PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Jarum Beracun


__ADS_3

Malam yang dingin berubah panas dan gerah, cahaya gelap sekarang berubah menjadi merah karena api yang membumbung tinggi seakan berusaha menjilat langit tanpa bintang.


Banduwati mencengkram cawan arak karena kesal dengan Mata Setan. Harusnya wakil komandan itu lebih dahulu tahu jika ada pihak yang akan menyerang mereka, dengan begitu mereka punya persiapan untuk bertahan.


“Jika matamu mulai tidak berguna, sebaiknya tanggalkan saja dari kepalamu!” Banduwati menampar Mata Setan dengan keras. “Saat ini aku tidak peduli dengan cara apapun, hentikan mereka...! Sekarang!”


5 wakil komandan bergerak buru-buru dari kediaman mereka diiringi dengan ratusan pendekar pilih tanding di belakangnya. Mata Setan masih meringis, tamparan dari Banduwati dipenuhi energi hitam membuat kelima jari wanita itu mengukir di wajahnya.


“Laporkan situasinya!” salah satu dari wakil komandan berjulukan Srigala Hitam bertanya pada bawahannya yang terlihat pucat, “Cepat katakan, atau kau akan bunuh!”


“Mereka...mereka menyerang kita dari tiga arah!” pria itu berkata terbata-bata, “Tapi serangan dari depan, kami tidak tahu pusaka apa yang mereka gunakan tapi serangan itu datang bertubi-tubi, sekarang hampir 1000 orang mayat hidup terbakar dalam kobaran api!”


“Kurang ajar, Empu Pelak dalang dibalik semua ini. Jika saja kita berhasil mendapatkan pria itu dari mereka, situasinya tidak akan sesulit ini.” Srigala Hitam mencakar salah satu tiang bangunan hingga runtuh.


Mata Setan berjalan menuju sisi tengah, bagaimanapun dendamnya kepada Guru Jelatang Biru semakin membara. Dia melihat pria itu memimpin para pendekar di barisan depan dan terpisah dengan beberapa guru yang lain, ini adalah kesempatan bagus menurutnya.


Jadi Mata Setan tanpa peduli lagi dengan wakil komandan yang lain, segera membawa 100 bawahannya menyerang Guru Jelatang Biru.


Wakil Komandan yang lain semakin menghardik Mata Setan, tapi pria itu menjadi keras kepala. Dia tidak bisa terima, Guru Jelatang Biru mengambil salah satu pergelangan kakinya, dan karena itu pula sekarang dia berjalan dengan bantuan tongkat kayu.


“Apa yang akan dia lakukan?” salah satu dari wakil komandan Srigala Hitam bertanya, “Dia adalah pusat informasi, seharusnya berada dibelakang!”


“Biarkan dia mencari ajalnya.” Jawab temannya, “Kami berdua akan menyerang sisi kanan dan kalian berdua menyerang sisi kiri, Sekarang saatnya untuk menunjukkan kepada mereka keputus asa'an.”


***


Sejauh ini belum menemukan hambatan berarti, Sungsang Geni, Cempaka Ayu dan kedua temannya menyicil jumlah mereka sebanyak mungkin. Sungsang Geni masih mengirit tenaga dalamnya, pertarungan yang sebenarnya belum dimulai.

__ADS_1


Ratusan puing-puing bangunan melayang di udara, lalu menderu dengan cepat memecahkan kepala dan menembus jantung mereka. Cempaka Ayu tampak lebih banyak menghabisi jumlah mayat hidup dibanding ke dua temannya.


Tapi Siko Danur Jaya patut diberi pujian, pemuda itu mulai beradaptasi dengan bau darah dan daging yang menggosong meski ini adalah pertempuran pertamanya. Pria itu selalu berada di sisi Ratih Perindu, menjaga kekasihnya dan menyerang balik.


Namun tiba-tiba, pemuda itu terpental beberapa puluh meter ke belakang. 3 orang pendekar berada pada puncak pilih tanding memanfaatkan situasi untuk menyerang pemuda itu dengan telak.


“Kakang Siko!” Ratih Perindu segera menghampiri kekasihnya, sekarang ada darah mengalir dari ujung bibir pemuda itu, “Apa kau baik-baik saja? Bangunlah, ini bukan masalah besar?”


Sikko Danur Jaya berdiri dengan kesusahan, benar ini bukan masalah besar. “Kita tidak boleh membuat Cempaka Ayu dan Sungsang Geni khawatir!”


