
Bukan hanya berjalan, mahluk itu juga bisa menciptakan sebuah senjata, sebuah celurit besar dengan gagang tongkat berwarna gelap. Itu seperti senjata malaikat maut ketika sedang mencabut nyawa.
Nampaknya mereka akan bertarung dengan jarak pendek, jadi itu bukanlah masalah bagi Sungsang Geni. Sebelum dia menciptakan satu pedang lagi, Sungsang Geni menggerakkan jari telunjuk pada mahluk yang sedang melawan Panglima Ireng.
Pedang energi itu berhasil menancap pada bagian kepala tepat sebelum kukunya menusuk mata Panglima Ireng.
"Gerrr...!" geram Srigala Itu.
Sekarang hanya tersisa dua mahluk hasrat, tidak! Bukan hanya dua, beberapa mahluk hasrat yang lain mulai mendekat, kekuatan mereka tidak terasa kuat tapi jumlah mereka mulai semakin bertambah banyak.
“Panglima Ireng!” pekik Sungsang Geni, “Kau bisa menahan mereka sedikit lebih lama?”
“Gerrr...” jawab Panglima Ireng kemudian mulai menyerang satu persatu mahluk hasrat yang berada di dekatnya.
Sementara Panglima Ireng sibuk mencicil, Sungsang Geni menyerang kedua mahluk paling kuat di depannya. Benturan pedang mulai menimbulkan percikan cahaya dan gelombang kejut bertenaga kecil.
Sungsang Geni bisa mengimbangi kecepatan mereka berdua saat ini. Ketika salah satu dari mereka melayangkan celurit besar kearah batang leher, Sungsang Geni menunduk dan menyisipkan tusukan cepat.
Tusukan pertama berhasil dihindari oleh mereka, tapi tusukan ke dua berhasil memotong lengan kanan mahluk itu. Bersamaan dengan putusnya lengan kanan, senjata celurit besar yang dia gunakan juga terjatuh, pada saat itulah Sungsang Geni bergerak cepat memanfaatkan celah yang ada.
“Bisikan dewa angin!” ucap Sungsang Geni.
Satu kepala tanggal dari leher dan kemudian lenyap seperti embun yang terkena panas. Sungsang Geni tidak menunggu lama, dia kembali menyerang mahluk yang tersisa, meski gerakannya tidak cukup cepat tanpa tenaga dalam, tapi mahluk itu bukan tandingan jika bertarung dalam jarak dekat.
Beberapa menit berlalu, kemudian beberapa menit lagi dan beberapa menit lagi. Pertarungan Sungsang Geni dengan mahluk itu telah memakan banyak jurus tapi sampai sekarang Sungsang Geni belum berhasil membunuhnya.
Nampaknya meski hanya tercipta dari penyakit hati manusia, para hasrat juga memiliki pikirannya sendiri.
Buktinya, sekarang hasrat yang dilawan Sungsang Geni mengubah kembali pola serangan dengan terbang di antara batang pohon.
__ADS_1
“Apa dia berniat mempermainkan aku?” Sungsang Geni merasa kesal saat ini, “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!”
2 pedang energi dilepaskan, tapi hanya satu yang berhasil dikendalikan Sungsang Geni. Padahal pemuda itu berharap bisa mengendalikan 2 atau 3 pedang, tapi rupanya hal itu bukan perkara mudah.
“Satu saja tidak masalah.” Ucap Sungsang Geni tersenyum kecil.
Dia menggerakkan jari telunjuknya, mengikuti gerakan lawannya di atas sana. Sekekali Sungsang Geni juga membantu Panglima Ireng kemudian kembali menyerang hasrat di celah-celah dahan rindang.
“Apa dia berniat melarikan diri?” ucap Sungsang Geni, menyadari bahwa hasrat yang dilawannya semakin menjauh, “Pergilah kembali ke sarangmu, dengan pedang ini aku bisa melihat dimana letak kalian.”
Panglima menghabisi musuh terakhirnya dengan cabikan taring dan koyakan kukunya yang tajam. Setelah musuhnya hilang, hewan itu menoleh ke arah Sungsang Geni dengan bangga kemudian mengaum dengan keras.
“Kerja bagus Panglima Ireng...” ucap Sungsang Geni kemudian tersenyum kecil.
Pedang Sungsang Geni sebenarnya masih mengejar hasrat yang melarikan diri, jadi pemuda itu sekarang tidak banyak bergerak dan terpaku ditempat. Dia harus berkonsentrasi penuh, atau pedang yang dia ciptakan akan segera lenyap.
Sungsang Geni tidak berniat membunuhnya dari tadi, karena ingin melihat sejauh mana dia bisa mengendalikan pedang energinya. Dan nampaknya cukup jauh.
