PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Balas Dendam


__ADS_3

Sebuah teriakan membuat pendekar yang dipimpin Jelatang Biru menjadi semangat. Itu adalah Ratih Perindu dan Siko Danur Jaya, mereka berdua entah kenapa tiba-tiba saja telah memisahkan diri dari kelompok Sungsang Geni dan Cempaka Ayu.


“Guru, kami datang membantu!” ucap Siko Danur Jaya, “Kau fokuslah bertarung dengan pria pincang itu! Biarkan kami menghadapi para mayat hidup ini.”


“Siko, kenapa kalian meninggalkan Sungsang Geni?”


“Kami tidak meninggalkan mereka berdua, Guru Jelatang Biru.” Jawab Ratih Perindu, “tapi mereka yang meninggalkan kami, sekarang kelompok Kelelawar Iblis di sisi utara sudah habis tak tersisa, mereka berdua bukan manusia.”


“Apa maksudmu, bukan manusia?” tanya Guru Jelatang Biru.


“Manusia tidak akan bisa membunuh ratusan orang hanya dengan gerakan telunjuk, Sungsang Geni! pemuda itu bukan manusia biasa Guru.”


Jelatang Biru bernapas lega mengetahui dua orang itu telah berhasil melumpuhkan sisi utara Kelelawar Iblis, dan nampaknya mereka akan bergerak ke sisi barat, dimana bubuk setan tidak bisa menjangkau wilayah itu.


“Ada pesan dari Sungsang Geni, lumpuhkan terlebih dahulu manusianya, karena mayat hidup mengikuti perintah dari orang yang memimpin mereka.” Ucap Ratih Perindu, “Konsepnya, mereka bergerak seperti lebah yang menuruti printah ratunya.”


Jelatang Biru tersentak, dia tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya. Itulah kenapa dari setiap mayat hidup setidaknya ada satu manusia bersama mereka, ini akan sedikit lebih mudah dari sebelumnya. Pikir pria itu.


“Baiklah semuanya dengarkan! hancurkan seluruh manusianya terlebih dahulu!” Teriak Jelatang Biru, “Ini baru rencana bagus, sial kau Geni. Kenapa baru sekarang memberi tahu kami.”


Mata Setan tidak membiarkan lebih lama orang-orang di depannya berdiskusi, bukan hanya terlihat mengganggu pemandangan tapi juga terasa merendahkan dirinya. Jadi dia segera melepas 3 pisau menyerang Jelatang Biru.


“Diam kau, pria cacat.” Ratih Perindu menghantam tanah, seketika retakan besar mengarah pada Mata Setan, membuat pria itu kesulitan berdiri dengan satu kakinya.


Kesempatan ini tidak di buang oleh Jelatang Biru, dia melempar 4 jarum kearah pria itu, tapi Mata Setan bisa menghindarinya.


Namun, serangan selanjutnya bukanlah jarum beracun kali ini Jelatang Biru melesat dengan cepat dan berhasil mendaratkan tendangan pada dada pria itu, membuat Mata Setan terhempas keras.

__ADS_1


“Apa kau merasakannya, pria sialan?” hardik Ratih Perindu.


“Kalian berdua segera habisi 'ratu lebah' jangan biarkan mereka berbuat sesuka hati!” Printah Jelatang Biru kepada Siko Danur Jaya dan Ratih Perindu.


Sekarang sudah banyak mayat yang bergelimpangan, baik dipihak Lembah Ular ataupun dari Kelelawar Iblis. Tapi kematian dari lembah ular lebih banyak dari musuhnya.


Saat ini Jelatang Biru bisa menaksir Lembah Ular yang dia pimpinnya hanya berjumlah 200 orang atau kurang.


Sangat berbeda dari Kelelawar Iblis yang masih berjumlah 450 orang. Namun kedatangan Siko Danur Jaya dan Ratih perindu cukup membantu, semoga saja bisa membalikan keadaan.


Apalagi juru kepak pembelah bumi yang dimiliki Ratih Perindu, meski menguras tenaga dalam besar, tapi gadis itu telah berhasil mengubur puluhan mayat hidup kedalam liang tanah yang dia ciptakan.


Hanya dalam beberapa menit saja, keadaannya sekarang mulai berimbang. Sedangkan Siko Danur Jaya, dia mulai menghabisi manusia yang terlihat lebih lemah darinya. Pemuda itu tidak ingin menyerang lebih dekat, atau resiko di kepung musuh lebih besar.


Jadi dia melepaskan jarum beracun, sambil bersembunyi diantara prajurit yang lain. Pada jarak yang cukup jauh, pemuda itu terlihat kesulitan bernapas. Semakin jauh jangkauan jarum, semakin besar pula tenaga dalam yang dikeluarkan.


