PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Istana Laut Dalam


__ADS_3

Sungsang Geni terjaga setelah lima hari empat malam tidak sadarkan diri. Ada lilitan perban yang membelenggu ruang geraknya, sehingga pemuda itu kesulitan menentukan dimana dirinya sekarang. Ketika dia hendak berdiri, rasa sakit di pundaknya memaksa dia menghentikan niat tersebut.


“Kau sudah sadar...?” Terdengar suara serak seorang gadis, ketika pemuda itu menoleh ke samping, dua gadis yang jelas dia kenal sedang berdiri di dekat dirinya.


“Cempaka Ayu? Wulandari?” tanya pemuda itu sedikit tidak percaya dengan pandangannya sendiri. “Bagaimana mungkin kalian? Aw...di mana ini?”


Seingat Sungsang Geni, Wulandari sedang meraga Sukma ke dalam alam bawah sadar Cempka Ayu. Mungkinkah dia saat ini sedang berada di alam bawah sadar mereka? tidak mungkin, pikir pemuda itu.


Sungsang Geni menyapukan pandangan di sekitarnya, ada banyak ikan terbang di atas langit-langit bangunan. Gila, bangunan di tempat ini mungkin terbuat dari kaca. Jelas ini di dalam laut, cahaya di sini begitu terang, Sungsang Geni tidak tahu hal apa yang membuat dasar laut begitu bercahaya.


Seekor gurita besar berjalan merayap di atas, besarnya mungkin dua kali gubuk Wulandari. Banyak ubur-ubur yang menghiasi tempat itu, beberapa ikan terlihat bermata putih dengan gigi-giginya yang tajam.


Tentu saja ini adalah Istana Laut Dalam, dimana pemuda itu sekarang berada terbaring bersama teman-temannya.


Tidak selang beberapa lama setelah dia tersadar, panglima ireng menggeram kecil di atas pembaringan mewah, dengan lilitan perban yang lebih banyak dari pemuda itu. Tepat di bagian kepalanya, ada sebelas lilitan perban, kaki mungkin juga telah patah.


“Ireng, kau terlihat menyedihkan...” Sungsang Geni berkata lirih, begitu kasihannya dia melihat keadaan sahabatnya itu.


Serigala itu barangkali sedang meringis atau pula tersenyum kecil, karana dia menyunggingkan taring-taring tajam ke arah pemuda tersebut.


“Komandan pertama, Topeng Beracun?” Sungsang Geni baru saja tersadar, seingatnya dia terkena serangan komandan pertama yang berbentuk seperti pedang turun dari langit. Benar sekali, kenapa tiba-tiba sekarang berada di tempat ini.


“Beruntung sekali, kami berhasil datang tepat waktu.” Terdengar suara serak di depan pintu. “Jika terlambat satu detik saja, mungkin kau sudah mati ditangan pria itu.”


“Paman Pramudhita?” tanya Sungsang Geni. “Aw...aw...”


Pramudhita duduk di tepi ranjang Sungsang Geni yang terbuat dari bahan kerang berkualitas terbaik. Pembaringan itu dipenuhi dengan tirai sutra berwarna hijau, bantal empuk yang entah terbuat dari apa. Hanya saja semua hal di tempat ini identik dengan warna seorang gadis. Di dekat permadani itu, sebuah meja bulat terbuat dari batu giok hijau dengan aneka makanan di atasnya.


“Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya!” ucap Sungsang Geni.


Pramudhita lantas menuturkan semua yang dia lihat, ketika senjata seperti pedang besar itu datang dari langit.


Kebetulan Pramudhita berniat mengetahui kondisi Cempaka Ayu. Alangkah terkejut Pramudhita, hal tak terduga malah terjadi di depan matanya, Sungsang Geni dalam kondisi gawat.


Sebelum mata pedang dari langit benar-benar membunuhnya, pria itu secepat mungkin menyelamatkan Sungsang Geni. Tidak ada yang menyadari kedatangan pria itu, mungkin saja karena dia masih berwujud mahluk halus. Sehingga ada untungnya, kedatangan dia tidak tercium oleh mereka.


“Aku tidak terlalu pahaman, tapi bagaimana dengan kalian berdua?” Sungsang Geni melirik kearah Cempaka Ayu dan Wulandari. Sayang sekali, wajah Wulandari terlihat murung seolah dia baru saja kehilangan sesuatu.


“Mereka baru saja sadar dua hari yang lalu...aku pikir Cempaka Ayu tidak akan kembali. Sebelumnya gadis itu berada ditangan Topeng Beracun. Beruntung sekali posisi mereka sedikit lebih dekat kearah pantai, sehingga para saudara naga bisa merebut tubuhnya dan berhasil melarikan diri.”


