
Sungsang Geni menghadapai serangan bertubi-tubi sekarang. Bukan hanya ketujuh komandan Kelelawar Iblis itu menyulitkannya, tapi pasukan mayat hidup tak henti-hentinya datang menyerang.
Sekarang terlihat lautan mayat di tempat itu, Sungsang Geni masih berusaha pergi dari sana menyusul Cempaka Ayu, tapi tindakannya tidak mendapat angin segar dari ketujuh Komandan Kelelawar Iblis.
“Masuk ke dalam wilayah kami, kau hanya akan keluar setelah menjadi seperti mereka!” salah satu Komandan Bertubuh Kerdil dengan dua belati menunjuk kerumuman mayat hidup di bawah.
Pria itu dijuluki Belati Buta di Kelompok Kelelawar Iblis. Sesuai dengan julukannya, wakil komandan itu tidak pernah pandang bulu dalam menebaskan belatinya. Seakan dia tidak melihat siapa yang akan jadi korbannya, mungkin saja pihaknya sendiri.
Pergerakan Belati Buta adalah yang paling cepat diantara yang lainnya. Pria itu memiliki kemampuan seperti seekor katak, melompat cepat dan menyerang. Sangat merepotkan, Sungsang Geni selalu dipaksa untuk mundur ke tempat semula.
Menghadapai pendekar setara dirinya ternyata membuat Sungsang Geni kualahan, seperti harimau yang menghadapi 7 ekor Singa. Pikiran pemuda itu juga terbagi saat ini, dia merasakan seseorang dengan energi sangat besar berada di dekat Cempaka Ayu, membuat dia tidak begitu fokus dengan lawan-lawannya sekarang.
“Kau tahu, kami menamai kalian dengan sebutan apa?” Belati Buta tersenyum kecil, “Daging Segar!”
Sungsang Geni menatap pria itu tanpa berkedip, sudah cukup pria itu mengajaknya bermain-main.
“Bisikan dewa angin!” Sungsang Geni mengayunkan pedang watu kencana dengan gerakan cepat. Belati Buta mendadak terkejut, namun masih bisa menghindar sedikit, jadi serangan yang diterima tidak sempat mencabut nyawanya.
“Kurang ajar kau!” dia berteriak keras melihat darah keluar dari pipi dan telinga, nyaris saja telinga itu putus dari kepalanya.
“Kau terlalu meremehkannya ya?” seorang wakil komandan wanita tertawa cekikikan, “Sipat Bodohmu memang tidak bisa berubah....”
Sungsang Geni menghentikan ucapan wanita itu, dengan tebasan yang mengenai lengan bajunya. Mendadak senyum di bibirnya berubah menjadi ringisan rasa sakit yang dalam.
“Kenapa lukan ini terasa panas!” dia berkata, “Senjata apa yang kau gunakan Pemuda sialan?”
__ADS_1
Sungsang Geni tidak menjawabnya, dia melompat pada bangunan cukup tinggi diantara bangunan yang lain. Dia menatap Cempaka Ayu dari kejauhan yang sekarang terlihat sedang bertarung dengan seorang wanita.
Belati Buta menyerang Sungsang Geni dengan cepat, tapi pemuda itu dapat menghindarinya tanpa kesulitan, seorang wakil komandan yang lain telah berada di depan Sungsang Geni untuk menghadang, tapi pemuda itu dengan sayap tak kasat mata bisa menghindar dengan mudah.
“Dia menjadi cepat!” ucap wakil komandan Kaki Baja, wakil komandan yang paling kuat dan terlihat paling tenang diantara yang lainnya.
Dia tidak banyak menyerang, tapi Sungsang Geni pernah terpental sekali setelah mendapat serangan dari Kaki Baja. Pria itu pintar mengamati pergerakan, dan melancarkan serangan tak terduga saat melihat celah Sungsang Geni.
Sekitar lima menit berlalu, Sungsang Geni dan ke tujuh wakil komandan itu telah bertukar ratusan jurus dengan cepat. Sungsang Geni hampir saja terpojok tapi hal itu tidak terjadi, tidak setelah Sungsang Geni melepaskan aura panas yang luar biasa.
“Pemuda ini! Siapa pemuda ini?” ucap Belati Buta, wajahnya berkeringat dingin. Seketika kepercayaan dirinya sedikit berkurang, menyadari aura panas itu bahkan dapat membunuh pasukan mayat hidup di sekitar Sungsang Geni.
“Aku tidak bisa bermain dengan kalian cukup lama!” Sungsang Geni kali pertamanya membuka suara setelah bertarung hampir 20 menit lamanya, “Tidak untuk saat ini! Sebagai peringatan jika kita bertemu lain kali...”
Sungsang Geni bergerak cepat pada Belati Buta yang masih terpaku tak percaya, “Tarian dewa angin, api penyucian!”
