
Di dalam Istana hitam megahnya, Topeng Beracun berdiri sendiri menatap sisa-sisa pasukan yang telah terkumpul di depan matanya. Di berdiri pada menara paling tinggi di tempat itu, merencanakan untuk menyerang Surasena sekali lagi dengan seluruh tentara yang di miliki, seperti 8 bulan yang lalu.
Wajah pemuda itu sedikit lebih menakutkan di banding sebelumnya, entah kenapa setelah dia berhasil menyerap setengah kekuatan Dewi Bulan, topeng di wajahnya menjadi satu dengan kulitnya.
Lebih dari itu, sekarang dia sedikit berani terhadap ayahandanya. Sehingga Wingkar adalah orang pertama yang tidak berani dan menjauhi putra kandungnya tersebut. Pribadi pria itu sedikit berubah. Dulu dia memang pemarah, tapi kali ini dia lebih kejam lagi dari sebelumnya.
“Putraku menjadi aneh setelah berhasil menyerap Dewi Bulan...” berkata Wingkar bersama tiga raja di dalam bangunan lain, menatap pada sang putra yang jelas telah hilang sisi manusianya, menurut Wingkar.
“Bukan maksud saya menyinggung Raja Wingkar, tapi bolehkah aku bertanya apakah dia masih bisa kau kendalikan?”
Wingkar tidak menjawab, dia tidak yakin apakah saat ini pria di atas menara adalah putranya, atau setidaknya masih adakah putranya di dalam tubuh itu. Kepala Wingkar menjadi sangat sakit, saat ini di Kastil itu tidak ada yang mau mendengarkan ucapannya lagi.
“Dia akan menjadi sesuatu yang paling mengerikan!” gerutu salah satu raja penghianat.
“Tutup mulutmu!” Wingkar hampir berteriak saat mengatakannya. “Dia adalah putraku, dan dia harus patuh terhadap ayahnya. Aku yang menciptakan dia, ambisi menguasai dataran Java dan menggulingkan kekuasaan Surasena.”
“Ma'afkan kami bertiga Raja Wingkar...kami tidak bermaksud menyinggungmu...” Tiga orang itu menundukkan kepala, tidak berani lagi menatap wajah Wingkar yang merah bara. Sekarang tampaknya sulut api yang di ciptakan mereka, mulai terlihat membahayakan bagi pemiliknya.
Sementara itu kabar mengenai niat Topeng Beracun untuk menghancurkan Surasena telah terdengar sampai ke telinga Lemah Abang. Kabar mengenai hal itu selang tiga hari dengan kabar yang baru saja dia dapatkan mengenai kekalahan Tiga Pendekar Iblis Malaka.
Maha Senopati itu mulai tidak yakin keberadaan dirinya di tanah ini, akan ada gejolak yang sebentar lagi terjadi. Sementara itu dia sudah kehabisan pasukan, tidaklah mungkin mengandalkan sisa-sisa prajurit lemah di Markas Utama Negri Sembilan.
“Satu-satunya cara mungkin kembali ke Negri Sembilan secepatnya, sebelum semua ini terlambat.” Gumam Lemah Abang meratapi nasipnya di sudut ruangan.
Di tangannya ada sekendi arak, bahkan di ruangan itu sudah lebih 5 kendi arak habis oleh dirinya seorang diri.
__ADS_1
“Ayah...” Putra angkatnya tiba-tiba masuk ke dalam ruangan, mendapati sang Ayah di ujung keputus asaan. “Apa yang Ayah lakukan, hentikan ini semua.”
Tanjung Benawa meraih kendi arak terakhir, menjauhkan benda itu dari Lemah Abang. Kemudian dia, berusaha sekuat mungkin mengangkat tubuh pria itu, dan didudukkan di pembaringan.
“Kita tidak memiliki harapan untuk menang...” Lemah Abang berkata berat, hampir seperti bayi yang merengek kepada ibunya. “Surasena memiliki seseorang yang sangat tangguh, ambisi kita untuk mengalahkan mereka tampaknya telah sirna.”
“Apa yang ayah katakan? Tentu saja kita belum kalah, Topeng Beracun telah menyusun pasukannya di Istana Kelelawar, dia juga mendapatkan kekuatan yang membuatnya lebih hebat dari sebelumnya. Kita pasti bisa menguasai dataran ini, dan menghancurkan Surasena beserta siapapun yang ada di belakangnya.”
“Bodoh...bodoh...Putraku, kau masih sangat muda, tidak bisa membaca situasinya sekarang. Menurutmu setelah Topeng Beracun memiliki kekuatan yang lebih dari dulu, apa dia masih membutuhkan kita?”
