PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Mereka berdua terpuruk di permukaan tanah dengan kasar, tapi demikian Sungsang Geni tidak membiarkan tubuh Cempaka Ayu terlepas dari dekapannya.


Dia tahu, bahwa tubuh wanita itu lebih rapuh dari tubuh siapapun meski memiliki tenaga dalam yang sangat besar.


Mereka baru terhenti setelah sekian puluh meter menyasar di tanah, setelah berhentipun Sungsang Geni masih mendekap Cempaka Ayu dengan erat meski beberapa kali darah keluar dari mulutnya.


“Geni!” Cempaka Ayu bersegera melepaskan pelukan, kemudian memangku wajah pemuda itu. “Aku disini, aku disini...aku tidak akan meninggalkan dirimu. Aku mohon bertahanlah!”


Sungsang Geni tersenyum kecil, menunjukkan giginya yang sudah merah karena darah. Tangannya yang kasar mulai meraba air mata yang selalu saja keluar dari wajah cantik gadis itu.


“Kenapa kau masih mengenaliku?” tanya Sungsang Geni.


Cempaka Ayu tersenyum pahit, suaranya terdengar parau dan napas yang tidak beraturan. “Aku akan selalu mengenalimu, tidak peduli kau berubah seperti apapun, tidak peduli jika kau berubah menjadi binatang melata, aku akan mengenali dirimu. Karena aku...aku mencintaimu...”


Ketika kalimat itu keluar, desiran angin seakan membelai seluruh tubuh Sungsang Geni. Aura panas yang keluar dari tubuhnya seakan padam beberapa saat, detak jantung yang lebih cepat dari sebelumnya dan napas yang tak beraturan tanpa disadarinya.


Pemuda itu hendak mengatakan sesuatu, sekarang mulutnya terasa kaku setelah mendengar perkataan dari gadis yang selalu saja datang ketika dia tidur. Gadis yang selalu datang ketika dia merenung, dan gadis yang selalu membuat perasaannya berdebar-debar.


Pemuda itu menekankan telapak tangannya ke tanah, kemudian berusaha berdiri tapi Cempaka Ayu tidak mengizinkan tindakan pemuda tersebut.


“Tenanglah! Aku tidak akan kalah dengan hal semacam ini, jika kau berada disini maka aku akan tersenyum di hadapan bahaya.” Sungsang Geni tersenyum kecil dan sekali lagi dia menyeka air mata yang berlinangan di wajah gadis cantik itu. “Karena kau adalah kekuatan, cahaya dan sumber energi bagiku. Itulah... ungkapan cintaku.”


Cempaka Ayu tertawa kecil mendengar perkataan yang keluar dari mulut Sungsang Geni. Dia menyeka air mata yang membasahi wajahnya. Benar yang Sungsang Geni katakan, ketika mereka bersama, 'Aku tersenyum dihadapan bahaya.'


Wajah gadis itu menjadi sangat merah, sudah sangat lama dia memendam perasaan dan hari ini perasaan itu tersampaikan. Betapa lega dirinya, juga betapa bahagia hatinya. Pemuda yang selama ini dia kagumi membalas cintanya.


“Geni, sekarang bahaya ada di depan mata!” Cempaka Ayu tersenyum kecil ke arah pemuda itu, kemudian menatap beberapa orang hebat dari Serikat Pendekar yang berdiri dengan aura membunuh yang tertuju pada Sungsang Geni.

__ADS_1


Dua diantara beberapa orang tersebut adalah Darma Cokro dan juga Maha Guru dari Merak Hijau Ki Lodro Sukmo. Sungsang Geni bisa merasakan kedua orang itu memiliki tingkatan yang berbeda dari Benggala Cokro.


Mereka terlihat memiliki tenaga dalam sebesar 3 jule, tapi dalam kondisi seperti ini Sungsang Geni akan kewalahan menghadapi mereka berdua.


“Kedatangan dirimu mencari perkara anak muda?” Ki Lodor Sukmo berkata geram.


“Cempaka Ayu kenapa kau bersama pemuda itu?” Darma Cokro bertanya dengan heran, satu-satunya alasan kenapa dia belum melancarkan serangan karena gadis itu bersama Sungsang Geni. “Menjauhlah darinya, usah kau melindungi pemuda itu karena kau akan terlibat lebih jauh lagi.”


“Kalian salah, aku tidak melindungi dirinya, tapi aku melindungi kalian dari amarahnya...” Cempaka Ayu berkata tegas, terlihat tidak ada keraguan dari nadanya.


“Tunggu...!” Sungsang Geni berjalan mendekati Darma Cokro yang masih menahan amarahnya. “Bukankah sudah kubilang kepada pemuda itu, kedatanganku ke sini untuk memberikan obat kepada Eyang Guruku Alam Sakti.”


