedang mencumit tiwul. 'ya tiwul, aku akan memakan itu setelah mengalahkan mereka semua.' Batin Sabdo Jagat berandai-andai.
Setelah bangunan yang melindungi Sabdo Jagat benar-benar lenyap dimakan energi itu, tiba-tiba gerakan seseorang tercium oleh Giantoro pada sisi berbeda dari Sabdo Jagat. Energi tengkorak segera pergi ke tempat itu.
Sabdo Jagat bernapas lega, hampir saja. Pikirnya.
Gerakan itu ternyata dua orang mayat hidup yang tertindih dinding beton, “Kurang ajar! Giantoro mengepal telapak tangannya, “Dimana pria itu bersembunyi, tikus cecurut?”
Sabdo Jagat kembali merangkak, dan akhirnya dia bisa melihat tongkat penghancur gunung tertancap di belakang Giantoro. Pantas saja dia tidak bisa melihatnya dari arah depan.
Sabdo Jagat mulai berpikir, dia harus melakukan sesuatu. Sebuah cara agar tongkat itu kembali lagi pada dirinya. Pria itu akhirnya menemukan beberapa taktik, tidak terlalu bagus tapi taktik apapun saat ini memang tidak ada yang bagus untuk menghadapi orang yang lebih kuat darinya. Penuh resiko.
__ADS_1
Satu hal yang disadari Sabdo Jagat adalah, Giantoro tidak pernah bergerak semenjak mengeluarkan jurusnya yang aneh itu. Benar, semakin besar energi tengkorak semakin pria itu tidak banyak bergerak.
“Dia menggunakan pikirannya untuk mengendalikan energi hitam aneh dan menyeramkan itu?” Sabdo Jagat sedang berpikir, “Dan juga, semakin besar energi itu, aku yakin akan semakin sulit dikendalikan. Bisa saja akan menjadi bom waktu, dan mungkin akan melahap dirinya.”
Sabdo Jagat lalu mengikat sesuatu menggunakan seutas tali pada ujung bangunan yang paling jauh. Dia membawa tali itu mendekati Giantoro. Dia berniat membuat gerakan, lalu memancing energi hitam itu mendekati umpan bergerak yang dibuatnya.
Jika energi hitam itu sudah cukup jauh dari Giantoro, Sabdo Jagat akan merebut tongkat penghancur gunung. Temponya tidak cukup cepat dibanding energi tengkorak, tapi dia memiliki sesuatu.
Setelah dirinya cukup dekat dengan tongkat penghancur gunung, Sabdo Jagat menarik tali yang terikat pada benda, peralatan dapur. Kenapa peralatan dapur? Itu karena yang paling ringan, dan paling berisik yang dapat di manfaatkan.
Benar saja dugaannya, energi hitam melayang di atas benda-benda yang berbunyi. Kemudian melahap seluruh bangunan dan benda-benda berbunyi tanpa tersisa. Pada waktu yang sama Sabdo Jagat berlari kearah Giantoro.
“Jadi kau mengincar tongkat ini!” ucap Ginatoro geram, dia baru menyadari tindakan Sabdo Jagat. “Tapi tidak akan aku biarkan!”
Satu hal yang benar dari perkiraan Sabdo Jagat adalah , Giantoro tidak bisa bergerak pada saat itu. Tapi energi hitam berbentuk tengkorak itu dapat melakukan sesuatu yang lebih selain dari melahap apapun di hadapannya.
Energi tengkorak pecah menjadi ratusan tengkorak kecil, dan gilanya kecepatan energi itu cukup luar biasa. Jika hanya satu mungkin Sabdo Jagat bisa menghindarinya, tapi sekarang energi itu menyerang pimpinan Lembah Ular.
Sabdo Jagat dihantam puluhan energi secara bertubi-tubi, membuat dia berteriak kesakitan. Darah segar tak henti-hentinya keluar dari luka-luka yang dideritanya, tapi pada saat yang sama pria itu tetap melangkah mendekati tongkat penghancur gunung.
Tinggal beberapa meter lagi, Sabdo Jagat mengeluarkan seutas tali yang dia simpan di belakang bajunya. Dengan sekuat tenaga, akhirnya dia bisa melilitkan ujung tali pada tongkat penghancur gunung.
“TDAK!” teriak Giantoro, berusaha menghentikan laju tongkat penghancur gunung melayang ke arah Sabdo jagat.
Tapi sayang, tongkat itu akhirnya mendarat di telapak tangan Sabdo Jagat. Kemudian cahaya kuning meledak dari ujung tongkat yang menghentak tanah. Mengusir energi berbentuk tengkorak dari sekitar Sabdo Jagat.
__ADS_1