PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Pada akhirnya Sungsang Geni kembali melihat koco paisan, untuk melihat seberapa besar perkembangan tenaga dalamnya saat ini. Kali ini dia hanya ditemani oleh Pramudhita dan juga Panglima Ireng yang menunggunya di luar Wihara Siwa.


Dengan mata yang telah buta, tentu saja percuma bagi Resi Irpanusa mengantar Sungsang Geni. Lagi pula, Resi itu sudah tahu sebesar apa tenaga dalam yang dimiliki Sungsang Geni.


“A'Apa yang terjadi dengan wajahku?” Sungsang Geni nyaris tidak mengenali bayangan yang ada didalam cermin, tapi itu adalah wajahnya tentu saja. Wajah itu sedikit, bukan sedikit tapi benar-benar berbeda dari wajah sebelumnya.


Kecuali 3 goresan luka, semuanya menjadi berubah. Sungsang Geni bahkan tidak terlalu peduli ketika dia sudah memiliki 7 bayangan di dalam cermin.


“Paman? Kenapa dengan wajahku?” Sungsang Geni membuka matanya lebar-lebar, seraya meraba-raba setiap sisi kulit di wajahnya.


“Apa kau tidak menyukainya? Bukankah itu lebih baik dari sebelumnya, dan tubuhmu terlihat lebih berisi sekarang.” goda Pramudhita, tidak bisa menahan tawa melihat tingkah Sungsang Geni.


“Kau tidak mengerti maksudku paman...”


“Ya, tentu saja aku mengerti!” sambung Pramudhita.


Pramudhita lantas menjelaskan secara garis besarnya. Ritual itu akan membuat struktur tulang dan otot manusia juga berkembang pada tingkat berbeda, sehingga terkadang berakibat pada perubahan tulang rahang dan tengkorak seseorang.


Namun perubahan semua orang tidak terlalu ketara sebab mereka melakukan ritual dengan waktu yang lama dan bertahap, sedangkan Sungsang Geni melakukannya hanya dengan dua kali ritual menggunakan sumber daya yang kuat.


“Apakah teman-temanku akan mengenaliku?”


“Kurasa tidak!”


“Oh Gusti, kenapa jadi begini...?”


Setelah cukup lama, Sungsang Geni memutuskan kembali dari Wihara Siwa dengan wajah kesal, meski sebenarnya perasaan riang memenuhi raut wajahnya. Tenaga dalam sebesar 7 jule membuat dia lebih kuat dari siapapun di tempat ini.


Untuk menguasai teknik sapuan jagat, tentu saja membutuhkan 9 jule tenaga dalam. Tapi jika hanya untuk menguasai ke tiga teknik pedang, tenaga dalam sebesar 7 jule sudah lebih dari cukup.


Selain perubahan pada struktur tulang wajahnya, ada beberapa lagi perubahan yang dirasakan Sungsang Geni. Yang pertama, matanya lebih tajam dari sebelumnya, dia bahkan bisa melihat satu lalat kecil terbang pada jarak 100 meter.


Pada jarak sejauh itu, Sungsang Geni bisa melepaskan pisau kecilnya untuk memotong satu sayap lalat. Tatapan pemuda itu menjadi lebih tajam, mungkin setajam burung elang atau mungkin lebih tajam lagi.


Hal kedua yang dia rasakan adalah, pemuda itu benar-benar menguasai cakra ajna miliknya. Sebenarnya ke tujuh cakra pemuda itu sudah terbuka, tapi cakra ajna adalah sesuatu yang paling dinantinya.

__ADS_1


Memang tidak bisa melihat energi gaib seperti Cempaka Ayu, tapi pemuda itu bisa merasakan dan mendengar apapun yang semua orang rasakan. Dia bisa membaca pikiran semua orang, termasuk Pramudhita.


Dan ketika dia membaca pikiran pria itu, wajah Sungsang Geni menjadi berseri-seri. 'Paman ini bahkan lebih bahagia daripada diriku sendiri, mendapati tenaga dalamku meningkat sejauh ini.'


Ketika masih terbuai dalam lamunan, Sungsang Geni tiba-tiba dikejutkan oleh Panglima Ireng, srigala itu menggeram beberapa saat kemudian menyodorkan kepalanya ke wajah Sungsang Geni.


“Dari mana saja dirimu, Ireng?” tanya Sungsang Geni, “Oh, apa kau mencuri makanan dari pedagang di sana?”


“Gerr...”


“Aku tidak percaya mereka memberimu begitu saja, kau mungkin sedang berbohong!”


“Gerrr”


“Baiklah aku percaya denganmu, jangan marah!


