
Pada hari itu, semua rakyat hiruk piruk. Namun di sisi lain, empat Adipati yang mendapatkan surat dari Istana Tumenang menjadi geram bukan kepalang. 10 kali lipat dari biasanya, itu artinya rata-rata setiap Kadipaten harus memberikan dua ribu hingga tiga ribu karung beras.
Salah satu Adipati hitam legam meremas surat yang baru saja dikirim oleh prajurit Istana, tidak ingin mengambil resiko pesuruh Mangku Anom itu segera pergi meninggalkan tempat itu.
“Istana benar-benar berhati kejam.” Pria itu berdiri dari kursi kebesaran Adipatinya. “Ini penindasan namanya, hanya karena tunduk dengan Kelelawar Iblis rakyat diperas seperti ini? Prajamansara berniat membunuh kita semua.”
“Apa yang harus kita lakukan saat ini?” bertanya salah satu prajurit.
Belum menjawab Adipati itu, kecuali dengan kerlitan mata tajam penuh amarah. Tiba-tiba datang seorang utusan dari Kadipaten Ujung Lempung dengan sepucuk surat pula. Pria berbadan hitam legam itu sedikit ragu, tapi masih pula membaca isi surat.
“Surat ini datang dari Adipati Lingga, sang pemberontak.” Berucap dia kepada bawahannya. “Pria sinting itu mengajak kita bergabung untuk menjatuhkan Istana.”
“Dari lima Kadipaten dialah yang menentang Istana, mereka pula harus menanggung wabah kemarau dan racun.”
“Bukan hanya itu, anak gadis mereka menjadi tumbal bagi Dewa Kegelapan.”
"Dia orang yang gila."
Adipati Bertubuh Legam itu kembali mengepalkan telapak tangannya, menghajar kursi kebesaran. Wajah hitam legam, mata tajam dan bibir tebal membuat semua prajuritnya tidak berani untuk mencoba mengusik.
Di sisi lain pula, kondisi setiap Adipati tidak jauh dengan Adipati bertubuh hitam legam. Lingga juga mengirim utusan untuk mengantarkan surat, yang isinya mengajak mereka bekerja sama.
Belum ada yang menyetujui permintaan Adipati Lingga, tapi tidak masalah. Empat Adipati sudah mulai memiliki gambaran umum mengenai keganasan politik raja Prajamansara. Hanya menunggu waktu lagi, mereka akan ikut memberontak.
Dua hari setelah pengumuman dinyatakan, di pusat kerajaan Tumenang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda terjadinya konflik, puluhan rakyat mulai berani manarik panah ke arah Istana, meski hingga sekarang belum ada yang berani melepaskan busur panahnya. Gertakan belaka. Tapi pintu Istana tidak pernah terbuka.
Namun tiba-tiba seorang prajurit datang buru-buru menemui Senopati Mangku Anom dengan wajah pucat pasi. Nafasnya tersengal-sengal, sambil bersujud dia membawa informasi dari luar kabut ilusi.
“Prajamansara telah kembali?” tanya Mangku Anom setelah mendengar laporan dari pria itu, wajahnya menjadi sedikit tegang. “Istana belum runtuh, tapi setan alas itu sudah kembali lagi. Rencana kita bisa berantakan.”
__ADS_1
“Paman, jika boleh aku tahu bagaimana kondisi pasukan Prajamansara?” tanya Sungsang Geni.
“Mereka...dua ribu pasukan tidak lebih bersama mereka,”
“Aku akan menghadapi mereka.”
Perkataan Sungsang Geni mengejutkan semua orang, ini adalah perkataan tergila yang pernah mereka dengar sejauh rencana ini berjalan. Beberapa mata tidak berkedip untuk beberapa lama, mulut terbuka lebar. Sementara itu Mangku Anom tidak jadi menelan arak di dalam mulutnya, malah menyembur keluar.
“Kami sedang tidak bercanda anak muda.” Ucap Mangku Anom. “Aku bisa merasakan tenaga dalammu sangat besar, tapi mengahadapi 2 ribu pasukan beserta tiga pendekar hebat dari Negri sembilan....aku pikir adalah tindakan bunuh diri.”
“Jika tidak ada yang menghadang mereka, rencana kita akan berantakan,” ucap Sungsang Geni. “Apa kalian memiliki rencana cadangan, aku pikir tidak ada, bukan? Jadi ini adalah satu-satunya cara agar Prajamansara tidak masuk ke dalam Negri ini lagi.”
“Tapi kau bisa...”
