
Pada akhirnya ketika matahari berada di atas kepala, tegak dan bersinar terang. Meski burung tidak terlalu banyak di hutan kehidupan, tapi suara serangga dan jangkrik tetap terdengar di telinga sebagai nyanyian alam.
Sungsang Geni memilih kembali ke Padepokan Pedang Bayangan bersama dengan Pramudhita dan juga Panglima Ireng yang saat ini sudah setia menjadi tunggangan Sungsang Geni.
Melihat kedekatan Sungsang Geni dan Panglima Ireng membuat Pramudhita sedikit heran. Tidak biasanya ada pendekar yang berhasil naik ke punggung Srigala itu, bahkan Pramudhita itu sendiri.
Mereka berdua mengumpulkan tumbuhan yang telah didapatkan, sekarang jumlahnya ada sekitar 30 rumpun, tapi ketika melihat jahe merah darah mata Pramudhita berbinar-binar.
“Tumbuhan jahe merah darah sangat langka ditemukan,” ucapnya, memperhatikan tumbuhan itu yang selalu meneteskan darah setiap menitnya, “Jika dimakan langsung, maka apapun penyakit orang tersebut akan sembuh seketika, tapi tentu rasa sakit yang diberikan ketika mengkonsumsi jahe merah darah lebih hebat dari tumbuhan yang lain.”
“Dan jamur ini?” ucap Sungsang Geni, jamur bercahaya yang di jaga dua mahluk hasrat berkemampuan hebat, “Apa khasiat tumbuhan ini? Terlihat lebih aneh dari yang lainnya.”
Pramudhita terdiam seolah lupa akan bernapas, keningnya mengkerut memperhatikan dengan seksama, “Ternyata jamur ini?”
“Ada apa dengan jamur ini?” tanya Sungsang Geni penasaran, dia menjongkok dari pundak Panglima Ireng hanya untuk memperhatikan benda itu bersama dengan Pramudhita.
“Hem...aku tidak tahu, belum pernah melihatnya!” ucap Pramudhita kemudian tertawa terbahak-bahak bersamaan wajah kesal yang ditunjukan Sungsang Geni. “Tapi tabib Nurmanik pasti mengetahuinya, dia punya banyak catatan mengenai hal itu.”
"Ah...lupakan hal itu. Asal tumbuhan ini memiliki energi kehidupan, itu sudah lebih dari cukup." ujar Sungsang Geni.
Beberapa saat kemudian mereka akhirnya tiba pula di tempat Resi Irpanusa, ini adalah permintaan Sungsang Geni untuk langsung mendatangi Resi itu di kediamannya. Semenjak memasuki gerbang Padepokan Pedang Bayangan, Panglima Ireng tidak di perkenankan untuk masuk, itu membuat dia kesal setengah mati.
“Setelah urusanku selesai, aku akan menemui dirimu!” ucap Sungsang Geni mengelus kepala Panglima Ireng.
Seperti biasa, Resi itu melakukan meditasi di dekat telaga tapi kali ini tidak bersama dengan kedua muridnya, si kembar. Mereka berdua sedang menjalankan misi penting.
“Murid menghadap Resi!” ucap Pramudhita seraya menundukkan kepala.
“Baru 2 hari kalian pergi, apa tumbuhan itu sudah kalian temukan?” tanya Resi Irpanusa tidak membuka mata dan juga membalikkan badannya.
__ADS_1
“Kami sudah mendapatkan 30 tumbuhan yang memiliki energi kehidupan besar, Resi.” Ucap Pramudhita, “Apa kita akan memulainya?”
“Mulai dan tidak tergantung dengan pemuda itu!” jawab Resi Irpanusa, baru kemudian dia membuka mata dan berbalik badan, menatap Sungsang Geni, “Apa kau sudah siap anak muda?”
Sungsang Geni terdiam sesaat, bagaimanapun dia harus siap dengan rasa sakit yang akan dideritanya kelak. Pramudhita mengatakan bahwa rasa sakit setiap garis jule setara dengan sakit selama 20 tahun lamanya.
“Kalau begitu persiapkan segala sesuatunya!” Lanjut Resi Irpanusa.
“Tunggu!” Ucap Sungsang Geni, membuat Pramudhita terkejut, “Apa aku boleh berbicara dengan anda?”
Resi Irpanusa tersenyum kecil, dia sudah tahu ada hal yang sedang menganjal pikiran pemuda itu. Kemampuan Resi Irpanusa tidak bisa menembus pikiran Sungsang Geni, seolah ada energi yang melindungi otak pemuda tersebut.
“Benar juga dari tadi kau berkata tidak karuan, aku juga sangat penasaran hal apa itu hingga kau berniat berbicara langsung dengan Resi Irpanusa tanpa melalui diriku.” Ucap Pramudhita sambil mengelus dagunya yang berjanggut tipis.