Sekali lagi dia merasa aneh, Sungsang Geni bahkan bisa merasakan perasaan binatang itu. Dia juga bisa merasakan pikiran ayam yang berkeliaran di sepanjang pekarangan rumah orang, beberapa ekor cicak dan juga burung-burung kecil yang bernyanyi.


Perasaan-perasaan itu muncul begitu saja, kemudian hilang seperti semilir angin yang berlalu. Untuk beberapa waktu Sungsang Geni hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, meski Pramudhita sekekali menegurnya.


Perasaan itu jelas sangat mengganggu dirinya, bagaimana tidak? Ketika dia berniat menyembelih seekor rusa, tapi akhirnya dia merasakan apa yang rusa itu rasakan.


“Apa yang kau katakan?” timpal Pramudhita heran.


“Oh, tidak ada paman, lupakan saja!”


“Ya, mungkin akan ada banyak perubahan dalam hidupmu mulai hari ini.” Sambung Pramudhita, menyadari kegusaran yang tergambar di raut wajah pemuda asing itu. "Tapi nanti kau akan terbiasa!"


***


Keesokan harinya, Sungsang Geni diantar oleh Resi Irpanusa dan beberapa pendekar yang lain keluar dari gerbang Padepokan Pedang Bayangan, tujuannya sudah pasti, mengambil kitab pedang bayangan di dalam goa gunung semeru.


Sungsang Geni telah memikirkannya semalaman panjang, dan keputusannya untuk pergi mengambil kitab itu nampaknya tidak dapat lagi ditunda. Dia telah hilang dari dunia luar hampir 20 hari lamanya, atau mungkin lebih.


Selama itu, mungkin ada beberapa kejadian yang telah dilewatkan. Ketika dia mengingat mengenai Kelelawar Iblis, perasaan pemuda itu menjadi tidak tenang.

__ADS_1


“Geni,” ucap Resi Irpanusa, “Berhati-hatilah! Aku tidak bisa mengatakan apapun saat ini, selain mendoakan agar keinginanmu tercapai.”


“Doamu lebih aku butuhkan dari apapun, Guru!” Sungsang Geni menundukkan kepala, memberi hormat.


“Aku akan mengantarmu...!”


“Tidak perlu paman!” sanggah Sungsang Geni, ketika Pramudhita berniat mengantar dirinya, “Aku sudah pernah melihat gunung itu, biarkan Panglima Ireng ikut bersama denganku.”


Pramudhita menarik napas berat, dia sudah menduga pemuda itu menolak penawarannya. Tapi tidak menduga jika Sungsang Geni berniat membawa Panglima Ireng dalam perjalanannya.


“Nampaknya Srigala hitamku sudah memiliki tuan baru!” ucap Pramudhita, mendekati Panglima Ireng dan mengelus moncong hidungnya yang hitam, “Bersikaplah baik dengannya! Apa kau mengerti?”


“Ger...gerr...”


Setelah berpamitan, Sungsang Geni dan Panglima Ireng pergi meninggalkan gerbang Padepokan Pedang Bayangan. Sekarang ada banyak pendekar yang berteriak di belakang sana, memberi ucapan selamat dan salam perpisahan.


“Apa mereka berpikir aku tidak akan kembali lagi?” Sungsang Geni tertawa kecil, “Tapi mungkin akan membutuhkan usaha yang cukup keras, mendapatkan kitab tersebut.”


“Ger...ger...” ucap Panglima Ireng.


“Tentu saja, kita tidak akan takut dengan rintangan yang menghadang.”


“Gerr...gerr...”


Setelah beberapa menit, akhirnya Sungsang Geni hilang dari pandangan semua orang, pemuda itu beserta teman hewannya sudah memasuki hutan kayu mati.


Pramudhita adalah orang yang terakhir beranjak dari tempatnya, setelah semua orang pergi kembali melakukan aktifitas mereka masing-masing. “Semoga kau baik-baik saja pemuda asing...”


Beberapa jam kemudian, Sungsang Geni dan Panglima Ireng telah meninggalkan hutan kayu mati dan mulai memasuki hutan kehidupan bercahaya terang.


Perjalanan kali ini lebih tenang dari sebelumnya, tidak ada lagi suara mahluk hasrat yang menggema di telinga. Beberapa ekor binatang buas yang mereka temui juga enggan mengganggu.


Pada saat yang sama, Panglima Ireng berjalan lebih congkak dari biasanya. Srigala itu tahu persis tidak akan ada binatang yang sanggup menyakitinya, jikapun ada maka Sungsang Geni tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


“Gerr...” geram Panglima Ireng, membuat seekor Singa lari tunggang langgang.

__ADS_1


Sungsang Geni tersenyum kecil, “Sekarang geramanmu itu benar-benar menakutkan, Ireng!”


Hemmm.....? Selamat membaca aja, semoga teman teman suka.


__ADS_2