PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Padepokan Rajawali Hitam


__ADS_3

Mendapat ancaman Siko Danur Jaya dan Dirga, pendekar sumpit tidak bisa lagi berkata apapun. Dia menyesalkan sesepuhnya malah melarikan diri dari pertarungan, dan sialnya tidak berusaha menyelamatkan nyawanya.


“Siko Danur Jaya, kau harus memberi obat penawar racun di kakinya!” Sungsang Geni terlihat iba.


Siko Danur Jaya terlihat ragu, tapi akhirnya dia melaksanakan apa yang telah di perintahkan Sungsang Geni. Sebuah botol kecil yang berisi ramuan obat-obatan dikeluarkan, kemudian dengan perlahan Siko Danur Jaya mengoleskan pada bagian luka.


“Ahk...” Pria itu meringis kesakitan.


Setelah beberapa saat kemudian, kondisi pria itu sudah lebih baik dari sebelumnya, setidaknya ruah hitam yang menjalar di sekitar betisnya sudah mulai hilang.


Dalam beberapa waktu kedepan, pria itu tidak akan bisa berlari dengan baik, tapi masih bisa berjalan perlahan.


“Bagaimana keadaanmu?” Tanya Sungsang Geni.


“Tidak usah menghiraukan aku, jangan berpura-pura kasihan! Jika kalian ingin pergi, silahkan saja, aku bisa kembali ke padepokan Rajawali Hitam.” Pria itu menepiskan tangan Sungsang Geni yang berusaha melihat luka di kakinya.


“Jaga sikapmu!” Siko Danur Jaya berkata kesal. “Jika bukan karena pimpinan kami, mana mungkin aku mengobatimu.”


Sungsang Geni menggelengkan kepala, tingkah pemuda di depannya seperti belum dewasa. Kemudian Pemuda itu segera berdiri, melompat ke punggung Panglima Ireng. “Kita akan melanjutkan kembali perjalanan.”


8 jam di atas Panglima Ireng, Sungsang Geni sudah melihat sebuah tangga yang terbuat dari susunan batu pualam. Ada banyak liku di tangga itu, bercabang-cabang dimana setiap cabangnya berdiri sebuah bangunan, yang terlihat seperti rumah batu.


Dari tempat ini tidak mungkin bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kuda. Jadi Sungsang Geni menambang kuda-kudanya di pangkal tangga.


Pemuda itu masih memperhatikan keadaan di sekitarnya, mencari jalan lain yang mungkin bisa dilewati untuk tiba di atas gunung, tapi tidak ada. Semuanya adalah tebing terjal, selain tangga ini tidak ada jalan lain untuk tiba ke puncak gunung.

__ADS_1


Jika diperhatikan, Gunung itu tidaklah terlalu tinggi, tidak bisa dikatakan sebuah gunung kecuali karena di puncaknya mengeluarkan asap tipis yang berasal dari dalam bumi. Namun permukaannya sama seperti gunung yang lainnya, gunung ini juga gersang dan penuh dengan bebatuan.


“Apa itu adalah padepokan Rajawali Hitam seperti yang kau katakan tadi?” Sungsang Geni bertanya pada pria yang duduk di atas kereta kuda di sebelah Siko Danur Jaya.


“Kalian tidak akan mendapatkan sesuatu dari Padepokan Rajawali Hitam.” Pria itu masih berkata dengan angkuh, membuat wajah Siko Danur Jaya beberapa kali menjadi merah saking kesalnya.


Siapa menduga jika padepokan ini cukup besar. Sungsang Geni yakin bukan hanya puluhan pendekar yang berada di tempat itu, mungkin saja mencapai ratusan.


Kenapa pula harus menyelamatkan orang ini, pikir Siko Danur Jaya. Sungsang Geni terkadang memiliki hati yang pemaaf tapi terkadang menakutkan.


Mereka bertiga pada akhirnya mulai meniti tangga, berjalan perlahan karena pendekar Rajawali Hitam yang mereka bawa masih kesulitan untuk melangkah. Setelah kurang lebih 4 jam meniti tangga itu, mereka tiba tempat yang sedikit datar.


Di sini Sungsang Geni meminta teman-temannya untuk istirahat tapi pada saat yang sama, sekitar 40 orang pendekar bersumpit datang dari berbagai sisi.


“Kalian benar-benar lancang datang ke tempat ini!” Pimpinan dari para pendekar itu berkata berat dan datar, tapi dia menjadi sedikit waspada melihat gelagat Sungsang Geni. Sumpitnya barusan tidak sanggup untuk melukai pemuda itu.