Sungsang Geni tidak tahu harus mengatakan apa saat ini, kecuali berpikir bahwa takdir masih berpihak kepada mereka.


“Pada saat itu...” ucap Wulandari. “Terdapat guncangan keras di alam bawah sadar Cempaka Ayu, sebuah hentakan yang sangat keras membuat benda-benda di sekitar kami retak dan pecah. Pada saat yang sama, kami melihat wanita berpakaian putih meringis kesakitan. Mungkin itu adalah Dewi Bulan”


“Dia berusaha mencegah tindakan kami, hampir membelenggu kami di alam itu, hingga tiba-tiba dunia terasa menjadi redup. Wanita itu terangkat sendirinya, seolah ada sesuatu yang menarik dia keluar dari alam bawah sadar.”


“Mungkin yang dimaksud oleh Wulandari adalah, Dewi Bulan berhasil di tarik keluar dari dalam tubuh Cempaka Ayu,” ujar Pramudhita. “Ketika aku menemui mereka, situasinya sudah sangat mengerikan. Pria dengan topeng hitam itu, seperti sedang menghisap sesuatu dari tubuh Cempaka Ayu.”


“Kekuatan Dewi Bulan, ini benar-benar buruk...” Sungsang Geni membayangkan bagaimana jika Kegelapan sepenuhnya bangkit di atas dunia ini, jelas tidak ada harapan untuk bisa mengalahkannya.

__ADS_1


“Tapi Dewi Bulan tidak sepenuhnya hilang...” ucap Cempaka Ayu. “Aku masih bisa merasakannya. Hanya saja sedikit lebih lemah, barangkali jika dia benar-benar diambil dari tubuhku aku pun akan ikut mati, paling tidak mengalami kelumpuhan karena tampaknya kami juga saling terhubung.”


Dewi Bulan tampaknya sudah sangat nyaman berada di dalam tubuh Cempaka Ayu. Ketika dia dipaksa keluar, barangkali dia tahu akan lenyap.


Jadi wanita bermata putih itu mencoba sekuat tenaga untuk bertahan di dalam tubuh Cempaka Ayu. Demikian penjelasan singkat dari Wulandari.


“Mungkin maksudnya adalah, setengah kekuatan Dewi Bulan berhasil di hisap oleh Topeng Beracun.” Ujar Pramudhita. “Apa mungkin hal semacam itu bisa terjadi? Aku tidak terlalu mengerti, ini sedikit membuat kepalaku sakit.”


“Semuanya terasa begitu cepat, tapi tidak pernah terbayangkan oleh kami, rupanya waktu di alam nyata begitu lama. Padahal yang kurasakan mungkin hanya beberapa menit saja.” Wulandari menoleh ke arah Cempaka Ayu. “Kami masih bisa bertahan hidup, mungkin pula karena energi matahari yang kau salurkan.”


Sungsang Geni mendesah berat, tidak terlalu mengerti dengan kondisi yang terjadi. Tapi satu hal yang membuat dia cukup lega adalah, Cempaka Ayu dan Wulandari selamat. Bukan hanya itu, setelah melihat keterangan dari dua gadis itu, sepertinya kekuatan Dewi Bulan tidak sepenuhnya terhisap. Dan ini cukup melegakan perasaannya.


“Hanya saja, demi melindungi tubuh dua gadis ini. Saraswati mengorbankan dirinya.” Sambung Pramudhita, dan tentulah karena ini alasan kenapa Wulandari terlihat sangat murung.


“Aku sungguh menyesal, ma'afkan aku,” ucap Sungsang Geni. “Jika saja aku cukup kuat untuk melawan mereka, tentu hal ini tidak akan terjadi.”


“Kondisimu sedang tidak baik saat itu, jangan terlalu menyalahkan dirimu. Kau terlalu banyak menguras energi untuk dua gadis ini, dan kebetulan sekali dia datang dengan dua bawahannya yang kuat.”


Tidak selang beberapa lama, seorang gadis datang dengan membawa rantang yang berisi obat-obatan. Ada banyak jenis tumbuhan laut dan binatang laut yang tidak diketahui oleh pemuda itu.


Nagini tersenyum kecil kearah Sungsang Geni, sedikit tidak mempedulikan dua gadis yang tiba-tiba berwajah merah karena tindakan dirinya.


“Geni, aku membawakan ramuan untuk dirimu.” Nagini bahkan tanpa meminta izin membuka satu buah kerang merah yang didalamnya terdapat seperti lendir berwarna hijau, dia melumuri bagian bahu pemuda itu yang terluka parah. “Ini akan menghilangkan rasa sakitnya, kau harus istirahat setelah ini! Aku akan menyiapkan makanan untukmu.”