“Mudah saja, jika aku berhasil membunuh Prajamansara seorang, rencana kita masih bisa berjalan. Aku akan membawa kepala pria itu.” Sungsang Geni segera memalingkan wajah ke arah Telik Sandi yang masih terpaku di tempatnya. “Paman, berapa lama pasukan mereka akan tiba di pintu kabut ilusi?”
“Itu sudah lebih dari cukup.” Sungsang Geni kembali menatap ke arah Mangku Anom. “Paman Senopati, kau bilang ada jalan rahasia yang lebih cepat untuk keluar dari kabut Ilusi, aku akan menggunakan rute tersebut.”
Mangku Anom tidak lagi berniat menghalangi Sungsang Geni setelah melihat tekat pemuda itu. Dia menarik nafas panjang, kemudian meminta beberapa orang untuk menyiapkan perjalanan pemuda itu.
“Ingat kau akan sendirian di luar sana, lebih baik mundur jika saja nyawamu benar-benar terancam!” Mangku Anom mengingatkan.
“Aku akan ikut bersamanya...” terdengar suara serak mengejutkan mereka semua.
Mangku Anom terperanjat bukan kepalang, rupanya dia adalah Patih Tumenang, Patih Siruyu Citro. Pria tua sudah mencengkram pedang dengan mata ganda berwarna hitam pekat yang pajang. Bukan hanya itu, dia juga sudah mengenakan zirah perang tanda bersiap maju ke medan pertempuran.
“Patih Siruyu Citro, bukankah kondisi anda belum pulih betul?” tanya Senopati Mangku Anom.
“Aku sudah pulih, pemuda itu telah menyalurkan banyak tenaga dalam untuk mengobati luka dalamku.”
__ADS_1
“Tapi apakah anda yakin dengan keputusan ini?”
“Pemuda itu bukan bagian dari Tumenang, tapi dia rela menghadapi musuh demi berjalannya rencana kalian. Membebaskan rakyat dari tirani kejahatan adalah prioritas utama, aku akan mempersembahkan nyawa dan kekuatanku untuk mewujudkannya.”
Tidak ada yang membantah perkataan Patih Siruyu Citro, semua orang hanya tertunduk dan serentak memberi hormat kepada pria tua itu.
Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari dalam Istana melewati lorong rahasia dan berlalu pada jalan setapak. Rute paling singkat menuju pintu gerbang kabut ilusi.
“Anak muda, aku belum mengucapkan terima kasih kepadamu.” Patih Siruyu Citro tersenyum kecil, di pinggangnya ada bekal arak dan roti kering.
Mereka berdua berlari cepat, dengan ilmu meringankan tubuh. Sekekali Patih Siruyu Citro terbatuk kecil, menandakan bahwa kondisi tubuhnya belum begitu pulih sepenuhnya.
“Aku bisa merasakan tenaga dalammu luar biasa besar, dan selain itu kau memiliki sesuatu yang sangat kuat bersarang di lengan kananmu. Tidak masalah bukan kita berkenalan dengan cara seperti ini?”
Sungsang Geni tersenyum kecil, “Tentu saja bukan masalah Paman Patih.”
“Geni, mereka menyebutmu dengan nama itu. Aku ingin tahu lebih banyak mengenai dirimu.”
“Paman Patih, simpan pertanyaanmu untuk nanti setelah kita memenangkan pertarungan ini.” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Jangan berpikiran untuk mengakhiri nyawamu, kau masih dibutuhkan bagi Tumenang.”
Patih Siruyu Citro menelan senyum pahit, dia tidak menyangka pemuda asing ini bisa membaca jalan pikirannya. Tentu saja yang dikatakan Sungsang Geni adalah benar, jika kondisi tidak memungkinkan untuk melarikan diri, dia akan mati dengan membawa kepala Prajamansara.
Nyawa harus dibayar dengan nyawa, keluarga pria itu sudah terbantai ketika Prajamansara mengkudeta Raja terdahulu. Larut dalam pikirannya, membuat pria itu tidak sadar bahwa gerbang kabut ilusi sudah ada di depan mata.
Patih Siruyu Citro menunjukkan lencana Tumenang pada pohon beringin tua, beberapa detik setelah lencana ditunjukan, kabut tersibak perlahan memperlihatkan jalan setapak.
Hanya beberapa detik saja, dua orang itu sudah keluar dari Negri Tumenang, pada lembah luas yang dipenuhi dengan kabut berwarna putih kehitaman.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan, rencananya akan menghadang Prajamansara beserta pasukannya agak jauh dari kabut ilusi. “Kita tiba lebih awal, barangkali kau bisa membuat ranjau untuk menahan mereka?” ucap Patih Siruyu Citro.
__ADS_1