Di tengah hutan itu ada sebuah telaga berwarna merah darah. Mahluk itu masuk kedalam telaga itu, dan menghilang. Tapi bukan hanya itu saja, puluhan mahluk juga keluar dari telaga yang sama.
Sungsang Geni dapat melihat dari pedang energi yang terhubung dengannya, jadi dia mencoba mengetahui lebih jauh dengan menancapkan pedang energi ke tengah telaga.
Ledakan keras terjadi, air telaga berhambur keluar dan puluhan hasrat yang baru saja keluar lenyap seketika. Dan pada saat yang sama Sungsang Geni mengetahui sesuatu, yang berkaitan dengan padepokan pedang bayangan.
“Mereka tidak tercipta dari kristal suci, tapi mereka tercipta untuk menghancurkan kristal suci.” Ucap sungsang Geni bergumam kecil.
***
Beberapa saat kemudian, mereka dikejutkan dengan gerak gemerisik dari dahan kayu di atas pohon. Namun tidak berlangsung lama, Sungsang Geni tersenyum kecil dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Kau membuat kami takut, paman!” ucap Sungsang Geni, “Sejak kapan kau berada diatas sana seperti seekor kera.”
Pramudhita terjun cepat ke permukaan tanah, “Aku mendengar bau pertarungan, jadi aku cepat-cepat datang ke sini, tapi nampaknya aku melewatkan pestanya..."
Sungsang Geni mengangguk kecil, menaikkan alis kemudian menoleh ke arah Srigala hitam besar dengan penuh makna.
Sungsang Geni memang tidak menyadari kedatangan Pramudhita sebab sibuk memfokuskan pedang energinya.Tapi dia yakin, pria kekar itu sudah melihat teknik pedang emas yang dia gunakan.
“Apa kau menguasai teknik pedang emas, jurus Pemburu Bayangan?” tanya Pramudhita, senyum di bibirnya tiba-tiba hilang berubah menjadi tatapan serius. “Meski aku tidak pernah melihatnya secara langsung, tapi ada banyak catatan yang kubaca mengenai musuh-musuh kami yang menyegel kitab pedang bayangan.”
“Aku baru tahu bahwa teknik itu dinamakan Pemburu Bayangan setelah aku menguasainya.” Ucap Sungsang Geni, tapi kali ini pemudua itu balik menatap Pramudhita dengan tajam, “Aku mempelajarinya setelah melihat seseorang menggunakan teknik ini, dan aku pikir itu hebat jadi aku mencoba menirunya.”
“Aku tahu kau tidak berbohong dengan ucapanmu.” Ucap Pramudhita, “Tapi aku tidak bisa mengetahui lebih jauh siapa dirimu, apa yang kau sembunyikan dan kenapa kau mengincar kitab pedang bayangan?”
Sungsang Geni menarik napas berat, dia berpikir untuk tidak mengatakan hal ini sebelum bisa menguasai pedang bayangan, tapi nampaknya menyembunyikan sesuatu dari pendekar sekelas Pramudhita bukanlah mudah.
“Aku akan menyatukan seluruh ilmu pedang yang ku pelajari,” ucap Sungsang Geni.
“Menyatukan seluruh ilmu pedang?” Tanya Pramudhita.
Nampaknya Pramudhita tidak mengetahui perihal teknik Pedang Sapuan Jagat yang digunakan Pendekar Sri Jaya Nasa. Itu artinya, rahasia dari orang itu juga di pendam di tempat ini seperti di Perguruan Bukit Emas dan juga PerguruanAawan Berarak.
Jika memang itu adalah rahasia, lalu kenapa Yunirda mengetahui hal itu? Sungsang Geni mulai berandai-andai. Instingnya mengatakan bahwa Yunirda adalah alat yang digunakan seseorang dari dunia ini.
“Seseorang diantara kalian adalah musuh.” Gumam Sungsang Geni tanpa menjawab pertanyaan Pramudhita, “Yunirda pergi ke dunia luar untuk mencuri jurus pedang emas dan juga pedang awan berarak, tapi misinya gagal karena terjebak oleh Kelelawar Iblis.”
“Anak muda kenapa kau berkata tidak jelas, apa yang kau maksud dengan menyatukan jurus pedang?” Pramudhita nampak seperti orang gila saat ini, saking kesal dan bingung. “Dan juga kenapa kau membawa nama saudaraku?”
“Aku perlu tempat untuk berbicara dan itu bukan di sini!” jawab Sungsang Geni.
__ADS_1
**Yo teman teman! Semalam server mungkin lagi kena masalah, jadi update terlambat. Mohon untuk dimaklumi.
Dan dukung terus PDM appun jenisnya, asal bukan corona. Semoga diberi kesehatan buat kita semua. Aamiin**.