PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang


__ADS_3

Wira Mangkubumi tidak langsung kembali menuju kediamannya. Pria itu berdiri sendiri menatap ribuan prajurit Swarnadwipa yang sedang melakukan banyak pekerjaan.


Wajah pria itu tidak begitu bahagia, saat ini dia tidak yakin bisa kembali lagi ke Swarnadwipa dan berkumpul kembali dengan istri dan putranya.


Setelah beberapa hari dia berada ditempat ini, pria itu bahkan tidak bertemu dengan adik iparnya, Sungsang Geni. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan, atau sekedar berbagi kegundahan hati dan rasa rindu terhadap putranya.


“Arak!” Tiba-tiba seorang menepuk pundak pria itu, menjagakannya dari lamunan panjang.


“Darma Cokro?” Wira Mangkubumi tersenyum kecil, berusaha bersikap setenang mungkin, tapi raut wajah sendunya tetap tidak bisa di sembunyikan dari mata Darma Cokro.


“Ini adalah arak terbaik untuk saat ini, aku sengaja membawanya untukmu...” Berbasa-basi Darma Cokro.


“Terima kasih...” Wira Mangkubumi menyambut kendi kecil yang disodorkan Darma Cokro.


“Wajahmu sangat kacau, teman. tapi aku tidak berniat mengetahui apa penyebabnya.” Darma Cokro menghembus napas berat sambil tersenyum kecil. “Tapi terkadang aku berpikir, apakah aku bisa mati dengan tenang, bertemu dengan istri dan orang tuaku.”


“Kita tidak akan mati.” Wira Mangkubumi bergumam kecil. “Perang ini akan kita menangkan.”


"Bagaimana caranya?"


***


“Kita harus meninggalkan tempat ini...” Wira Mangkubumi memberikan saran pada Lakunig Banyu. “Buat seolah-olah tempat ini sudah kosong tidak berpenghuni, biarkan mereka masuk ke dalam markas.”


“Apa maksud perkataanmu...?” Menimpali Ki Lodro Sukmo, dia nyaris menaikkan nada suaranya tanpa memandang Lakuning Banyu.


“Jika kita ingin menang, tinggalkan tempat ini! Biarkan mereka masuk, buat perangkap yang menjebak, kita akan membumi hanguskan tempat ini bersama dengan mereka di dalamnya.”


“Taktik macam apa itu?” menimpali lagi Ki Lodro Sukmo. “Ma'afkan aku, tapi bukankah sesuatu yang sangat lucu, membiarkan musuh masuk ke dalam rumah kita, dan kita malah pergi seperti orang pengecut.”


“Bangunan ini akan menghancurkan mereka semua.”


“Aku setuju,” lanjut Lakuning Banyu. “Kita akan mengubur semua orang di tempat ini, bersama dengan benteng yang sudah lama membelenggu kita.”

__ADS_1


Darma Cokro menggaruk kepala, kening mengernyit. Darma Guru hanya manggut-manggut tanda setuju, sementara sesepuh yang lain , meskti tidak begitu setuju terpaksa ikut juga mengiyakan.


“Aku serahkan rencana ini kepadamu.” Lakuning Banyu menunjuk Wira Mangkubumi.


Setelah keputusan itu disahkan, Wira Mangkubumi meminta semua orang menyiapkan ranjau di dalam hutan, dan juga di dalam tembok. Meski demikian, Wira Mangkubumi tetap meminta beberapa orang melakukan perlawanan dari atas tembok.


Para pemanah harus berjaga di atas tembok, mereka adalah para pendekar yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup mumpuni. Setidaknya bisa menghindari dan melarikan diri atas serangan yang mengarah kepada mereka.


Para prajurit Surasena mengumpulkan banyak minyak yang mereka dapatkan dari kelapa, jarak hutan serta apapun yang bisa menghasilkan minyak. Kelak minyak itu akan diletakkan pada posisi yang strategis.


Andai saja ada bubuk setan, benda itulah yang paling bagus untuk menjebak musuh hingga luluh lanta.


***


Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba, sekarang mulai terdengar derap kaki para penunggang kuda. Juga derap kaki para prajurit yang berteriak-teriak, seperti orang kesetanan.


Semua rencana yang dibuat oleh Wira Mangkubumi sudah dilaksanakan. Hanya ada beberapa ratus orang berdiri diatas tembok kayu, dengan menggunakan panah-panah yang dilumuri dengan minyak.