Pramudhita menelan senyum pahit, menundukkan kepala melirik adik iparnya itu kemudian berganti melirik ke arah Cempaka Ayu dan Wulandari. Ini akan menjadi pertarungan yang cukup sengit, pertarungan perasaan. Pikir pria itu.


Pemuda itu berjalan perlahan, Panglima Ireng masih tidur di pembaringan dengan ditemani beberapa gadis pelayan. Untuk beberapa hari kedepan, srigala itu laksana raja karena selalu mendapat pelayanan yang baik.


Ketika dia melihat pada kursi panjang tepat di pinggir Istana yang diyakininya mirip seperti gelembung udara berukuran besar, dua gadis duduk berdua. Wulandari dan Cempaka Ayu. Sedikit lega rasanya, dua gadis itu menjadi sahabat.


Memasuki alam bawah sadar seseorang nampaknya membuat Wulandari juga mengetahui semua kenangan yang pernah dilalui Cempaka Ayu. Beberapa kenangan itu mengisahkan dia dengan Sungsang Geni, dan tentu ini membuat hatinya sedikit sakit tapi juga lega dan senang.


Tidak berniat mengganggu mereka berdua, Sungsang Geni lebih memilih pergi ke tempat lain. Namun kali ini, tepat di depannya satu lagi gadis cantik yang mungkin akan menjadi musuh dua gadis di atas bangku, sedang tersenyum kecil ke arah pemuda itu.


“Aku mencarimu kesegala tempat.” Ucap Nagini, membawa satu mangkuk bubur berwarna hijau yang terlihat sedikit aneh di mata pemuda itu. “Aku membawakan makan paling nikmat di Negri ini, aku sendiri yang membuatnya. Ini dinamakan sup rumput laut, rumput laut paling nikmat yang hanya ada di dalam laut yang dalam.”


“Terima kasih banyak...” ucap Sungsang Geni.


“Geni!” Tiba-tiba Pramudhita muncul dari belakang Nagini. “Seseorang ingin bertemu denganmu.”


Sungsang Geni mengernyitkan kening, meletakkan sup rumput laut di telapak tangan Nagini kemudian bergegas mengiringi Pramudhita.


“Tapi supnya...” Nagini bedecak kesal, Pramudhita datang pada saat yang tidak tepat, pikirnya.


***


Sekarang pemuda itu berada di sebuah aula besar dengan cahaya warna warni yang menyinari tempat itu. Di tengah aula itu, terlihat dua orang sedang berbincang-bincang, rupanya Resi Irpanusa dan Nogo Sosro. Kedatangan Resi Irpanusa nampaknya berkaitan dengan hal buruk yang menimpa pemuda itu.


“Resi, Paman Nogo...” Sungsang Geni membungkukkan tubuh, memberi hormat.

__ADS_1


“Geni...” Suara Resi Irpanusa terlihat berat lagi parau. “Bagaimana keadaan dirimu sekarang, apa pundakmu sudah lebih baik?”


“Keadaanku sudah lumayan baik Resi, hanya saja belum terlalu bisa bergerak bebas.”


“Kedatanganku ke sini, hanya ingin melihat secara langsung keadaanmu. Kabar mengenai hal buruk yang menimpamu membuat geger Padepokan Pedang Bayangan. Beberapa orang tidak percaya kau dikalahkan oleh musuhmu.”


Sungsang Geni hanya tersenyum pahit, rupanya teman-temannya di Gunung Semeru begitu khawatir terhadap kondisi dirinya.


“Kemarilah, duduk di dekatku...” ucap Resi Irpanusa. “Biar kulihat lukamu.”


Sungsang Geni hanya menurut saja, duduk membelakangi Resi Irpanusa. Beberapa saat kemudian, pak tua itu membuka perban yang membalut di pundak dan tubuh pemuda matahari itu.


“Lukamu benar-benar parah, Geni. Barangkali jika ini dialami oleh orang lain, dia pasti akan mati seketika.”


Resi Irpanusa mengeluarkan sesuatu dari pakaian berbulu dombanya, sebuah botol kecil dari batu. Dari dalam botol itu, ada semacam cairan kental yang beraroma tajam seperti rempah-rempahan.


Baru saja terkena sedikit, Wajah Sungsang Geni semerah bara. Dia menahan pedih dan sakit luar biasa. Geretak gigi geraham terdengar, tangannya mengepal kuat hingga peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya hanya dalam hitungan menit.


