
Tiga orang berjalan mendekati Sungsang Geni dengan dada kembang kempis serta napas yang tidak beraturan.
“ Jaka Geni, ada bahaya di depan sana!” Salah satu dari mereka berkata dengan terbata-bata.
Setelah mendengar hal itu Sungsang Geni tanpa menjawab perkataannya, segera terbang lebih dahulu menuju posisi depan. Hal itu diiringi oleh Brewok Hitam.
Kemampuan Brewok Hitam meski tidak dapat terbang seperti yang dilakukan Sungsang Geni, tapi ilmu meringankan tubuhnya cukup mumpuni membuat larinya 2 kali lebih cepat dari orang biasa.
Sungsang Geni melihat beberapa orang mengangkat tombak-tombak panjang dengan wajah-wajah bengis. Mereka tampak bukan pasukan Kelelawar Iblis tapi sepertinya juga bukan pihak Surasena.
“Jaka Geni, mereka ini adalah para bandit.” Salah seorang di dekat pemuda itu berbisik kecil.
Itu adalah golongan lain yang tidak memihak kepada Surasena atau juga Kelelawar Iblis. Umumnya mereka berasal dari perguruan kecil yang menempuh jalan lain untuk bertahan hidup.
Pandangan mereka terhadap kelemahan Surasena membuat golongan itu tidak berniat mengikuti tatanan pemerintahan. Mereka lebih memilih menjadi bandit gunung, mencuri makanan dari siapapun yang melintasi wilayah kekuasaan mereka.
Ada banyak perguruan kecil yang memiliki prinsip seperti ini. Bahkan jika digabungkan Mungkin bisa menyumbang sebesar 5% kekuatan untuk Surasena.
Pada saat krisis seperti ini, hal apa yang bisa dilakukan Kerajaan Surasena untuk mereka. Meski terdengar seperti pemberontakan, tapi itu hal yang lebih baik yang mereka pilih, setidaknya dengan cara itu ratusan orang yang mereka lindungi masih bertahan hidup.
Tapi sebenarnya para bandit itu tidak pernah berada pada satu wilayah dengan waktu yang sangat lama. Mereka berpindah-pindah, karena jika tidak prajurit Kelelawar Iblis yang sedang patroli mungkin menemukan mereka.
“Serahkan seluruh barang yang kalian bawa!” Printah pimpinan bandit itu. “Jika tidak kalian semua akan binasa?”
“Kalian akan membunuh semua orang ini?” tanya Sibondol. “Kejam sekali kalian semua.”
Mendengar perkataan itu, pimpinan bandit gunung tertawa terbahak-bahak. “Kasian? Di dunia yang sudah hampir hancur ini, kalian pikir sifat itu masih ada? Tidak, sifat itu telah hilang dari diri kami, dan karena itulah kami masih bisa bertahan hidup hingga sekarang.”
Tawa pria itu juga diiringi oleh gelak tawa teman-temannya yang lain. “Lebih baik jangan banyak cincong dan serahkan semua barang kalian baik-baik!”
Sungsang Geni menggelengkan kepala, situasi seperti inilah yang paling dia benci. Namun nampaknya tidak ada pilihan lain, beberapa pukulan mungkin bisa membuat mereka jera.
“Aku menolak permintaan kalian!” ucap Sungsang Geni.
__ADS_1
Seketika pemuda itu menyerang lebih dahulu dengan sarung pedang yang dia ambil dari salah satu para bandit itu. Mendapat serangan yang begitu cepat, semua bandit nyaris terpaku karena terkejut.
Pada saat yang sama, Sungsang Geni menghantam kepala mereka dengan sarung pedang membuat tubuh-tubuh pendekar itu melayang ke udara lalu mendarat kasar di permukaan tanah.
Tidak berhenti disitu, para bandit yang berusaha menikam Sungsang Geni secara bersamaan terpaksa menyerang angin. Dan yang mengagumkan adalah, pemuda itu bahkan bertengger beberapa saat di ujung-ujung mata pedang mereka.
Sebelum pada akhirnya, dia mendaratkan tamparan keras di pipi mereka dengan sarung pedang hingga pasukan itu tidak ada satupun yang bisa berdiri.
“Kau berani sekali melakukan ini kepada kami...” Pimpinan bandit berusaha berdiri, Sungsang Geni memberi isyarat agar jangan lagi melawan tapi pria itu masih melanjutkan niatnya.
Teng...teng...suara petikan kecapi tiba-tiba bergema menciptakan suara bergelombang tinggi yang memekakan para telinga.
“Tuanku bilang jangan melawan dasar bandit kurang ajar!” Seorang Bocah berjalan mendekati Sungsang Geni, tersenyum kecil ke arahnya kemudian kembali melotot memandangi bandit yang berusaha menutup telinga.
“Jika kalian tidak bisa menahan suara kecapiku.” Bocah itu melanjutkan, “maka jangan bermimpi bisa mengalahkan tuan pendekar ini!”
Sungsang Geni menaikkan alisnya, jika saja dia tidak melindungi telinganya dengan tenaga dalam suara petikan itu juga bisa membuat pendengarannya menjadi sakit sebab telinganya yang sensitif.