Sungsang Geni mulai menjelaskan prihal telaga merah yang ada di tengah hutan kehidupan. Ini baru dugaannya saja, tapi dugaan pemuda itu memiliki dasar-dasar untuk di kemukakan.
Dimana hubungan telaga merah ada kaitannya dengan Yunirda, mahluk hasrat dan juga sesepuh hebat di dalam Padepokan Pedang Bayangan.
Tujuannya adalah mencuri teknik dari pedang emas dan juga pedang awan berarak. Jikapun tidak bisa mempelajari kedua teknik pedang tersebut, Yunirda mungkin dapat menyalin kedua kitab tersebut.
Dugaan Sungsang Geni selanjutnya adalah, Yunirda akan membawa dua salinan teknik pedang dan menyerahkannya pada orang yang menyuruhnya. Dengan begitu orang itu akan menjadi pemilik 3 teknik pedang.
Meski pada akhirnya ternyata Yunirda malah terjebak di dalam Kelompok Kelelawar Iblis dan lalai akan misi pertamanya.
“Perkataanmu sangat masuk akal anak muda!” ucap Resi Irpanusa sambil mengelus janggut putihnya, “Meski itu hanya dugaanmu saja, tapi aku tahu siapa yang mempekerjakan Yunirda.”
“Apa itu adalah Sriyu Kunig, Resi?” ucap Pramudhita, sekarang dia mulai sedikit paham, “Tapi kenapa dia melakukan hal itu?”
Nampaknya Sungsang Geni juga berniat menyadarkan Pramudhita bahwa kematian Yunrida mutlak bukan hanya kesalahannya.
__ADS_1
“Tujuannya pasti untuk menguasai padepokan pedang bayangan.” Sambung Sungsang Geni sangat yakin, “Tapi nampaknya tujuannya gagal karena...”
Sungsang Geni tidak melanjutkan perkataannya, dia menatap sayu kearah Pramudhita, takut jika pria kekar itu menjadi tersinggung.
“Karena Yunirda tewas sebagai penjahat?” Sambung Pramudhita dan di balas dengan anggukkan Sungsang Geni.
Resi Irpanusa mulai berpikir saat ini, terlihat dari keningnya yang mengkerut. Hubungannya dengan Sriyu Kuning memang tidak terlalu baik, tapi tidak pernah menyangka bahwa muridnya itu berniat menguasai Padepokan Pedang Bayangan dan menyingkirkannya.
“Dua tahun yang lalu dia bahkan berhasil meningkatkan tenaga dalamnya menjadi 6 jule.” ucap Resi Irpanusa, perkataan Resi tersebut membuat Pramudhita dan Sungsang Geni menjadi tersentak.
Itu artinya kekuatan Sriyu Kuning hampir setara dengan Resi Irpanusa. Sekarang jika keduanya bertarung akan sulit menentukan siapakah yang akan keluar jadi pemenangnya.
“Apa dia menciptakan telaga kehidupan?” tanya Pramudhita, seingatnya butuh waktu 30 tahun bagi seseorang untuk menciptakan telaga kehidupan yang dipenuhi dengan energi tenaga dalam itu.
“Sepertinya begitu, selama ini dia telah menciptakan telaga kehidupan tanpa di ketahui oleh kita. Jadi dia memang berencana menguasai padepokan pedang bayangan sejak dahulu kala?” sambung Resi Irpanusa.
“Tapi Resi, menurutku bukan hanya itu tujuan dirinya!” ucap Sungsang Geni, “Jika dia hanya ingin menguasai perguruan pedang bayangan, maka tidak mungkin dia mengumpulkan dua teknik pedang yang lain.”
“Benar, dari tadi aku tidak tahu dengan perkataanmu?” ucap Prmaudhita, “Jelasakan lebih rinci!”
Sungsang Geni menghela napas berat, pandangannya terpaku pada Resi Irpanusa yang nampaknya mulai memahami situasinya.
“Dia berniat menyempurnakan teknik Sapuan Jagat milik Sri Jaya Nasa.” Ucap Sungsang Geni, “Aku yakin Resi Irpanusa juga menyadarinya.”
Resi Irpanusa tidak menduga Sungsang Geni mengetahui hal itu.“Aku yakin memang demikian. Tapi kenapa kau mengetahui teknik pedang sapuan jagat, anak muda?”
Pandangan Resi Irpanusa menjadi dingin, jelas dia menangkap ada yang ganjil dengan Sungsang Geni. Tapi tanpa diduga, Sungsang Geni menjelaskan latar belakangnya tanpa disembunyikan sedikitpun.
“Jadi kau mempelajari teknik pedang awan berarak?” ucap Resi Irpanusa, “Pantas saja kau mengetahui dunia pedang sangat baik, tapi tidak kusangka kau juga tahu mengenai teknik sapuan jagat dan Sri Jaya Nasa.”
__ADS_1
“Tunggu kenapa aku tidak tahu hal itu?” tanya Pramudhita seperti orang gila.