Ratih Perindu kembali menatap Cempaka Ayu dari kejauhan, wanita itu dari tadi tidak pernah jauh dari Sungsang Geni. mereka berdua seakan badai yang tidak terhadang. “Benar, Kakang Siko kita tidak bisa terus-terusan meminta bantuan mereka, sekarang kita hadapi para mayat hidup itu bersama-sama.”


“Mayat hidup, Bodoh!” salah satu dari tiga orang itu tertawa kecil, “Kami adalah manusia, dan sekarang kami akan membunuh kalian, dan menjadikannya mayat hidup.”


3 orang itu sering dijuluki tiga belalang sembah, sebenarnya ada banyak yang lebih hebat dari mereka di bawah wakil komandan Kelelawar Iblis, tapi teknik menggunakan celurit gabungan tiga orang itu sangat berbahaya.


“Mengerikan, wanita yang benar-benar mengerikan!” pria yang dijuluki Belalang Sembah Biru tertawa kecil, “Sayang sekali jika gadis sepertimu akan menjadi mayat hidup, sayang sekali. Tapi sebelum itu, bisakah kami mencicipi tubuhmu?”


Tiga jarum melayang dengan cepat dibalik api dan asap yang membumbung tinggi, hampir saja jarum itu mengenai pria tu jika bukan Belalang Sembah Putih menyelamatkan rekannya.


“Jangan bermimpi kalian bisa mengambil gadisku!” ucap Siko Danur Jaya.


“Jarum beracun, pria ini murid dari orang yang telah membuat wakil komandan kita kehilangan kakinya.” Belalang Sembah Kuning terlihat waspada.


“Tidak masalah kenapa kau merasa takut? Kita bisa membawa kepalanya sebagai piala untuk wakil Komandan Mata Setan.” Ujar Belalang Sembah Putih.


Siko Danur Jaya kembali melepaskan jarum beracun miliknya, ukurannya yang kecil dan berada pada suasana gelap membuat senjata itu sangat efektif digunakan. 3 orang Belalang Sembah kesulitan menghadapi serangan itu.

__ADS_1


Pada saat yang sama, Ratih Perindu melancarkan kapak besarnya. Dan , berhasil, kapak itu mendarat pada bagian kaki Belalang Sembah Putih, pria itu terpental 10 meter jauhnya dengan kaki terkoyak dalam.


“AHKKKK...!” Pria sombong itu berteriak kesakitan, lukanya sekarang menampakkan tulang belulang yang remuk, “Bagaimana mungkin, harusnya aku bisa menghindari serangan itu dengan mudah?”


Siko Danur Jaya tersenyum kecil, “Kau tidak sadar telah terkena salah satu jarum milikku yang paling kecil, racun itu memang tidak berbahaya tapi dapat menimbulkan kaku pada setiap ototmu.”


“Ini adalah teknik kombinasi milik kami, jika saja wanita itu ada disini!” yang dimaksud Ratih Perindu adalah Cempaka Ayu, “Dia yang akan mengakhiri kalian...”


“Ratih!” Bentak Siko Danur Jaya, “Sekarang ini pertarungan kita, tidak ada urusannya dengan Cempaka Ayu. Kita telah dibayangi dengan kekuatannya, sekarang sudah saatnya kita menunjukan kemampuan kita tanpa Cempaka Ayu.”


Ratih Perindu mengerti maksud dari Siko Danur Jaya, jadi dia tidak membahas mengenai Cempaka Ayu lebih panjang. Ini adalah pertarungan mereka berdua.


“Sekarang, kau mungkin terlihat seperti wakil komandanmu, siapa namanya? Ma...mata Setan?” Siko Danur Jaya tersenyum kecil lalu meludah ke tanah.


“Kurang ajar, kami tidak akan memafkan dirimu!” ucap Belalang Sembah Hijau.


Kemudian sekali lagi terjadi pertarungan sengit diantara mereka, tapi sekarang situasinya sedikit lain, Belalang Sembah Putih tidak lagi mampu berbuat apa-apa membuat pertarungan ini terasa adil.


Dalam beberapa menit saja, telah terjadi pertukaran ratusan jurus dan ini tidak begitu baik bagi Siko Danur Jaya. Jarumnya akan cepat habis sebelum membunuh lawannya.


Namun tiba-tiba di saat pertarungan semakin menuju puncaknya, mereka dikejutkan dengan aura membunuh yang pekat dari balik api yang berkobar hampir saja membuat ke lima orang itu kesulitan saat bernapas.


“Tampaknya wakil komandan Srigala Hitam telah menemukan lawannya.”


Terima kasih kk, nampaknya malam ini PDM akan masuk 20 besar.


Trima kasih karena sudah mendukung dg vote sebanyak ini, author bener bener terharu. Tapi jangan kapok ya... Wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2