
Pendekar Pemabuk bangkit pula dengan wajah kesal dan bibir masam. Rupanya dia masih bisa bertahan dari serangan Pemuda Matahari itu, melindungi dadanya dengan banyak tenaga dalam.
Batuk kecil terdengar beberapa kali dari mulutnya yang keriput. Meski tidak ada darah yang keluar dari luka dalam yang didapatkan, tapi beberapa kali dia merasakan jantungnya berdegup lebih kencan dari biasanya.
“Yunirda tidak pernah menggunakan serangan semacam ini.” Pendekar Pemabuk berdecak kesal. “Aku tidak boleh meremehkan dirinya. Kunyuk jahanam itu, pasti memiliki segudang rahasia.”
Pendekar Pemabuk berjalan lagi mendekati Sungsang Geni. Kemudian dia menyapukan tendangan Mabuk Menerjang Badai. Dua lesatan energi berwarna hitam, yang bergerak secara horizontal muncul dari ujung kaki orang tua itu.
Bentuk serangan itu seperti bulan sabit tipis, melesat dengan kecepatan yang sulit untuk di ikuti mata. Sungsang Geni harus menekan kakinya dengan kuat untuk menjadi ancang-ancang lompatan satu depa dari permukaan tanah.
Energi itu tidak sempat melukai dirinya, tapi sebagai hasilnya malah menyasar pada 5 orang bawahan Pendekar Pemabuk. 5 pendekar itu meski memiliki ilmu kanuragan cukup mumpuni, tidak bisa menahan serangan, nyawa mereka lenyap seketika oleh komandan mereka sendiri.
“5 Orang tidak berguna, kenapa kalian berada disana?” Pendekar Pemabuk kesal bukan kepalang, bukannya dia merasa bersalah atas kematian anak buahnya, malah mengupat serapah tak karuan.
Setelah berhasil menguasai diri, Sungsang Geni bergerak cepat dengan tubuh meliuk dan pola yang sulit untuk diikuti mata. Kemudian dua bayangan dirinya muncul secara tiba-tiba, dan tentu membuat puluhan pasang mata menjadi terbelalak tak percaya.
Dia dan bayangannya bergerak secara bersamaan, melakukan pertarungan jarak pendek dan jauh. Saling bertukar senjata di dalam pertarungan, bahkan tidak jarang Sungsang Geni harus mengkombinasikan 3 teknik yang dikuasainya sekaligus.
Pedang-pedang energi terkadang melayang ke langit biru, bergerak dengan kecepatan tinggi lalu turun menukik. Sasarannya adalah Pendekar Pemabuk.
Pada saat yang sama, orang tua sinting itu melakukan gerakan merebah dan tidur di bumi, lalu menggelinding seperti bocah. Pedang Energi tidak berhasil menancap di tubuhnya, dan sebagai ganti Sungsang Geni mendapatkan sebuah pukulan keras tepat di bagian perutnya.
Bumm, tubuh Sungsang Geni lenyap menjadi asap tipis. “Bayangan!” Pendekar Pemabuk berdecak kesal. “Tidak masalah kau punya 100 bayangan, tidak akan bisa mengalahkan diriku.”
“Hanya karena berhasil melenyapkan satu bayangan, kau menjadi berkata besar?” Sungsang Geni terkekeh kecil, yang tahu-tahu sudah berada tepat di belakang Pendekar Pemabuk dengan pedang yang terangkat tinggi.
__ADS_1
Orang tua itu tidak menyadari pergerakan Sungsang Geni tersebut, jadi dia tidak sempat berbalik badan untuk menghindar. Yang dilakukan dia hanya bergerak mengikuti instingnya yang tajam, menghempas ke samping.
Benar saja, pedang Sungsang Geni tidak berhasil melukai bahunya. Tapi momentum serangan pemuda itu masih berlanjut, ketika tubuh orang tidak waras itu menghempas ke samping pedang masih melaju dan berhasil melukai pergelangan kakinya.
“Ahkk...” Tertahan pekik Pendekar Pemabuk, dia lalu menghentakan telapak tangannya dan meluncur seperti peluru ketika serangan kedua Sungsang Geni sekali lagi hampir mengenai kaki lainnya.
Pendekar Pemabuk baru berhenti di dekat Jambon Barat yang sedang bertarung sengit dengan Saraswati. Tampaknya kedua wanita itu masih dalam keadaan imbang untuk saat ini, hanya saja Jambon Barat mulai berada di posisi menyerang.