“Kami tidak pernah mendengar ada murid Ki Alam Sakti berwajah seperti dirimu!” Ki Lodro Sukmo mencela. “Aku malah yakin kau adalah mata-mata dari Kelelawar Iblis yang berusaha membunuh Tua Bangka itu.”


“Ki Alam Sakti juga memiliki seorang murid selain dari keluarga Kerajaan...” Kali ini terdengar suara dari orang yang umurnya sekitar 30 tahunan berada di dekat Tenda Kerajaan Tombok Tebing, tidak lain adalah Patih Mahesa.


“Apa yang kau maksud Patih Mahesa?” tanya Darma Cokro. “Apa kau juga akan melindungi pemuda pembuat masalah itu?”


“Tentu saja, aku...tidak bukan hanya aku tapi seluruh pasukan dari Kerajaan Tombok Tebing akan melindungi rajanya yang telah kembali.” Dan seketika itu, 4 Senopati dari Kerajaan Tombok Tebing satu persatu bermunculan di belakang Sungsang Geni.


“Apa yang kalian maksud sebagai raja?” Ki Londro Sukmo bertanya.


“Dia adalah Sungsang Geni, raja dari Tombok Tebing yang sah.” Mahesa melanjutkan, meski dia tidak percaya wajah Sungsang Geni berubah drastis dari terakhir kali dia melihatnya, tapi aura dan energi pemuda itu sangat dikenalnya.


Mahesa adalah orang setelah Cempaka Ayu yang mengenal Sungsang Geni meski wajah pemuda telah berbeda.


Situasi di dataran tenda pengungsi Serikat Pendekar menjadi semakin tegang. Banyak pendekar-pendekar lemah yang lebih memilih menjauhi antara dua kubu tersebut. Sedangkan bagi pendekar-pendekar hebat mulai memihak salah satu diantara mereka.

__ADS_1


“Sebaiknya hal seperti ini tidak perlu diperpanjang!” Sabdo Jagat berjalan tepat di tengah, dia tidak memihak kepada siapapun tapi kedatangannya memberikan sebuah solusi.


“Pemuda ini adalah murid dari Ki Alam Sakti, maka wajar saja dia ingin menolong gurunya yang sedang terluka parah. Sedangkan kita tidak memiliki hak untuk mencegah seorang murid untuk menyelamatkan gurunya.”


Darma Cokro masih terlihat sangat marah, bagaimana tidak putra tercintanya sekarang harus dirawat oleh pendekar medis dengan luka yang cukup parah.


“Aku harus menolong guruku...setelah itu jika kalian memang berniat bertarung...” Sungsang Geni menatap Ki Lodro Sukmo yang paling bersemangat diantara yang lainnya, “Aku akan melayani kalian semuanya dengan senang hati.”


Darma Cokro terlihat menimbang rasa. Dia memang tidak pernah bertemu dengan orang yang bernama Sungsang Geni sebelumnya, jadi dia tidak begitu mengetahui watak pemuda itu selain dari apa yang orang ceritakan.


“Aku mengizinkan kau menjenguk Ki Alam Sakti...” Darma Cokro mengambil keputusan. “Tapi, aku tidak akan melupakan kejadian hari ini.”


Setelah mengatakan hal itu, Darma Cokro pergi lebih dahulu meninggalkan rombongannya. Ki Lodro Sukmo terlihat kesal dengan keputusan pimpinan Serikat Pendekar tersebut, tapi dia tidak bisa melakukan sesuatu.


“Jika saja Benggala Cokro adalah putraku, kau sudah lenyap hari ini!” dia menunjuk kearah Sungsang Geni, membuat Cempaka Ayu menjadi sangat geram.


“Cempaka, jangan memperkeruh keadaan...” ucap Sungsang Geni, menenangkan kekasihnya itu.


Pada akhirnya semua orang membubarkan diri satu persatu, sementara Sungsang Geni masih berdiri di tempatnya ditemani dengan Cempaka Ayu dan Mahesa.


“Paman Guru!” Sungsang Geni memanggil Sabdo Jagat yang berniat meninggalkannya. “Apa kau tidak mengingatku, karena wajahku seperti ini?”


Darma Cokro menarik napas berat. “Temuilah Sesepuh Ki Alam Sakti! Bukankah itu adalah tujuanmu?”


Sungsang Geni tidak berkata apapun, dia membiarkan Sabdo Jagat melangkah pergi dan melayang menuju tenda Lembah Ular.


“Dia mungkin sangat marah saat ini...” Sungsang Geni tidak melepas pandangannya pada Sosok Sabdo Jagat hingga orang itu masuk kedalam tenda berwarna hitam.

__ADS_1


“Hoi...selamat membaca ya!” Authorpun tersenyum kecil.


__ADS_2