
Sungsang Geni bergegas menarik kitab pedang bayangan, tapi rupanya akar yang melilit tidak mau melepaskan kitab itu. Dia berusaha cukup keras, melepaskan setiap simpul yang membelit, tapi seperti apapun usahanya, akar itu lebih kuat dari yang dia duga.
Sementara itu, magma sudah mulai melelehkan bebatuan disekitar tempat itu. Membuat suasana mulai pengap, nampaknya oksigen juga sudah bercampur racun belerang.
Di kekalutan tersebut, lengan Sungsang Geni bercahaya terang, dan tanpa sadar mengeluarkan sebilah pedang.
“Kenapa aku tidak memotong saja akar-akar ini?” pemuda itu bergumam.
Dengan ketajaman pedang, pada akhirnya akar-akar yang melilit kitab dapat dipotong. Setelah demikian, Sungsang Geni tanpa berpikir panjang segera mengambil kitab itu. Untuk sebuah kitab, rupanya benda itu cukup berat.
Setelah kitab berada ditangannya, warna kusam dan hitam mulai merekah berganti dengan cahaya berwarna bening yang terang dan menampakkan sampul kitab yang sesungguhnya.
Pada saat yang sama, tiga patung trimurti bergerak perlahan membentuk posisi semula pada setengah melingkar. Sementara aliran magma mulai berhenti meluap dan kembali menyurut tanpa sempat menyentuh altar pemujaan. Hal itu membuat perasaan Sungsang Geni menjadi lega tapi juga dipenuhi rasa keheranan.
Jika bukan karena memiliki pedang energi di tangannya, mungkin dia tidak akan sanggup memutuskan akar yang bersimpul pada kitab pedang bayangan.
Nampaknya hanya para pendekar dari pedang bayangan yang bisa mengambil kitab itu. Alasannya? Sebab seluruh benda berbentuk logam tiba-tiba melekat di dasar altar, yang artinya pedang yang terbuat dari logam tidak dapat digunakan karena pengaruh medan magnet yang sangat kuat.
Beruntung Sungsang Geni bisa mengeluarkan pedang energi dari telapak tangannya, sehingga hari ini dia masih hidup.
“Itu tadi benar-benar menakutkan...”
Belum sempat pemuda itu menyelesaikan kalimatnya, cahaya terang tiba-tiba keluar tepat dari kening ketiga patung dewa trimurit berwarna putih yang berpijar-pijar menghangatkan tubuh Sungsang Geni.
Cahaya itu kemudian keluar, hingga berbentuk seperti 3 buah kristal. Nampaknya itu adalah kristal suci yang dibicarakan oleh pendekar pedang bayangan, pikir Sungsang Geni.
Setelah ketiga benda itu keluar dari patung dewa trimurti, mereka berputar-putar cukup lama.
__ADS_1
Sungsang Geni tidak mengetahui kenapa benda itu berputar-putar namun kemudian, ketiga kristal bercahaya itu menembus langit-langit goa.
Tiga kristal suci masih berputar putar dia atas gunung semeru, bahkan cahaya terangnya bisa dilihat dari Padepokan Pedang Bayangan. Beberapa orang merasa merinding melihat penampakan itu.
Panglima Ireng melolong beberapa kali, di ikuti dengan teriakan beberapa ekor binatang yang juga melihatnya.
“Resi apa kau mengetahui tiga benda yang terbang di atas puncak Mahameru?” tanya Pramudhita, menghampiri Resi Irpanusa yang terpejam sambil tersenyum kecil.
“Itulah tiga kristal suci!” jawab Resi Irpanusa. “Rupanya pemuda itu telah berhasil mengambil kitab pedang bayangan!”
Pramudhita nyaris tidak percaya, bukan hanya dirinya saja bahkan Tabib Nurmanik juga tidak bisa menghilangkan keterkejutan di wajahnya.
Mereka memang percaya bahwa Sungsang Geni bisa mengambil kitab itu, tapi tidak dengan waktu sesingkat ini. Ya, mereka berpikir mungkin butuh 1 atau 2 minggu bagi Sungsang Geni mendapatkan kitab itu.
“Apa itu artinya, segel dunia kita akan hilang Resi?” tanya Pramudhita lagi.