Setelah beberapa lama, bocah itu menghentikan perbuatannya. Beberapa para bandit itu tampak ada yang mengeluarkan darah dari lubang telinganya, serta yang lainnya masih kesulitan berdiri.
Semua bandit saling tatap beberapa kali, kemudian dengan serentak berlari tunggang langgang masuk ke dalam semak belukar meninggalkan seluruh senjata mereka.
Brewok Hitam berniat mengejar para bandit itu, tapi bocah kecapi malah menghentikannya. “Tuanku pendekar mengatakan, bukan seorang ksatria jika melawan musuh yang telah meninggalkan senjata. Itu bedanya kita dengan mereka.”
Brewok Hitam menoleh ke arah Sungsang Geni, setelah pemuda itu menggelengkan kepala dia jadi menghentikan niatnya mengejar para bandit tersebut.
“Bocah kecil, siapa namamu?” tanya Sungsang Geni, pemuda itu benar-benar dibuatnya kagum dengan permainan kecapi yang dilakukannya.
“Bentara, tuanku.” Bocah itu menundukkan kepala memberi hormat.
“Kau sungguh bocah yang berani Bentara. Apa kau tidak takut dengan mereka semua?”
“Tidak tuanku, itu karena kau pasti menolong jika mereka menyerangku.” Ucap Bocah itu polos.
__ADS_1
Sekali lagi Sungsang Geni tersenyum kecil sambil berjongkok hingga tubuhnya sejajar dengan bocah itu. “Dengarkan aku Bentara, keberanianmu patut mendapatkan acungan jempol. Jika kau bisa melatih kecapi kecilmu, aku yakin kau bisa menjadi pendekar hebat suatu saat nanti. Tapi jangan terlalu berani melawan musuh yang tidak bisa kau hadapi, karena nyawamu lebih berharga saat ini.”
“Ma'afkan aku tuanku, aku hanya...”
“Tidak usah dipikirkan, lain kali jangan membuat usaha paman-paman disana...” Sungsang Geni menunjuk para Kesatria Serikat Pendekar, “Membuat usaha mereka sia-sia karena kehilangan nyawa berhargamu.”
Setelah mengatakan hal itu Sungsang Geni meminta Brewok Hitam untuk kembali memimpin jalan sedangkan bocah itu tetap berdiri di dekat Sungsang Geni.
“Cucuku, mari kita lanjutkan perjalanan!” ucap Kakeknya yang datang mendekati Bentara.
“Aku akan tetap bersama tuanku pendekar.” Jawabnya Polos.
“Tapi...” sang Kakek melihat kearah Sungsang Geni karena takut pemuda itu menjadi marah dan terganggu atas sikap Bocah nakal tersebut.
“Biarkan dia bersamaku, Ki,” ucap Sungsang Geni. “Dia akan menjadi temanku di belakang sana.”
Dengan berat hati pada akhirnya kakek Bentara merelakan keinginan bocah itu mendampingi perjalanan Sungsang Geni.
Sekarang semua orang tampak tertib berjalan seperti sedia kala, hanya saja Sungsang Geni telah mendapatkan teman ngobrol di perjalanan panjang ini.
“Benatara ceritakan tentang dirimu!” Ucap Sungsang Geni. “Kau harus bercerita sambil memetik dawai kecapi itu.”
“Baik tuanku.” Bocah itu lalu bercerita mengenai semua tentang dirinya, bersama kecapi yang mengalun indah. Perjalanan berat ini terasa lebih berwarna ketika alunan kecapi menjadi penghibur para pengungsi.
Bentara adalah anak dari Adipati Winarna, pemimpin Kadipaten Panca Utara yang masih termasuk wilayah Kerajaan Pancala.
Bentara adalah putra tunggal di keluarga itu. Kadipaten Panca Utara sebenarnya terkenal dengan keahlian seni musik di Kerajaan Pancala.
Tidak hanya kecapi, mereka juga pandai memainkan seruling dan angklung. Kelihaian Bentara memainkan kecapi tentu juga bukan sebuah kebetulan. Ibunya yang bernama Wining Sari adalah seorang seniman hebat.
Wining Sari bahkan memiliki banyak murid yang di ajarinya dalam sebuah sanggar kesenian. Dan hal yang paling hebat adalah, Wining Sari memiliki kemampuan untuk menciptakan senjata dari alat musik yang dia gunakan.
Bentara banyak belajar dari ibunya. Dia mulai menguasai beberapa seni bertempur dengan kecapi miliknya. Hanya saja, untuk bocah seusia dirinya yang masih sedikit memiliki tenaga dalam belum bisa menunjukkan potensi terkuat dari kecapi tersebut.
__ADS_1
Namun demikian, sifat pemberani yang diturunkan sang ayah menempa Bentara menjadi bocah paling kuat di antara bocah seusia dirinya di Kerajaan Pancala. Tapi 6 bulan yang lalu.
“Aku melihat mereka membantai seluruh rakyat kami tepat di depan mataku.” Bentara berucap sambil bergetar, membuat petikan kecapinya terhenti.