“Lain kali jika kita bertemu lagi, pertarungannya akan lebih menarik lagi.” Tutup Pemuda itu.
Dia mengeluarkan energi panas dari pedang watu kenca, membuat pedang yang semula hitam menjadi merah dan membara. Pemuda itu lalu menebas tanah dengan kuat, mencipatakan ledakan api yang sangat besar. Setelah api membumbung tinggi, pemuda itu segera hilang dari pandangan mereka.
***
Setelah mendengar penuturan dari Serindit Emas mengenai hal yang sebenarnya, Cempaka Ayu tidak bisa meredam kemarahannya. Dia mengangkat puluhan reruntuhan tembok, bilahan besi dan ratusan kayu menyerang Nyai Serindit Emas, tapi wanita itu dengan mudahnya menghindar.
Baru saja komandan itu mengatakan priahal dirinya yang sebenarnya. Seorang wanita yang sebenarnya bukan ibu kandung Cempaka Ayu, tepatnya bukan Serindit Emas. Dia adalah wanita lain, yang selama 4 tahun terakhir bekerja sebagai pelayan di keluarga Suaraya. Tujuannya adalah, untuk mempelajari prilaku Serindit Emas, dan pada kesempatan lain, dia akan menggantikan wanita malang itu.
__ADS_1
Nyai Serindit Emas berhasil dibunuhnya 2 tahun lalu, dan tentu saja yang mengetahui hal itu adalah Empu Pelak. Karena itulah, dia membuat derama seolah Empu Pelak sudah gila, dan membunuh istrinya, dengan begitu tidak ada yang mempercayai informasi dari Pria itu, termasuk Suaraya yang malah memenjarakannya.
Mendengar kebenaran itu Cempaka Ayu tidak kuasa menahan amarahnya. “Jadi kau adalah Banduwati, pelayan yang selalu berada di sisi ibuku. Bagaimana bisa?”
Nyai Serindit Emas, tidak tapi Banduwati melepas 3 susuk yang tertanam di bibir, pipi dan matanya. Seketika wajah wanita itu segera berubah menjadi pelayan yang sangat dikenal Cempaka Ayu.
“Keahlianku adalah ilmu susuk, hampir sama seperti ibumu. tapi miliku lebih kuat, lebih dingin, dan lebih kejam. Aku memiliki belasan jenis susuk dan menjadi Komandan di Kelompok Kelelawar Iblis dengan kekuatan ini.” Banduwati tertawa cekikikan melihat wajah polos Cempaka Ayu yang memerah, “ menurutmu, bagai mana kami bisa mengendalikan semua orang itu, menjadi mayat hidup?”
“Akan aku pastikan kau mati malam ini juga wanita menjijikkan!” Cempaaka Ayu terdengar bergetar, air mata sekarang mulai membanjiri wajahnya.
“Ada banyak nama diriku di dunia ini, iblis pemarah, wanita pembunuh, wanita sadis. Dan sekarang kau menamaiku wanita menjijikan.” Banduwata menghentikan tawanya, menatap Cempaka Ayu dengan sinis, “ Astaga! Anak macam apa dirimu, yang tidak tahu aku ibumu atau bukan?”
***
Ada sekitar 300 mayat hidup dengan level pendekar kelas tanding dan level 1 dan 2 mengejar Guru Tiraka beserta Empu Pelak dan bawahannya. Meski para mayat hidup itu tidak bisa mengejar mereka dengan ilmu meringankan tubuh, tapi mereka tidak henti-hentinya mengejar. Satu hal yang tidak diketahui Guru Tiraka, mereka tidak merasakan Kelelahan.
Beberapa dari mayat hidup itu hampir berhasil menyentuh punggung kuda, tapi Guru Tiraka segera membunuh mereka. Sebenarnya, ada satu orang manusia yang memimpin rombongan itu, berlari di belakang dan bersembunyi di antara mayat hidup yang lain, tapi Guru Tiraka tidak punya cukup waktu untuk merasakan kehadirannya. Jika saja Guru Tiraka berhasil membunuh orang itu, maka seluruh mayat hidup itu akan kehilangan pemimpin yang memerintahkan mereka.
“Guru Tiraka!” Empu Pelak Berteriak, “Ada rombongan lain dari arah sana.”
Guru Tiraka menatap pada arah telunjuk Empu Pelak, jumlah mereka dari arah kiri lebih sedikit dari yang mengejar mereka dari belakang. Tapi pasukan kali ini berbeda, mereka adalah manusia dengan kuda-kuda yang bergerak cepat mendahuli rombongan Guru Tiraka.
“Sial! Mereka ingin mengepung kita!”
**Hai-hai, author ucapin terimakasih setidaknya PDM masuk rank 22 saat ini.
__ADS_1
Ayo dong, bantuin author naikin ranknya. Heheh. Boleh ya, boleh!
Sebelum lanjut capter berikutnya, like dulu ya**.