Resi Irpanusa mengangguk pelan, tapi dia menjelaskan sesuatu yang membuat semua orang disitu menggigit bibir pahit.
Bukan hanya itu saja, semua tumbuhan yang memiliki energi kehidupan juga akan lenyap seketika. Dan satu hal yang membuat Pramudhita sedikit kecewa adalah, dunia mereka tetap menjadi dunia yang berada di alam gaib.
Tentu saja itu adalah kenyataan yang pahit, tapi memang benar itulah adanya. Kitab pedang bayangan memang di segel di dunia gaib, dunia yang berbeda dengan tempat tinggal manusia pada umumnya. Sebab itulah kitab pedang bayangan tidak dapat ditemukan oleh manusia.
Dengan hilangnya belenggu kristal suci, bukan berarti dunia mereka akan menjadi nyata. Hanya saja, saat ini setiap pendekar bisa keluar menuju dunia luar dengan merubah bentuk tubuh mereka menjadi mahluk lain. Itu adalah syarat agar mereka bisa keluar dari tempat ini.
Mungkin nantinya mereka akan keluar dengan bentuk seekor harimau, atau mungkin ular.
Menangkap kesedihan yang tergambar di benak para muridnya, Resi Irpanusa mengatakan sesuatu yang membuat mereka cukup senang.
__ADS_1
“Lenyapnya segel kristal suci mungkin tidak bisa membawa kita ke dunia luar, tapi percayalah dunia kita juga memiliki tetangga...”
“Apa maksud Resi?” tanya Pramudhita.
“Setelah segel kristal suci lenyap, maka akan lenyap pula tabir yang menghalangi kita dengan dunia gaib disekitar Wilayah ini."
Pramudhita masih belum mengerti begitu pula dengan pendekar yang lainnya. "Apa maksudnya kita tidak sendirian, Resi?"
Sebenarnya Padepokan Pedang Bayangan juga terhubung dengan dunia gaib di dasar danau Ranu Kumbolo. Sebuah Istana megah berada di pintu masuk Padepokan Pedang Bayangan tersebut. Penghuninya tentu saja sama seperti mereka.
Mereka juga tidak bisa keluar menuju alam nyata, kecuali jika mereka mewujudkan diri menjadi ular naga atau juga ikan emas.
"Jadi karena belenggu kristal suci, Padepokan Pedang Bayangan bahkan hilang dari dunia gaib sekalipun?" sambung Tabib Nurmanik, yang mulai menangkap maksud dari Resi Irpanusa.
"Itulah kebenarannya..." jawab Resi Irpanusa. "Tapi sekarang keberadaan kita sudah dapat diketahui, oleh tetangga kita. Dan percayalah, dunia kita bahkan lebih luas dari dunia nyata."
Kebenaranya adalah, hanya pemilik pertama kitab pedang bayangan yang merupakan manusia. Dan murid pertama yang dia latih adalah bangsa jin, karena itulah tiada yang tahu bahwa dia memiliki murid sebelum kematiannya.
***
Beberapa waktu kemudian ketiga kristal suci tadi naik ke atas langit dan pada saat yang sama sesuatu seperti tabir mulai terangkat mengikuti benda itu, lalu lenyap di angkasa raya.
Bersamaan dengan itu, kabut hitam di hutan kayu mati tiba-tiba lenyap, pohon-pohon tanpa daun disana menampakkan wujudnya. Cahaya terang juga mulai merambah ke bagian hutan itu, sementara struktur tumbuhan di hutan kehidupan berubah menjadi hutan pada umumnya.
Dengan hilangnya segel tiga kristal suci, sekarang mereka bisa melihat beberapa istana gaib yang menjadi tetangga mereka.
"Mengetahui kita tidak sendiri benar-benar melegakan..." ucap Pramudhita.
__ADS_1
Mungkin dia ditakdirkan untuk terus hidup di dunia gaib tapi itu bukan masalah, sekarang mereka bisa bertemu dengan orang-orang lain tanpa perlu memasuki alam manusia.
Dan ketika memang dia memang berniat keluar ke dunia nyata, mungkin menjadi seekor srigala adalah pilihan terbaik. Nampaknya pria itu tetap berniat melihat bagaimana kehidupan manusia di dunia nyata, seperti apa bangsa Sungsang Geni.