Tanjung Benawa tampak sedang berpikir, jelas tidak terlalu paham dengan perkataan Ayahnya. Bukankah mereka bekerja sama untuk menaklukkan Surasena? Jika begitu kenapa harus khawatir berjalan berdampingan dengan Topeng Beracun.
“Ketika manusia menjadi iblis, sekarang siapa yang bisa berteman dengannya?” Lemah Abang menepuk pundak putranya, berusaha berdiri dan berjalan lunglai menuju tepi jendela yang terbuka lebar. “Satu-satunya yang bisa mengendalikan Topeng Beracun adalah Wingkar, tapi sekarang Wingkar bahkan tidak berani mendekati putranya. Topeng Beracun adalah iblis itu sendiri. Negri Sembilan harus mengetahui kabar ini, kita harus meminta izin untuk menarik semua pasukan, sebelum terlambat.”
“Tidak sebelum hari ini.” Lemah Abang menatap sayu ke arah putranya. “ Informasi mengenai Dewi Bulan baru kudapatkan sekarang. Tentu saja kita sudah tahu kekuatan Topeng Beracun berasal dari kegelapan, tapi siapa yang menduga bahwa kekuatan itu telah merubah rencana kita? Kita tidak bisa lagi mengendalikan api yang membara, Putraku. Topeng Beracun bukan lagi sebongkah bara api, tapi dia adalah kobaran api itu sendiri.”
“Aku mengerti Ayah, aku akan pergi Ke Negri Sembilan untuk memberikan informasi ini kepada Paduka Raja.” Tanjung Benawa membungkukkan badan, kemudian pergi tergesa-gesa keluar dari ruangan Lemah Abang.
Namun baru saja Tanjung Benawa hendak membawa kuda, Komandan Pertama telah berdiri di hadapannya dengan mata tajam dan penuh arti.
“Kemana kau akan pergi?” tanya Komandan Pertama.
“Aku hanya akan melihat-lihat situasi,” kilah Tanjung Benang.
“Sayang sekali, tidak ada yang boleh pergi dari Markas ini.” Komandan Pertama tesenyum sinis. “Kedatanganku ke sini ingin membawa dirimu, beserta Lemah Abang ke Istana Kelelawar Iblis.”
__ADS_1
Tanjung Benawa sadar, ini tidak baik. Tentu ada maksud terselebung, tidak pernah Komandan Pertama datang ke Markas negri Sembilan. Secara tidak langsung, ini adalah intimidasi, pengancaman.
“Sekarang bawa aku menuju Lemah Abang!” sambung Komandan itu.
Tanjung Benawa terlihat ragu, tapi tidak ada pilihan lain kecuali membawa pria itu menemui Ayahandanya.
Beberapa saat kemudian, Lemah Abang bersikukuh tidak mau pergi bersama dengan Komandan Pertama.
“Aku akan pergi menemui kalian, tapi tidak untuk hari ini.” kilah Lemah Abang. “Pergilah dari sini, situasiku sedang buruk.”
“Aku tidak mungkin kembali dengan tangan kosong...? Komandan itu tersenyum penuh makna, aura di ruangan ini sedikit lebih berat. Tanjung Benawa berjalan selangkah demi selangkah mendekati senjatanya yang terletak bersama perkakas perang di atas meja.
Lemah Abang terdiam sejenak, tidak lama kemudian dia terkekeh kecil melirik ke arah Tanjung Benawa. “Putraku, pergilah dari tempat ini selagi sempat. Aku akan bertahan disini.”
Baru selesai berkata demikian, Aura membunuh Maha Senopati dari Negri Sembilan itu merayap luar biasa pekat. Bukan hanya itu beberapa benda terlihat bergetar pelan karena tekanan tenaga dalam yang dikeluarkannya.
“Pergilah Sekarang!” pekik Lemah Abang. “Kabarkan hal ini kepada Negri Sembilan.”
Ayah dari Wulandari itu kemudian menyerang Komandan Pertama Lebih dahulu dengan pukulan jarak jauh. Pada waktu yang sama, Tanjung Benwa melompat dari Markas Negri Sembilan tepat di atas kuda putih di bawahnya.
Dia melirik sesaat ke atas, terdengar dentuman benda-benda keras, getaran kecil dan juga benar-benda yang jatuh dari sana. Tanjung Benawa terlihat panik, tidak bisa berpikir lebih jernih saat ini.
Membantu Lemah Abang adalah niatnya, tapi tentu saja akan mati konyol di tangan pria nomor satu dibawah Topeng Beracun itu.
“Kalian semua!” ucap pemuda itu, berteriak pada puluhan prajurit. “Bantu Maha Senopati di atas sana, Sekarang. Bawa semua orang yang ada disini, Cepat!”
__ADS_1