Hanya saja Wira Mangkubumi tidak sanggup memecahkan bahan untuk membuat Bubuk Setan yang bisa meledak. Namun demikian, dengan adanya kereta iblis yang bisa memuntahkan 50 anak panah dalam sekali serang, mereka memiliki cukup kekuatan.


Ki Lodro Sukmo dan Darma Guru merupakan salah satu diantara ratusan pemanah itu.


Sementara itu semua prajurit Surasena sudah pergi dari tempat itu, meperhatikan pergerakan dari kejauhan.


Grap...grap...grap...suara rentak kaki musuh datang mendekat.


Kemudian terdengar teriakan keras. “SERANG!”


Gelombang pertama pasukan musuh datang laksana badai yang tiada terbendung, tidak kurang 5 ribu pasukan.


“Lepaskan kereta iblis!” Ki Lodro Sukmo berteriak keras.


Seketika ribuan anak panah melesat dengan cepat, melaju menembus angin dan mendarat pada musuh.

__ADS_1


“Angkat prisai hitam!” Berteriak pula salah satu dari pemimpin pasukan itu.


Ribuan orang mengangkat prisai dari logam keras ke arah langit, dan alhasil panah-panah yang tertuju pada mereka dapat dihalau dengan mudah. Namun demikian, beberapa puluh anak panah masih sempat melewati sela-sela prisai.


Puluhan orang berteriak kesakitan, mereka terkena lengan, dada dan bahkan kepala.


Tidak goyah sedikitpun, musuh bergerak maju mendekati markas Surasena, dengan tameng-tameng masih menghadap ke arah langit. Kemudian gelombang kedua maju pula, mereka tampaknya adalah para pemanah handal.


“Jatuhkan mereka!” berteriak lagi musuh.


Ratusan anak panah melesat ke atas, tepatnya pada ratusan orang yang berdiri di atas tembok Surasena. Ki Lodro Sukmo tersenyum kecil, sejauh ini dia tidak melihat orang-orang hebat di dalam pasukan itu.


“Mereka cukup pintar.” Kakek tua itu bergumam kecil, lalu meludah ke bawah sambil menangkap satu anak panah yang berhasil menjangkau tempatnya. “Panah seperti ini tidak akan bisa mengalahkan kami.”


“Serang!” Darma Guru berteriak pula, lalu serangan kedua dari kereta iblis kembali menghambur di udara.


“Mereka sudah dekat...” Ki Lodro Sukmo memberi isyarat kepada Darma Guru. “Gunakan senjatamu!”


Darma Guru mengeluarkan dua pedang dari sarungnya, salah satu pedang berwarna hitam yang dapat dikendalikan hanya dengan jari-jemari. Pedang hitam itu kemudian di lumuri dengan minyak kelapa bercampur minya jarak, lalu terbakar membara.


Dengan gerakan satu jari telunjuknya, pedang hitam melayang dengan cepat membawa api melintasi ribuan musuh yang tampak keheranan. Kemudian pedang itu menancap ke tanah yang yang berkecah.


Sebuah parit kecil yang dipenuhi dengan cairan kental dan licin, minyak kelapa dan juga macam-macam ranting kering serta minyak lain yang sudah mereka olah. Cukup lama pedang hitam menancap, hingga akhirnya api mulai menjalar dan berkobar.


Bentuk parit seperti lingkaran sarang laba-laba jika di perhatikan dengan seksama, dan semuanya dipenuhi dengan minyak. Wira Mangkubumi membutuhkan ribuan kelapa untuk membuat minyak itu, dan berhasil mendapatkan hampir 20 tong minyak.


“Mereka berniat memanggang kita.” Berteriak lagi pemimpin pasukan itu, sekarang mereka manjadi sedikit panik padahal api belum menyambar tubuh mereka.


“Api yang kita ciptakan tidak akan terlalu besar, tapi mental mereka bisa jatuh hanya karena itu.” Bergumam kecil Wira Mangkubumi dari kejauhan.


Dan perkataan pria itu rupanya terbukti, musuh tanpa sadar menurunkan tameng dan membuat celah bagi kereta iblis untuk menghabisi mereka.


“SERANG!”Perintah Ki Lodro Sukmo. “Habisi mereka!”

__ADS_1


__ADS_2