Resi Irpanusa menyalurkan tenaga dalam bercampur energi alam untuk pemuda itu. beberapa lama, darah hitam kental keluar dari mulutnya. Berbau busuk, seperti bangkai. Sungsang Geni terkulai lemas setelah Resi itu mengobatinya.


“Ini adalah racun kegelapan...” ucap Resi Irpanusa, meminta Pramudhita menyiapkan wadah lagi, karena sepertinya masih amat banyak racun kegelapan yang bersemayan di dalam tubuhnya.


Benar saja, setelah tiga kali menyalurkan energi, Resi Irpanusa mendapati Sungsang Geni muntah darah lebih banyak dari yang pertama. Muntahan terakhir berbentuk darah hitam yang bergumpal dengan asap tipis dan bau sangit, seperti bau daging terbakar.”


“Aku sudah mengeluarkan semua racun yang ada di alam tubuhmu,” ucap Resi Irpanusa, menghela nafas lega. “Dengan tenaga dalam saja, aku tidak akan bisa mengeluarkan racun itu. Beruntung kitab pedang bayangan yang kau berikan sudah kupelajari sepenuhnya, sehingga dapat menghimpun energi alam.”


“Kau sudah menyelamatkan hidupku, Resi...” Sungsang Geni berbalik badan, memberi hormat sekali lagi kepada pria tua itu. “Aku tidak tahu jika senjatanya memiliki racun.”


“Aku sudah mempelajari kabar mengenai keadaan di dunia manusia.” Resi Irpanusa menoleh kearah Nogo Sosro. “Seperti yang di katakan Pramudhita, musuhmu mendapatkan setengah kekuatan dari Dewi Bulan. Itu sangat bahaya, ketika kegelapan lahir, bukan hanya alam manusia yang akan mendapatkan hal buruk, tapi alam lelembut akan medapatkannya pula.”


“Jadi Geni, kami berdua sudah sepakat akan membantumu menghadapi perang melawan Kegelapan itu.” Ucap Nogo Sosro. “Ini akan menjadi perang terakhir, tapi sebelum hal itu terjadi kita harus menyiapkan segala sesuatu dengan sangat matang.”


“Kau harus bisa menyempurnakan Teknik Pedang Sapuan Jagat, Geni.” Ucap Resi Irpanusa. “Hanya itulah satu-satunya cara agar kau bisa melawan kegelapan saat ini, dia semakin kuat saja setiap waktunya. Dan hal paling buruk mungkin saja terjadi.”


“Apa itu Rsi?” Pamudhita mengernyitkan kening, seolah tidak pula paham mengenai hal paling buruk yang terjadi, karena menurutnya inilah hal paling buruk itu.


“Kami pikir, orang yang bernama Tpeng Bracun hanya merupakan wadah saja. Musuh sebenarnya adalah mahluk gaib yang selalu menginang tubuhnya, kondisi ini seperti Cempaka Ayu yang dikendalikan Dewi Bulan. Tampaknya Iblis kegelapan juga berniat mengambil alih tubuh Topeng Beracun. Selama ini dia menahan diri karena tubuh pria itu, mungkin belum cukup kuat menahan kekuatannya.”


Perkataan Resi Irpanusa terdengar masuk akal. Setelah mendapatkan setengah kekuatan dari Dewi Bulan, barangkali kekuatan Topeng Beracun sekitar 75 bagian, atau 80 bagian. Itu jelas lebih kuat dari sebelumnya, tapi sebelum sempurna kegelapan bisa dikalahkan.


Peluang untuk menang masih terbuka lebar, tentu saja jika Sungsang Geni berhasil menyempurnakan Teknik Sapuan Jagat seperti yang di ucapkan Resi Irpanusa.


“Tapi bagaimana cara menyempurnakan teknik itu?” tanya Sungsang Geni. “Kita tahu bahwa tidak ada kitab yang mempelajari Teknik Pedang Sapuan jagat.”


Resi Irpanusa tersenyum kecil, menepuk pelan pundak Sungsang Geni. “Bukankah jika kau berhasil menyempurnakan tiga teknik pedang maka Teknik Pedang Sapuan Jagat dapat dipelajari dengan sendirinya?”


Resi Irpanusa menyodorkan sebuah buku kecil, sebuah catatan yang mungkin dapat membantu perkembangan Sungsang Geni. “Aku sudah mempelajari teknik Pedang Awan Berarak, serta hubungannya dengan Teknik Sapuan Jagat. Ini hanya kemungkinan saja, tapi perlu kita coba.”


Maaf ya, author beberapa hari ini agak hiatus. Jadi banyak typo...otak lagi jenuh.

__ADS_1


__ADS_2