“Tidak usah kau pikirkan mereka berdua.” Sungsang Geni berkata berat. “Lawanmu adalah aku, jangan bagi tenagamu untuk membantu muridmu, pak tua.”
“Kunyuk Jahanam, siapa yang akan membantu pertarungan mereka...” Pendekar Pemabuk berkata keras, tapi raut wajahnya menujukkan ringisan sakit karena luka di pergelangan kakinya cukup parah.
Sungsang Geni hampir memutuskan urat besar di pergelangan itu. Pendekar Pemabuk mengerahkan sedikit tenaga dalam untuk menghentikan pendarahan, dia juga mencari sesuatu di dalam sakunya, sebuah ramuan lalu menegaknya.
“Pak tua *****, kau meminum ramuan pereda sakit.” Sungsang Geni terkekeh kecil. “Ramuan itu hanya memiliki satu kegunaan, yaitu menipu dirimu.”
“Jangan berkata seperti kau tahu apa yang akan kuperbuat, Kunyuk Jahanam.” Pendekar Pemabuk terkejut bukan alang kepalang, bahkan muridnya sendiri tidak tahu mengenai ramuan itu.
“Mulutmu benar-benar berbisa pak tua.” Sungsang Geni menggelengkan kepala.
Meski serangan pemuda itu tidak berhasil melukai bagian vital, tapi kaki adalah hal paling penting bagi seorang pendekar. Jika kaki terluka cukup parah, gerakan kuda-kuda tidak akan terlalu baik. Bukankah kuda-kuda menyumbang setengah kekuatan dari teknik pertarungan?
Sungsang Geni menarik napas dalam-dalam, kemudian menahannya tepat di bagian bawah perutnya, mengompres perut. Dalam keadaan seperti itu, aliran tenaga dalam di tubuhnya menjadi lebih besar dari sebelumnya.
Beberapa saat tubuh pemuda itu seperti menguap, seperti berbayang.
__ADS_1
Pendekar Pemabuk tidak mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan pemuda itu, terlihat akan membahayakan dirinya. Jadi orang tua itu mengambil inisiatif untuk menyerang Sungsang Geni lebih dahulu.
“Jurus Mabuk Memutar Angkasa.” Dia melepaskan sebuah pukulan lebih kuat dari sebelumnya.
Sekarang ada 5 kilatan cahaya berwarna ungu melesat dengan cepat menuju Sungsang Geni. Pada saat yang sama, bayangan Sungsang Geni memasang badan tepat di antara Pendekar Pemabuk dan dirinya.
Gelegar. Ledakan terjadi dengan keras, gelomabang kejut yang dihasilkan menghempaskan semua orang yang berada dalam radius 20 meter. Pertarungan Jambon Barat dan Saraswati segera terhenti.
20 orang lainnya melayang bak ditiup angin kencang, kemudian mendarat kasar pada dinding tembok. Suasana bergetar hebat, udara menjadi berat dan kilatan cahaya dari serangan itu mengaburkan pandangan semua orang.
Retakan-retakan di dinding markas mulai terdengar berderik. Jika saja serangan itu berada di dalam markas utama yang luasnya hampir satu bidang sawah, dapat dipastikan ¼ bagian akan menjadi puing-puing berserakan.
Sungsang Geni menghembuskan debu yang bersarang di lubang hidungnya, menyingkapkan asap tipis yang menghalangi pandangan.
Ketika baru saja dia memperhatikan keadaan sekitar, pukulan lain menyerang tubuhnya. Kali ini Pendekar Pemabuk tidak berniat lagi menggunakan pukulan jarak jauh, dia sudah dapat memprediksi hasilnya tidak akan memuaskan.
Jadi dia menggunakan kepalan tinju yang sudah dialiri tenaga dalam besar.
Buk...buk... dua kali dada Sungsang Geni mendapat serangan, lalu kemudian serangan terakhir adalah sebuah tapak tangan kanan yang menghantam tepat pada bagian perut.
Sungsang Geni terpundur 10 langkah dari tempatnya semula. Kemudian terhenti tepat di dekat Sarawati yang masih berusaha menguasai diri.
“Geni apa kau baik-baik saja?” Saraswati terlihat khawatir, hal yang pertama ada dalam pikiran wanita itu adalah; Sungsang Geni adalah tiket agar dirinya bisa keluar hidup-hidup dari markas ini.
“Ya, aku sudah sering berada didalam situasi seperti ini.” Sungsang Geni menjawab perkataan Sarawati. “Ini adalah hal paling baik dibanding pertarunganku melawan Komandan Banduwati di Lembah Ular.”
__ADS_1