PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Siapa Aki ini


__ADS_3

Pria paruh baya, Sungsang Geni dapat menaksir kakek didepannya seumuran dengan Ki Alam Sakti. Wajahnya yang tua tidak terlihat keriput sedikitpun, menunjukan jika tenaga dalamnya sangat besar.


Meski matanya tertutup alis putih yang panjang, tapi sorotan matanya terlihat tajam. Pendekar Kelas tanding akan terkoyak keberaniannya oleh tatapan mata itu.


Angin yang berhembus kencang ikut menerpa seluruh rambut putihnya, membuat pria tua itu semakin terlihat berwibawa.


“Maafkan saya Ki, sungguh saya tidak berniat untuk datang ketempat ini. Hanya saja saya sedikit tersesat ketika sedang melihat-lihat kemegahan Surasena.” Ucapan Sungsang Geni nampaknya tidak membuat suasana pria itu tenang, bahkan sorot matanya malah semakin tajam.


“Tidak pernah ada orang yang datang ketempat ini!” ucap pria itu tegas, “Kau pasti berasal dari luar istana?”


“Benar Ki, aku adalah pengawal Putra Mahkota Dewangga dari Kerajaan Majangkara, dan untuk pertama kalinya aku menginjakan kaki disini.” Sungsang Geni menjelaskan, namun pria itu tidak menurunkan aura membunuhnya. “Ma’afkan saya jika mengganggu waktumu, jika dibolehkan saya akan pergi dari tempat ini.”


“Jadi kau seorang prajurit Majangkara?” tanya pria tua itu.


“Bisa dibilang demikian Ki.” Sungsang Geni menundukan kepalanya, “Hanya prajurit biasa yang tersesat di Isatana megah ini.”


“Kerajaan Majangkara terletak sangat jauh dari Surasena, tidak ada yang berani membawa Pangeran Mahkota ketempat ini jika tidak Ki Alam Sakti bersamanya.” Pria itu kemudian berdiri, lalu memandang Sungsang Geni dengan tajam , “Bagaimana kabar orang itu?”


“Eang Guru dalam keadan baik Ki.” Jawab Sungsang Geni.


Pria tua mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Sungsang Geni, dia beberapa kali memainkan janggutnya. Tampak berpikir. “Jadi dia gurumu?”


“Benar Ki?” jawab Sungsang Geni.


“Kalau begitu, tunjukan kepadakau teknik pedang awan berarak! Cabut pedangmu dan lawan aku, jika kau hanya omong kosong aku akan memenggal kepalamu.” Pria itu kemudian menarik sebuah pedang yang letaknya di atas pintu.


Sungsang Geni sangat terkejut, belum genap 2 hari dia berada di Surasena tapi sebuah masalah kini mulai mendatanginya. Harapannya untuk menikmati indahnya kerajaan Surasena sepertinya tidak akan berjalan baik.

__ADS_1


“Tunggu Ki! Kenapa tiba-tiba anda meminta saya melakukannya?” tanya Sungsang Geni. Keterkejutan menyelimuti wajah pemuda matahari itu.


“Anak muda, ada banyak para pendekar muda yang kutemui seperti dirimu. Mengaku-ngaku sebagai murid si A atau si B, tapi tentu saja mereka bukanlah murid para pendekar hebat itu. mereka hanya mengambil keuntungan.” Pria tua itu menjelaskan, semua perkataanya memang terdengar masuk akal, tapi sekali lagi Sungsang Geni tidak berniat untuk bertarung dengan Kakek aneh didepannya.


“Tapi aku memang benar-benar...”


“Kalau begitu tunjukan padaku!” dia segera memotong ucapan Sungsang Geni, “jika kau memang benar murid tua bangka itu, kenapa kau menajdi ragu?”


Sungsang Geni menarik napas dalam-dalam, nampaknya setiap masalah tidak akan dapat diselesaikan tanpa harus menarik pedang. “Baiklah Ki, jika itu memang keinginanmu.”


Terjadi pertarungan serius didekat sungai, Sungsang Geni merasakan kekutan lawannya berada pada level pendekar Tanpa Tanding.


Jurus pedangnnya juga sangat mematikan, beberapa kali pedang lawannya hampir mengenai tubuh Sungsang Geni. Meski Sungsang Geni menambah kecepatannya dengan bantuan jubah kilatan naga, tapi pria tua itu dapat mengimbanginya.


Mereka telah bertukar ratusan jurus hanya dalam beberapa menit saja, ini adalah lawan yang tangguh setelah Mahesa, namun karena sama-sama menggunakan pedang, Sungsang Geni sangat menikmati pertarungan ini.