Pimpinan itu menaikkan alis, dia memandangi luka di kaki muridnya beberapa kali, kemudian memperhatikan Siko Danur Jaya cukup lama. “Anak muda, darimana kau mempelajari jurus Jarum Beracun Dari Surgawai?”


Siko Danur Jaya terkejut, tidak pernah ada yang mengetahui nama teknik jarum beracun yang dia pakai selama ini selain dia dan gurunya sendiri, Jelatang Biru. Bahkan di Perguruan Lembah Ular tidak ada satupun yang mengetahuinya.


“Darimana Kisanak tahu mengenai teknik Jarum Beracun dari Surgawi?” tanya Siko Danur Jaya.


Pria itu memperhatikan sesaat jubah yang di kenakan Siko Danur Jaya, kemudian dia terkekeh kecil mengejutkan semua orang ditempat itu, karena tawa itu nyaris seperti geraman seekor harimau. Panglima Ireng terkejut bukan main, srigala itu hampir-hampir menyerang pria itu saking jengkelnya.


“Kau murid dari Jelatang Biru, benarkan?”

__ADS_1


“Benar Kisanak , bagaimana anda tahu mengenai Guru Saya?”


“Kalau begitu, kalian aku izinkan memasuki Padepokan Rajawali Hitam. Ayo ikut aku! Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan kepadamu.” Pria itu menepuk pundak Siko Danur Jaya lalu memberi perintah kepada beberapa orang pendekar di sana untuk menjamu tamunya.


Sekarang mereka berada di salah satu bangunan yang cukup besar di tempat itu. Semua bangunan ini terbuat dari batu, sebenarnya ini adalah sebuah goa yang mereka dekorasi sedemikian rupa sehingga terasa sangat nyaman untuk ditinggali.


Tempat itu sedikit menjorok keluar, sehingga angin akan berhembus langsung masuk ke dalam ruangan yang terbuka lebar karena tidak memiliki pintu ataupun jendela. Nampaknya tempat ini memang digunakan untuk melakukan pertemuan atau juga rapat di Padepokan Rajawali Hitam.


Ada 4 orang pendekar gadis yang membawa berbagai macam jenis makanan, kemudian membawa 2 kendi arak yang beraroma harum, tapi Sungsang Geni tetap tidak akan meminum arak apapun itu jenisnya.


“Bagaimana keadaan Gurumu?” tanya Pria itu. “Ah, aku hampir lupa. Namaku adalah Basupati, siapa nama kalian bertiga?”


Siko Danur Jaya mulai memperkenalkan diri, kemudian menjelaskan sedikit gambaran dari keadaan dataran Java pada saat ini. Pria itu selalu memandangi pemuda itu dengan seksama, tapi ketika Sungsang Geni disinggung pernah pergi kedataran Swarnadwipa, Basupati tersedak air araknya sendiri.


“Pendekar muda, apa kau bercanda?” tanya Basupati tidak percaya, sekarang pandangannya beralih kepada Sungsang Geni.


“Tidak Sesepuh, itu benar adanya.”


Basupati butuh waktu beberapa lama untuk mencerna perkataan Siko Danur Jaya. Ada angin apa hingga dia dikejutkan dengan informasi ini? Belum lagi, Siko Danur Jaya mengatakan bahwa Bayangkara sudah berhasil menaklukkan dua markas kecil sekaligus.


“Jadi kedatangan kalian ke sini, hanya untuk mengambil belerang yang ada di gunung ini?” tanya Basupati, dia tidak bertanya untuk apa gunanya belerang itu, sudah banyak hal mengejutkan dirinya selama obrolan ini berlangsung, jadi dia tidak ingin menambah keterkejutan yang lain.


“Benar sekali, Sesepuh.”


“Ah, aku kira ada hal penting apa, jika hanya benda itu kalian bisa mendapatkannya.” Basupati kemudian menuangkan arak di dalam cawan miliknya. “Tapi sebelum itu, silahkan kalian santap makanan ini, dan tinggallah di tempat ini untuk beberapa malam.”

__ADS_1


Siko Danur Jaya menoleh kearah Sungsang Geni, tapi pemuda matahari itu tersenyum kecil tanda setuju. Mungkin saja ada banyak hal yang perlu dibicarakan antara Basupati dengan Siko Danur Jaya. Jadi Sungsang Geni memaklumi hal itu.


__ADS_2