“Kakang Siko merunduk!” teriak Ratih Perindu ketika salah seorang dari lawan berniat memenggal kepalanya.


“Dinda terima kasih!” ucap Siko Danur Jaya.


Di sisi lain, pertarungan Jelatang Biru dengan Mata Setan mulai naik pada level atas. Sekarang mereka berdua mulai mengeluarkan beberapa jurus dan teknik kelas tinggi. Belum ada yang terlihat berdarah dari mereka berdua.


Tapi Jelatang Biru mulai kesulitan menghindari serangan, dia terlalu banyak menguras tenaga dalamnya untuk mengimbangi kecepatan pisau Mata Setan.


Jelatang Biru mulai memutar otaknya, mencari cara agar salah satu jarum miliknya bisa mengenai tubuh Mata Setan. Tidak perlu banyak jarum, cukup satu saja pada titik vital dan pertarungan ini akan segera selesai.


Namun sejauh ini serangan mereka berdua menggunakan teknik sama yaitu serangan jarak jauh, Jelatang Biru tidak memiliki kemampuan untuk bertarung jarak dekat.

__ADS_1


Padahal saat ini, menurutnya serangan jarak dekat paling efektif menghadapi musuh yang kehilangan kaki satunya.


“Jika Gentar Bumi berada disini, pria buta dan berkaki satu merepotkan ini pasti sudah lama wafat.”gumam Jelatang Biru diselah-selah jarum yang dia lepaskan. “Tidak, tidak, aku harus memiliki keberanian untuk mendekat, sedikit keberanian.”


Jelatang Biru kembali melepaskan beberapa jarum beracun, tapi kali ini dia tidak menggunakan jarum dengan racun kuat. Dia berusaha mencari celah sambil menyerang.


Namun tanpa diduga, Mata Setan mengeluarkan 2 lagi pisau kecil dengan warna kemerahan. Dia sangat yakin, dengan 5 buah pisau yang dia gunakan akan lebih mudah membunuh Jelatang Biru.


Lima Pisau menyerang secara bertubi-tubi, kali ini lebih cepat dengan pola tidak menentu membuat Jelatang Biru mulai terdesak.


Namun ketika salah satu serangan hampir saja mengenai Jelatang Biru itu, seorang lelaki tiba-tiba meluncur ke arahnya dan berhasil mendaratkan tendangan tepat di perut guru Lembah Ular itu.


Serangan yang sangat kuat, membuat Jelatang Biru terpental puluhan meter dan mendarat di antara mayat yang bergelempangan. Tidak disangkanya ada salah seorang dari mereka memiliki kemampuan cukup hebat.


“Uhuk...Uhuk...” Jelatang Biru mengeluarkan darah segar di ujung bibirnya, dia berusaha berdiri namun tiba-tiba sebuah pisau melesat kearah kakinya. “AHK...!


Pekikan keras terdengar dari mulut pria itu, Siko Danur Jaya bergegas menghampiri gurunya dengan wajah panik. “Guru, guru!”


“Ah...! teriakan dirimu bahkan lebih keras dari diriku, Jelatang Biru!” Mata Setan tertawa cekikikan, dirinya sekarang berasa diatas angin, “Sekarang aku telah mengambil salah satu dari kakimu, seperti yang kau lakukan pada diriku. Bukannya aku dendam, aku hanya ingin melihat wajah menyedihkan dari dirimu sebelum dewa kematian datang.”


Di sebelah Mata Setan sekarang telah berdiri pemuda yang baru saja mendaratkan serangan telak pada ulu hati Jelatang Biru, pemuda itu terlihat seumuran dengan Siko Danur Jaya. Namun dia nampakanya lebih kuat, terasa aura hitam di tubuhnya lebih pekat dari kelompok Kelelawar Iblis lain di bawah komando Mata Setan.


“Kerja bagus, kau menyerang pada saat yang tepat!” ucap Mata Setan..


“Tidak masalah, lagipula aku telah berniat melakukan hal ini sejak lama. Pria dengan jarum beracun itu, telah membunuh ayahku lima tahun yang lalu, dan akan aku pastikan kematian dirinya hari ini.”


“Tidak ada yang boleh membunuhnya selain aku!” Bentak Mata Setan.

__ADS_1


“Ma'afkan aku, tentu saja anda yang lebih berhak membunuhnya.” Ucap pemuda itu dingin, “Jadi bolehkah aku membunuh pemuda yang bersama dirinya? kulihat dia menggunakan teknik yang sama dengan Jelatang Biru.”


“Kalau begitu, lakukan sesuka dirimu!”


__ADS_2