Beberapa kali, Sungsang Geni dipaksa diposisi bertahan, mereka berdua silih berganti dalam melakukan serangan.


“Teknik pedang Aki ini, sangat mematikan!” ucap Sungsang Geni, “Tenaga dalam yang besar saja tidak akan cukup untuk menggerakan sebuah senjata seperti yang dilakukan Aki ini, siapa sebenarya dirinya?”


Beberapa kali pedang yang mereka berdua gunakan sama-sama bergetar saat beradu.


Sungsang Geni sekali lagi melesat secepat mungkin, berusaha menebaskan pedangnya ketika melihat sedikit celah.


Ketika pedangnya hampir saja mengenai lengan pria tua itu, tiba-tiba saja dia melihat pria itu tersenyum.


“Jebakan!” ucap Sungsang Geni.

__ADS_1


Sebuah pedang yang terbang sendiri, melesat dengan cepat menuju kepalanya, entah dari mana pedang itu berasal, tapi yang jelas pedang itu bergerak cepat menciptakan suara dengungan.


Sungsang Geni nyaris saja tertusuk. Jika saja dia terlambat setengah detik, untuk memutar seluruh tubuhnya, pastilah pedang itu telah merenggut nyawanya.


“Instingmu sangat bagus anak muda.” Pria tua itu berucap, nampaknya dia terkagum melihat kelihaian Sungsang Geni.


Namun disisi lain, Sungsang Geni terengah-engah napasnya. Serangan yang dilakakukan pria itu benar-benar membuatnya menguras tenaga dalam dengan jumlah besar.


Sungsang Geni sebenarnya tidak menyadari serangan itu. Dia bahkan tidak sempat berpikir untuk menghindar ataupun menangkis, jika bukan karena reflek tubuhnya yang terlatih, Sungsang Geni tidak akan mampu menghindarinya.


Setelah napasnya mulai membaik, Sungsang Geni baru menyadari ternyata ada sebuah pedang pendek berwarna hitam yang kini tergenggam ditangan kiri pria tua itu. ‘itu adalah pedang yang hapir saja membunuhku’


“Melihat kau bisa menghindari pedangku sepertinya kau memang murid Ki Alam Sakti. Tapi aku masih ingin menguji mu.” Pria itu kemudian segera mengayunkan pedang pendeknya, “cahaya penyucian.”


Tiba-tiba belasan pedang yang terbuat dari Cahaya menyerang Sungsang Geni dengan kecepatan tinggi.


Sungsang Geni melayang kebelakang dengan cepat, membuat seluruh cahaya yang menyerangnya hanya menebas tanah. “Jika bukan karena Jubah Kilatan Naga, serangan itu tidak dapat dihindari, setelah pulang aku harus menguasai ilmu meringankan tubuh secepatnya.”


“Apa yang kau pikirkan anak muda? beraninya kau melamun saat berhadapan dengan diriku!” Pria itu kemudian sekali lagi melancarkan serangannya, membuat tanah dipinggir sungai menjadi berlobang karena serangannya.


‘Aki ini, sepertinya dia tidak akan menahan diri. Setiap serangannya selalu saja nyaris mengenaiku. Tidak ada pilihan lain, jika jurus itu tidak berhasil nampakanya tidak ada cara lain selain menggunakan energi matahari.’ Sungsang Geni mengerti resiko dari membuat kekacauan di Wilayah Surasena, tapi dia tidak mungkin membiarkan tubuhnya menjadi lubang tusukan dari pedang Aki gila di depannya.


Sungsang Geni segera menarik kakinya kebelakang, melakukan gerakan-gerakan yang membuat Aki itu terpaku. “Tarian Dewa Angin!”


“Tarian Dewa Angin?” Pria itu terkejut melihat Sungsang Geni mulai mengeluarkan jurus terkuat pedang angin berarak. “Tunggu anak muda, jurus itu sangat berbahaya.”


Melihat pria tua didepannya telah menyarungkan pedangnya, membuat Sungsang Geni menghentikan jurusnya.

__ADS_1


“Aku mengetahui semua jurusmu, namun tidak kusangka kau mengusai tarian dewa angin dengan usia semuda ini.” Pria tua itu kemudian melambaikan tangannya, “Namamu pasti Sungsang Geni? Kemarilah, duduk didekatku!”


Untuk malam minggu, Author akan menyajikan capter yang sedikit banyak sebagai permintaan maaf karena telah apsen beberapa hari yang lalu.


__ADS_2